BAB 1 : Sumpah Darah di Ambang Takdir
Waktu bagi manusia adalah derap langkah menuju kematian. Bagi vampire, waktu hanyalah bayangan panjang yang terus mengikuti, tak pernah benar-benar menyentuh ujung. Di sebuah mansion tua yang berdiri anggun di kaki Pegunungan Alpen, tersembunyi dari peta dan sejarah manusia, keluarga vampire Oxidia mempertahankan eksistensi mereka. Mereka bukan kerajaan, bukan pula bangsa. Oxidia hanyalah sebuah keluarga, dua puluh empat vampire yang terikat oleh sumpah darah, bukan garis keturunan.
Di antara mereka, hanya segelintir yang benar-benar istimewa. Empat persen. Angka yang kecil, namun cukup untuk mengubah keseimbangan dunia abadi. Dan dari empat persen itu, dua nama selalu disebut bersamaan.
Noah Oxidia, Melisa Oxidia, Sang Penyembuh dan Sang Peramal
Ruang kerja Noah dipenuhi cahaya lampu listrik redup—simbol zaman baru yang perlahan merambat ke dunia abadi. Bau antiseptik bercampur dengan aroma buku-buku tua yang kertasnya telah menguning ratusan tahun.
Di atas meja bedah, seorang vampire muda terbaring tak bergerak.
Noah berdiri tegak, lengan bajunya tergulung rapi. Tatapan merahnya tidak menatap kulit atau luka—ia menembusnya. Bagi Noah, tubuh bukanlah daging dan tulang, melainkan arsitektur kehidupan: sel-sel yang bergetar, jaringan yang berkomunikasi, mutasi yang berbisik pelan tentang kehancuran.
“Regenerasi berhenti di sini,” gumamnya pelan.
Ia menggerakkan jarinya. Presisi. Tanpa ragu. Ia menyambung apa yang terputus, menenangkan sel yang kacau. Tidak ada mantra, tidak ada doa—hanya pemahaman sempurna tentang kehidupan itu sendiri.
Pintu terbuka tanpa suara.
Melisa masuk dengan langkah ringan. Gaun sutra merah tuanya kontras dengan kulit pucat dan ekspresi lembutnya. Ia telah melihat Noah dalam posisi ini ribuan kali—namun kegelisahan di dadanya tak pernah benar-benar hilang.
“Kau terlalu memaksakan diri,” bisiknya.
Noah mendongak. Tatapannya melunak seketika.
“Satu momen lagi, Mel. Sel-selnya masih mau hidup.”
Melisa mendekat… lalu berhenti.
Matanya membeku.
Ambar yang hangat itu memudar, digantikan putih s**u yang kosong. Tubuhnya menegang, seolah ditarik oleh benang tak kasatmata menuju sesuatu yang tak ingin ia lihat—namun tak bisa ia tolak.
Potongan Takdir yang Terkoyak
Penglihatan itu datang seperti pecahan kaca.
Mawar putih—terbakar api biru.
Lorong bawah tanah mansion Oxidia—berlumuran darah hitam.
Dan Noah.
Noah berdiri sendirian. Tangannya berlumuran cairan gelap yang bukan darah manusia… bukan pula darah vampire yang sehat. Wajahnya tenang, namun matanya menangis.
Melisa terhuyung kembali ke dunia nyata.
Noah sudah menangkapnya sebelum ia jatuh.
“Apa yang kau lihat?” tanya Noah lirih, suaranya lebih takut daripada yang ingin ia akui.
“Takdir yang retak,” bisik Melisa gemetar. “Oxidia… dan sesuatu yang membuat darah kita tak lagi mengenal kehidupan.”
Noah menegang.
Ia bisa melihat tubuh Melisa—detak jantungnya yang tidak stabil, perubahan kimia di otaknya. Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia lihat.
Masa depan.
Bisikan di Aula Oxidia
Malam itu, keluarga Oxidia berkumpul di aula utama. Dua puluh empat vampire, dengan wajah-wajah yang telah menyaksikan jatuh bangunnya peradaban manusia. Lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya listrik dan lilin—perpaduan zaman lama dan baru.
Gelas kristal berisi darah berkualitas tinggi diangkat.
Lalu—
Prang.
Sebuah nampan terjatuh. Gelas pecah. Darah tumpah ke lantai marmer.
Melisa tersentak.
“Itu sama seperti yang kulihat,” bisiknya cepat.
Noah belum sempat menjawab ketika pintu besar aula terbuka perlahan.
Sosok itu melangkah masuk.
Mantel panjang bergaya modern. Wajah pucat dengan mata yang menyimpan kehancuran perlahan. Beberapa anggota Oxidia langsung berdiri—bukan karena hormat, melainkan ketakutan yang terlupakan.
Noah menatapnya… dan jantungnya terasa berhenti.
Tubuh vampire itu rusak.
Sel-selnya hidup, namun menolak fungsi dasarnya.
“Siapa kau?” tanya salah satu tetua tajam.
“Aku Elias,” jawabnya pelan. “Dan aku membawa penyakit yang seharusnya sudah mati berjuta tahun lalu.”
Melisa mencengkeram lengan Noah.
“Virus itu,” bisiknya. “Inilah bayangan yang kulihat.”
Sanguis Vacuus
Elias dirantai di ruang konsili. Bukan sebagai tahanan—melainkan sebagai bom waktu.
“Apa yang menyerangmu?” tanya Noah, matanya menelusuri kehancuran mikroskopis di tubuh Elias.
“Virus kuno,” jawab Elias lirih. “Kami menyebutnya Sanguis Vacuus. Darah yang kosong.”
Virus itu menghancurkan kemampuan vampire untuk meminum darah manusia atau hewan. Darah biasa berubah menjadi racun. Satu-satunya jalan bertahan hidup adalah…
“Darah vampire lain,” lanjut Elias dengan mata kosong.
Keheningan mematikan menyelimuti ruangan.
“Dan seiring waktu,” tambahnya, “virus ini menggerogoti akal sehat. Kami menjadi lapar. Tak terkendali.”
Melisa menutup mata.
Dalam penglihatannya—kepala dipenggal, tubuh dibakar, sinar matahari menjadi hukuman terakhir.
“Di zaman kuno, kami dimusnahkan,” ujar Elias. “Tapi ini bukan lagi zaman itu.”
Noah mengepalkan tangan.
Ia adalah penyembuh segala penyakit. Namun virus ini bukan sekadar penyakit.
Ia adalah ujian moral.
Sumpah di Ambang Kehancuran
Malam semakin larut.
Noah dan Melisa berdiri di balkon mansion, memandang dunia manusia yang kini bercahaya listrik dan mesin. Dunia bergerak maju—sementara kaum abadi terancam runtuh dari dalam.
“Aku melihatmu membuat pilihan,” ucap Melisa pelan. “Pilihan yang menyelamatkan banyak orang… tapi menghancurkanmu.”
Noah menggenggam tangannya.
“Jika dunia menuntut monster,” katanya lirih, “maka aku akan memastikan monster itu punya hati.”
Melisa menyandarkan kepalanya di d**a Noah.
Di bawah langit abad baru, sumpah lama kembali terucap—
bukan kepada darah,
bukan kepada keluarga,
melainkan kepada satu sama lain.
Dan di balik denyut yang tak pernah berhenti,
takdir mulai menagih harganya.