"Meiraaa..Ada tamuuu"
teriak seseorang dari lantai 1 kosan Ocha. Ocha ngekos di daerah Krtintang,dekat dengan kantornya. Yaa ga dekat-dekat amat sih,hehehe..
"Siapa?" tanya Ocha sambil ngelongok ke bawah tangga.
"Tante siapa gitu,lupa "jawab teman kos Ocha sambil nyengir.
Ocha yang baru selesai mandi setelah pulang kantor buru-buru mengenakan celana jins di bawah daster pendeknya,lalu melesat ke ruang tamu di bawah.
Betapa kagetnya Ocha ketika dilihatnya Lita dan mamanya yang sedang duduk di ruang tamu kecilnya.
"Eh,tante" sapa Ocha sambil hendak salim,tapi ditepis oleh mama Lita.
"Sudah,ga usah basa basi. Kita langsung saja" katanya,sambil memberi kode pada Ocha untuk duduk,lalu mengeluarkan amplop coklat dan dijejalkan ke pangkuan Ocha.
"Apa ini,tante?" tanya Ocha heran
"Buka" perintah mama Lita
Ocha membukanya,dan betapa terkejutnya dia saat melihat 5 gepok uang seratus ribuan di dalam amplop.
"Apa-apaan ini,tante?Apa maksudnya ini?" tanya Ocha sambil melempar amplop itu ke meja di depannya.
"Sudah,ga usah munafik. Kamu butuh uang kan?Dulu 20 juta sepertinya ga cukup ya?Sekarang ambil itu 50 juta" jawab Lita sambil tersenyum merendahkan.
"Maksudnya apa ini,tante?Ocha ga butuh uang tante"
"Sudahlah..Ambil uang itu,sebagai gantinya jangan dekat-dekat dengan nak Alex,tante mau jodohkan dia dengan Lita" jawab mama Lita.
"Maksud tante mas Bram?" tanya Ocha terkejut
"Maksud tante mas Bram sudah pulang?" tanya Ocha lagi
"Kamu jangan berlagak ga tau ya. Tante tahu,kamu ngincar orang-orang seperti nak Alex untuk bisa membiayai hidupmu kan?" jawab mama Lita tidak suka,lalu kembali menjejalkan amplop berisi uang ke pangkuan Ocha lagi.
"Ini,cukup buat senang-senang kan?Ambil,tapi jauhi nak Alex"
"Cukup,tante!!" bentak Ocha sambil berdiri
"Sudah cukup tante menginjak harga diri Ocha. Pulang dan bawa kembali uang itu. Ocha ga butuh uang tante!" sergah Ocha lalu berbalik dan berlari ke kamarnya.
"Masih kurang?Nanti aku tambahin deh" teriak Lita sambil tertawa melihat Ocha yang berlari menaiki tangga.
***
Di kamarnya Ocha memejamkan matanya sambil duduk bersandar ke pintu. Tangannya menutupi wajahnya. Ga tau harus menangis atau tertawa,semuanya campur aduk di dadanya.
Mas Bram sudah pulang...Mas Bram sudah pulang..
Jantungnya berpacu saat memgetahui Bram sudah pulang. Entah sedih atau bahagia,Ocha sendiri bingung harus bagaimana.
Perlahan-lahan,emosinya mereda. Dia bahkan lupa dengan amplop berisi uang tadi.
Diambilnya ponselnya,menelepon Amel.
"Iya,Cha?" sapa Amel di sebrang sana.
"Mel,bisa ketemuan ga?Serius ni.." ajak Ocha.
"Mmm..Sekalian sama Panji bisa?" tanya Amel
"Gapapa,lebih baik kalau ada Panji. Di tempat biasa ya?Bentar lagi aku otewe" jawab Ocha.
"Okeeee,aku kebetulan juga mau ke sana.See you,Chaaa"
Ocha buru-buru mengganti pakaiannya,merapikan rambutnya,lalu memesan ojek online.
Mereka memang punya langganan kafe kecil tapi nyaman buat sekedar ngobrol dan makan makanan ringan. Dan kebetulan lokasinya ga jauh dari kos Ocha.
15 menit,Ocha turun di parkiran kafe,dilihatnya mobil Panji sudah terparkir di sana.
Ocha segera masuk,mengedarkan pandangan mencari sosok Amel dan Panji.
Dilihatnya Amel melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Baguslah,Amel memilih tempat yang strategis buat ngobrol,masih di dalam,tapi agak terpisah dari bangku-bangku yang lain.
"Sudah aku pesenin favorit kamu" sambut Panji saat Ocha menghempaskan dirinya duduk di depan mereka. Berasa kaya mau sidang aja,hehehe
Tak lama pesanan mereka datang,kopi-kopian dan sosis bakar dan teman-temannya.
"Mel,emang bener mas Bram sudah pulang?" tanya Ocha.
Amel melirik Panji yang pura-pura ga ngerti.
"Iya,mas Bram sudah pulang. Sejak awal bulan lalu ditugaskan di sini"
Amel buru-buru menggenggam tangan Ocha sebelum diprotes.
"Bukanny aku ga mau kasih kabar,Cha.Aku cuma ingin mas Bram membuktikan kalau dia serius sama kamu.Aku ga mau kamu seperti dulu lagi,Cha" kata Amel menjelaskan.Air mata menggenang di pelupuk mata Amel.Mengingat bagaimana terpuruknya Ocha dulu.
"Amel bener,Cha. Biarkan mas Bram membuktikan bahwa dia betul-betul serius denganmu. Kami tidak ingin kamu kecewa lagi,Cha" tambah Panji.
"Kamu jangan kuatir,Cha. Mas Bram sudah memulai langkahnya,setelah ini pasti kalian akan bertemu" tambah Panji.
"Apa itu?" tanya Ocha heran
Panji tersenyum,"Rahasia" katanya.
"Yang oasti,kamu tenang saja.Mas Bram tidak lupa janjinya,biarkan mas Bram menyelesaikannya"
Ocha mengangguk.
"jadi,kamu minta kita ketemuan cuma mau tanya itu?"Tanya Amel gemes.
Ocha buru-buru menggeleng,dia baru ingat apa tujuannya ketemu mereka di sini.
"Bukan..Tadi Lita dan mamanya ke kosanku" katanya.
"Tau ga?Dia kasih uang lagi ke aku seperti dulu"
Amel yang tersedak es matcha latte nya karena terkejut.
"Lagi???" tanyanya
"Berapa?20juta lagi?" tambah Panji
Ocha menggeleng
"50juta!!"
Panji dan Amel kompak melongo kaget.
"Huss,sudah" Ocha melambai-lambaikan tangannya di depan wajah mereka berdua.
"Trus?" tanya Amel
"Ya aku kembalikanlah" Jawab Ocha
"Kalian tahu ga kenapa aku disuap 50jeti?"
Panji dan Amel menggeleng
"Aku disuruh jauh-jauh dari mas Bram,karena mau dijodohin sama Lita"
"Whatttt?!!!Aku ga mau yaa punya kakak ipar Lita..Ga mau,ga mau" Amel sewot abis.
Panji memijat pelipisnya
"Kok gitu amat sih?" keluhnya.
"Yaaa,tantemu toh" sahut Amel geram.
Lita memang sepupu Panji,almarhum ayah Lita adalah adik ibu Panji.
"Kamu belum cerita ke Yusi?"tanya Amel. Ocha menggeleng
"Belum,besok saja.Besok kan Jum'at,aku pulang ke tante Susi. Sabtu malam kan acaranya?"
Panji dan Amel mengangguk.
"Mungkin mas Bram juga akan datang di acara tunangan Yusi. Aku kemarin curi-curi dengar katanya tante Ndari meminta mas Bram untuk mendampingi Lita"
"Trus,mas Bramnya mau?"tanya Ocha
Amel mengangkat bahu
"Bukan sifat mas Bram seperti itu. Lagian tante Ndari ngomongnya ke mama kok,terang-terangan mau ngajak besanan katanya"
Setelah menghabiskan apa yang dipesan,Ocha nebeng pulang.
***
Keesokan harinya,sepulang kantor Ocha langsung ke rumah Tante Yusi.
Dan kebetulan, malamnya tante Ndari dan Adi datang ke sana untuk mengambil baju yang akan dipakai Adi besok di acara lamaran.
Oiya,setelah ditolak Ocha,Adi pedekate dengan Yusi selama setahun dan besok sore adalah acara tunangan mereka
Yusi sudah tahu cerita antara Ocha dan Adi,dan Adi pun tahu siapa Ocha dan apa hubungannya dengan keluatga tante Susi dari Yusi.
"Enak ya..Anak ini nempel numpang enak di keluarga jeng Maya dan jeng Susi" komentar tante Ndari saat Ocha terlihat sedang ngobrol dengan istri mas Bobby,kakak Yusi.
"Mama jangan gitulah" tegur Adi
"Lah memang iya,kan?Bapaknya kan cuma pensiunan biasa,kok bisa-bisanya masuk ke lingkaran pejabat" mamanya tidak terima.
Yusi memegang tangan tante Ndari lembut
"Ma,percaya sama aku. Ketika mama melepas Ocha,mama sudah melepas seekor ikan hiu" katanya.
"Ikan hiu apanya,ikan teri mungkin"
"Yasudah,suatu saat mama akan tahu" kata Yusi jengkel.
tiba-tiba...
"Assalamu'alaikum" terdengar suara dari arah pintu.
Sontak semua menoleh ke asal suara,dan semuanya terkejut.
Yusi segera lari ke dalam,membisikkan sesuatu ke telinga kakak iparnya yang lalu mengajak Ocha ke atas ke kamarnya untuk bermain-main dengan anaknya.
Lalu Yusi buru-buru keluar lagibke ruang tamu.
"Nak Bram kok tahu tante ada di sini?"sapa tante Ndari sok tau.
Bram tersenyum,meraih dan mencium punggung tangan tante Susi yang baru masuk ke ruang tamu.
Tante Susi menangkup pipi Bram,ditataonya Bram dengan berkaca-kaca. Lalu dioeluknya Bram erat
"Kamu pulang,nak."
"Maafkan Bram,tante" bisik Bram sambil membalas pelukan tante Susi.
Lalu Bram menghampiri Yusi,memeluk Yusi.
"Maafkan aku ya..Terima kasih sudah menjaga Ocha" bisiknya
"Mas harus menebusnya dulu" bisik Yusi tajam.
Tante Ndari melihat adegan di depannya dengan bingung.Disenggolnya lengan Adi yang menjawab dengan mengangkat bahunya.
Adi tahu semua ceritanya,tapi ngapain juga dijelasin ke mamanya kan?
"Akhirnya datang juga" tiba-tiba Bobby muncul dari dalam.
"Ayo kita selesaikan di dalam" kata Bobby sebelum Bram sempat mengatakan sesuatu.Bram mengangguk,lalu mengikuti langkah Bobby ke dalam.
Yusi segera mengatur agar Adi membawa mamanya pulang. Tentu saja ditolak sama tante Ndari,tapi akhirnya menyerah dan mau digeret pulang Adi.
Yusi dan tante Susi segera menyusul ke belakang.
Bobby sudah terlihat siaga,dan Bram seolah sudah siap dengan hukumannya.
"Mas,jangan di wajah" teriak Yusi,tapi terlambat..Bogem Bobby sudah mendarat di pipi kiri Bram.
"Ini untuk penderitaan Ocha" katanya penuh emosi.
Bram berdiri,lalu...Bhuugh!! Sebuah pukulan jatuh ke perutnya yang membuat Bram terjatuh berlutut.
Tiba-tiba ada suara gadih di belakang mereka,ternyata Ocha dan Shanti istri Bobby menyerbu ke taman belakang. Shanti menatap Yusi tak berdaya menahan Ocha yang ingin turun saat mendengar ribut-ribut.
"Ada apa ini?Kenapa..." kata-kata Ocha terhenti saat sosok yang tadi berlutut perlahan-lahan berdiri.
Meski sudah jaih berubah,dan terlihat kacau,tapi Ocha mengenalinya,Ocha merasakan getaran yang aneh di hatinya.
"Mas Bram?" bisik Ocha tak percaya,lalu hendak menghampiri Bram,tapi buru-ditahan Yusi dan Shinta.
"Tahan dulu!!" bentak Bobby saat Bram hendak memghampiri Ocha.
"Katakan!!" pertintah Bobby.
Bram menatap Bobby sebentar,lalu kembali berlutut.
Bobby terkesiap,dia mengharapkan Bram meminta maaf,tapi terkejut karena Bram melakukannya sambil berlutut.Seorang Alex Bramasta,bersedia berlutut demi Ocha. Itu sudah mewakili segalanya unuk Bobby.
Segera ditariknya lengan Bram
"Sekali aku dengar Ocha meneteskan air mata,kamu berhadapan denganku" ancamnya.
Bram mengangguk pasti.
"Iya,aku berjanji membayar semua pengorbanan Ocha. Dan terima kasihku tidak akan pernah cukup untuk selalu menjaga Ocha"
Lalu tiba-tiba Bobby memeluk Bram erat.
"Sialan kamu,Bram" bisik Bobby.
"Terima kasih,mas"
Lalu Bobby berpaling menatap Ocha yang sudah terisak-isak. Lalu menggeleng tak mengerti
"Kamu gimana sih?Dulu ditinggal nangis karena patah hati,sekarang ketemu nangis lagi"
Shanti mencubit perut suaminya sambil melotot.
"Sudah,jangan didengerin. Ayo,temui bahagiamu" bisik Shanti,lalu mendorong Ocha lembut ke arah Bram. Pelan-pelan mereka mundur ke dalam,membiarkan Ocha berdua dengan Bram di taman.
Mereka berdua berdiri berhadapan,saling memandang,saling meyakinkan diri mereka masing-masing. Sampai ketika Bram merentangkan kedua lengannya,Ocha menghambur memeluk Bram. Bram mencium lembut kepala Ocha.
"Aku pulang,Cherry.Maafkan aku tidak bisa lebih cepat" bisiknya.
Ocha masih terisak-isak. Mereka berpelukan selama beberapa saat,sampai Bram berbisik
"Sudah nangisnya,kamu dengar ancaman mas Bobby tadi kan?" katanya dengan memasang ekspresi ngeri. Ocha mengangguk,lalu Bram mengajaknya duduk di kursi taman.
Tak lama,Yusi datang membawakan minuman,tisu dan bungkusan es batu.
"Cha,bersihkan luka mas Bram.Kasihan,ganteng-ganteng jadi biru-biru gitu"godanya.
Bram tertawa,tapinlalu meringis karena pipinya terasa nyeri. Yusi jadi makin tertawa.Yusi hanya melihat saja Ocha membersihkan luka di ujung bikir Bram,lalu mengompresnya dengan bungkusan es.
"Jadi gimana,mas?Besok jadi dampingi Lita?" goda Yusi lagi.
"Nggak laah" jawab Bram.
"Mamanya sudah semangat banget jodohin mas Bram sama Lita,Cha.Tangkapan yang bagus katanya" sambung Yusi.
Ocha tersenyum.
"Tau ga,mas?Calon tunanganku itu,dulu sempat deketin Ocha,tapi ditolak sama mamanya.Katanya ga selevel"lanjut Yusi lagi.
"Ih apa sih,Yus" protes Ocha.
"Tenang aja,mas.Ocha dari awal sudah bilang ga mau kok.Soalnya sepenggal hatinya sudah terbawa jauuh" katanya sambil kabur menghindari cubitan Ocha.
"Anak-anak,ayo ke dalam.Kita ngobrol di dalam" teriak tante Susi dari dalam.Mereka lalu membereskan meja taman,dan beriringan ke dalam.
Tampak Bram dan Ocha seperti magnet,harus saling berdekatan.
"Sebaiknya segera diresmikan saja" kata tante Susi
"Iya,ga baik ditunda-tunda.Kayanya sudah ga bisa jauh-jauh gitu"ledek Bobby
Ocha menunduk tersipu-siou,dan hendak.menggeser duduknya,tapi ditahan oleh Bram.
"Saya juga maunya begitu,tante. Tapi terserah Ocha saja" jawab Bram.
"Gimana,Cha?" tanya Tante Susi
Ocha menunduk malu
"Sepertinya Ocha perlu sedikit waktu,tante" jawabnya pelan.
"Masa 7 tahun kurang,Cha?" tanya Yusi
"Sepertinya Ocha masih kaget,semuanya terlalu tiba-tiba.Gapapa,tapi jangan lama-lama ya,nak" kata tante Susi.
Ocha mengangguk
Setelah mengobrol beberapa waktu,Bram pamit pulang.
Setelah Bram pulang,Ocha kembali menangis di pelukan tante Susi.Sepertinya semua beban yang ditanggung Ocha selama ini tiba-tiba runtuh.Ocha tiba-tiba merasa harus mengeluarkan semua bebannya dengan menangis.