Satu Minggu kemudian ...
"Kamu akan tinggal di sini mulai malam ini, sekarang masuk ke kamarmu dan bersiap-siap! Kamu mengerti kan?" ujar Chandra, kemudian menyematkan senyum lembut usai mengatakan demikian pada Yasmin. Tutur kata itu, terdengar halus ketika menjamah telinganya, ya sama halusnya seperti biasa, tetapi kali ini ia merasa ada yang berbeda.
Yasmin hanya terpaku di sini, jika biasanya ia akan bertingkah konyol dengan celetukan yang tidak bermutu, maka kali ini ia hanya bisa membisu. Situasi keduanya saat ini sudah berbeda, mereka bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan meski hanya sebatas sementara.
"Iya, Om," sahutnya pelan, ia serasa mendadak menjadi gadis kalem terhitung sejak ijab qobul terlaksana beberapa jam lalu.
"Oke, aku tunggu, Yas." Chandra berbalik badan, melangkah meninggalkan Yasmin yang bergeming. Dulu, mereka sering melakukan kontak fisik, tanpa ada rasa canggung atau apa pun karena beranggapan hubungan mereka sebatas teman.
Celetukan tidak sopan, dan cenderung sembrono juga tidak tanggung-tanggung menguar dari bibir si gadis bar-bar. Tetapi, malam ini, dia merasakan perbedaan yang signifikan. Chandra dan dirinya akan kembali terlibat kontak fisik, tetapi dalam konteks berbeda, tentu saja ini menjadi hal yang paling aneh.
Yasmin menghela napas panjang, ia bergegas pergi ke kamarnya dan melakukan apa yang diperintahkan Chandra. Namun, sebelum menanggalkan kebaya yang melekat pada tubuh, ia sempat menatap sekilas refleksinya di depan kaca almari.
Matanya terpejam, hanya sekejap sebelum akhirnya kembali dibuka lebar. Dia tidak pernah bermimpi akan menggadaikan rahim pada seorang teman kakaknya hanya demi menyelamatkan diri dari keterpurukan finansial, hah ... Yasmin menghela napas, dan selanjutnya mulai membuka satu persatu kancing kebaya yang saling bertautan.
"Aku akan menunggu sampai kamu selesai. Jangan lama! Aku nggak rela kamu lama-lama di kamar Yasmin." Belum juga melakukan apa-apa, Tamara sudah lebih dulu menceramahi Chandra yang baru saja selesai mandi dan sedang mengambil satu piring kaos dalam walk in closed.
"Hmm-mm." Hanya deheman singkat yang mewakili ucapan Tamara. Tidak berminat menyahut sebab tahu dia akan serba salah jika melakukannya. Malam ini bukan waktunya berdebat, ada banyak wacana yang harus terealisasi supaya tujuannya lekas tercapai.
"Kadang aku mikir, nggak nyangka aja harus berakhir seperti ini. Nggak nyangka kalau rumah tanggaku terlibat gonjang-ganjing kayak gini." Lagi, Tamara kembali bicara. Chandra membalik badan, kaos yang baru saja diambilnya sudah berpindah posisi pada tubuh atletis yang terpahat sempurna. Ia melangkah pelan mendekat pada Tamara yang duduk di tepian ranjang sembari bermuram durja dan duduk tepat di depannya.
"Aku melakukan ini untuk menyelamatkan rumah tangga kita, Tam. Meski aku tahu ini berawal dari kesalahanmu, tapi aku nggak berniat untuk menyudutkanmu di sini."
Tamara memilih untuk bergeming, menjatuhkan pandangan pada tangan yang diremas oleh tangan besar Chandra yang menghangatkan.
Tamara menelan salivanya dengan susah payah, ia seperti dipukul oleh benda berat tak kasat mata setelah Chandra membahas ini. Seumur hidup, pria itu tidak pernah mengatakan terkait ini padanya, tetapi malam ini, kenapa Chandra mengatakannya? Apakah secara tidak langsung pria itu ingin membuatnya sadar diri? Sadar kalau sebetulnya pernikahan ini salah?
"Oke ..." Tamara menghela napas sekejap lalu menjawab singkat tanpa menatap wajah Chandra.
"Aku ke kamar Yasmin dulu, aku segera kembali kalau urusan sudah selesai."
Tamara yang mendengarnya tentu saja terluka, hatinya berdenyut-denyut tidak karuan.
Mau melarang? Tentu saja ia tidak memiliki wewenang, meski statusnya adalah seorang istri.
***
"Bangun, Tuan putri. Jangan mentang-mentang sekarang tinggal di tempat enak dan layak, kamu jadi bisa seenaknya bangun sesukamu begini."
Yasmin membuka mata, kemudian terperanjat hebat, sosok Tamara berdiri sembari melipat tangan di depan d**a tepat di ujung kakinya.
Yasmin menarik pelan selimutnya sebelum akhirnya membawa tubuhnya bersandar pada kepala ranjang.
"Sorry, Tante. Aku kesiangan karena disuruh Om Chandra istirahat yang cukup," sahut Yasmin sembari memendar tatapan pada Tamara. Wanita itu pun menghela napas, tangannya yang semula bersidekap lantas turun kemudian mengepal di sisi tubuh.
"Cepat mandi! Siapkan sarapan!"
Yasmin menyibak selimut yang menutup sekujur tubuh, mengulet sebentar sebelum akhirnya turun dari ranjang.
Ia menatap lekat Tamara yang belum beranjak.
"Di sini, aku bekerja bukan sebagai pembantu. Kontrak kerja sama aku sama Om Chandra bukan untuk bersih-bersih atau melayani kalian berdua seperti majikan." Sebelum pergi melewati tubuh Tamara yang mematung, Yasmin sempat melirik sembari mengangkat sebelah bibirnya ke atas.
"Tolong tahu diri! Kalau bukan kamu yang menyiapkan sarapan untukmu sendiri lalu siapa?"
"Memang Tante nggak punya cukup uang untuk kasih aku makanan delivery? Payah!"
"Hmm, jadi penasaran berapa sih uang bulanan yang dikasih sama Om Chandra ini? Sampai istrinya sebegitu nggak mampunya beli makan di luar untuk orang yang sudah mau berbaik hati menampung calon pewaris keluarga ini."
Tamara emosi mendengar ucapan bernada satir itu, dengan gerakan penuh gegas, ia mencekal pergelangan tangan Yasmin yang hendak berlalu begitu saja.
"Sadar diri kamu siapa! Jangan bersikap sok di rumah ini, baru satu malam menginap sudah berasa menjadi yang paling berkuasa."
Yasmin tidak tinggal diam, ditangkisnya tangan dengan kuku-kuku panjang terawat itu hingga terlepas.
"Memangnya aku keliatan sok? Inget, Tante. Nggak usah ngajakin aku ribut karena kalau aku udah badmood, aku bisa kapan aja buka kartu as kamu. Mau kamu terhempas lalu jadi gelandangan?"
Tamara hampir saja melayangkan satu tamparan, tetapi sayang sekali aksinya itu lebih dulu dihalangi oleh Chandra yang baru saja masuk kamar Yasmin.
"Tamara! Apa-apaan kamu!"
"Lepasin!"
"Nggak aku lepasin kalau tangan ini sampai berbuat kejahatan," tukas Chandra tidak main-main. Tatapannya tajam, seakan memberi peringatan tegas pada Tamara agar tidak sembrono mengambil tindakan hanya karena dilandasi rasa cemburu pada diri sendiri.
"Dia duluan! Dia bicara sembarangan!" Tentu saja Tamara membela diri meski tahu dialah pemicunya.
"Lho, kok aku sih? Kamu dong, Tan. Orang kamu yang datangi kamar aku, itu artinya kamu yang ajak aku ribut duluan," sahut Yasmin sembari menunjuk dadanya. Dia berusaha sebaik mungkin untuk tidak turut termakan amarah lantaran dituding oleh wanita yang usianya berbeda enam tahun itu.
Tamara semakin tersulut, ditariknya paksa tangan yang masih ditahan oleh Chandra, lalu melenggang tanpa sepatah kata apa-apa.
"Sana kejar, Om. Gila itu istrinya, masa aku disuruh masak? Padahal nggak ada tuh perjanjian tertulis kalau di sini aku diminta untuk memasak juga. Melenceng banget ini, sih." Chandra menghela napas mendengar aksi protes yang dilayangkan dengan nada santai itu.
"Iya, maaf ya. Tidur kamu jadi terganggu."
"Its okay. Susulin gih! Kasih yang enak-enak biar berhenti marah-marah. Hahaha ..." Yasmin tertawa usai mengatakan demikian, lalu berlalu pergi meninggalkan Chandra lebih dulu.