bc

REACH FOR HOPE

book_age18+
40
FOLLOW
42
READ
family
dare to love and hate
drama
bxg
heavy
realistic earth
poor to rich
punishment
surrender
stepmother
like
intro-logo
Blurb

Impian setiap anak adalah ingin bisa mempunyai keluarga yang utuh dan bahagia. Namun, tidak dengan Amar Rinaldi. Ia harus menerima takdirnya menjadi anak Broken Home. Keadilan dan kasih sayang pun tak ia dapatkan lagi dari sang ayah yang jelas memiliki kekayaan yang melimpah. 

Dengan membawa dendam pada sang ayah, Amar harus memulai hidupnya lagi dari nol bersama ibunya. Ia menjadi seorang kuli panggul di sebuah pasar demi menghidupi keluarga kecilnya. 

Pertolongan Tuhan datang padanya, ia dipertemukan dengan Rama Dewangga. Seorang sahabat yang mau mengulurkan tangannya agar Amar  bisa bangkit. 

Mampukah Amar menggapai impiannya itu?

chap-preview
Free preview
Mencari Ayah

Dewi Astari, seorang ibu yang dikaruniai anak satu, baru saja mendapat kabar bahwa suaminya sedang bersama perempuan lain di sebuah restoran ternama.

Dewi pikir, itu hanyalah gosip belaka yang ingin membuat pernikahan dengan suaminya hancur. Namun, kabar itu kian meradang setelah ia memastikan pergi ke kantor bersama putra tercintanya yang bernama Amar Rinaldi. Anak itu baru saja pulang dari sekolahnya dan langsung ikut pergi bersama ibunya untuk menemui sang ayah.

Dan lagi-lagi Dewi mendapat kabar dari orang-orang kantor itu jika sang suami sedang tidak ada di ruang kerjanya. Sehingga, pikiran Dewi sudah tidak bisa sinkron lagi dengan apa yang sudah terjadi. Mungkinkah benar apa yang di katakan oleh orang-orang bahwa sang suami sedang main serong di belakangnya? Dewi benar-benar tidak tenang.

"Tidak ada di kantor? Berarti itu tandanya suamiku sedang pergi! Bahkan sekretaris nya saja tidak tahu dia pergi kemana. Apa benar suamiku bersama perempuan lain yang bukan kliennya?" kata Dewi dalam hatinya.

"Ada apa, Bu? Apa ada sesuatu?" tanya Amar penasaran.

"Tidak, Nak. Ayo kita pergi dari sini!" ajak Dewi kepada putranya.

"Kenapa pergi lagi, Bu? Kita gak jadi ketemu ayah kah?" tanya Amar penasaran. "Kenapa kita tidak tunggu saja di sini? Siapa tahu ayah akan segera datang!"

"Ayah sedang pergi, Nak. Kita tidak bisa nunggu ayah di sini. Jadi, lebih baik kita pulang saja," ucap Dewi meyakinkan Amar agar anak itu percaya.

"Ibu telepon ayah saja, bilang padanya kita sedang berada di kantor nya. Pasti ayah senang," ucap Amar dengan santainya.

"Tidak, Nak. Ibu tidak boleh telepon ayah kalau dia sedang bertugas. Mendingan kita pergi dulu jangan sampai mengganggu orang yang sedang bekerja," kata Dewi meyakinkan anaknya.

"Baiklah, tapi aku lapar, Bu. Boleh kah aku makan di luar?" kata Amar dengan wajah yang memelas.

"Tapi ibu sudah masak, Nak. Gimana dong? Lain kali aja ya, nanti kita pergi makan bareng sama ayah pasti seru!" ucap Dewi dengan bangganya.

"Mmm, baiklah. Tapi ibu janji ya, kita makan bareng sama ayah lagi. Sudah lama loh kita gak pernah makan bareng di luar!" ucap Amar menyipitkan matanya.

"Oke-oke, ibu janji!" ucap Dewi tersenyum manis.

"Nah, gitu dong Bu!" ucap Amar senang.

Dewi dan anaknya pun langsung pergi dari kantor suaminya itu. Betapa bahagianya ia saat berjalan bersama anak semata wayangnya meski terik matahari mulai terasa panas di ubun-ubun. Padahal dalam hatinya begitu kalut, tapi ketika melihat kebahagiaan anaknya, hatinya semakin kuat dan berusaha mampu untuk bertahan dari rasa sakit yang begitu menyesakan d**a.

Dewi percaya, perjalanan hidup setiap anak manusia memang sudah pasti selalu berbeda-beda. Namun setiap anak terlahir dengan hakekat sekaligus pesan yang sama. Hakekat dan pesan yang utama yaitu bahwa setiap anak adalah sebuah anugerah pemberian Yang Maha Pencipta, bagaimanapun kondisinya, kepada siapapun diberikannya, dan saat kapanpun dilahirkannya.

Ketika sedang asyik-asyiknya berjalan di atas trotoar bersama putranya, tiba-tiba saja Dewi melihat sosok yang tidak asing bagi dirinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Bowo, suaminya sendiri. Dia terlihat bahagia bersama seorang perempuan yang tak kalah cantik dengan dirinya. Mereka seperti baru saja makan siang di sebuah restoran itu, sesuai kabar yang baru saja ia dapatkan infonya dari salah satu tetangganya tadi. Bahkan, mereka saling bergandengan tangan menuju ke sebuah mobil yang tak lain adalah mobil suaminya.

"Bu, ada apa? Kok malah berhenti di sini?" tanya Amar keheranan.

Akan tetapi, Dewi tak menjawab pertanyaan anaknya itu. Bahkan raut wajahnya mendadak masam dan tidak seperti biasanya. Sehingga, Amar yang melihatnya pun merasa ada yang aneh dengan sikap ibunya itu. Dan setelah ia memastikan pandangan ibunya, ternyata yang sedang di lihat ibunya adalah ayah kandungnya sendiri.

"Ayah!" ucap Amar dengan suara yang lantang. "Ayah! Tunggu!"

Tanpa berkata apa-apa lagi, Amar langsung menghampiri ayahnya yang hendak masuk ke dalam mobil. Sementara, Dewi hanya terdiam kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia sangat syok dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya itu.

"Ayah! Tunggu Aku!" ucap Amar dengan suara yang lantang.

Dan pak Bowo sebagai ayahnya pun langsung membalikkan badannya dan melihat sang putra yang hendak menghampirinya. "Kamu! Ngapain di sini?"

Wajah pak Bowo terlihat tidak senang saat anaknya menghampirinya. Bahkan wanita yang ada di sebelah nya pun terlihat masam dan judes sehingga tidak enak dipandang. Ia pun langsung masuk ke dalam mobil karena tidak suka ada orang lain yang mengganggu kesenangannya.

"Ayah, aku sedang mencari ayah, ternyata ayah ada di sini. Dan ... siapa perempuan ini, Yah?" tanya Amar sembari menunjuk ke arah perempuan itu yang sudah duduk di dalam mobil.

"Kamu tidak perlu tahu siapa dia! Sudah sana pulang!" sentak pak Bowo dengan lantangnya.

"Tapi ... apakah pantas, ayah menyuruh aku pulang, sementara ayah akan pergi bersama perempuan ini?" ucap Amar dengan tatapan matanya yang tajam. "Coba lihat di sana, ibu juga sedang mencari ayah, tapi dengan gampangnya ayah menyuruh kita pulang!"

Pak Bowo pun langsung menatap ke arah sang istri. Hatinya sangat terkejut karena Dewi sudah melihat perlakuan dirinya kepada anak semata wayangnya. Ya, anak kandungnya sendiri ia perlakukan seperti pengemis yang sedang meminta-minta dan menyuruh nya pergi dari hadapannya.

"Yah, kenapa diam! Ayah selingkuh dari ibu ya?" kata Amar dengan tatapan sinisnya. Biar bagaimana pun juga, Amar sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Seusia Amar sudah pasti tahu apa artinya selingkuh.

"Mas, sudahlah ayo kita pergi dari sini. Lama-lama aku gerah lihat ocehannya dia. Bising aku, Mas!" kata perempuan itu yang terlihat tidak senang kepada Amar.

"Seharusnya kamu sadar kalau ayahku itu sudah punya anak dan istri. Kamu tidak malu apa merebut kebahagiaan orang lain dengan cara begini?" kata Amar yang semakin emosi.

"Diam kamu!" sentak pak Bowo. "Ini bukan urusan kamu, lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan ganggu ayah lagi!"

"Ayah! Tolong lah, kasihan ibu, Yah! Jangan sakiti dia, kalau ayah marah, marah saja padaku. Tapi jangan memperlakukan ibu seperti ini," kata Amar dengan memelas agar sang ayah mau mendengar nya.

Namun, ucapan Amar tidak digubrisnya. Pak Bowo terlanjur malu dan marah bercampur menjadi satu karena perselingkuhan nya telah diketahui langsung oleh anak dan istrinya. Tanpa berkata apa-apa lagi, pak Bowo pun langsung masuk ke dalam mobilnya. Sehingga membuat Amar terus memanggil-manggil ayahnya agar berhenti. Akan tetapi, mobil yang dikendarai pak Bowo terus saja melaju sehingga membuat Amar sakit hati.

"Ayah benar-benar tidak punya perasaan!" ucap Amar sembari meneteskan air matanya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

AKU PRIA TERKAYA

read
13.6K
bc

Menantu Kaya Raya

read
65.8K
bc

Pulau Surga

read
347.2K
bc

Menantu Dewa Naga

read
121.4K
bc

Aku Pewaris Konglomerat

read
2.3M
bc

Hasrat Tanpa Batas

read
30.9K
bc

PEWARIS HARTA TRILIUNAN RUPIAH

read
6.5K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play