bc

Mas Duda! I Need You!

book_age16+
1.2K
FOLLOW
10.5K
READ
possessive
dominant
sensitive
independent
drama
suger daddy
city
highschool
friendship
virgin
like
intro-logo
Blurb

"Iya. Saya memang suka sama kamu. Jauh sebelum ada pernikahan waktu itu,"

"Bisakah kita berjuang lagi. Dulu dalam diam. Tapi sekarang tahu sama tahu."

"Tapi ... saya bukan yang terbaik lagi untuk kamu. Saya takut, masa lalu dari rumah tangga saya mempengaruhi kehidupan kita selanjutnya,"

"Bisakah Mas berusaha dulu buat meyakinkan Mami?"

Adelio tampak terdiam.

"Kalau aku bilang, aku butuh Mas Leo. Apa Mas Leo mau memperjuangkanku lagi?"

Kisah yang sedikit rumit, antara Adelio dan Tissa.

Bagaimanakah kisah selengkapnya?

Spin-off dari Novel Tiga Hati.

chap-preview
Free preview
Leo dan Sasa

"Kakak ganteng?"


Laki-laki muda tanggung yang sedang mencuci tumpukkan piring-piring, gelas, dan alat makan minum lainnya di dapur cafe itu, seketika langsung menghentikan pekerjaannya, lalu menoleh ke arah suara yang terdengar di belakangnya. Dan ternyata, ada sosok gadis kecil berumur empat atau lima tahunan yang berdiri dengan wajah polos nanti cantiknya itu.


"Eh, maaf. Adek ada manggil saya?" tanya laki-laki muda yang berkisar sudah berusia sembilan belas tahun itu. Dan untuk sementara menghentikan pekerjaannya dahulu.


Gadis kecil itu pun tampak menganggukkan kepala.


"Ada apa?" tanya laki-laki itu dengan lembut dan sabar. "Kok bisa sampai ke sini? Adek nyasar ya? Mana orangtuanya?" sambungnya bertanya lagi.


Namun hanya dibalas gelengan kepala oleh gadis kecil itu.


"Terus?"


"Kakak, baru kerja di sini ya?" tanya si gadis kecil itu seperti menyelidik, yang sudah terlihat sangat lancar sekali dalam berbicara tersebut.


Laki-laki muda itu pun tampak menganggukkan kepalanya lagi, sambil menampakkan sedikit senyum segarisnya.


"Ouhh ... pantas saja gak kenal sama aku." Gadis kecil itu menyahut dengan nada santainya.


Sejak kapan tukang cuci harus kenal sama pengunjung. Gumam laki-laki muda itu dalam hati.


Namun sebisa mungkin dirinya pun tetap menyimak omongan gadis kecil itu dan tidak mempermasalahkannya.


"Adek mau cari siapa?" tanyanya, masih dengan nada sabar dan pelan. "Atau mau ke kamar kecil?"


Namun, masih dibalas gelengan oleh si gadis kecil.


"Kakak mau bermain sama aku?" tanya si gadis kecil itu, yang malahan membelokkan dari pertanyaan lawan bicaranya tersebut.


Laki-laki muda itu pun tampak merendahkan posisi berdirinya, lalu berjongkok di depan gadis kecil itu agar wajahnya tampak sejajar dengan wajah si gadis kecil. "Tapi ... saya di sini sedang bekerja, Adek. Jadi enggak bisa nemanin buat main, ya," tolak laki-laki muda itu dengan lembut. "Maaf ya,"


"Enggak papa kok kalau Kakak mau main sama aku. Gak akan ada yang marahin juga kalau mau main sama aku juga," ucap gadis kecil itu dengan raut wajah polosnya.


Membuat laki-laki muda itu pun tampak menghela napas pelannya. Sudah membayangkan dirinya akan mendapatkan teguran jika memilih asyik mengobrol dengan pengunjung cafe tersebut. Apalagi dengan statusnya yang baru saja bekerja tiga hari, bahkan hanya sebagai karyawan part time saja.


"Begini saja. Saya antar ke depan saja ya, ke tempat duduk Ayah atau Ibu kamu," bujuknya masih dengan nada sabar.


Sementara salah satu ujung matanya melirik ke arah cucian yang sudah menjadi tugasnya itu dengan helaan napas. Membayangkan pekerjaannya yang tidak akan kunjung selesai.


Namun sayangnya, gadis kecil itu malahan menggelengkan kepala, tanda ia tidak mau. "Ayahku kan lagi ada di tempat kerja yang satunya. Aku ke sini sama Mami, sama Bunda juga," ucapnya dengan khas logat anak kecilnya itu.


"Oke. Saya antar ke Mami dan Bundanya aja ya?" bujuknya lagi.


Gadis kecil itu pun tampak terdiam sesaat. Membuat lawan bicaranya itu pun mulai menampakan wajah yang tidak nyaman. Karena merasa ketakutan akan teguran dari karyawan senior di situ.


"Baiklah. Tapi ... kalau udah ketemu sama Mamiku dan Bundaku, kita main sama-sama ya, Kak?" ucap si gadis kecil, memberikan permintaan. "Tenang saja, Mami pasti bolehin kok," sambungnya dengan antusias.


Karena ingin urusan sepele tersebut cepat selesai dengan segera, akhirnya laki-laki muda itu pun sepakat dan menganggukkan kepalanya saja. Baginya, jika si anak kecil itu sudah bertemu dengan orangtuanya lagi, maka urusannya pun telah kelar dan dia juga bisa kembali bekerja lagi dengan tenang.


"Ayo, Kak."


"Iya," sahut laki-laki muda itu, kemudian.


"Oh ya, nama Kakak ganteng ini siapa?" tanya gadis kecil itu sambil berjalan dengan langkah kecilnya itu.


Laki-laki muda itu hanya bisa meringis dalam hati, mendapat pertanyaan itu.


"Adelio," jawab si laki-laki akhirnya dengan singkat.


"Kalau pakai panggilan Kakak Adelio kayaknya kepanjangan ya?" tanya si gadis itu bergumam pada dirinya sendiri. "Aku panggil Kakak Leo, aja ya?" sambungnya dengan sebuah penawaran.


Si laki-laki muda yang ternyata bernama Adelio itu pun, hanya menganggukkan kepala, agar urusannya dengan gadis kecil itu segera selesai juga.


"Kak Leo?"


"Ya?"


"Kak Leo gak mau gantian tanya ke aku juga, siapa namaku, gitu?" tanya si gadis kecil itu, yang bagi Adelio terlalu sangat cerewet untuk jumlah usianya.


Karena tidak ingin memperpanjang drama lagi, Adelio pun kembali menganggukkan kepala dengan sedikit rasa canggung. Dikarenakan, saat keluar dari area dapur sampai melintasi tempat para pengunjung cafe, dan juga sempat bertemu dengan karyawan seniornya, tetapi tidak ada satu pun yang menegur dirinya juga.


Malahan, para karyawan tersebut mengumbar senyum manis pada gadis kecil itu, yang saat itu juga tangan kanan kecilnya sudah menelusup ke genggaman tangan kiri Adelio tanpa ia sadari.


"Panggil aja, aku Sasa ya?"


"Iya," sahut Adelio dengan singkat.


"Mami!" seru gadis kecil yang meminta dipanggil dengan nama Sasa oleh Adelio tersebut, kepada seorang wanita yang sedang duduk berbincang dengan seorang wanita lainnya juga.


"Hei, Sasa? Pasti habis gangguin salah satu kakak-kakak di cafe ini kan?" tanya seorang wanita yang sedang berbicara dengan wanita yang barusan dipanggil mami itu oleh Sasa.


Sasa yang sudah terlihat ceria di raut wajahnya tersebut, kemudian ia tampak langsung menarik tangan kiri Adelio yang masih ia gandeng itu, membawanya ke arah maminya.


"Ayo, Kak. Aku kenalin sama Mami dan Bundaku," ucapnya sambil menggoyangkan genggamannya.


Dan tentu saja ajakan itu bertambah membuat Adelio semakin merasa canggung dan tidak enak.


"Ehh ... enggak usah pakai dikenalin, Adek. Tugas saya cuma antar kamu aja kan? Nah ... sekarang sama Maminya dulu ya ... Saya mau balik kerja lagi," tolak Adelio dengan halus sambil sedikit membungkukkan kepalanya ke arah maminya Sasa karena untuk menjaga kesopanan.


Dan langkah kecil Sasa pun ikut terhenti setelah mendengar penolakan dari Adelio tersebut.


"Loh, kan tadi janjinya mau main sama aku kalau udah ketemu sama Mami, Kak?" protes Sasa mulai memasang wajah cemberut. Membuat perasaan Adelio semakin menjadi tidak enak. Karena ingat kembali dengan pekerjaannya yang belum ia selesaikan juga.


"Tapi saya masih kembali kerja, Adek. Nanti___"


"Kenapa, Sa?" tanya maminya Sasa yang ternyata sudah berada di samping putrinya itu. "Oh ya ... kamu karyawan di sini juga ya?" tanyanya kembali tetapi ditujukan pada Adelio.


Adelio pun menganggukkan kepala dengan canggung dan sedikit salah tingkah. "Iya, Bu."


"Karyawan baru?" tanya maminya Sasa, lagi.


Dan sekali lagi Adelio pun menganggukkan kepalanya kembali. "Iya, benar Bu."


"Maafkan anak saya ya. Anak ini memang suka mengganggu karyawan sini kalau lagi saya ajak mampir," jelas maminya Sasa dengan senyum segarisnya. "Tapi anehnya baru kamu ini loh yang sampai ditarik-tariknya seperti tadi itu," sambungnya, sambil mengelus lembut rambut Sasa dengan gemas.


"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Tapi ... maaf juga saya tidak bisa menemani putri Ibu, saya harus kembali ke belakang. Karena pekerjaan saya belum selesai," balas Adelio dengan sopan.


"Nah, Sayang. Kakaknya mau kerja dulu. Sasa main sendiri dulu ya?" tawar sang Mami pada Sasa.


"Tapi Kak Leonya tadi udah janji loh, Mi. Janji kan hutang, jadi harus ditepati dong ...."


"Emang Kakaknya janji apa?" tanya maminya itu, sedangkan Adelio sendiri sudah mulai tidak nyaman berada di antara anak dan ibu itu.


Namun, untuk memotong pembicaraan mereka berdua tersebut dan pergi begitu saja dari situ, Adelio juga merasa tidak berani. Lebih tepatnya bagi Adelio itu tidak sopan.


"Kata Kak Leo tadi, kalau Sasa mau diajak menemui Mami, Kak Leo baru mau bermain-main sama Sasa. Ya kan Kak?"


Adelio yang tidak siap mendapat pertanyaan dari Sasa, spontan saja langsung menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu. Bukannya menjawab Sasa, Adelio malahan melemparkan pandangan matanya ke arah maminya Sasa. "Maksud saya tadi bukan begitu, Bu. Mungkin adeknya ini jadi salah paham dengan maksud jawaban saya tadi," ucapnya dengan raut segannya itu.


Maminya Sasa tampak menyunggingkan senyum simpul. Dan mungkin saja sudah memahami apa yang dikeluhkan oleh Adelio tersebut.


"Sekali lagi maaf ya, Bu. Kali ini saya harus kembali bekerja. Saya takut mendapat teguran, kalau terlalu lama ngobrol di sini."


"Kak Leo itu enggak usah takut. Yang punya cafe ini ayahku kok. Jadi ... gak akan ada yang mau marahin Kakak juga," sela Sasa dengan nada serius. "Kan ada aku,"


Tentu saja perkataan Sasa barusan itu, membuat Adelio terkejut dan bingung.


"Gak papa, Leo. Eh benar kan nama kamu Leo?" tanya maminya Sasa memastikan.


"Adelio, Bu. Cuma adeknya ini tadi yang panggil nama itu," jawab Adelio.


"Ouhh ... baiklah. Yang dikatakan oleh Sasa tadi memang benar. Sasa adalah putri pemilik dari cafe ini. Emm ... maksud saya, kamu gak perlu takut kalau Sasa ingin bermain sama kamu di sini. Anaknya gak nakal kok. Cuma dia memang sedikit cerewet karena perlu teman sepertinya.

Maklum, dia ini anak pertama. Mungkin bertemu dengan kamu merasa seperti bertemu dengan kakaknya sendiri," tutur maminya Sasa panjang lebar.


Adelio pun menghela napas pelan dan sedikit lega. Merasa lega karena dirinya tidak akan terancam dipecat dari pekerjaannya itu.


"Sekarang gini aja. Karena kakaknya mau balik kerja lagi, Sasa boleh ikut, tapi ... gak boleh gangguin dulu ya, Sa?" ucap maminya Sasa menawarkan.


"Setelah kakaknya selesai kerja, boleh kan main-mainnya?" tanya Sasa memastikan.


"Iya boleh," jawab sang Mami dengan senyum dikulum. "Nak Leo? Gak papa kan kalau Sasa temenin kamu kerja. Anaknya udah janji juga itu kalau gak akan nakal," ucap maminya lagi tetapi ke arah Adelio.


Karena merasa tidak ada masalah dan tidak mengganggu pekerjaannya, Adelio pun menganggukkan kepala tanda setuju.


Setelah pamit untuk mengundurkan diri, Adelio pun segera berbalik badan dan kembali ke tempat kerjanya, dengan diikuti oleh Sasa.


Ketika Adelio fokus dengan pekerjaannya, Sasa pun menarik kursi yang terbuat dari bahan plastik itu mendekat ke arah Adelio. Setelah itu duduk di sana sambil terus memperhatikan Adelio bekerja.


"Kak,"


"Ya?"


"Kakak ganteng, betah kerja di sini?"


Masih dengan kedua tangan yang sedang sibuk, Adelio pun menganggukkan kepala tanpa menolehkan wajahnya ke arah Sasa.


"Kalau gitu, mulai sekarang kita berteman ya Kak?"


"Emang kamu gak malu berteman dengan saya?" tanya Adelio, balik.


"Enggak dong. Kan aku suka ketemu sama kakak," jawab Sasa dengan intonasi dan ratu wajah riang. "Kalau Kak Leo, suka juga gak?"


Tanpa menoleh juga, Adelio pun singkat menjawab, "iya, suka."


editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Berjodoh

read
7.0K
bc

Menggoda Tuan L

read
257.0K
bc

BELENGGU

read
54.6K
bc

Yes, I'm Sugar Baby

read
35.1K
bc

Jadilah Mamaku

read
35.9K
bc

Mendadak Nikah

read
46.3K
bc

Hot Duda Lebih Menggoda

read
249.2K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play