5. Harimau dan Pohon Kehidupan

1015 Words
"Aku tidak tahu kenapa aku mengikutinya. Mungkin aku sekadar mencari-cari alasan untuk melarikan diri, atau mungkin ... aku hanya ingin diselamatkan." (Janu) *** Janu memerhatikan sekeliling, baru menyadari tinggal mereka berdua saja yang ada di kedai itu. "Jadi, kenapa pohon?" Dia kembali memandangi tato di lengan Sky. “Ini?" Sky memamerkan tatonya. "Ini disebut tree of life, pintu menuju dunia roh.” “Kau percaya hal-hal begitu?” Janu berdecak sinis. “Roh? Spirit? Dalam kata lain ... hantu? Tentu saja aku percaya! Apa kau pernah melihat hantu?” Sky balik bertanya dengan antusias. Janu tidak langsung menjawab pertanyaan Sky, tetapi berandai-andai jika hantu sungguhan ada, dia pun mau bertemu hantu, hantunya Anjani. “Tidak, aku tidak pernah melihat hantu. Memangnya ada? Konyol!" Sky mencibir. “Terserah kau sajalah!” Dia kemudian menarik kausnya sampai ke atas---tak peduli dengan tatapan orang-orang lain yang ada di sana----berbalik memunggungi Janu, lalu memamerkan lagi tatonya yang lain. “Lihat ini! Yang ini favoritku.” Awalnya Janu melirik sedikit, sungkan untuk melihat terang-terangan, tetapi kemudian tertarik memerhatikan lebih jelas. Itu tato sesosok harimau yang dengan pongahnya melintang mulai dari pinggang sampai punggung atas Sky. Harimau itu menengok ke belakang, mata kuningnya menatap penuh ancaman. Tato itu dibuat sangat detail, ekspresif, dan indah. “Apa ini termasuk hal keren lainnya yang mau kau tunjukkan kepadaku?" Janu menyembunyikan kekagumannya. Bahu Sky merosot. Dia menurunkan kausnya, lalu kembali menghadap Janu. “Astaga! Susah sekali, ya, membuatmu terkesan?" "Sekarang aku benar-benar harus pergi." Janu berdiri. “Tunggu! Ini yang terakhir, ikutlah aku ke suatu tempat.” Sky belum mau menyerah. Dia masih mengkhawatirkan Janu. Janu mengingatnya akan dirinya sendiri. “Apa lagi sekarang?" “C’mon My Man!” Sky berdiri, meraih uang yang tadi ditinggalkan Janu di meja, memberikannya kepada si pemilik kedai, dan menyimpan uang kembalian untuk dirinya sendiri. Sekali lagi, Janu setuju mengikuti Sky, lelaki gondrong bertato yang baru saja dia temui. Janu sudah tak lagi ambil pusing, tak peduli apakah Sky berniat buruk kepadanya atau tidak, toh, tadinya dia memang ingin mati. Ternyata, Sky membawa Janu ke sebuah studio tato tak jauh dari tempat mereka makan. Pintu studio itu digembok dari luar. Sky membungkuk untuk meraih sesuatu dari bawah pot besar yang ada di samping pintu, sebuah kunci. “Ayo, masuk!” katanya setelah membuka pintu. "Ini tempatmu? Studiomu?" Janu melihat-lihat ke dalam studio. Dari luar, studio tato itu kelihatan kecil, tetapi dalamnya luas, memanjang ke belakang. Dinding-dindingnya dipenuhi reproduksi lukisan dari berbagai seniman tato terkenal di manca negara. Sepasang sofa merah bergaya victorian yang mewah diletakkan untuk menyambut pengunjung. Di antara sofa-sofa itu ada meja kopi kecil dengan pajangan berupa kura-kura yang sudah diawetkan. Satu meja lagi yang berukuran sedang berada di depannya. Tumpukan album-album berisikan berbagai ilustrasi dan foto tato berserakan di atasnya. Sebuah meja konter diletakkan memanjang sebagai partisi untuk menuju ke ruangan di sebelahnya yang lebih privasi, tertutup oleh tirai tebal berwarna marun dengan aksen emas. Secara keseluruhan, studio itu didekorasi dengan nuansa gothik yang membuat Janu seolah-olah sedang memasuki sarang seorang vampir. "Welcome to Sky's Tatoo and Piercing!" Sky membuka tangannya lebar-lebar, lalu membungkuk seakan-akan sedang memberi hormat. "Silakan duduk!" Janu duduk di salah satu sofa dan merasa sedikit gelisah dengan kura-kura awetan yang kepalanya mengarah kepadanya. "Namanya Rambo, kura-kura itu." Sky bicara seakan-akan mengerti isi hati Janu. "Dia hewan peliharaan kesayanganku tadinya. Aku tidak sanggup menguburkannya begitu saja. Dia terlalu cantik untuk mati, bukan?" Janu memiringkan kepala, tidak tahu harus berkomentar apa. Dia bukan penyayang binatang dan mengawetkan makhluk yang sudah mati untuk pajangan terdengar tidak masuk akal baginya. "Ini!" Sky meletakkan beberapa album berisi berbagai ilustrasi tato ke pangkuan Janu. “Pilih yang mana kau suka.” “Apa ini?" Janu membuka-buka album. "Tato? Aku?" Matanya membelalak. Sky mengangguk. “Gratis! Gantinya makan siang tadi.” “Aku tidak pernah bilang mau ditato, lalu apakah kau sendiri yang akan mengerjakan tatonya?” Janu memicingkan mata, meragukan kemampuan Sky. “I'm a pro, Man! I'm an artist! Trust me!” "Apa rasanya sakit?" Janu meringis. Sky tertawa terbahak-bahak. “Apa yang lucu?” tanya Janu gusar. “Untuk ukuran orang yang mau bunuh diri, kau sangat lucu! Apalah artinya sebuah jarum dibandingkan tali gantungan yang tadi kau buat?” Wajah Janu memerah, campuran antara kesal dan malu. Segala niatnya tadi pagi untuk berpisah dengan dunia fana, sekarang terdengar bagai olok-olok belaka untuk Sky. Egonya terusik. Dengan cepat Janu menyingkirkan semua album-album yang diberikan Sky, lalu berkata dengan percaya diri, “Aku mau pohon itu, Tree of Life, buatkan yang modelnya berbeda dengan punyamu, juga sebuah nama. Anjani.” "Pilihan yang berani untuk seorang pemula." Sky memuji. "Akan butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikan tato seperti yang kau mau." Janu berdehem. "Kita bisa mulai dari yang kecil dulu." Sky tidak bertanya lebih jauh tentang siapakah Anjani. Dia malah terus saja mengoceh tentang arti simbol-simbol tato yang pernah dibuatnya. "Tree of Life juga dipakai sebagai simbol di berbagai teologi dunia sebagai pohon suci, pohon pengetahuan yang menghubungkan manusia ke surga atau neraka. Beberapa mengartikannya sebagai pohon di mana Adam melanggar perintah Tuhan untuk tidak memetik buahnya." Sky kemudian meraih sebuah album, membuka halamannya, menunjuk sebuah ilustrasi pohon dengan detail ranting-ranting kering yang rumit. "Bagaimana dengan ini?" "Sangat indah," gumam Janu. "Lakukan." "Tentu, kau bosnya, Man! Silakan, ikut aku ke dalam." Sky memberi isyarat agar Janu mengikutinya masuk ke dalam ruangan yang ada di balik tirai. Janu baru pertama kali masuk ke studio tato. Dia bergidik melihat kursi yang mirip dengan kursi pasien di klinik dokter gigi. Selain kursi kecil di sebelah kursi itu, tak ada kursi lainnya. Sebuah ranjang yang juga mirip dengan ranjang rumah sakit mengisi tengah-tengah ruangan. Lelaki itu berdiri di tempatnya dengan canggung, memandangi punggung Sky yang sedang mempersiapkan peralatannya. "Apa kau ada alergi? Kulit sensitif? Apa ada iritasi sebelumnya?" Sky bertanya. "Tidak, tidak ada." "Good! Jadi, kau sudah memutuskan di mana tato pertamamu?" "Lengan. Lengan atas." "Oke. Silakan duduk, buat dirimu nyaman." Sky menunjuk kursi yang mirip kursi pasien klinik gigi itu. Janu duduk dan merasa dirinya tenggelam dalam kursi itu. Dadanya berdebar. Untuk pertama kali setelah kematian Anjani, dia melupakan kesedihannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD