Berusaha Merayu

2070 Words
Tring.... Notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Kale yang tergeletak di meja– ditinggalkan pemiliknya yang sedang bersiap entah hendak ke mana. Genta yang penasaran pun membukanya. Dia sudah menduga pasti dari para perempuannya Kale. Sudah dapat dipastikan. Semacam tidak dosa saja, Genta mengambil ponsel Kale dan membuka pesan yang cukup menarik perhatiannya. Ternyata dari Gempita yang memberitahu jika dirinya sudah siap dan menunggu jemputan Kale. "Dasar playboy," desis Genta, dia menggelengkan kepalanya melihat isi pesan di akun Kale. Kurang lebih isinya gombalan supaya si perempuan terbuai dan nantinya jatuh cinta padanya. Malam itu Kale mengajak Gempita untuk makan malam bersama. Sepertinya tak hanya itu, melainkan juga berusaha menaklukkan hati Gempita. Genta tahu benar bagaimana watak saudara kembarnya. Pasti Kale suka dengan Gempita. Entah benar-benar suka atau hanya kagum dengan kecantikannya. Kale sulit ditebak juga. "Lancang banget, sih!" gertak Kale merebut ponselnya yang diambil Genta. Dia sedikit kesal saat melihat ponselnya berada di tangan Genta. Panik juga karena takut jika dirinya nanti harus menerima beragam nasihat dari Genta yang bisa jadi merambat ke Papa dan Mamanya. Kale kerap sekali mendengar nasihat dari mereka supaya tidak bermain-main dengan perempuan. Dan sebenarnya Kale tidak menganggap perempuan sebagai sebuah permainan. Perempuan terlebih dahulu yang datang padanya. Dia hanya menerima, selebihnya tidak dilanjutkan. Kale sulit sekali jatuh cinta. Dia jadinya terkesan bermain-main karena setiap ada perempuan datang menghampirinya tidak ada yang pernah diajak serius. "Kaya kamu tidak pernah saja! Bukannya kamu juga sering memeriksa ponselku?" tukas Genta membuat Kale mati kutu. Genta menyilangkan tangannya seraya menatap Kale lekat sekali seolah ingin menerkamnya juga. Kale juga sering memeriksa ponsel Genta. Meski berisikan pesan dengan rekan bisnis, tetap saja membuat Genta tidak nyaman dan marah. "I-itu kan hanya mengecek apakah kamu bekerja dengan baik saja, tidak lebih. Ah, sudah. Aku mau pacaran dulu!" "Memangnya Gempita sudah menjadi pacarmu?" ledek Genta membuat Kale lagi-lagi mati kutu. Genta yakin bahwa Kale hanya mengada-ada saja tentang Gempita. Kale lantas pergi meninggalkan saudara kembarnya yang menyebalkan. Tak jauh menyebalkan dengan dirinya (sebenarnya). Gempita memang saat ini belum menjadi kekasihnya. Tapi Kale akan memastikan cepat atau lambat dirinya akan segera memikat Gempita– tak boleh kalah dengan siapa pun. Begitu tekad Kale jika ada yang mampu menyentuh hatinya, maka dia akan benar-benar menggapainya. Untuk kali ini sepertinya dia sangat serius. Seorang perempuan cantik dengan tampilan sederhana namun tetap memikat telah berada di samping Kale. Digenggam erat tangan Gempita dan diajaknya melangkah menuju ke suatu tempat untuk menyantap makan malam. Kursi ditarik, diusap terlebih dahulu supaya tidak ada debu yang melekat. Kemudian baru dipersilakan untuk diduduki. Tentu, perlakuannya ini membuat Gempita tersipu. Kale sangat romantis. Terlampau romantis. Kale sendiri segera duduk di kursi yang menghadap Gempita. Tangan kemudian melambai memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan. Seorang pelayan pun datang memberikan buku menu, dia berdiri di tengah-tengah Gempita dan Kale untuk mencatat pesanan mereka. Ditatap buku menu yang ada di restoran tersebut sejenak, sebelum akhirnya menyebut makanan yang diinginkan. Cukup lama karena mereka benar-benar menyesuaikan dengan keinginan dan selera. Sayang juga jika nanti salah pesan dan akhirnya tidak termakan habis. "Fettuchini Carbonara!" seru Kale dan Gempita serempak. Mereka jadi tersenyum menyadarinya. Dan yang senyumnya paling lebar adalah Kale, tidak menyangka bisa berseru secara bersamaan. "Minumnya apa, Kak?" tanya pelayan dengan senyum pula setelah mencatat pesanan Kale dan Gempita yang diucapkan serempak tadi. Nampaknya dia juga sering mengamati kejadian seperti tadi. Dia mengira bahwa kedua orang yang di hadapannya itu sedang berbunga-bunga. "Lecyee tea," ucap Gempita menjawab pertanyaan dari pelayan tadi. "Saya lemon tea, ya, Kak. Pakai es yang banyak," timpal Kale menyebut minuman yang selalu dipesannya. Pelayan tersebut lalu pergi setelah mencatat pesanan Gempita dan juga Kale. Kale jadi salah tingkah. Apalagi saat melihat Gempita jauh lebih cantik malam itu. Ya, Gempita memoles wajahnya dengan make up tipis. Hampir tidak terlihat, tapi Kale tahu bedanya dari biasanya. Biasanya Gempita tidak bermake-up, terkadang hanya memakai lip tint atau lip cream, itu pun tipis sekali, jika makan sesuatu pasti langsung hilang. "Ehm, ternyata kita punya kesamaan, ya. Sama-sama suka Fettuchini Carbonara." Kale memulai percakapan. Tak biasanya dirinya seperti ini— canggung dan gugup tatkala bersama perempuan. Entah melayang ke mana jiwa playboy-nya. Intinya, Kale sangat tersipu saat perempuan yang dia incar memiliki kesamaan dengannya meski hanya satu hal. "Sebenarnya aku tidak suka. Hanya itu yang aku lihat di daftar menu. Makanya aku memesannya." Gempita berkata apa adanya. Dia hanya melihat Fettuchini Carbonara. Hanya ada satu buku menu saja tadi dan itu pun Gempita tak diberi kesempatan untuk menatapnya karena Kale yang memegangnya. Jadi, tak ada kesempatan untuk memilih menu lain karena Gempita juga tidak mau membuat pelayan menunggu lebih lama lagi. Begitulah alasan dia memesan Fettuchini Carbonara. Jawaban Gempita membuat mental Kale jatuh seketika. Dia mengira jika Fettuchini Carbonara merupakan makanan kesukaan Gempita, sama seperti dirinya yang menyukai makanan tersebut. Gombalan yang telah disiapkan sebelumnya pun harus dikubur dalam. Kale jadi malu sendiri karena anggapannya salah, dia harusnya tidak percaya diri seperti tadi. "Ehm, kamu cantik deh malam ini...." Kale memulai kembali. Dia tidak mau kalah begitu saja. Lelaki itu harus bisa membuat perempuan di hadapannya itu takluk padanya. Dia terus saja berharap supaya Gempita terbuai dengan rayuannya. "Ha-ha-ha, bisa aja kamu." Bukannya tersipu malu, yang ada Gempita malah tertawa mendengar gombalan Kale. Gempita sepertinya terlalu sering mendengar pujian seperti itu, makanya dia biasa saja. Bukan hal mudah untuk menaklukkan Gempita. Perempuan itu berbeda sekali dengan perempuan yang sering Kale jumpai selama ini. Gempita sangat berbeda, dan Kale sangat tertantang untuk mendapatkannya. Cukup lama Kale berusaha membuat Gempita jatuh padanya, namun tetap saja sulit dilakukan. Gempita bukan perempuan sembarangan. Dia agak sedikit dingin hatinya. Kale tahu itu. Ehm, bahkan tidak hanya dingin, tapi sedikit tertutup. Fettuchini Carbonara telah habis dalam waktu sekejap diselingi dengan canda tawa dari keduanya. Kale kembali dibuat kesal. Setiap makan malam, pasti perempuan yang bersamanya belepotan ketika selesai makan– dan ini adalah waktu Kale untuk menggoda yaitu dengan membersihkannya dengan tisu. Tapi ternyata Gempita makannya rapi hingga tak ada noda yang tertinggal. Kale lantas berpikir keras, apakah selama ini perempuan yang selalu berkencan dengannya itu sengaja membuat mulutnya kotor supaya diusap lelakinya? Ah, kalaupun iya itu menyebalkan sekali. Dan pada akhirnya Kale membiarkannya begitu saja, dia kemudian mengajak Gempita untuk pergi karena malam juga makin larut. Gempita hanya menurut, dia akan ikut ke mana saja bersama Kale. Motor melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai padat. Kale memang sengaja untuk membawa motor daripada mobil. Kalau motor itu jauh lebih romantis, apalagi cocok sekali saat malam hari seperti ini. Gempita pasti kedinginan, dan akan memeluk Kale nantinya. Begitulah yang berada di pikiran Kale. "Gempita... Kalau dingin peluk saja aku, dan masukkan tanganmu ke kantung hoodie-ku," teriak Kale memberitahu perempuan yang sedang diboncengnya— takut tidak terdengar, makanya berteriak. Kale yakin Gempita kedinginan karena angin malam berhembus cepat, apalagi beberapa saat yang lalu hujan sempat turun. "Aku sudah biasa dingin. Lagi pula ini tidak sebanding dengan musim dingin di Jepang," sahut Gempita berteriak juga karena takut tak didengar Kale. Sial. Kale melupakan hal ini. Di Jepang ada musim dingin, tentu saja Gempita terbiasa dengan udara seperti ini. Bahkan udara malam tak sebanding dengan udara saat musim dingin menyapa. Mental Kale benar-benar dipertaruhkan malam ini. Banyak hal yang membuatnya terpuruk. Kale cukup sedih karena usahanya tidak ada yang berhasil. Tiinnn... Kale membunyikan klakson motornya dan berhenti tepat di depan penjual ronde. Gempita lantas diminta untuk turun dan duduk di kursi plastik yang disediakan. Gempita hanya menurut, dia menatap Kale yang sedang berbicara dengan penjual, Kale kemudian duduk di sampingnya. Mereka terdiam sejenak sebelum akhirnya penjual memberikan dua mangkuk ronde, satu untuk Kale dan satunya lagi untuk Gempita. "Ini yang namanya cilok? Tapi kok ada kuahnya? Ada kacangnya juga?" Gempita nampak terheran ketika mendapati tiga butir makanan yang mirip sekali dengan cilok yang pernah dia rasakan, namun disajikan dengan kuah dan juga terdapat kacang serta potongan agar-agar. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Ini namanya wedang ronde. Rasanya manis dan ada pedas dari jahe. Cocok untuk malam yang dingin ini karena nanti bisa menghangatkan tubuhmu," jelas Kale. Dia sendiri agak kedinginan, maka dari itu berusaha mencari kehangatan dari semangkuk ronde. "Tapi ini seperti cilok yang kemarin kubeli," ucap Gempita menyendok bulatan kenyal berisikan kacang. Dia lalu memakannya dengan satu suap, padahal bulatan tersebut cukup besar. Kale tersenyum gemas melihat mulut Gempita yang penuh dengan satu bulatan ronde. "Enak sekali!" ujar Gempita dengan mata berbinar menunjukkan jika dia sangat menyukainya. "Coba seruput kuahnya, begini...." Gempita lalu mencoba kuahnya dengan cara diseruput dari tepi mangkuk kecil– sama seperti yang Kale ajarkan padanya. "Gimana? Enak, kan?" Gempita mengernyit dan menggeleng. Dia merasakan pedas dan panas di mulutnya. Rasa jahe begitu menyeruak, Gempita dari dulu memang tidak menyukai jahe. Ah, Gempita baru tahu kalau wedang ronde itu nama lain dari minuman jahe. "Aku tidak suka kuahnya. Tapi aku sangat suka ciloknya. Ini seperti mochi." "Ah, iya ini sama seperti mochi. Karena terbuat dari tepung ketan juga," sahut Kale. Dia malah seperti seorang guide bagi Gempita. Tapi tidak masalah, Kale justru senang memberitahu makanan khas Indonesia kepada orang yang sebenarnya memang orang Indonesia, namun tumbuh dan besar di negeri Jepang. "Apa ini hanya dijual ketika malam saja? Soalnya aku tidak pernah menemui penjual ini ketika siang hari." Gempita kembali bertanya mengenai hal yang ingin sekali diketahuinya. Kale mengangguki. Dia pun juga menjawab semua pertanyaan yang terlontar dari mulut Gempita. Sepertinya ini juga ciri khas orang Jepang yang selalu ingin tahu dan terus saja menggali apa yang ada di hadapan mereka sampai paham betul. Wajar juga untuk hal baru, pasti banyak pertanyaan. Mereka kembali menikmati wedang ronde yang mampu menghangatkan tubuh di dinginnya malam. Namun, Gempita tidak menghabiskan kuah rondenya karena dia benar-benar tidak suka. Motor kembali melaju menuju ke rumah Gempita. Malam ini sudah cukup mengajak anak gadis orang keluyuran. Kale sudah puas meski gombalannya sirna terhadap Gempita. Rumah Gempita masih berjarak 3 km lagi, tapi kesialan datang saat itu juga. Motor gede Kale tiba-tiba mati padahal tidak kehabisan bensin. Ah, motor tua mudah sekali mogok. Kale kesal sekali karena motornya mogok di saat dia bersama perempuan— memalukan sekali. "Apa motornya baik-baik saja?" "Tentu saja tidak. Kalau baik-baik saja mana mungkin motornya mati." Kale sedikit kesal dengan Gempita yang memah bodoh atau hanya pura-pura bodoh saja. Kale lalu mencoba mencari sumber informasi dari google letak bengkel terdekat. Ternyata ada, tapi masih berjarak 3 km lagi, hampir sama dengan jarak rumah Gempita. Itu akan sangat melelahkan. "Ehm, kamu naiklah, aku akan mendorong motornya," ucap Kale yang membuat Gempita kebingungan. Kale hanya ingin Gempita tidak lelah berjalan. "Aku naik, terus kamu jalan? Ah, tidak-tidak. Aku akan jalan denganmu. Lagi pula aku sudah biasa jalan kaki." Begitu jawaban Gempita. Tentu saja dia tidak mau naik ke motor Kale jika pemiliknya saja harus berjalan dan mendorong motornya. Kale lega karena ternyata Gempita juga menghargai dirinya. Lelaki itu mendorong motor dengan pelan diiringi langkah kaki Gempita yang juga memelan dari biasanya. Gempita tahu jika mendorong motor itu melelahkan, makanya dia berjalan pelan supaya Kale tidak kewalahan mengikutinya. Diselingi dengan obrolan kecil, suasana pun jadi berubah. Lelah berangsur menghilang digantikan dengan tawa yang tercipta. Sepertinya hampir 1 km mereka berjalan. Dan waktu yang ditempuh juga cukup lama. "Bintang malam ini sedikit, ya. Padahal biasanya banyak dan cantik sekali," ucap Kale seraya menatap langit yang kala itu hanya ada beberapa bintang. Dia berusaha mengusir penatnya, meski tubuhnya harus tetap kuat berjalan dengan mendorong motornya melintasi jalanan yang sepi. "Benarkah? Biasanya seperti apa? Kalau di Jepang sangat indah jika banyak bintang di langit, apakah di sini juga sama?" Gempita ikut menatap langit yang gelap dengan bintang yang bisa dihitung jari. Tapi langit tetap terlihat cantik. Langkah perempuan itu tetap berlanjut, dia sesekali menatap jalanan karena takut jatuh. "Tentu. Mereka sangat indah, tapi perempuan di sampingku jauh lebih indah." Yups! Kale mampu melontarkan gombalannya lagi. Akhirnya berhasil juga, dan sepertinya Gempita tersipu mendengarnya. Terbukti dengan pipi perempuan itu yang sedikit merona. Hati Kale bergejolak, dia tersenyum kemenangan karena berhasil membuat Gempita tersenyum dan tersipu dengan gombalannya tadi. "Sudah berapa perempuan yang kamu goda seperti tadi, Tuan Kale yang playboy?" Gempita tergelak sendiri bertanya demikian. Dia yakin jika bukan dirinya saja yang dibuat tersipu oleh Kale. Dan Kale hanya memberikan senyum malu. Dia sendiri menyadari bahwa dirinya tidak hanya merayu satu perempuan, melainkan banyak sekali dan sudah tidak terhitung lagi dengan jari. Namun, gombalannya kali ini terasa spesial pada Gempita. Nampaknya memang Kale kali ini tidak hanya tertarik, dia benar-benar jatuh hati pada perempuan keturunan Jepang Indonesia itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD