[ 44 - Ketakutan dan Trauma ]

1589 Words
STORY 44 - Ketakutan dan Trauma *** Tahun 2025 – Masa kini REKOMENDASI LAGU – Little Do You Know – Alex & Sierra Dokter tidak lama kemudian datang mengeceh suhu tubuh Asta dan Ravin terlebih dahulu, tak seperti tadi. Kedua putranya masih bisa merengek dan menangis rewel. Sekarang mereka justru terbaring lemas, dengan kompress di kening dan wajah memerah karena panas. “Suhu tubuh mereka hampir sama, Ravindra 38.6, sedangkan Asta lebih tinggi, 38.9 derajat.” jelas dokter wanita itu setelah mengecek suhu badan mereka, “Jika kondisi mereka tidak membaik selama 5 hari, keduanya harus dirawat inap, berbahaya bagi anak kecil jika demam mereka terlalu lama.” Karena kondisi Asta dan Ravin yang lemas, Arsen terpaksa menghubungi dokter khusus mereka untuk datang langsung ke rumah. Jemari Ratu tak henti-hentinya gemetar, rasa takut wanita itu semakin membesar. Melihat kedua putranya sakit saja sudah cukup menjadi ketakutan baginya. “Baik, Dok.” ucapnya pelan. Tepat saat dokter itu hendak mengecek detak jantung kedua putranya, sang empunya dengan pelan membuka pakaian Ravin terlebih dahulu, Ratu dan Arsen hanya melihat dari dekat, saat pakaian Ravin dibuka. Detak jantung Ratu nyaris terhenti, manik ambernya melebar shock. Dibalik pakaian Ravindra, beberapa warna memar keunguan nampak jelas tercetak di bagian tubuh Ravin. Dokter itu terkejut, begitu juga Arsen. Bekas luka memar dengan warna keunguan menghiasi tubuh putranya. Sosok mungil yang berusaha menyembunyikan lukanya selama ini. Tanpa aba-aba, Ratu bergegas membuka pakaian milik Asta. Dalam beberapa detik, bahkan semakin shock lagi. Di tubuh Asta memar nampak lebih banyak tercetak, dalam tidurnya pemuda kecil itu mengerang sakit, “Ungh, sakit,” rengeknya pelan. Meringsek, menepis tangan sang ibu yang kini menyentuh tak sengaja lukanya. Dokter itu menatap khawatir, “Apa yang terjadi sebenarnya, Tuan, Nyonya? Pantas saja panas mereka setinggi ini,” ujarnya tipis. “Luka ini menginfeksi tubuh mereka perlahan karena tidak disterilkan,” Melihat lebih detil luka Ravin dan Asta. “Warnanya sudah berubah ungu, ini bukan memar dan luka baru,” Mendengar penjelasan Dokter itu, tubuh Ratu nyaris terjatuh. Dia tidak tahu harus bereaksi apa, karena dulu Ravin seolah tak memberinya kesempatan untuk melihat luka di tubuh pemuda kecil itu, jadi dia hanya mengobati luka di wajah Ravin. Bahkan luka Asta sendiri tidak pernah Ia lihat, Jika Ratu tidak meminta tolong pada Raven untuk menjaga kedua putranya, membiarkan semua itu terjadi, membuat Asta menanggung semua luka dan tidak memberikan pelajaran pada ketiga kakak kelas itu, Apa sampai putranya tumbuh dewasa pun mereka masih menerima bullyy, tidak ada yang membela, atau menjaga keduanya. Menyembunyikan rasa sakit dan luka dibalik pakaian, tersenyum, tanpa beban. “Saya akan memberi reseo salep untuk meringankan memar mereka, obat dan sirup penurun demam, jika demam masih tidak turun selama 5 hari, mereka harus dirawat inap.” Jelas wanita itu perlahan merapikan seluruh alat-alatnya, Menulis beberapa resep dokter untuk ditukarkan langsung di apotek nanti, “Hubungi saya lagi jika kondisi mereka sudah membaik, atau sebaliknya,” Arsen mengangguk tipis, “Terimakasih, Dok.” Lelaki itu melirik ke arah istrinya yang kini masih menatap kosong ke arah Asta dan Ravin. Tanpa membalas ucapan sang dokter, Arsen lebih dulu mengantar wanita paruh baya itu keluar kamar. “Aku antar Dokter keluar dulu,” Menepuk pelan pundak Ratu, meninggalkan wanita itu sendiri di dalam kamar. *** “Kami tidak ingin ayah dan ibu khawatir melihat luka ini,” Ucapan Ravin terngiang dalam pikiran Ratu, saat manik amber itu melihat dengan langsung luka yang diterima Asta dan Ravin selama ini. Tubuh kecil itu berusaha menahan rasa sakit, Sementara Ratu, apa yang dia lakukan? Bersikap dingin, menyalahkan sikap Asta dan Ravin, mengabaikan mereka dan enggan menambah beban untuk dirinya sendiri. Menganggap bahwa dia tak punya kewajiban untuk menjaga mereka. Egois di depan kedua anak kecil, dan mementingkan hal lain lebih dulu. Pekerjaan tiada habisnya, keluarga yang tidak pernah mendukung Ratu, berusaha merebut kekuasaan perusahaan Ragnala. Saat Arsen benar-benar menghilang, tubuh wanita itu terjatuh ke lantai, berada dekat dengan kedua anak kecil yang kini terbaring lemah. Manik mereka tertutup, namun napas dan bibir itu tetap mengerang sakit. Merengek manja, bahkan tanpa mereka sadari, panggilan ayah dan ibu terulang berkali-kali. Ravin merengek dalam tidurnya, sementara Asta. Pemuda kecil yang beberapa hari ini bersikap gugup serta aneh pada Ratu, sekarang melepas semua aktingnya, Apa Ratu berlebihan? Jika dia menangis, semenjak kedua buah hatinya lahir ke dunia ini. Untuk pertama kali, dia bisa melihat dengan dekat, mendengar rengekan kecil mereka, wajah yang nampak lemah, dan kini bergantung padanya. Masih terduduk di lantai, Ratu berusaha menjangkau kedua tangan mungil Asta dan Ravin. “Ssh, Ibu ada di sini.” ujarnya lembut. “Sakit-ngh- Ibu,” isak tipis Ravin terdengar, saat manik pemuda kecil itu terbuka, dengan pandangan yang masih kabur, menoleh sekilas. Melihat sosok sang ibu di sampingnya entah kenapa membuat Ia semakin manja, “Huee, kepalaku sakit-ungh,” rengeknya lagi, Ratu bergegas bangkit, duduk di atas samping tempat tidur, memperbaiki kompres instan yang sudah disiapkan Arsen. Mengelus pelan rambut sang Abel, “Ungh,” Perhatian Ratu teralih saat mendengar suara Asta, pemuda kecil itu meringsek tak nyaman di samping Ravin, bahkan menyibak selimut yang Ia gunakan. Keringat menetes dari tubuhnya, Ratu harus menyeka keringat mereka, “Tunggu sebentar, Ibu akan mengambil handuk dulu,” ujar Ratu pelan, berniat bangkit dan pergi. Siapa yang tahu, saat manik Asta terbuka. Walau pandangannya nampak kabur, tapi melihat kepergian wanita itu entah kenapa membuatnya takut. Apa ibunya akan pergi lagi? Meninggalkan dan membiarkan mereka seperti biasa. Asta takut, Tidak cukup rasanya jika mereka selama ini hanya menumpahkan keluh kesah dan bersikap manja di depan sang ayah. Asta dan Ravin membutuhkan ibu mereka, “Ungh, Ibu, jangan pergi,” Dengan suara yang lemah, tangan mungil itu mencoba menggapai sang ibu, tetesan bening mulai mengalir, rasa panas di tubuh dan kepala membuat Ia tak nyaman, Dulu saat mereka juga sakit, Asta samar-samar mengingat bahwa hanya ada sang ayah saja di sini. Tidak ada ibunya, “Huee, Ibu,” rengeknya terus, berharap kalau tangan kecil itu digenggam erat. Namun saat kedua manik Asta perlahan semakin redup, sosok itu perlahan menghilang. Pergi dari kamar mereka, Suara rengekan Ravin, diiringi sunyi di dalam ruang. Tak ada ayah dan ibu mereka, tubuh Asta semakin panas. Kali ini juga, rasa takutnya makin besar, “Huaaaa!!!” Tangisan pemuda kecil itu semakin kencang, *** Dingin, pemuda kecil itu merasakan sejuk di area keningnya, suara pelan yang mengalun samar masuk ke dalam indra pendengarannya. Sapuan di kepala terasa lembut, mencoba menenangkan. Tak ada lagi suara tangisan Ravin, kamar terasa sunyi, suhu tubuhnya pun sudah semakin membaik. tidak sepanas tadi, “Suhu tubuh mereka sudah membaik, kau tidak perlu khawatir,” Suara berat yang familiar terdengar lagi, membuat kesadaran Asta perlahan datang, Menolehkan pandangan, meski nampak kabur, dia melihat dua orang dewasa nampak duduk tak jauh dari posisi tempat tidur mereka, ‘Ayah?’ Sosok tegap sang ayah nampak memegang sebuah thermometer mengecek suhu badan mereka, lelaki itu nampak berbicara dengan seorang wanita? Samar, Asta mencoba menebak. Apa itu kak Rhea? Biasanya hanya sang Daffy yang menemani Ravin dan Asta, apa lagi-lagi sekarang kak Rhea yang berakhir menemani mereka? Berniat merengek, tangisan Asta hampir saja pecah. Sebelum suara lain menanggapi ucapan sang ayah, “Benarkah, coba kulihat,” Suara familiar yang jarang Ia dengar, manik Asta mengerjap tipis. Melihat Ravin kini masih tertidur lelap, mereka sama-sama menggunakan kompres dingin di kening, sejuk sekali rasanya. Desahan lega terdengar, pelan dan samar, “Aku takut,” Bisikan yang tipis, itu bukan suara kak Rhea. Asta tahu sekali, walau kondisinya belum sepenuhnya membaik. Yang terdengar selanjutnya adalah isakan kecil, “Kau tahu seberapa tidak becusnya aku sebagai ibu selama ini?” “Aku bisa saja membiarkan mereka, jika dokter itu tidak membuka pakaian Asta dan Ravin, mana mungkin kita tahu seberapa banyak luka yang mereka sembunyikan,” “Bagaimana kalau demam mereka tidak juga turun,” “Tapi kau lihat sendiri ‘kan, mereka kuat, Ratu. Kondisi mereka juga sudah membaik,” Nama Ratu masuk ke dalam pendengaran Asta, seketika kesadaran pemuda kecil itu nyaris kembali. ‘Ibu, ada di sini?’ batinnya tak percaya, mencoba menoleh dan melihat lebih jelas. “Aku takut, Arsen. Aku tidak bisa jadi ibu yang baik untuk mereka, setiap malam aku selalu diberi mimpi buruk. Menurutmu seberapa buruk aku menjadi ibu mereka? Apa kau menyesal, memiliki wanita brengsekk sepertiku,” “Apa yang kau bicarakan?” “Setiap hari aku bermimpi bahwa keluarga kita akan hancur, kedua putraku pergi jauh, dan kau juga, semua itu karena perbuatanku sendiri,” Isakan demi isakan, “Aku berusaha memperbaiki diri, aku berusaha melakukan tugasku sebagai seorang ibu. Mencari uang, untuk membuat kalian nyaman, mencari harta yang bisa menjadi jaminan hidup kalian, tapi kenapa-” “Semua justru menghancurkanku?” Perasaan Asta tidak tenang, mendengar tangisan ibunya begitu lirih, membuat tubuhnya panas kembali, dia berusaha untuk bangun namun tidak bisa, Dalam samar, pemuda kecil itu melihat sang ayah bergerak memeluk tubuh ibunya. Erat, mencoba menenangkan, “Kau tahu kalau kami semua menyayangimu, Ratu. Apapun yang terjadi, aku akan berusaha menjaga keluarga kita sampai akhir, jangan takut,” “Kesalahanmu dulu, biarlah semua berlalu. Aku membantumu, percayalah padaku,” Isak demi isakan, sang ibu bergerak memeluk tubuh ayahnya, “Maaf, maafkan aku, Arsen.” Entah apa yang terjadi, ada satu hal dalam diri Asta yang merasa lega saat mendengar tangisan ibunya, suara menenangkan sang ayah. Fakta bahwa hari ini, bukan kak Rhea yang menjaga mereka saat sakit, Tapi ayah dan ibunya. ‘Ayah, Ibu,’ Kantuk kembali datang, kedua manik Asta perlahan tertutup pelan. Namun kali ini, rasa panas di tubuhnya pelan hilang, sehingga menciptakan senyum tipis di wajahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD