Part 3 : Memancing Amarah

1056 Words
Darren menghempaskan punggungnya pada kursi dibelakang meja kebesaran miliknya, seraya memejamkan mata. Meeting pagi ini benar-benar menguras emosinya. Semua berkas tidak ada yang sempurna, semuanya ada kesalahan. Membuat kepalanya semakin penat dan pusing. Sementara waktu untuknya bertemu dengan klien semakin dekat. Apalagi Tender kali ini benar-benar harus ia dapatkan, karena akan memberi keuntungan luar biasa bagi perusahaannya dan juga untuk karirnya sebagai pemimpin perusahaan.   “Darren, ada apa dengan wajahmu?”   “Ini tempat kerja, Mrs. Ann. Saya pikir anda tak pantas menyebut namaku seperti itu.”   “Darren, tapi aku—.”   Darren membuka matanya, menatap tajam pada wanita dihadapannya ini. Dia Gabriella Ann, sekretaris sekaligus wanita yang selalu dijodoh-jodohkan kepada dirinya oleh sang Ibu.   “Aku muak mendengar suaramu, pergi darihadapanku atau kau aku pecat?”   “Kau tak bisa melakukan itu padaku Darren!”   “Aku bisa! Kantor ini milikku dan kau bukan siapapun.” Darren kali ini berdiri dihadapan Gabriella. “Aku sudah memperingatimu. Kau, bukan siapapun! Berhenti berkhayal kau menjadi Cinderella yang akan mendapatkan pangeran sepertiku. Kau hanya benalu, kau parasite dalam kehidupanku. Aku muak!”   Gabriella memukul d**a Darren. “Keterlaluan!” erangnya. “Aku laporkan kau pada Mami.”   “Katakan saja, setelah itu kau tak akan pernah bisa menginjakkan kaki dikantor ini lagi.”   “Darren!”   “Keluar dari ruanganku!”   “Sekarang!”   Gabriella terlihat merengut saat ucapannya dipotong Darren. Tetapi kemudian akhirnya wanita itu beranjak, meninggalkan Darren yang terlihat siap meledak lagi.   Darren menghembuskan nafas seraya mengusap wajah dengan kasar. Kepalanya pusing, ia juga merasa sangat lelah. Tapi bisa-bisanya wanita itu datang dengan membawa omong kosong yang sama.   Darren meraih telponnya. “Jason, kirimkan dokumen revisi dari staff perencanaan yang aku minta segera.”   “Akan saya kirimkan segera, Mr. Davidson.”   “Bagus. Sekarang aku pinjam mobilmu.”   “Tapi—.”   “Kau bawa mobilku.”   “Jangan macam-macam Darren.”   Darren tertawa pelan saat mendengar geraman itu, Jason adalah asisten pribadi sekaligus sahabatnya. Sehingga dibandingkan oranglain, dia yang tau semua hal tentang dirinya. Kecuali satu, Thalia. sejauh ini Jason belum mengetahui tentang perempuan itu.   “Tidak. Aku hanya akan menemui pacarku.”   “Pacarmu?”   “Ya—pacarku.”   “Siapa?”   “Kau, tentu saja. “Jawab Darren seraya tergelak.   “Jangan terlalu banyak bermimpi Darren. Sudahlah. Ambil kunci mobil keruanganku sendiri.”   “Aku segera kesana sayang.”   “Berhenti mengatakan itu. Kau membuatku muak.”   “Aku juga menyukaimu sayang.”   “Dasar tuli.”   Darren terkekeh pelan saat panggilan itu diakhiri sepihak. “Dasar tak sopan.” Gumamnya pelan. setelah mengatakan itu tanpa berbasa-basi lagi ia beranjak pergi meninggalkan ruangan. Ia bahkan mengabaikan Gabriella yang seolah ingin bertanya padanya. Namun ia tidak peduli. Baginya, bertemu dengan Thalia sore ini adalah hal terpenting dari apapun.   “Mana kunci mobilnya?”   “Selamat sore juga Mr. Davidson yang terhormat. Ada yang bisa saya bantu?”   Darren mendesis. “Aku tau kau merajuk sayang, tapi sudah ya—kita bertemu nanti malam. Makan malam romantis. Bagaimana?”   “Menjijikkan Darren. Berhenti berkata seperti itu.”   “Berhenti bersikap formal padaku Jason.”   “Ini kantor dan aku tidak mau menerima resiko, wanita-mu itu mengamuk lagi padaku.”   “Wanitaku?”   “Gabriella. Siapa lagi?” Jason melemparkan kunci mobilnya sembarang. “Ambil sana, segera pergilah dari ruanganku.”   Darren memutar bola matanya. “Baiklah. Tapi—aku serius untuk makan malam bersamamu Jason. Ditempat biasa, jam delapan. Sampai jumpa nanti.”   Jason menatap punggung Darren yang mulai menghilang dibalik pintu kemudian menghela nafas. Darren memang selalu seperti itu. Selalu memperlakukannya dengan manis seolah ia adalah kekasih lelaki itu. Padahal mereka murni hanya bersahabat sejak dulu. Akan tetapi bukan hanya tentang itu hubungan mereka menjadi sedikit rumit, Tapi karena Gabriella tau bahwa Darren memang menyukai sesama jenis sehingga kedekatannya dengan Darren selalu berhasil membuat wanita itu cemburu dan menganggap candaan mereka serius. Padahal hubungan mereka benar-benar murni, hanya sebatas sahabat. Mungkin.   ***   Darren keluar dari dalam mobil yang ia kendarai kemudian bersandar seraya menatap kearah tempat kerja Thalia. Perempuan yang membuat rasa penasarannya tumbuh tinggi.   Beberapa kali ia mendial nomor ponsel perempuan itu, namun sayangnya tidak ada jawaban sama sekali. Ia menghembuskan nafas pelan lalu memutuskan memasuki tempat itu.   “Selamat Sore. Mohon maaf toko kami sudah tutup. Oh! Kau.”   Darren memberikan senyuman tipisnya. Ia tau, dia yang menyapanya itu adalah teman perempuan Thalia yang melihatnya bersama Thalia tadi pagi.   “Aku datang untuk menjemput Thalia.”   “Ah—Thalia. dia—baru saja pergi.”   “Pergi?”   Perempuan itu terlihat sedikit gugup, dia bahkan mengangguk kaku. “Iya, baru saja. Seseorang menjemputnya.”   “Siapa?”   “A—aku tidak tau.”   Darren menarik nafas panjang. “Baiklah. Biar aku cari tahu sediri.” Ujarnya kemudian pergi dengan langkah panjang.   Injakkan Darren pada pedal gas begitu dalam. Bahkan terlampau dalam hingga membuat mobil yang ia kendarai membelah tengah kota pada sore hari dengan kecepatan sangat tinggi. Ia tidak peduli apapun, ia juga tidak mempedulikan apapun lagi, bahkan umpatan dari pengendara lain saja ia abaikan begitu saja. Karena bagaimanapun ia harus segera menemui perempuan itu dan menghukumnya. Ia harus membuat semuanya tampak jelas pada perempuan itu, bahwa dirinya tak suka dibantah sekalipun oleh seseorang yang baru ia kenal seperti Thalia.   Darren melangkah dengan langkah lebar menuju flat yang dihuni oleh Thalia. Namun nihil, ternyata tak ada siapapun disana. Thalia pun nampaknya belum sampai ditempat itu. Sehingga akhirnya ia memutuskan kembali dan menunggu Thalia dari dalam mobil. Satu menit, dua menit hingga satu jam berlalu akhirnya Thalia muncul. Keluar dari sebuah mobil yang juga terlihat cukup mewah –meski tidak semewah miliknya— bersama dengan seorang lelaki yang tidak ia ketahui. Perempuan itu tampak bahagia, bahkan senyumannya lebih melebar lagi saat lelaki itu mengusak puncak kepalanya.   Sialan!   Tangan Darren terkepal, rahangnya bahkan mengeras. Berani sekali kau membantahku Thalia. baiklah, kalau kau mau coba-coba bermain denganku.   Darren menahan diri sampai lelaki yang bersama Thalia itu menghilang dari hadapannya. Setelah beberapa saat akhirnya Darren keluar dari dalam mobil itu lalu berjalan dengan setengah berlari untuk mendekati Thalia. ia bahkan meraih paksa lengan perempuan itu. Membuat Thalia berbalik dengan cepat.   Thalia memekik kaget. Namun beberapa detik kemudian dia membulatkan mata, begitu pandangan mereka bertemu.   “Darren—.”   Thalia meneguk ludahnya dengan kasar saat melihat wajah Darren yang memerah menahan marah.   “Kau—membuatku marah Thalia!”   ***      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD