'Buram, masih saja buram. Mataku terkena sesuatu yang membuat hal-hal yang aku inginkan pudar, antara lepas dari genggaman atau semakin keluar dari jangkauan.'
Pertengahan Maret 2023.
Seon A yang rindu kehangatan hati.
Matahari di timur kala itu masih menampakkan sedikit wajahnya. Cahaya kekuningan menerpa rentetan rumah-rumah pendek yang cukup asri walaupun dari kejauhan, tiang-tiang listrik, pepohonan yang mulai memunculkan beberapa bunga, juga jalanan berkelok naik turun. Matahari juga mewarnai wajah orang-orang yang lalu lalang dengan sinar keemasan.
Seorang gadis berjalan pelan. Ia memakai topi abu-abu, kemeja kotak-kotak tak dikancing, memakai kaos biru cerah dan jeans biru gelap. Ia membawa tas punggung yang lumayan berisi.
Angin pagi tidak lupa menyapa, menggerakkan dedaunan pohon-pohon di tepi jalan, juga menerpa wajah gadis itu. Ujung-ujung rambutnya tertiup angin pagi.
Gadis itu berhenti di tepi jalan besar, di sebuah pertigaan, terlihat sedang menunggu sesuatu. Ia bersedekap tangan, tidak terlalu nyaman dengan angin yang mondar-mandir di daerah perbukitan itu, angin daerah Bukhan-dong, Deogyang-gu, Goyang-si, Gyeonggi-do.
Sesekali ia membenahi—merubah sedikit posisi—topinya, mengetuk-ngetuk tanah dengan ujung sepatu usangnya, sesekali melihat ke arah jalan di sebelah kanannya. Sejenak ia melihat jam tangannya, jam tangan banyak lecet meski terlihat sebagai barang paling mewah di antara barang-barang yang ia pakai. Semua hal ini ia lakukan untuk mengatasi kebosanan yang jelas terlihat dari raut wajahnya. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya dengan berat, kembali bersedekap tangan. Angin yang sejuk tapi juga dingin kembali bermain-main dengan ujung-ujung pakaiannya.
Gadis itu menengadahkan kepalanya ke langit, kembali mengambil napas panjang dan menghelanya. Matanya bertatapan dengan awan yang bergumul di atas sana, dan ia tertawa sinis. Tak ubahnya angin yang dari tadi mengusiknya, ia merasa semuanya bersikap egois dan... bengis.
Gadis itu mengeluh saat mendengar suara mobil sedan hitam mendekat. Ia sudah bersiap diri dengan suara yang tampak familiar, atau sangat-sangat familiar di telinganya, "Ketemu lagi, Gadis sinting. Oh... dunia ini sudah penuh dengan orang-orang sinting,” Suara ketus wanita paruh baya, kasar di telinga dan di hati.
Gadis itu tidak menoleh ke arah suara, masih mengetuk pelan tanah dengan ujung sepatunya, menatap tanah. Ia enggan menggubris suara yang tidak bersahabat itu.
"Dan angkuh. Sayang, kubilang berhenti di depan anak ini!" tambahnya, melanjutkan ejekan dan sumpah serapah, menaikkan intonasi pada suaminya. Suaminya dengan wajah enggan berhenti terpaksa berhenti. Mengerem mobil.
"Kumohon jangan di pagi-pagi yang nyaman ini, Hae Ri. Jangan buat hati orang-orang sesak bahkan di pagi hari mereka," ucap lelaki itu, membujuk ramah.
"Siapa yang membuat hati orang sesak, kalau bukan anak ingusan ini?" sahut Hae Ri, mendengus kesal. Ia menoleh dari balik jendela mobil. "Dan kau, Bocah, sampai kapan kau akan... hey, Seon A, lihat mataku baik-baik!" bentaknya.
Seon A menghela napas berat, menggertakkan gigi, dengan berani menatap wanita gendut berpakaian menol itu. Ia angkat bicara, "Cukup! kumohon!" Ia sedikit meninggikan intonasinya.
"Siapa kau yang berani meneriakiku?! Dasar bocah kurang ajar... tak tahu diri... kalau bukan karena rasa ibaku padamu, aku pasti sudah mengusirmu dari rumahku sejak lama. Camkan itu!" ucap Hae Ri.
Seon A tersenyum sinis, sangsi akan hal itu hingga berceletuk pelan, "Rasa iba darimu seperti rasa menyegarkan dari racun."
"Kau bilang apa?" sahut Hae Ri.
"Sudahlah, sudah. Biarkan Seon A pergi berangkat kerja. Akan kutancap gas mobil ini, Hae Ri..." sela suaminya di bagian kemudi.
"Tidak," ucap tegas Hae Ri, "urusanku belum selesai."
"Kami sudah tidak memiliki uang sedikitpun, Hae Ri... a-ahjumma." saat Seon A memanggil Hae Ri dengan namanya Hae Ri berniat turun dari mobil, dicegah kuat oleh suaminya. "Kami sudah apes, kau sudah mengambil semua uang bulanan kami. Bahkan sedikit uang untuk makan Seol Ah dan nenek saja sudah ada di tanganmu. Kau tahu kan kalau aku sudah berusaha keras, dan masih... untuk melunasi tunggakan uang sewa dan utang-utang itu," jelas Seon A, nada bicara bergetar.
"Benar, Sayang... sudahlah, ayo kita pulang..." ajak sang suami.
"Ingat, Gadis!" kecam Hae Ri, mengarahkan telunjuknya pada Seon A. "Akhir bulan depan. Akhir bulan depan adalah akhir dari alasan-alasan yang tidak logis itu. Aku tidak akan ragu mengusir kalian jika kalian lewat tenggang waktu lagi. Lunasi saat itu juga atau enyah dari rumahku," imbuhnya.
"Itu adalah rumahku, secara teknis..." gumam suaminya.
"Sayang, kenapa kau selalu membela bocah ini?! Kau juga tahu kalau ada tawaran bagus untuk menjual rumah itu segera. Jangan kasihan pada anak melarat ini!" keluh Hae Ri, naik pitam.
"Iya aku tahu, tapi kita juga punya banyak aset bagus lain, dan kau juga pasti tahu kalau Seon A juga sudah bekerja keras sendirian untuk adik dan neneknya. Dapat penghasilan bagus hari-hari ini tidaklah mudah. Kita berdua tahu itu, semua orang di desa tahu," sahut sang suami.
"Omong kosong tak berguna! Gadis ini pengangguran, pemalas yang putus sekolah, banyak hutang dan tunggakan sewa. Ia malah menghabiskan waktunya bukan untuk kerja, tapi untuk melakukan gerakan-gerakan tak karuan..."
Seon A kembali menghela napas, mengepal kuat, telinganya serasa sudah tidak tahan mendengar ocehan untuk kesekian kalinya.
"Dia penari yang baik, Hae Ri. Dia punya mimpi yang besar. Aku yakin kelak ia akan jadi penyanyi yang terkenal di seluruh penjuru negeri."
Suara terdengar dari kejauhan, bus menuju tempat perbincangan mereka bertiga ini. Kendaraan yang sedari tadi ditunggu oleh Seon A akhirnya datang juga. Sedari tadi Seon A hendak berlari menghampirinya untuk menghindari celoteh wanita gendut mata duitan di depannya. Berkali-kali ia menghembuskan napas berat dari mulutnya, menguasai diri, matanya sudah berkaca-kaca.