Doni berjalan ke belakang penginapan mengikuti arah yang ditunjukkan Pak Surya.
Tak jauh dari tumpukan kayu bakar, sebuah keran air terpasang di samping gudang kecil. Doni membuka keran lalu membasuh kedua tangannya yang penuh oli.
Saat mengangkat kepala, matanya kembali tertuju pada pria yang sejak tadi membelah kayu.
Dari jarak sedekat itu, wajah lelaki tersebut terlihat jauh lebih jelas.
Doni mengerutkan mata.
“Na?”
Pria itu menghentikan ayunan kapaknya. Ia memperhatikan Doni beberapa detik sebelum akhirnya mengenali wajah di hadapannya.
“Don?”
Doni langsung tertawa.
“Buset… beneran lo?”
Arkana Galuh mengangguk.
“Masih hidup, ternyata.”
“Enak aja.” Doni menyenggol pelan lengannya. “Gue kira lo masih merantau. Tahu-tahu udah jadi juragan.”
“Beginilah.”
Jawaban Arkana tetap singkat seperti dulu.
Doni justru tertawa semakin lebar.
“Mulut lo juga nggak berubah.”
Arkana tersenyum tipis.
“Lo sekarang ngapain?”
Doni spontan membusungkan d**a.
“Gue sekarang sopir protokoler dewan.”
Arkana mengangkat sebelah alis.
“Sopir?”
“Jangan salah.” Doni terkekeh bangga. “Sopir protokoler dewan. Bukan cuma nyetir. Gue ngawal kegiatan pimpinan, ngatur pergerakan, sampai mastiin semua sesuai protokol.”
“Hm.”
“Lumayanlah. Emak di kampung bangga.”
“Asal lo betah.”
“Betah. Bos gue juga enak.”
Percakapan mereka menarik perhatian Pak Surya.
Beliau mengajak Arunika dan Laura mendekat.
“Kalian saling kenal?” tanya Pak Surya.
Doni mengangguk.
“Teman STM, Pak. Belasan tahun nggak ketemu.”
Pak Surya tersenyum lega.
“Pantes dari tadi saya lihat kayak lagi saling nebak.”
Laura ikut tersenyum kecil, sementara Arunika memperhatikan keduanya bergantian. Ia baru tahu Doni ternyata mengenal pemilik penginapan itu.
Doni kembali menatap Arkana.
“Itu pimpinan gue, Bu Arunika.”
Arkana mengikuti arah pandangnya sekilas.
“Beliau ditugasin di Sukamaju tiga bulan.”
“Hm.”
“Lo juga dengar sendiri kan? Mobil mogok, penginapan penuh. Dari tadi Pak Surya muter nyari solusi, tapi belum ketemu.”
Arkana tidak menjawab.
Ia hanya memandang ke arah halaman depan, tempat mobil dinas masih terparkir.
Pak Surya ikut angkat bicara.
“Kalau memang ada jalan lain, saya juga berharap bisa dibantu, Mas.”
Arkana menggeleng pelan.
“Kalau kamar penginapan, tetap penuh.”
“Saya tahu,” jawab Pak Surya. “Maksud saya… mungkin ada solusi lain.”
Arkana terdiam.
Doni menarik napas.
“Na, gue mau minta tolong.”
“Apa?”
“Rumah utama lo masih ada kamar tamu, kan?”
Suasana seketika hening.
Laura menoleh kepada ayahnya.
Pak Surya tidak ikut menyela.
Sementara itu, Arunika langsung menggeleng pelan.
“Don, jangan memaksa.”
“Nggak, Nik.” Doni menoleh sambil tersenyum tipis. “Gue cuma nanya.”
Arkana memandang Doni cukup lama.
“Rumah gue bukan penginapan.”
“Gue tahu.”
“Dan gue nggak biasa nerima tamu.”
Doni mengangguk.
“Gue juga paham.”
Ia melangkah setengah langkah lebih dekat.
“Makanya gue mintanya bukan sebagai tamu.”
Arkana tetap diam.
“Tapi sebagai teman lama.”
Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi.
Arkana bergantian memandang Doni, Pak Surya, lalu Arunika.
Perempuan itu berdiri tenang. Tidak ikut membujuk, tidak pula memanfaatkan jabatannya untuk meminta perlakuan khusus.
Sikap itu justru membuat Arkana berpikir lebih lama.
Beberapa detik berlalu tanpa seorang pun bersuara.
Arkana Galuh memutuskan keheningan itu.
Ia mengembuskan napas pelan sebelum berbalik.
“Kalau cuma sementara…”
Semua mata tertuju kepadanya.
Arkana menoleh sekilas kepada Doni Salman.
“…ikut gue.”
Kalimat sederhana itu membuat Arunika Larasati mengangkat wajah.
Pak Surya terlihat paling lega mendengar keputusan itu.
“Terima kasih, Mas.”
Arkana tidak menjawab. Ia hanya memutar badan lalu berjalan menuju rumah utama yang berdiri beberapa meter di belakang bangunan penginapan.
“Don.”
Doni yang masih berdiri di dekat mobil langsung menoleh.
“Apaan?”
“Bawa barangnya.”
“Siap.”
Doni bergegas membuka bagasi mobil dinas. Baru saja ia hendak mengangkat koper besar milik Arunika, Arkana lebih dulu mengambil satu koper berukuran sedang dan sebuah tas ransel.
“Mas… biar saya aja,” ucap Arunika spontan.
“Nggak berat.”
Jawabannya tetap singkat.
Arkana kembali melangkah tanpa menoleh.
Arunika hanya saling pandang dengan Doni sebelum mengikuti langkah lelaki itu.
Rumah utama berada di sisi belakang Cahaya Anumerta Inn, dipisahkan taman kecil yang dipenuhi pohon pinus dan bunga liar. Jalan setapak dari batu alam menghubungkan kedua bangunan. Lampu taman mulai menyala satu per satu, membuat suasana sore yang mulai gelap terasa hangat.
Di kejauhan terdengar suara air mengalir.
Sesekali angin pegunungan berembus pelan, membawa aroma kayu pinus yang masih basah oleh sisa hujan siang tadi.
Doni melihat sekeliling sambil mengangguk kagum.
“Na.”
“Hm.”
“Tempat lo keren juga.”
“Hm.”
“Bangunnya berapa lama?”
“Tiga tahun.”
“Lumayan cepet.”
Arkana hanya mengangguk kecil.
Arunika yang berjalan di belakang melirik Doni.
“Dia emang irit ngomong?”
Doni terkekeh.
“Dari STM juga begitu. Guru aja kadang kalah banyak ngomong.”
Arkana rupanya masih mendengar.
“Lo aja yang kebanyakan ngomong.”
Doni langsung tertawa.
“Nah, berarti kuping lo masih normal.”
Laura yang berjalan bersama Pak Surya ikut tersenyum melihat keduanya.
Beberapa langkah kemudian mereka tiba di teras rumah utama.
Bangunannya tidak sebesar penginapan, tetapi terasa jauh lebih tenang. Hampir seluruh bagian rumah didominasi kayu dengan sentuhan batu alam. Dari teras tercium aroma kopi yang masih hangat, bercampur wangi khas kayu pinus.
Arkana membuka pintu.
“Masuk.”
Arunika melangkah perlahan.
Ruang tamunya sederhana. Sebuah sofa panjang menghadap perapian kecil di sudut ruangan. Rak buku memenuhi satu sisi dinding, sementara jendela-jendela besar membuat cahaya sore masih masuk ke dalam rumah.
Tidak ada kesan mewah.
Namun rumah itu terasa nyaman.
Arkana berjalan menuju lorong di sisi kiri.
“Sebentar.”
Ia membuka sebuah pintu kayu.
“Ini kamar tamunya.”
Arunika melangkah masuk.
Baru dua langkah, ia langsung berhenti.
“Ya ampun…”
Matanya membulat.
Ruangan itu jauh di luar bayangannya.
Hampir seluruh sisi depan kamar menggunakan kaca bening yang menghadap langsung ke hutan pinus. Di baliknya, sebuah air terjun mengalir tenang, sementara gerimis mulai turun membasahi dedaunan.
Di sudut balkon tergantung ayunan rotan berbentuk sarang burung. Lampu-lampu taman yang mulai menyala membuat pemandangan di luar terasa hangat meski kabut perlahan turun.
Arunika berjalan mendekati dinding kaca.
Suara air terjun terdengar begitu jelas.
“Ini… serius kamar tamu?”
Arkana hanya menjawab singkat.
“Iya.”
Doni yang baru masuk sambil membawa koper ikut melihat sekeliling.
“Nah, kan. Gue bilang juga apa.”
“Maksudnya?” tanya Arunika.
“Na kalau ngerjain sesuatu nggak pernah setengah-setengah.”
Arkana menunjuk sebuah pintu di samping lemari.
“Kamar mandi.”
Lalu menunjuk lemari kayu.
“Handuk sama selimut cadangan di situ.”
Arunika mengangguk.
“Terima kasih.”
Arkana membalas dengan anggukan kecil.
“Kalau butuh apa-apa, bilang.”
Ia kemudian berbalik meninggalkan kamar.
Pintu tertutup pelan.
Arunika masih berdiri memandangi pemandangan di balik dinding kaca.
Tanpa disadarinya, kamar yang baru saja dimasukinya itu akan menjadi tempat yang menyimpan banyak kenangan selama tiga bulan ke depan.
Arunika Larasati masih berdiri di depan dinding kaca.
Gerimis yang semula tipis kini mulai turun lebih rapat. Air terjun di depan balkon mengalir semakin deras, sementara kabut perlahan menyelimuti deretan pohon pinus.
Ia mengembuskan napas pelan.
Pemandangan itu terlalu indah untuk sebuah kamar tamu.
“Na emang begitu orangnya.”
Suara Doni Salman membuyarkan lamunannya.
Arunika menoleh.
“Maksudnya?”
“Kalau ngerjain sesuatu nggak pernah setengah-setengah.”
Doni meletakkan koper di dekat lemari.
“Dari zaman sekolah juga begitu. Sekali punya tujuan, ya dikejar sampai selesai.”
Arunika kembali melihat sekeliling kamar.
“Kelihatannya dia orang yang rapi.”
“Banget.”
“Terus kenapa penginapannya bisa sebagus ini?”
“Karena semua dia kerjain sendiri. Mulai dari bangun, ngurus, sampai milih desainnya.”
Arunika mengangguk pelan.
Ia mulai mengerti mengapa Arkana begitu menjaga tempat itu. Penginapan tersebut bukan sekadar usaha, melainkan hasil kerja keras yang dibangun selama bertahun-tahun.
“Don.”
“Hm?”
“Kamar lo di mana?”
Doni menggaruk belakang kepalanya.
“Itu dia. Gue juga belum tahu.”
Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, terdengar ketukan di pintu.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Arkana berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah kunci.
“Kamar lo di sebelah dapur.”
Ia meletakkan kunci itu di atas meja kecil.
“Nggak sebesar yang ini.”
Doni langsung nyengir.
“Gue mah dikasih tikar juga tidur.”
“Banyak omong.”
Jawaban singkat itu membuat Doni tertawa.
“Masih sama aja.”
Arkana tidak menanggapi.
Sebelum keluar, ia menoleh kepada Arunika.
“Kalau mau mandi, air panasnya tinggal diputar ke kiri.”
“Baik. Terima kasih.”
Arkana mengangguk tipis, lalu menutup pintu.
Doni terkekeh pelan.
“Percaya nggak?”
“Apa?”
“Itu tadi udah ramah.”
Arunika menatapnya tidak percaya.
“Serius?”
“Iya.”
“Kalau lagi jutek gimana?”
“Lo nanti juga tahu sendiri.”
Arunika tertawa kecil.
“Ya udah. Lo istirahat juga.”
“Siap. Gue ke kamar dulu.”
Doni membawa kopernya keluar.
Kamar kembali sunyi.
Arunika membuka koper, mengambil pakaian ganti, lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Air hangat yang mengalir perlahan menghilangkan rasa lelah setelah perjalanan panjang dari ibu kota.
Sekitar lima belas menit kemudian, ia keluar dengan kemeja putih berlengan panjang dan celana bahan hitam. Rambutnya dikeringkan sekadarnya, lalu dibiarkan terurai.
Ia bercermin sejenak.
“Cukup.”
Tas kecil berisi buku catatan dan ponsel disampirkannya ke bahu.
Saat hendak keluar, ponselnya berdering.
Nama Pak Surya muncul di layar.
“Halo, Pak.”
“Maaf mengganggu, Bu. Saya sudah di depan penginapan.”
“Baik, Pak. Saya turun sekarang.”
“Sampai ketemu di bawah.”
Panggilan berakhir.
Arunika mengambil napas sebentar sebelum membuka pintu kamar.
Malam pertamanya di Sukamaju baru saja dimulai.
Dan di luar sana, puluhan warga telah menunggu kedatangannya di balai desa.