CHAPTER 2 : LULLABY OF WOE

3663 Words
Malam kian meninggi, sesosok misterius dengan jubah hitam melangkah mantap diantara bayangan gelap hutan. Bulan purnama yang bersinar terang di langit, membuat sosoknya menjadi lebih misterius dan berbahaya dengan aura kegelapan yang menguar di sekelilingnya. Sosok itu bersenandung kecil dengan nada yang riang. Suaranya yang merdu mampu menghipnotis sekelompok kelelawar yang terbang di atasnya hingga mereka pun membeku di tempat. Bibirnya yang dipoles lipstik berwarna hitam tersenyum miring ketika keheningan tiba-tiba menguasai hutan tersebut. Senyumnya melebar, ketika benaknya memunculkan wajah seseorang yang diliputi ketakutan. Hampir seluruh rencananya berjalan dengan lancar malam ini. Ia berhasil membuat wanita itu ketakutan. Lalu ia pun terkikik kecil ketika membayangkan ekspresi ketakutan di wajah wanita itu. Dan...ia pun bersumpah untuk melakukannya lagi dan lagi. Sampai ia merasa puas. Tetapi, ia merasa tak akan pernah puas sampai ia berhasil menciptakan penderitaan yang layak bagi wanita itu, karena telah merebut miliknya. Suara lolongan serigala yang bersahutan pun terdengar dari kedalaman hutan, membuat sekelompok kelelawar yang tadinya membeku seketika kembali mengepakkan sayap-sayap mereka sembari mencicit takut. Sosok itu pun menoleh menatap bulan purnama yang perlahan mulai tertutupi gumpalan awan gelap seiring dengan lolongan serigala yang terdengar semakin menggema di seluruh penjuru hutan. Netra kelamnya pun berkilat, menjanjikan kehancuran. Kembali, ia meneruskan nyanyiannya namun dengan ekspresi yang begitu dingin. Netra kelamnya kembali berkilat sadis. Bersamaan dengan itu, segala makhluk hidup yang ada di belakang nya tiba-tiba membeku di tempat sebelum tubuh mereka mulai mengeriput dan mengering lalu berjatuhan di tanah. Beberapa tikus hutan yang sempat kabur setelah melihat kejadian nahas di depannya pun tak luput jadi korban. Mereka ikut mengeriput dan mengering dengan ekspresi ngeri yang terpampang jelas di wajah mereka. Berbanding terbalik dengan nyanyiannya yang terdengar riang, namun ekspresi wajahnya justru semakin dingin. Kedua netranya menyipit sadis. Ia pun menggeram ketika benaknya kembali membayangkan prianya yang menyentuh wanita lain dengan kekhawatiran yang tulus yang membuatnya ingin mengamuk di tempat. Bahkan setelah beribu-ribu tahun lamanya ia berada disisinya, namun ketulusan itu tak pernah ia dapatkan. Jangan salahkan ia yang bersikap serakah, semua iblis di takdirkan untuk serakah. Termasuk juga dirinya. Namun, sayangnya ia mendengar suara rintihan seorang wanita. Mengernyitkan dahi, ia nampak kesal saat seharusnya ia hanya mendengar keheningan. Akan tetapi, sedetik kemudian seringai gila perlahan terbit di bibirnya yang berwarna hitam ketika sebuah ide yang sangat brilian tergambar di benaknya. Menggunakan penglihatannya yang tajam, ia pun melihat menembus pekatnya hutan malam itu. Dan tak butuh waktu lama ia akhirnya menemukan targetnya. Dengan seringai dingin di bibir hitamnya, ia secepat angin menuju tempat di mana targetnya berada. Di sebuah ceruk yang hampir menyerupai goa itulah asal suara rintihan tadi terdengar. Hanya dalam hitungan detik sosok misterius itu akhirnya berdiri di mulut ceruk tersebut. Gumpalan asap hitam yang sangat pekat mengelilingi nya bagai bayangan gelap. Dan ia pun kembali melanjutkan senandungnya yang sempat terhenti. "Hihihi..." bisiknya terikik kecil. Netra kelamnya menatap tajam dari mulut goa yang tak terlalu lebar itu. Goa itu sangat gelap dan lembab, terletak cukup dalam hampir berada di jantung hutan tersebut. Pepohonan besar nan tinggi menjulang disertai sesemakan yang rimbun nyaris menutupi keberadaan goa kecil tersebut. Suara rintihan itu pun kembali terdengar, kali ini juga terdengar teriakan minta tolong dari dalam goa tersebut. Netra kelam miliknya mampu menembus pekatnya kegelapan di goa tersebut dan dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di dalam goa itu. Seorang wanita yang sedang mencoba membebaskan diri dari seorang pria b******k yang mencoba memperkosanya. Sembari berbisik dengan suara yang serak, ia melanjutkan senandungnya. Lalu tanpa disadari siapapun, sosok misterius itu sudah berada di belakang si pria yang masih mencoba merobek pakaian si wanita dengan membabi buta. Seringai gila terbit di bibir hitamnya, sebelum sebelah tangannya yang berkuku panjang dan hitam menembus punggung si pria lalu merenggut jantungnya. "My dear dolly Polly shut your eyes!" ujarnya mengintip dari balik bahu si pria sembari menempelkan jari telunjuknya dari tangannya yang lain ke bibirnya bersamaan dengan tubuh si pria yang kemudian ambruk ke tanah. Si wanita pun mulai histeris ketika melihat pemandangan yang ada di depannya. Namun, mengabaikan semua itu sosok misterius itu malah mengarahkan gumpalan daging yang masih berdenyut di tangannya itu ke depan mulutnya sebelum memakannya dengan rakus hingga habis tak bersisa dalam hitungan detik. Dan ia pun tiba-tiba menoleh, menatap si wanita dengan seringai lebar di bibirnya yang penuh dengan noda darah. Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati wanita tersebut dengan tatapan tajam mengintimidasi lengkap dengan seringai sadis yang masih setia bertengger di bibirnya yang hitam. Ia pun kembali melanjutkan senandungnya masih dengan nada riang yang sama dan wanita itu pun terhipnotis lalu melakukan apa yang disuruh oleh sosok misterius itu, berbaring diam di tanah dan berhenti histeris. Kemudian sosok misterius itu membuka tudung jubahnya, menampilkan siluet wajahnya yang amat mengerikan. Kulitnya sepucat mayat, beberapa bagian bahkan nampak terlihat tak wajar seperti bola mata yang berwarna hitam seluruhnya dan wajahnya yang sangat tirus mendekati lancip, hidungnya pun bengkok seperti paruh elang, dan ketika ia menyeringai kulitnya langsung mengerut dengan aneh. Rambut hitamnya sangat kusut, membuatnya semakin terlihat lebih mengerikan, juga noda darah yang masih menghiasi bibirnya. Tak lama, ia pun kembali melanjutkan senandungnya. Ia pun membisikkan sebuah mantra dengan nada yang sangat dingin diiringi seringaian lebar yang terlihat mencurigakan. Dan benar saja, keanehan pun kembali terjadi. Terdengar suara retakan tulang yang langsung membuat kedua netra si wanita yang tadinya terbaring diam kini membelalak lebar, menatap lurus pada sosok misterius yang kini menggeliat aneh. Bibirnya mencoba bergerak guna berteriak meminta tolong, akan tetapi sama sekali tak berhasil. Ia hanya mampu membuka dan menutup mulutnya dengan sangat kaku tanpa mampu meneriakkan suara sedikitpun, hingga yang bisa ia lakukan hanyalah menangis. Suara retakan tulang itu mengirim banyak kengerian di benaknya, ditambah dengan suara geraman marah yang berasal dari sosok misterius tadi. Kedua netra si wanita hanya mampu mengeluarkan air mata ketakutan ketika menyaksikan pemandangan paling mengerikan yang sedang terjadi di depannya. Kedua netra itu semakin terbelalak ngeri saat sosok yang sedari tadi berdiri tak jauh di depannya itu kini mulai mengoyak kulit wajahnya sendiri dengan kedua tangannya, hingga cairan kental kemerahan memenuhi wajah yang sebelumnya sudah terlihat mengerikan itu. Disusul kemudian sosok misterius itu juga mengoyak seluruh kulit yang ada di tubuhnya, termasuk kulit kepalanya. Hingga menyebabkan gumpalan rambut hitam yang masih menempel di kulit tipis itu ikut terkoyak habis sebelum jatuh ke tanah. Kini pemandangan di depannya berkali-kali lipat lebih mengerikan dari sebelumnya. Sosok wanita misterius berjubah tadi kini telah bermetamorfosis menjadi monster yang amat mengerikan, dengan kulit sewarna daging mentah, juga tanduk panjang melengkung berwarna hitam menghiasi kepalanya. Kemudian perlahan, rambut berwarna merah gelap tumbuh di kepala makhluk mengerikan itu. Setelahnya makhluk itu menyeringai dengan sangat lebar menampilkan deretan giginya yang sangat siap untuk mengoyak mangsanya. Lalu, dalam sekejap monster iblis itu menerjang si wanita yang masih terbaring tak berdaya di lantai goa, sebelum menggigit leher wanita malang tersebut kemudian menguras habis darah yang ada di tubuhnya hingga yang tersisa hanyalah seonggok mayat keriput yang terlihat amat mengerikan, seperti mumi yang sudah terkubur selama ratusan tahun. Seberkas sinar mentari nampak mulai mengintip di ujung cakrawala menandakan pagi hari akan segera datang. Disusul dengan kemunculan sesosok wanita cantik berpenampilan sempurna yang keluar dari dalam goa. Netranya yang kini berwarna biru cantik bagai permata, mendongak menatap langit yang mulai berganti. Bibirnya yang kini berwarna merah muda tersenyum lebar penuh percaya diri. Kini, penampilannya sudah lebih baik dari sejak ia pertama kali dibangkitkan lagi. Tersenyum miring mengejek, diam-diam ia bersyukur karena manusia diciptakan bodoh dan mudah termakan oleh hasratnya sendiri. Cukup dengan diberikan iming-iming konyol dan mereka akan terperangkap selamanya dalam jurang kegelapan. Yah, tak akan ada siapapun yang sanggup lepas dari jeratan iblis, pikirnya puas. Sejenak pikirannya mengawang, memutar kembali peristiwa yang membuatnya bangkit kembali setelah dipaksa tertidur untuk waktu yang cukup lama. Namun, kini dirinya telah kembali meskipun dalam kondisi kekuatan yang masih belum stabil. Dan karena itu juga ia akan mencari penyebab dirinya yang tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama setelah memberi berkatnya pada salah satu pengikutnya yang setia. Senyuman miring penuh perhitungan tersemat di bibir ranumnya. Sosoknya yang sudah kembali menjadi cantik jelita menatap penuh percaya diri pada seorang pria paruh baya yang terkejut ketika mendapati ada seorang wanita cantik jelita sedang berdiri dengan anggun di tengah hutan. Sekop yang ia bawa bahkan sampai tergelincir lalu jatuh ke tanah. Kedua matanya menatap takjub kepada wanita secantik bidadari yang kini sedang tersenyum lebar padanya tanpa tahu jika hari itu mungkin hari terakhir bagi pria malang tersebut. Memang, tak jauh di belakang goa kecil tersebut terdapat perkebunan gandum dengan skala kecil yang biasa di olah oleh penduduk setempat. Pria paruh baya itu pun menyapa wanita cantik tersebut dan wanita cantik itu pun menyambutnya dengan sangat ramah. Bak gayung bersambut, pria paruh baya itu pun langsung mendekati wanita cantik tersebut dengan berani, bahkan ia langsung menggoda wanita cantik itu hingga membuat sang wanita nampak tersipu malu. Lalu mengajaknya masuk ke dalam goa dengan alasan agar bisa mengobrol dengan nyaman tanpa tahu jika netra safir milik sang wanita menampilkan kilatan sadis. Kegelapan yang ada di dalam goa perlahan menelan bayangan mereka hingga tak terlihat, disusul kemudian dengan keheningan panjang sampai tiba-tiba terdengar suara teriakan serak yang menggema lalu semuanya kembali hening. **** Alexa tersentak bangun dari tidurnya, dan mendapati seberkas sinar matahari sudah mulai terlihat di cakrawala. Menoleh ke samping ia segera menemukan sisi ranjang tempat dimana suaminya tidur sudah kosong dan dingin. Ia pun bergegas bangkit dari ranjang guna mencari keberadaan sang suami. Namun anehnya, seluruh lampu di pondok itu dalam keadaan mati dan tak bisa dinyalakan. Berjalan pelan ia menyusuri lorong demi lorong yang cukup gelap karena minim pencahayaan. Lalu menuruni tangga menuju lantai bawah. Hembusan kencang angin yang menghempas daun jendela hingga terbuka mengagetkannya, membuat Alexa menoleh ke sumber suara dan matanya menangkap siluet hitam berdiri tak jauh dari jendela yang terbuka tadi. Sontak hal itu membuat Alexa terlonjak di tempat dengan mata membulat kaget. Mencoba untuk rasional, ia berpikir mungkin saja itu Nathan, suaminya. Jadi, ia pun memanggil namanya untuk memastikan. "Nathan? Kau kah itu?"ujarnya. Namun, tak ada jawaban dari siluet itu. "Nath? Kenapa kau diam—" perkataan Alexa terpotong ketika telinganya menangkap suara tawa histeris yang menggema berasal dari bawah lantai kayu yang di pijaknya. Suara tawa sinting yang amat Alexa kenal. Segera saja Alexa berbalik untuk mencari pintu ruang bawah tanah. Ia berlari kecil tak tentu arah karena memang belum menghafal letak semua ruangan yang ada di pondok, tetapi anehnya ia juga mendengar suara langkah kaki yang ikut berlari di belakangnya. Bertepatan dengan itu, netranya menemukan apa yang ia cari. Pintu menuju ruang bawah tanah. Namun baru saja tangannya terjulur untuk meraih kenop pintu tersebut, seseorang menarik kasar lengan bajunya yang lain hingga membuat tubuhnya limbung dan nyaris jatuh menabrak orang tersebut. Terkejut mendapati wajah asing yang memeluknya, Alexa segera berontak melepaskan diri. Sosok asing itu pun segera menyadari kesalahannya dan segera meminta maaf berulang kali pada majikannya atas kelancangan dirinya barusan. "Maafkan saya, Nyonya. Saya hanya menjalani perintah dari Tuan Hemlock."ujarnya sembari membungkuk meminta maaf. "Tuan Hemlock?"tanya Alexa bingung. "Siapa namamu?"tanyanya lagi. "Saya Luca. Anda bisa memanggil saya Luke."balasnya sopan. "Kau...pegawai baru?"ujar Alexa karena seingatnya Nathan tak memiliki pegawai bernama Luke dan wajahnya terlihat sangat asing. "Ya, saya pegawai baru sekaligus kepala pengawal baru yang ditugaskan untuk menjaga keselamatan Nyonya."jawabnya dengan lugas namun sopan. Mendengar hal itu, Alexa pun mengernyit tak paham tentang ide jika dirinya sampai harus dilindungi oleh seorang kepala pengawal. Memangnya ia sedang terancam bahaya apa hingga 'suami tercintanya' itu memerintahkan kepala pengawalnya sendiri untuk menjaganya. "Mmm...apa kau tahu dimana suami ku? Sepertinya ada hal yang harus aku tanyakan langsung padanya."ujar Alexa dengan kernyitan dalam di dahinya. "Maaf Nyonya, Tuan sedang tak bisa diganggu saat ini. Saya akan segera memberi tahu Nyonya jika Tuan sudah selesai dengan urusannya."balas kepala pengawal baru itu dengan sopan yang malah membuat Alexa memutar bola matanya karena jengkel. Lalu dengan tiba-tiba, ia berbalik badan dengan cepat dan langsung menerobos masuk melewati pintu ruang bawah tanah tanpa menghiraukan panggilan panik kepala pengawal bernama Luca itu. Kemudian berlari cepat menuruni tangga kayu yang langsung mengeluarkan pekikan nyaring di bawah kakinya, karena sudah terlalu tua. Sesampainya ia di bawah ruangan basement pondok itu, aroma pengap dan lembab segera saja menyambut indera penciumannya. Namun, samar ia mencium aroma amis yang membuatnya mengernyitkan hidungnya terganggu. Ia tak menyangka jika ruangan bawah tanah itu cukup luas. Meraba sekitar, ia pun akhirnya menemukan tali saklar lampu kemudian menariknya hingga ruangan pengap itu pun kini menjadi lebih terang dari sebelumnya. Tak sesuai perkiraannya, karena ternyata ruangan bawah tanah itu bahkan lebih besar dengan lorong-lorong yang ada di kanan dan kirinya. Mengikuti insting, Alexa pun berjalan pelan ke arah kiri. Terdapat meja besar yang nampak sudah usang tak jauh di depannya, namun ketika ia mendekat ia melihat sebuah kalimat terukir disana. Tulisan itu berwarna merah seperti ditulis menggunakan darah seseorang. Tak hanya itu, kalimat yang tercetak disana pun tak kalah mengerikan. Tulisan itu berbunyi, "KEMATIAN BUKANLAH SEBUAH AKHIR, MELAINKAN SEBUAH PINTU GERBANG MENUJU KEABADIAN YANG AKAN MENGANTARKAN MU PADA KEKUASAAN TERTINGGI." Seketika, Alexa merasa sangat yakin jika siapapun yang telah menulis kalimat itu sudah pasti tidak waras dan Alexa merasa kasihan padanya. Menggeleng pelan ia segera melanjutkan perjalanannya ketika ia mendengar suara langkah kaki yang sedang menuruni tangga dengan cepat, juga suara yang memanggilnya. Alexa seratus persen yakin jika suara itu pastilah suara Luke, kepala pengawal baru suaminya. Berjarak beberapa langkah di depan, Alexa melihat sebuah pintu kayu yang sudah usang di sebelah kanannya nampak terbuka sedikit, dari celah tersebut sesuatu nampak sedang mengintip dari baliknya. Alexa terkesiap kaget ketika melihat penampakan mengerikan itu lagi. Sosok anak kecil yang sama yang pernah mengintipnya dari balik lemari kemarin malam. Namun suara Luke yang memanggilnya di belakang membuat Alexa tanpa pikir panjang langsung menarik kenop pintu itu dan masuk ke dalamnya. Seketika, Alexa di sambut oleh ruangan gelap dan pengap, tak ada pencahayaan sama sekali. Menguatkan tekad, ia melangkah pelan menelusuri gelapnya ruangan itu. Namun baru dua langkah, kakinya seperti menginjak sesuatu. Ia pun segera berjongkok lalu meraba ke sekitarnya dan menemukan sebuah senter kecil yang masih bisa menyala walaupun sudah terlihat sangat usang. Ia pun menggunakan penerangan dari senter kecil tersebut untuk menerangi jalannya. Ternyata ruangan itu seperti ruang sambung yang menyambungkannya pada sebuah aula luas dengan beberapa barang yang sudah tak terpakai mengisi tiap sudutnya. Sebuah lukisan berukuran besar menarik perhatian Alexa. Ia pun menghampiri lukisan itu dan menarik kain berwarna putih yang menutupi sebagian lukisan tersebut. Dan ia pun kembali dibuat terkejut saat netranya menangkap potret siapa yang ada di lukisan tersebut. Itu adalah potret nenek moyang suaminya, tapi tunggu— iblis memiliki umur yang panjang. Jadi, sudah pasti itu bukanlah potret nenek moyang suaminya melainkan potret suaminya sendiri. Ia pun tiba-tiba merasa amat jengkel ketika menatap lukisan itu. Namun, sekonyong-konyong bibir di lukisan itu tiba-tiba tersenyum miring seolah mengejek Alexa yang nampak sedang mengagumi ketampanan yang terlukis dengan sangat jelas di lukisan itu. Mendengus jengkel, Alexa langsung membalikkan badannya dan segera pergi dari sana, yang mana hal itu langsung mengubah ekspresi di lukisan tersebut menjadi terlihat marah. Alexa tak tahu jika sebenarnya lukisan itu terhubung langsung pada sang suami, Nathan, yang kini tengah menahan rasa jengkelnya karena diabaikan begitu saja oleh sang istri. Sungguh ironi, saat orang-orang memujanya bahkan menyembahnya bagai dewa, namun istrinya yang cantik jelita malah mengabaikannya. Dengan setengah jengkel ia pun seketika menghentikan kegiatannya merampungkan mahakaryanya yang hebat. Padahal ia sangat ingin segera memamerkannya pada sang istri. Namun ia juga tak ingin berakhir mengacaukan mahakaryanya karena moodnya sedang tidak baik. Menatap sejenak pada lusinan mahakarya nya yang berbaris dengan rapih hampir memenuhi ruangan yang luas itu, ia pun segera berbalik pergi meninggalkan ruangan itu. **** Lorong di depanku terlihat semakin panjang seperti tak memiliki ujung. Dan juga semakin gelap, senter kecil yang berada di genggamanku sama sekali tak membantu untuk menyinari jalanan gelap di depanku. Rasanya sangat melelahkan sekali, terus berputar-putar tanpa tahu arah. Lorong-lorong bawah tanah ini sepertinya sudah sengaja menyesatkan ku. Lelehan keringat juga udara yang pengap membuatku merasa sesak, dan dinding-dinding batu di kanan dan kiriku seolah mencoba menghimpit ku, membuat tubuhku limbung dan nyaris jatuh. Aku sama sekali tak memiliki phobia pada ruangan sempit dan gelap tapi aku tak dapat menahannya lagi sekarang. Ku putuskan untuk istirahat sejenak, menyandarkan tubuhku pada dinding batu yang dingin sembari menetralkan deru nafasku akibat rasa panik yang tadi tiba-tiba menyerang ku. Kedua jalan yang ada di kanan kiriku benar-benar gelap, dan hal itu membuatku semakin tak yakin harus mengambil arah yang mana. Apakah aku harus mengambil sisi kiri dan kembali ke titik awal tempatku datang tadi atau aku harus memilih sisi kanan dan melanjutkan perjalananku dengan resiko semakin tersesat di labirin gelap ini? Semakin dipikirkan aku justru mendapatkan serangan panik lagi padahal aku bukan orang yang mudah panik ataupun merasa ketakutan. Tetapi entah kenapa saat ini aku seperti sedang berpacu dengan waktu, seolah jika aku terlambat sedikit saja sesuatu yang sangat buruk akan terjadi. Mungkin aku seharusnya tidak turun ke bawah sini dan memilih menunggu Nathan di kamar saja. Tapi, rasa penasaran ku memang selalu dapat mengalahkan segala logika yang ku punya, dan sekarang aku benar-benar merasa menyesal. Mendengus kasar, sekonyong-konyong aku malah mendengar sebuah suara aneh disertai senandung samar. Suara aneh yang nampaknya berasal dari sesuatu yang tengah diseret-seret juga suara senandung dengan irama jenaka. Sungguh lucu di saat seperti ini aku justru berharap bahwa itu adalah suara Nathan yang sedang mencari ku atau mungkin suara kepala pengawal baru itu, akan tetapi mereka adalah laki-laki sedangkan suara senandung itu jelas adalah suara seorang perempuan. Tubuhku pun seketika mematung saat tanpa sengaja telingaku mendengar sebait lirik lagu yang sedang di senandung kan itu. Aku ingat kalau aku pernah mendengarnya dari seseorang. Seorang anak kecil aneh pernah menyenandungkan nya untukku di hari pernikahanku, tak ada seorang pun yang mendengarnya atau bahkan menyadari kehadiran anak kecil aneh itu. Karena anak kecil aneh itu seperti muncul begitu saja di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang menghadiri pesta pernikahanku dan dengan wajah datar serta kaku ia menyanyikan lagu mengerikan itu sembari menatap tajam ke arahku. Seolah lagu itu adalah pesan peringatan untukku. Dan kini suara itu terasa semakin mendekati lokasi di mana aku masih terpaku diam dengan tatapan nyalang. Suara gesekan seperti sesuatu tengah diseret juga semakin jelas terdengar. Suara itu terasa semakin dekat, dan dekat. Seseorang sedang berjalan ke arahku, meskipun langkahnya terdengar pelan dan lambat namun jantungku berdegup amat kencang hingga rasanya ingin meledak. Serangan panik yang parah kemudian menyerang ku, membuatku membatu di tempat, bahkan otakku seakan berhenti bekerja. Namun suara nyanyian itu tak mau berhenti menyenandungkan kengerian seolah itu bukanlah apa-apa. Nyanyian itu diakhiri oleh suara kikikan yang sanggup membuat siapapun yang mendengarnya merasa merinding ketakutan, bahkan tubuhku kini mulai gemetar ketakutan. Lalu sudut mataku tanpa sengaja menangkap sesuatu yang bergerak dari arah kiriku. Dengan gugup ku arahkan senter kecil di genggamanku ke arah tersebut dan tubuhku seketika mematung di tempat. Tatapan tajam itu seakan berkilat ditengah kegelapan, mengirim gigil dingin ke sekujur tubuhku. Apa ini? Bahkan aku tak pernah merasa setakut ini saat pertama kali bertemu Nathan dulu. Tetapi aura yang dikeluarkan sosok ini penuh dengan kebencian yang pekat, seolah ia ingin aku untuk segera hancur dan lenyap. Tatapannya yang menyala penuh dendam itu seketika menyedot hampir seluruh keberanian yang aku punya, membuatku tak mampu berkutik sama sekali. Sosok itu berjalan pelan menuju ke arahku, seolah ingin mengintimidasi ku dan menunjukkan siapa yang berkuasa saat ini. Namun, ia tiba-tiba saja berhenti dan hanya menatapku dengan tatapan mematikannya dari jarak beberapa meter di depanku. Lalu, ketika itulah aku menyadari jika sosok misterius yang menguarkan aura kebencian di depanku itu adalah sosok yang sama yang pernah menyanyikan lagu dengan lirik yang mengerikan di pesta pernikahanku. Sosok anak kecil misterius yang muncul begitu saja di tengah pesta tanpa ada satu pun yang menyadari kehadirannya selain diriku. Sekonyong-konyong aku terlonjak kaget ketika seringai lebar terbentuk di wajah mungilnya disertai kilatan tajam dari kedua matanya. Kemudian ia kembali berjalan menghampiriku, masih dengan langkah pelan yang sama seolah setiap detiknya ia menantikan reaksi ketakutan terbit di wajahku. Jujur saja, aku memang merasa sangat ketakutan saat ini, namun sedari dulu aku selalu terbiasa menyembunyikan segala ekspresi tersebut. Namun aku tak lagi mampu menahan diriku untuk tak berteriak ketika sosok anak kecil aneh dengan wajah berlumuran darah itu tiba-tiba mulai berlari dan sosoknya perlahan membesar, berubah menjadi sosok wanita dewasa tetapi masih dengan wajah mengerikan yang sama. Ia berlari ke arahku dengan tangan-tangan busuknya yang ikut terjulur seolah mencoba menggapai ku. Dengan segenap kekuatan yang ku punya aku pun berbalik dan juga berlari menjauh dari cakar-cakarnya yang tajam dan hitam. Sayangnya, semesta sedang tak berpihak padaku karena tiba-tiba saja muncul siluet hitam berdiri menghadang jalanku. Baru saja ku ingin menghindar, namun sosok itu justru menarikku ke dalam pelukannya dan mendekap ku erat sebelum kami berputar dan berbalik. Setelahnya aku hanya bisa mendengar suara teriakan melengking disertai suara desisan bak suara api yang sedang mendesis ketika melahap apapun di depannya. "Kau memasak menu sarapan pagi apa, Istri?"tanya sebuah suara yang amat ku kenali. Dan aku pun menyadari jika yang memelukku adalah Nathan. Aku pun mendongak membuat kedua pasang netra kami saling bersirobok, yang satu dengan ekspresi bingung, sedang yang lain menatap dengan ekspresi dingin bercampur jengkel. "Kau...mau ku buatkan apa, Sayang?"ujar ku sembari menampilkan senyuman semanis mungkin, karena terlihat jelas jika suamiku sedang amat jengkel saat ini. Jadi daripada memicu perang yang tidak perlu, lebih baik ku coba padamkan api itu dengan sedikit sikap manis dariku. Toh bersikap manis pada suami sendiri bukanlah suatu kesalahan. Namun reaksi yang ku dapatkan tak sesuai dengan apa yang ku harapkan. "Kau. Aku ingin menu sarapannya adalah kau."bisiknya di telingaku, hembusan nafas hangatnya yang menggelitik sesaat mengaburkan segala hal yang ada di pikiranku, bagai kertas putih yang belum terjamah. Namun, tawa kecilnya yang terdengar mengejek seketika mengembalikan kesadaran ku. Aku pun mendongak dan bertemu pandang kembali dengan netra sebiru samudera miliknya yang sedang menatapku lekat, namun kali ini dengan kilatan aneh yang baru pertama kali ku lihat. Dan aku pun hanya mampu membalasnya dengan tawa kecil yang canggung. DEMI TUHAN, AKU BELUM INGIN MATI!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD