Go Away!

1351 Words
Anya telah masuk kantor di hari pertama, dulu dia pernah magang di sana, karyawan bagian PR menyambutnya. Anya bertemu lagi dengan mentor magangnya dulu, Bu Risa, sekarang dia memanggilnya Mbak. "Astaga, semakin cantik saja kamu, Anya. Semakin dewasa." Dia merangkul Anya. Ternyata Mbak Risa telah menikah saat ini. "Kamu memang berjodoh di perusahaan kita yah." "Ah mbak bisa saja." "Oh iya mejamu. Aduhhh ...." Mbak Risa tertawa, seraya melirik meja di baris ketiga ruangan. "Ada apa mbak?" "Ehem pacarmu masih saja romantis yaa." Anya melongok dan melihat sebuah meja yang dipenuhi bunga mawar putih, boneka dan coklat. "Ya ampun!" Anya terpekik. "Huhuuuu kesaal aku tuhhh," kata sebuah suara. Itu Lana dan dia juga masih di sini, "Tanyain pacarmu punya teman nggak? Yang romantis kayak dia." Anya tertawa dia membuka kotak coklat dan membagi-bagikannya ke penghuni ruangan yang berjumlah sembilan orang itu. "Aku rasa pacarmu mau bilang jangan ganggu cewekku," ujar Tora. "Karena kalian nggak sanggup bersaing sama aku." Mereka semua tertawa mendengar pernyataan Tora. Apalagi Anya, ih beneran nih si Evan. "Yah Tora, kamu masih bisa berusaha selama janur kuning belum melengkung." Lana tertawa. "Gimana suka?" Sebuah pesan masuk ke ponselnya. "Nggak. Terlalu berlebihan mencolok." ":p" Anya tertawa. Evan mengajak makan siang, tapi Anya menolak, dia nggak mau kantor tahu mereka pacaran. Males saja sih nanti di-kepo-kepoin, lagipula Anya merasa tidak enak saja dengan jabatan Evan yang cukup tinggi, bisa-bisa Anya dikira masuk karena jalur nepotisme. Akhirnya Anya memesan g*food dan berencana makan di mejanya. "Ampuunn bakal nambah lagi daftar pria idaman di kantor kita," kata Lana. Mbak Risa menegurnya agar memelankan suara. Tapi yang lain malah bertanya heboh. "Kenapa-kenapa?" "Direktur oil & gas yang baru masih single, udah gitu ganteng, sexy bakal nyaingin Pak Evan." Mendengar nama baby-nya disebut Anya langsung mendekat. "Masa iya?" Yang lain bertanya. "Namanya Jared." "Namanya aja udah ganteng." Timpal yang lain. Pria bernama Jared itu langsung menjadi bahan bahan pembicaraan kaum hawa di Kantor HO Drasea. Tampaknya kabar itu memang bukan sekedar omong kosong, Jared berusia sekitar 30-an, dengan tubuh proporsional dan urat-uratnya yang terlihat di lengan hasil dari olahraga rutin. Wajahnya sanggup membuat mata mencuri-curi pandang. Tapi bagi Anya lelaki lain tidaklah lebih menarik dari kekasihnya, Evan. 'Miss you, baby.' Pesan itu membuat Anya tersenyum sendiri, Evan sedang melakukan visit yard ke lokasi proyek dan tidak berada di kantor. Padahal dia sudah pindah ke sini tapi masih sulit tampaknya bertemu dengan Evan di kantor. Syukurlah, Evan selalu menyempatkan diri menyambangi apartemen kalau dia tidak ke luar kota. "Ekhemm ... senyum-senyum sendiri," ledek Tora. Anya segera meletakkan ponselnya dan merona malu. Dia buru- buru melanjutkan ketikan. *** Anya cepat-cepat membuka pintu apartemennya, memeluk pria itu. Rindu sekali sudah tiga hari mereka nggak ketemu. "Hmm ... aku kotor nih, belum mandi," bisik Evan. Semakin membuncah perasaan Anya, dia langsung ke sini untuk menemui Anya. Anya mendengar suara Evan bersiul, ingin rasanya menerobos masuk. Tapi wajahnya langsung merah karena pikiran yang liar. Evan keluar dengan handuk melilit di pinggangnya. Tampak belang kemerahan karena terbakar matahari, tubuhnya yang terbentuk dan rambut yang basah makin melambungkan imajinasi Anya. "Aku menemani direktur keliling yard." "Pak Jared?" Anya bertanya. Evan mengangguk. Evan melompat ke tempat tidur, memeluk dan mencium Anya mesra. "Aihhh Evan." "Aku capek. Nggak sanggup lagi." "Aku pijitin?" "Tawaran yang menggoda," bisiknya. Anya mengambil lotion dan meluluri punggung Evan. "Enaknya," desah Evan. "Bisa pinter gitu mijitnya." Anya meninju pelan punggung Evan mendengar kata-katanya. "Malam ini aku bobok di sini," kata Evan. "Sejak kapan kamu perlu izin?" Evan memeluk tubuhnya, dingin. "Kamu nggak kedinginan?" "Makanya aku butuh kehangatan, baby." Dia menarik Anya ke pelukannya, sampai Anya sulit bernafas. Tak lama Evan tertidur pulas. Anya mengecup bibir pria yang dicintainya itu. Tampaknya sejak direktur baru datang, ritme kerja sangat meningkat. Anya pun merasakan hal itu. Maklum saja Pak Jared masih muda dan bersemangat. *** Mbak Risa menyerahkan map berisi dokumen dan meminta Anya untuk mendampingi Bos mereka (Bu Lily, Manager departement PR HO Drasea) mengikuti meeting. "Kenapa saya mbak?" tanya Anya. "Anakku sakit, Anya. Aku harus pulang sekarang." "Yang lain?" "Punya kesibukan masing-masing. Lagipula ini pertama kali kamu akan ikut meeting penting, cuma mencatat dan mempersiapkan MOM untuk departemen kita." Akhirnya Anya mengangguk. Anya menuju ruangan Bu Lily. Beliau langsung menyuruh Anya mengikutinya. Mereka masuk ke ruang meeting, menunggu petinggi datang. Rapat ini rapat bulanan untuk melakukan evaluasi oleh direktur, GM dan manager. Anya melihat arah pintu masuk, dia menelan saliva. Melihat sosok pria yang semalam tidur memeluknya, ah benar-benar tampan. Frekuensi jantungnya seketika meningkat, jadi ini rasanya backstreet di tempat kerja. Berpura-pura tidak mengenal, di sebelahnya Pak Jared juga masuk ke ruangan. Evan melihat ke arah Anya, menarik ujung bibirnya sedikit. Entah apa yang ada di pikiran pria itu. Evan melakukan presentasi mengenai area barat, sangat tenang. Membuat point lelaki itu melonjak sampai menembus angkasa. Anya melotot matanya nyaris keluar, baru kali ini dia melihat Evan dengan aktivitas kantornya, dia seketika bersyukur hadir pada rapat ini. "Peningkatan proyek dan keberhasilan area barat mencapai 85% tapi bagaimana wilayah tengah?" Jared menghardik marah, pantas saja tidak ada yang mau menemani Bu Lily meeting, ternyata pangeran idaman baru para wanita Drasea seorang otoriter. Anya hampir tertawa geli. Bu Lily melihat dan mencubitnya, mungkin heran kenapa Anya bisa terkikik saat Jared berteriak-teriak marah. Bu Lili berjalan cepar ke luar ruangan saat meeting usai. Anya mengimbangi langkah Bu Lily, entah kenapa managernya itu kalau berjalan sangat cepat. Bu Lily menghampiri Pak Jared yang sedang berbincang bersama beberapa manager usai meeting. "Ibu Lily." Dia memanggilnya lembut. Kalau tidak sedang marah atau mengamuk Pak Jared sangat lembut dan perhatian. Mereka berbincang tentang penanganan pengaduan limbah. Pak Jared menoleh ke arah Anya, "Oh, ini salah satu staf PR atau sekretaris?" Dia bertanya. "Staf PR Pak," sahut Bu Lily, Pak Jared manggut-manggut. Mata Anya mencari-cari sosok Evan, uh menyebalkan dia langsung menghilang setidaknya kasih kode apa gimana gitu. Lihat saja Anya akan menghukumnya. "Hei Evan." Tiba-tiba Pak Jared berkata, Evan muncul entah darimana. Anya terbatuk, Evan melewatinya, dia menghirup aroma parfum pilihannya dari tubuh Evan, sangat maskulin. Mpphh .... Mereka berbincang sementara Anya menunggu, dia lalu teringat pada kata Sofia kalau mereka hanya remah-remah. "Bagaimana kalau makan siang bersama?" Tiba-tiba Evan menyerukan. Bu Lili dan Pak Jared mengangguk. Helloo? Terus aku gimana? pikir Anya. "Kalau begitu saya akan kembali, bu." Anya berkata. "Lho, ikut saja," sahut Bu Lily. Evan terkikik. Anya akhirnya mengikuti ketiga pejabat perusahaan itu. Mereka makan di sebuah restoran, Anya memesan aglio olio saja. Anya benar-benar merasa hening, mereka bertiga membicarakan hal-hal yang tidak dapat dikomentarinya. Evan nyebelin, dia pasti ingin menyiksa Anya karena backstreet adalah ide Anya. "Anya." Seseorang memanggilnya, Anya menoleh. Sangat kaget, dia terlihat berbeda. Tubuhnya berisi dan padat, gaya rambutnya juga berbeda. "Aric." Anya berdiri, benar-benar pertemuan yang tak disangka, Aric melihat Evan dengan sangat sinis begitupun Evan, rahangnya langsung mengeras. "Lama tak bertemu." Aric berkata. Anya mengangguk gugup, Aric tau dia kembali pada Evan. Pasti Aric merasa sangat marah dan kecewa. "Oh sepertinya aku mengganggu," katanya riang. "Kapan-kapan kita harus bertemu." Anya mengangguk dan Aric berlalu sambil tersenyum manis. Dia benar-benar berbeda, pikir Anya, Anya kembali duduk. "Maaf itu teman lama." Jared tertawa kecil, "Tidak perlu meminta maaf, kamu lucu sekali." Wajah Anya seketika memerah. *** Evan harus kunjungan ke areanya di sumatera selama seminggu. Pasti sangat sepi sekali, kenapa juga lama sekali, Anya merengek. Evan mencubit pipinya dengan gemas. "Ada masalah di sana, Baby, Jared mau aku yang langsung check." "Katanya hubungan kamu dengan Pak Jared tidak begitu baik? Apa benar gitu?" Evan terdiam, tampaknya semua bisa melihat naluri persaingan Jared pada Evan. Evan sendiri tak begitu paham kenapa Jared seperti merasa terancam oleh kehadirannya, statusnya saja tak ada yang tau. Jabatan dan posisi jelas dia lebih tinggi dari Evan. "Biasalah, dunia kerja memang seperti itu, memangnya di kantor nggak ada yang jealous sama kamu?" "Nggak tau," ucap Anya polos. "Selama aku pergi, jangan keluyuran." "Memang mau ke mana? Paling diajak Olga pemotretan. Lagian aku bosen kalo nggak ke mana-mana." "Aku nggak mau orang-orang melihatmu." Dia tertawa mendengar kata-kata Evan. "Apaan coba." "Cium aku." Evan mendesak. Anya menggeleng. Evan meniup-niup telinga Anya. Anya terkikik geli. "Evan." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD