Bab 8 - Hati Zainal

1998 Words
Angin malam berembus pelan di balkon apartemen lantai delapan itu. Dari ketinggian, lampu kota tampak berkelip, seakan menertawakan kesunyian yang menyelimuti seorang pria muda bernama Zainal. Tubuhnya tegak bersandar pada balkon, kedua tangannya terlipat di d**a, sementara tatapannya kosong menembus langit gelap. Getaran singkat dari saku jaketnya memecah keheningan. Zainal menghela napas pelan sebelum merogoh teleponnya. Layar kecil itu menyala, menampilkan nomor yang tak tersimpan. Namun dikenalnya. Ia menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, seolah berharap panggilan itu berhenti dengan sendirinya. Namun tidak. Ia mengangkatnya. "Zain speaking." Suara di seberang terdengar tenang, rapi, seperti orang yang terbiasa mengatur jarak. "Selamat malam, Tuan Zainal. Maaf menelepon selarut ini. Saya Irawan. Saya diminta menyampaikan pesan kepada Anda, dari Pak Burhan." Zainal memalingkan wajah ke arah kota. Rahangnya mengeras. "Selalu seperti itu. Dia tidak akan menelpon putranya sendiri." Ada jeda singkat di ujung sana. "Ayah Anda menghargai keputusan Anda. That’s why he asked me to call." Jawabnya akhirnya. Wajah Zainal langsung menjadi datar, nyaris tanpa ekspresi. "Saya akan pura-pura percaya itu." Nada suara di seberang tetap stabil. "Saya langsung ke inti saja. Saat ini ada beberapa kendala di Hussaini Group, khususnya di divisi elektronik." "Kendala seperti apa?" tanya Zain. "Dua supplier utama kami di Bekasi menghentikan pengiriman. Ada discrepancies di laporan bahan baku tembaga dan komponen semikonduktor. Tidak ada indikasi pelanggaran hukum, but the timing is unfortunate." Zainal tahu arti kalimat itu. 2009 bukanlah tahun yang ramah. Krisis global belum benar-benar reda. Sedikit gangguan rantai pasok saja bisa membuat investor gelisah. "And my father thinks I’m the solution?" tanyanya datar. "Beliau percaya kehadiran Anda bisa menenangkan situasi internal. Dewan direksi masih mendengar Anda. Whether they admit it or not." Angin kembali berembus, lebih dingin dari sebelumnya. Zainal memejamkan mata sejenak. "Dan bagaimana jika saya katakan, kalau saya sedang sibuk?" katanya pelan. "Maaf, Tuan Zainal. Saya hanya menyampaikan pesan beliau. Tidak ada tuntutan Anda harus kembali." suara itu sedikit melunak. "Honestly, this is purely business. Ayah Anda hanya meminta bantuan Anda. Only as a negotiator. A few weeks. At most." Zainal tertawa kecil. Pendek namun pahit. "It always starts with ‘a few weeks’." Keheningan menyusup di antara mereka. Dari bawah, suara klakson samar terdengar. Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur. "Ayah Anda juga berpesan, kalau Anda menolak, beliau akan menangani semuanya sendiri." Lanjut suara itu hati-hati. Zainal terdiam sejenak. Hanya napasnya saja yang terdengar dari telepon. Sebelum ia akhirnya berbicara. "Send me the reports. All of them." akhirnya Zain berkata. Nada lega nyaris tak terdengar di seberang sana. "Baik, Tuan Zainal. Saya akan kirimkan laporannya." Panggilan itu berakhir tanpa bunyi apa pun selain napasnya sendiri. Zainal menurunkan telepon dari telinganya, membiarkannya tergenggam begitu saja. Di hadapannya, ibukota terhampar. Lampu-lampu kota berkelip acak, lalu lintas mengalir seperti urat nadi yang tak pernah berhenti. "Lo ngapain berdiri di sini sendirian? Anginnya dingin." Suara Baldi datang dari belakang, ringan tapi cukup jelas untuk memecah hening. Sebuah tepukan singkat mendarat di bahu Zainal, bukan keras, tapi sengaja. Zainal menoleh sekilas. "Nggak apa-apa," katanya, datar. Tatapannya kembali ke arah kota. Baldi tidak langsung menanggapi. Ia melangkah mendekat, berdiri di sisi Zainal, ikut menyandarkan tubuh ke pagar balkon. Beberapa detik mereka hanya diam, membiarkan suara samar kota mengisi ruang di antara mereka. "Kalo nggak apa-apa, biasanya lo nggak lama-lama di sini." ujar Baldi akhirnya. Zainal menghembuskan napas pelan. "Lagi males aja. Bosen." Jawabnya. Kata itu terdengar pelan, tapi berhenti di udara lebih lama dari seharusnya. Baldi meliriknya sekilas. Tidak bertanya lagi. "Masuk aja," katanya kemudian, nadanya turun satu tingkat. "Gue nggak mau besok lo jadi sakit, gara-gara kelamaan di luar." Zainal terdiam. Pandangannya masih tertahan di kejauhan, seolah kota itu menyimpan sesuatu yang belum siap ia hadapi lagi. Beberapa detik berlalu. "Iya," katanya akhirnya. Baldi berbalik lebih dulu, membiarkan Zainal menyusul di belakang. Sesaat sebelum melangkah pergi, Zainal menoleh sekali lagi ke arah malam. Ke kota yang tidak pernah benar-benar melepaskannya. Lalu ia masuk, meninggalkan balkon dalam diam. Zainal duduk di sofa panjang tanpa banyak suara. Baldi menyusul tak lama kemudian, tapi hanya sebentar. Ia langsung berbelok ke dapur, membuka kulkas, lalu kembali dengan kedua tangan penuh camilan. Zainal melirik sekilas, alisnya terangkat. "Semua makanan gue lo bawa ke sini?" Baldi menjatuhkan dirinya ke sofa sambil nyengir. "Peliiiit amat jadi orang." Ia langsung membuka satu bungkus. "Gue laper, Bro. Lagian kulkas lo isinya segitu, masa nggak boleh gue ambil dikit." Zainal menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya. Ia tidak menanggapi, membiarkan suara kunyahan Baldi memenuhi ruang yang sejak tadi terlalu sunyi. Baldi melirik ke arahnya, puas melihat Zainal bereaksi atau justru tidak bereaksi sama sekali. "Eh, Zain," katanya sambil mengunyah. "Lo tahu nggak, kemarin gue dengar kabar kalau—" Tok! Tok! Tok! Ketukan pintu itu datang tiba-tiba. Tidak keras, tapi cukup tegas untuk memotong kalimat Baldi di tengah jalan. Baldi berhenti mengunyah. "Loh kok?" Ia menoleh ke arah pintu, lalu kembali ke Zainal. "Lo lagi nunggu orang?" Zainal menggeleng pelan. "Nggak." Tok! Tok! Tok! Ketukan kedua terdengar sedikit lebih jelas, seolah orang di balik pintu tahu mereka sudah mendengarnya. Baldi berdiri setengah badan. "Siapa sih yang datang pada jam segini?" Zainal tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju ke pintu, ada sesuatu yang samar bergerak di balik ekspresinya. Waspada. "Biar gue yang buka," kata Baldi akhirnya. Zainal mengangguk singkat. Baldi melangkah ke arah pintu, sementara Zainal tetap duduk di sofa, punggungnya tegak. Ada firasat kecil yang pelan-pelan merayap naik ke dadanya. Pintu pun dibuka. Dan matanya langsung membelalak. "Bunda?" suaranya tercekat. Seorang wanita paruh baya berdiri di sana. Kepalanya dibalut kerudung sederhana, wajahnya keriput namun penuh kasih. "Kamu sehat, Nak?" tanyanya lembut. Baldi langsung memeluknya erat. "Alhamdulillah sehat, Bun. Bunda sendiri gimana?" "Alhamdulillah, Bunda juga sehat." Tangis Baldi hampir pecah. Keriput di wajah sang ibu, tangan yang sudah mulai gemetar saat memeluk, membuatnya sadar betapa waktu berjalan begitu cepat. Ada ketakutan dalam dirinya. Takut kehilangan, takut tak sempat membahagiakan. "Bunda ..." suara lain terdengar lirih. Zainal. Ia berdiri, lalu perlahan menghampiri. Dan sebelum ada kata lain yang terucap, ia sudah tenggelam dalam pelukan wanita itu. Tangannya bergetar, suaranya pecah. "Bunda ..." Endang, ibu Baldi, mengusap lembut rambutnya. Ia memang bukan ibu kandung Zainal, tapi baginya anak ini sudah seperti darah daging sendiri. "Kamu sehat, Zain?" tanyanya lirih. "Sehat, Bunda," jawab Zain, nyaris menangis. Endang tersenyum kecil, meski matanya ikut berkaca. "Alhamdulillah." Bagi Zainal, panggilan Bunda adalah satu-satunya tempat ia bisa merasa diterima. Sejak kecil, wanita inilah yang merawatnya, menegakkan dirinya saat rapuh, bahkan menutupi luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Bisa dibilang, Endang adalah orang yang mengasuhnya. Ketika kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan. "Zain, duduk sini," ucap Endang sambil menepuk sofa. Zainal menurut, duduk di sampingnya. Namun begitu pertanyaan itu keluar, wajahnya seketika berubah. "Zain, apa kamu nggak ingin pulang? Sudah lama sekali kamu nggak ketemu orang tuamu." Keheningan panjang jatuh. Zainal menunduk, rahangnya mengeras. Tangan kanannya mengepal. "Kenapa Bunda tanya begitu?" suaranya tajam. "Kamu nggak merindukan mereka?" Endang menatapnya penuh iba. "Rindu?" Zainal tertawa hambar. "Entahlah. Setahuku mereka baik-baik saja." Endang menahan napas. "Apa kamu harus menunggu sampai orang tuamu sakit dulu, baru pulang?" "Pulang?" Zainal berdiri, matanya berkilat. "Itu bukan rumahku, Bun. Sejak dulu, aku nggak pernah merasa punya rumah di sana." Baldi refleks maju, berusaha menahannya. "Zain, dengar dulu. Ibuku belum selesai bicara." Namun Zainal hanya menarik napas berat. "Aku baik-baik aja di sini, Bun. Tolong bilang ke Mama ... untuk nggak usah khawatir. Aku baik-baik aja di sini." "Zain ..." Endang hampir meraih tangannya. "Aku rindu, Bun." Suaranya pecah, tapi ia cepat menahannya. "Cuma ... untuk sekarang aku nggak bisa pulang. Tolong, jangan tanya lagi." Ia lalu melangkah masuk ke kamarnya, menutup pintu rapat-rapat. Keheningan membungkus ruang tamu. Baldi berdiri kaku, sementara Endang menunduk, hatinya remuk. "Bunda, apa benar Nyonya merindukan Zain?" tanya Baldi pelan, penuh keraguan. Endang menoleh dengan mata yang masih berkaca. "Pertanyaan macam apa itu, Nak? Menurutmu seorang ibu nggak pantas merindukan anaknya?" Baldi terdiam. Endang menghela napas panjang. "Orang tua pasti selalu memikirkan anak-anaknya. Bahkan meski anak mereka sudah dewasa, dan sudah memilih jalan hidupnya sendiri, rasa khawatir itu nggak akan benar-benar menghilang." Endang terdiam sejenak. Tatapannya kosong ke meja, seolah ada sesuatu yang sedang ia timbang. Ketika ia kembali bicara, suaranya terdengar lebih pelan. "Dan terkadang ... anak suka lupa. Hanya karena mereka sudah dewasa, mereka merasa sudah paham semua soal hidup." ia menarik napas perlahan. Ia menggeleng kecil, senyumnya hambar, nyaris seperti menertawakan kenyataan. "Padahal, yang mereka tahu itu cuma separuhnya. Mereka lupa ... kalau dulu orang tua mereka juga pernah muda. Pernah ada di titik yang sama." Endang kembali menatap putranya. Kalo ini dengan senyuman tipis yang samar menutupi kesedihan. "Bunda berkata begini, bukan berarti Bunda tidak tahu apa yang dialami oleh Zain." Ucapnya dengan nada berat. "Bunda cuma nggak mau, Zain berlarut dalam kesedihannya." Baldi menunduk, merasa bersalah. Endang lalu menggenggam tangannya erat. "Nak, tolong jaga Zain. Dia sudah terlalu lama menanggung semuanya sendirian. Jangan tinggalkan dia." Baldi mengangguk mantap. "Aku mengerti, Bun. Aku janji." Malam itu, ketiganya terjebak dalam sunyi masing-masing. Zainal dengan luka yang tak terucap, Endang dengan kasih sayang yang tak berbalas, dan Baldi dengan tekad untuk tetap berada di sisi sahabatnya, apapun yang terjadi. *** Sementara itu, di kamarnya, Zainal duduk sendirian. Lampu kamar hanya menyala redup, menyisakan bayangan samar di dinding. Pandangannya terhenti pada sebuah lukisan laut yang tergantung tepat di hadapannya. Ombak biru yang terhempas ke karang, langit pucat keperakan, seolah berbicara dalam diam. Ia menarik napas panjang, menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, lalu membiarkan dirinya larut dalam kilasan yang tak pernah benar-benar hilang. Laut. Selalu laut. Itu sebabnya ia memasang lukisan serupa di ruang kerjanya di restoran, sebagai pengingat, atau mungkin sebagai pelarian. Kilasan suara ibunya kembali terngiang, jernih seakan baru kemarin diucapkan. "Mama mencintai Papamu. Bagaimana pun dia. Kamu boleh marah pada Mama, Zain, tapi jangan pernah meragukan itu." Suara itu tegas, tapi tetap lembut, dengan getar yang sulit ia pahami waktu itu. Zainal remaja terbayang jelas di kepalanya. Rambut acak-acakan, kaus putih kusut, dan wajah penuh bara amarah yang membuat matanya berkilat. Rahangnya mengeras, giginya terkatup rapat. "Papa tidak pantas mendapatkannya," ucapnya waktu itu. Dingin. Penuh luka yang ia simpan terlalu lama. Ibunya menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tapi sorotnya tetap kuat. Ia maju, menaruh kedua tangannya di pundak Zainal. "Nak ... Mama tahu hatimu sakit. Mama tahu kamu kecewa. Tapi cinta itu bukan soal pantas atau tidak pantas. Cinta itu ... soal keputusan. Mama memilih bertahan karena rasa itu sudah terlalu dalam, sudah terlalu menyatu dengan hati Mama." Zainal menggeleng keras, melepaskan tangan ibunya dengan gerakan kasar. "Terlalu dalam sampai Mama rela disakiti? Itu bukan cinta Ma, itu menyiksa diri Mama." Suara pecah keluar dari bibir ibunya, seperti menahan tangis. "Kamu pikir Mama tidak sadar? Mama sadar, Zain. Tapi meninggalkan Papamu ... rasanya sama saja dengan mencabut separuh jiwa Mama. Dan kalau kamu sampai membenci Papamu, Mama takut itu karena Mama yang tidak bisa menjelaskan dengan benar." Zainal tercekat, matanya memerah, mencoba untuk tidak berteriak di hadapan ibunya. "Jangan salahin diri Mama. Ini bukan salah Mama ... semua ini karena Papa. Kalau dia benar-benar mau, semua ini bisa berakhir. Tapi dia tidak pernah berhenti, Ma. Tidak pernah! Dan kalau Papa tidak bisa mengakhirinya, aku yang akan pergi." Hening mencabik ruang tamu mereka malam itu. Hanya detak jam dinding yang terdengar, menegaskan setiap jeda di antara mereka. Ibunya terisak, tapi tidak menghentikan tatapan penuh cinta itu. "Zain ... jangan pergi! Mama masih butuh kamu di sini." Zainal menggenggam jemari ibunya erat, lalu menunduk. "Aku cinta Mama. Tapi aku nggak sanggup lagi melihat wajahnya setiap hari. Maaf, Ma." Sejak malam itu, keputusan Zainal tidak pernah berubah. Kini, bertahun-tahun kemudian, ia benar-benar hidup di apartemennya sendiri. Jauh dari rumah, jauh dari ayahnya. Tapi tidak pernah jauh dari bayangan cinta ibunya yang tetap bertahan, meski penuh luka. Matanya masih sama, tapi tatapan itu lebih dingin, lebih letih. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, memejamkan mata, mencoba menutup telinga dari suara yang sudah tak mungkin ia dengar lagi di dunia nyata. Laut di lukisan itu tetap bergelora, tapi sunyi. Sama seperti dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD