bc

๐Ÿ‘ ๐“๐š๐ก๐ฎ๐ง ๐๐ž๐ซ๐ค๐จ๐ซ๐›๐š๐ง ๐ƒ๐ข๐š๐ฆ-๐๐ข๐š๐ฆ, ๐ƒ๐ข ๐Š๐ก๐ข๐š๐ง๐š๐ญ๐ข

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
billionaire
forbidden
love-triangle
family
escape while being pregnant
time-travel
second chance
drama
bxg
brilliant
highschool
office/work place
cheating
childhood crush
enimies to lovers
affair
friends with benefits
substitute
like
intro-logo
Blurb

Tiga tahun Aruna mencintai tanpa suara.

Menjadi cahaya di balik langkah Dimas, tanpa pernah menuntut apa pun.

Ia menunggu, berharap, dan berdoa dalam diamโ€”bahwa suatu hari, pengorbanannya akan terlihat.

Namun segalanya hancur saat Dimas memilih Saskia, sahabat yang selama ini ia percaya.

Cinta yang dijaga dengan air mata berubah menjadi luka yang menyesakkan.

Di antara serpihan hati dan janji yang dikhianati,

Aruna belajar bahwa cinta sejati tak selalu tentang memiliki,

melainkan tentang berani melepaskan,

meski hati sendiri remuk dalam penantian.

chap-preview
Free preview
Bab 1: Diam-diam Mencintai, Diam-diam Berkorban
Langit sore itu berwarna jingga keemasan ketika Aruna kembali menatap layar laptopnya. Di depan matanya, nama โ€œDimas Pratamaโ€ tertera di folder dokumen kerja yang sedang ia bantu revisi โ€” proposal proyek yang sebenarnya bukan miliknya, tapi sudah tiga malam ini ia benahi tanpa diminta. Ia menghela napas panjang. Tangannya gemetar lelah, tapi bibirnya tersenyum tipis. > โ€œKalau proyek ini berhasil, Dimas bisa naik jabatan,โ€ gumamnya pelan. โ€œDan kalau Dimas bahagiaโ€ฆ aku juga bahagia.โ€ Itulah mantra yang selalu ia ucapkan setiap kali matanya terasa berat karena begadang demi seseorang yang bahkan tak tahu betapa keras ia berusaha di balik layar. Sudah tiga tahun Aruna dan Dimas menjalin hubungan โ€” bukan hubungan biasa, tapi hubungan yang disembunyikan rapat-rapat. Dimas tak ingin ada gosip di kantor, katanya. Tak ingin kariernya terhambat karena โ€œisu asmaraโ€. Dan Aruna, seperti biasa, menuruti tanpa protes. Ia tak pernah meminta pengakuan. Cukup tahu bahwa Dimas mencintainya, itu sudah cukupโ€ฆ setidaknya begitu yang ia yakini selama ini. --- Suara notifikasi ponselnya berbunyi. Nama Dimas muncul di layar. Aruna tersenyum, cepat-cepat membukanya. > Dimas: โ€œLagi ngerjain apa?โ€ Aruna: โ€œRevisi proposal kamu. Deadline besok, kan?โ€ Dimas: โ€œKamu nggak perlu repot, Run. Aku bisa kok.โ€ Aruna: โ€œNggak apa-apa, aku bantu aja. Kamu udah capek.โ€ Beberapa detik berlalu tanpa balasan. Lalu satu pesan masuk. > Dimas: โ€œOke. Makasih, ya.โ€ Sesingkat itu. Aruna menatap layar lama. Ada rasa ganjil. Biasanya Dimas lebih hangat. Tapi beberapa minggu terakhir, semua terasa datar. Chat-nya dingin. Suaranya jarang terdengar. Pertemuan makin jarang. Dan setiap kali Aruna bertanya, jawabannya selalu sama โ€” โ€œsibukโ€. Ia menutup laptop pelan. Dadanya sesak, tapi ia tak mau berpikir buruk. Mungkin Dimas benar-benar sedang fokus kerja. Ia tahu betapa ambisius laki-laki itu, betapa kerasnya Dimas berjuang untuk naik jabatan. Dan bukankah selama ini Aruna yang selalu jadi pendukung paling setia? Ia tersenyum lagi โ€” senyum yang lebih mirip usaha untuk menenangkan diri. --- Malam itu, Aruna duduk di kamar kecil kontrakannya yang hangat oleh aroma kopi. Di meja riasnya, tergantung foto mereka berdua. Foto yang diambil diam-diam tiga tahun lalu, saat mereka pertama kali berlibur ke Bandung. Dimas tersenyum lebar, Aruna menyandarkan kepala di bahunya. Satu-satunya bukti nyata bahwa hubungan itu pernah begitu indah. Ia memandangi foto itu lama. โ€œTiga tahun bukan waktu yang singkat,โ€ bisiknya. Tiga tahun yang diisi pengorbanan kecil: Membatalkan tawaran kerja di luar kota agar bisa tetap dekat dengan Dimas. Meminjamkan tabungan pribadinya ketika Dimas kesulitan membayar kuliah S2. Menahan diri untuk tidak cemburu setiap kali Dimas memilih rapat daripada makan malam bersama. Tapi yang paling menyakitkan bukan itu. Yang paling menyakitkan adalahโ€ฆ semua itu dilakukan diam-diam. Tak ada yang tahu. Tak ada yang mengakui. Seolah cinta ini hanya pantas hidup di tempat gelap. --- Keesokan harinya, Aruna datang ke kantor lebih pagi. Ia membawa dua cangkir kopi โ€” satu untuknya, satu untuk Dimas. Tapi meja Dimas kosong. Kursinya tertarik ke belakang. Di atas mejanya, ada dua gelas kertas bekas kopi. Salah satunya punya lipstik tipis berwarna coral. Aruna terdiam. Matanya beralih ke papan jadwal di dinding. Di sana tertulis: > โ€œMeeting Tim Proyek โ€“ Dimas, Saskia, 08.00โ€ Nama yang belum familiar di matanya. Saskia. Karyawan baru, katanya. Cantik, pintar, dan sedang jadi bahan pembicaraan banyak orang karena pesonanya. Aruna menelan ludah. Ia mencoba mengabaikan perasaan aneh yang menyelinap. โ€œJangan berpikir aneh-aneh, Run,โ€ bisiknya pada diri sendiri. Namun sore itu, saat meeting selesai dan Dimas berjalan keluar ruangan bersama seorang perempuan berambut panjang dengan blazer putih, Aruna tahu perasaan itu tak salah. Saskia menatap Dimas sambil tertawa kecil, suaranya lembut dan menawan. Dan Dimasโ€ฆ tertawa juga. Tawa yang sudah lama tak Aruna dengar. --- Hari-hari berikutnya, kehadiran Saskia terasa makin nyata. Ia dan Dimas sering terlihat berdiskusi berdua di pantry. Beberapa kali Aruna melihat Dimas menatap layar ponselnya sambil tersenyum โ€” sesuatu yang jarang ia lakukan jika pesan itu dari Aruna. Namun Aruna tetap bertahan. Ia memilih percaya. Ia menolak cemburu. Sampai suatu malam, saat Dimas menelepon dengan nada tergesa. > โ€œRun, aku nggak bisa datang malam ini, ya. Ada rapat mendadak.โ€ โ€œRapat lagi? Tapi kamu janji mau makan malam sama aku.โ€ โ€œIya, tapi ini penting banget. Kamu ngerti, kan?โ€ โ€œAku ngertiโ€ฆ,โ€ jawab Aruna lirih, meski hatinya tidak. Setelah panggilan berakhir, Aruna menatap meja makan yang sudah ia siapkan dengan hati-hati โ€” dua piring pasta kesukaan Dimas, lilin kecil, dan musik lembut dari ponsel. Hanya satu kursi yang terisi malam itu. --- Dua minggu berlalu, dan Dimas makin sulit ditemui. Aruna mulai jarang menerima kabar, kecuali pesan singkat tanpa emosi. Namun suatu malam, Aruna tak sengaja membuka i********: dan melihat story seseorang dari kantor โ€” boomerang dua gelas kopi di kafe dekat kantor. Satu cangkir bertuliskan nama โ€œSaskiaโ€, dan di sampingnya, cangkir bertuliskan โ€œDimas ๐Ÿ’™โ€. Dunia Aruna seketika membisu. Tangannya gemetar. Matanya panas. Ia menatap layar ponsel dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan โ€” antara marah, sedih, dan tidak percaya. Ia ingin menelepon Dimas, tapi akhirnya hanya menutup ponsel dan menangis dalam diam. --- Hari itu, Aruna datang ke kantor lebih awal lagi. Ia ingin bicara dengan Dimas, menanyakan semuanya dengan kepala dingin. Tapi di parkiran, ia melihat sesuatu yang menghancurkan sisa kekuatannya. Dimas turun dari mobil bersama Saskia. Perempuan itu menatap Dimas dengan tatapan lembut yang sama seperti dulu Aruna berikan. Dan Dimas โ€” menatap balik dengan cara yang sama pula. Aruna bersembunyi di balik pilar beton, menahan napas. Air matanya jatuh tanpa bisa dikendalikan. > โ€œJadi iniโ€ฆ yang kamu sebut rapat penting?โ€ gumamnya lirih. โ€œTiga tahun aku nunggu kamu punya waktu, tapi ternyata waktumu cuma untuk dia.โ€ --- Malam itu, Aruna duduk di tepi ranjang dengan wajah kosong. Ia membuka laptop, mengetik pesan panjang โ€” pengakuan yang ia simpan tiga tahun lamanya. > โ€œAku tahu kamu sibuk, tapi aku cuma mau bilang terima kasih. Terima kasih sudah pernah bikin aku percaya bahwa cinta bisa tumbuh diam-diam dan tetap hangat. Aku nggak tahu apa yang berubah, tapi aku tahu kamu nggak sama lagi. Mungkin aku memang cuma persinggahan di hidupmu, tapi kamu akan selalu jadi pelajaran paling berharga di hidupku.โ€ Ia tak pernah mengirim pesan itu. Ia hanya menutup laptopnya dan menangis sepuasnya untuk pertama kali โ€” tanpa menahan, tanpa pura-pura kuat. --- Beberapa hari kemudian, Dimas muncul di depan pintu rumahnya tanpa pemberitahuan. Wajahnya tampak lelah. โ€œRun, maaf ya. Aku akhir-akhir ini sibuk banget. Kamu tahu, aku sama Saskiaโ€”โ€ > โ€œAku tahu,โ€ potong Aruna pelan. โ€œKamu nggak perlu jelaskan apa pun.โ€ Dimas menatapnya, bingung. Aruna menatap balik โ€” matanya merah, tapi senyumnya lembut. > โ€œAku cuma mau tahu satu hal, Mas,โ€ katanya dengan suara bergetar. โ€œSelama iniโ€ฆ aku berarti buat kamu, nggak?โ€ Dimas terdiam lama. Lalu dengan suara pelan, ia berkata, โ€œKamu orang yang baik, Run. Aku berutang banyak sama kamu.โ€ Dan kalimat ituโ€ฆ seperti pisau yang menancap tepat di d**a Aruna. โ€œOrang yang baik.โ€ Bukan โ€œperempuan yang kucintaiโ€. Bukan โ€œorang yang ingin kupertahankanโ€. Hanya orang baik. Itu cukup untuk mematahkan segalanya. --- Malam itu, Aruna memutuskan satu hal: berhenti berkorban untuk seseorang yang bahkan tak pernah meminta. Ia menulis di jurnalnya โ€” tulisan yang kemudian menjadi titik balik hidupnya. > โ€œCinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak memberi, tapi siapa yang saling menghargai. Aku sudah cukup mencintaimu, Dimas. Sekarang giliran aku mencintai diriku sendiri.โ€ Dan di sinilah semuanya bermula โ€” perjalanan Aruna menuju luka yang lebih dalam, tapi juga kebangkitan yang lebih kuat.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
307.2K
bc

Too Late for Regret

read
269.6K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.6M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.2M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
135.5K
bc

The Lost Pack

read
372.4K
bc

Revenge, served in a black dress

read
143.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook