Bab 1: Diam-diam Mencintai, Diam-diam Berkorban
Langit sore itu berwarna jingga keemasan ketika Aruna kembali menatap layar laptopnya. Di depan matanya, nama โDimas Pratamaโ tertera di folder dokumen kerja yang sedang ia bantu revisi โ proposal proyek yang sebenarnya bukan miliknya, tapi sudah tiga malam ini ia benahi tanpa diminta.
Ia menghela napas panjang. Tangannya gemetar lelah, tapi bibirnya tersenyum tipis.
> โKalau proyek ini berhasil, Dimas bisa naik jabatan,โ gumamnya pelan.
โDan kalau Dimas bahagiaโฆ aku juga bahagia.โ
Itulah mantra yang selalu ia ucapkan setiap kali matanya terasa berat karena begadang demi seseorang yang bahkan tak tahu betapa keras ia berusaha di balik layar.
Sudah tiga tahun Aruna dan Dimas menjalin hubungan โ bukan hubungan biasa, tapi hubungan yang disembunyikan rapat-rapat. Dimas tak ingin ada gosip di kantor, katanya. Tak ingin kariernya terhambat karena โisu asmaraโ.
Dan Aruna, seperti biasa, menuruti tanpa protes.
Ia tak pernah meminta pengakuan. Cukup tahu bahwa Dimas mencintainya, itu sudah cukupโฆ setidaknya begitu yang ia yakini selama ini.
---
Suara notifikasi ponselnya berbunyi. Nama Dimas muncul di layar. Aruna tersenyum, cepat-cepat membukanya.
> Dimas: โLagi ngerjain apa?โ
Aruna: โRevisi proposal kamu. Deadline besok, kan?โ
Dimas: โKamu nggak perlu repot, Run. Aku bisa kok.โ
Aruna: โNggak apa-apa, aku bantu aja. Kamu udah capek.โ
Beberapa detik berlalu tanpa balasan. Lalu satu pesan masuk.
> Dimas: โOke. Makasih, ya.โ
Sesingkat itu.
Aruna menatap layar lama. Ada rasa ganjil. Biasanya Dimas lebih hangat. Tapi beberapa minggu terakhir, semua terasa datar.
Chat-nya dingin. Suaranya jarang terdengar. Pertemuan makin jarang. Dan setiap kali Aruna bertanya, jawabannya selalu sama โ โsibukโ.
Ia menutup laptop pelan. Dadanya sesak, tapi ia tak mau berpikir buruk. Mungkin Dimas benar-benar sedang fokus kerja. Ia tahu betapa ambisius laki-laki itu, betapa kerasnya Dimas berjuang untuk naik jabatan.
Dan bukankah selama ini Aruna yang selalu jadi pendukung paling setia?
Ia tersenyum lagi โ senyum yang lebih mirip usaha untuk menenangkan diri.
---
Malam itu, Aruna duduk di kamar kecil kontrakannya yang hangat oleh aroma kopi. Di meja riasnya, tergantung foto mereka berdua.
Foto yang diambil diam-diam tiga tahun lalu, saat mereka pertama kali berlibur ke Bandung. Dimas tersenyum lebar, Aruna menyandarkan kepala di bahunya.
Satu-satunya bukti nyata bahwa hubungan itu pernah begitu indah.
Ia memandangi foto itu lama. โTiga tahun bukan waktu yang singkat,โ bisiknya.
Tiga tahun yang diisi pengorbanan kecil:
Membatalkan tawaran kerja di luar kota agar bisa tetap dekat dengan Dimas.
Meminjamkan tabungan pribadinya ketika Dimas kesulitan membayar kuliah S2.
Menahan diri untuk tidak cemburu setiap kali Dimas memilih rapat daripada makan malam bersama.
Tapi yang paling menyakitkan bukan itu.
Yang paling menyakitkan adalahโฆ semua itu dilakukan diam-diam. Tak ada yang tahu. Tak ada yang mengakui.
Seolah cinta ini hanya pantas hidup di tempat gelap.
---
Keesokan harinya, Aruna datang ke kantor lebih pagi. Ia membawa dua cangkir kopi โ satu untuknya, satu untuk Dimas.
Tapi meja Dimas kosong. Kursinya tertarik ke belakang. Di atas mejanya, ada dua gelas kertas bekas kopi. Salah satunya punya lipstik tipis berwarna coral.
Aruna terdiam.
Matanya beralih ke papan jadwal di dinding. Di sana tertulis:
> โMeeting Tim Proyek โ Dimas, Saskia, 08.00โ
Nama yang belum familiar di matanya.
Saskia. Karyawan baru, katanya. Cantik, pintar, dan sedang jadi bahan pembicaraan banyak orang karena pesonanya.
Aruna menelan ludah. Ia mencoba mengabaikan perasaan aneh yang menyelinap. โJangan berpikir aneh-aneh, Run,โ bisiknya pada diri sendiri.
Namun sore itu, saat meeting selesai dan Dimas berjalan keluar ruangan bersama seorang perempuan berambut panjang dengan blazer putih, Aruna tahu perasaan itu tak salah.
Saskia menatap Dimas sambil tertawa kecil, suaranya lembut dan menawan.
Dan Dimasโฆ tertawa juga.
Tawa yang sudah lama tak Aruna dengar.
---
Hari-hari berikutnya, kehadiran Saskia terasa makin nyata.
Ia dan Dimas sering terlihat berdiskusi berdua di pantry.
Beberapa kali Aruna melihat Dimas menatap layar ponselnya sambil tersenyum โ sesuatu yang jarang ia lakukan jika pesan itu dari Aruna.
Namun Aruna tetap bertahan.
Ia memilih percaya. Ia menolak cemburu.
Sampai suatu malam, saat Dimas menelepon dengan nada tergesa.
> โRun, aku nggak bisa datang malam ini, ya. Ada rapat mendadak.โ
โRapat lagi? Tapi kamu janji mau makan malam sama aku.โ
โIya, tapi ini penting banget. Kamu ngerti, kan?โ
โAku ngertiโฆ,โ jawab Aruna lirih, meski hatinya tidak.
Setelah panggilan berakhir, Aruna menatap meja makan yang sudah ia siapkan dengan hati-hati โ dua piring pasta kesukaan Dimas, lilin kecil, dan musik lembut dari ponsel.
Hanya satu kursi yang terisi malam itu.
---
Dua minggu berlalu, dan Dimas makin sulit ditemui.
Aruna mulai jarang menerima kabar, kecuali pesan singkat tanpa emosi.
Namun suatu malam, Aruna tak sengaja membuka i********: dan melihat story seseorang dari kantor โ boomerang dua gelas kopi di kafe dekat kantor.
Satu cangkir bertuliskan nama โSaskiaโ, dan di sampingnya, cangkir bertuliskan โDimas ๐โ.
Dunia Aruna seketika membisu.
Tangannya gemetar. Matanya panas. Ia menatap layar ponsel dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan โ antara marah, sedih, dan tidak percaya.
Ia ingin menelepon Dimas, tapi akhirnya hanya menutup ponsel dan menangis dalam diam.
---
Hari itu, Aruna datang ke kantor lebih awal lagi. Ia ingin bicara dengan Dimas, menanyakan semuanya dengan kepala dingin. Tapi di parkiran, ia melihat sesuatu yang menghancurkan sisa kekuatannya.
Dimas turun dari mobil bersama Saskia.
Perempuan itu menatap Dimas dengan tatapan lembut yang sama seperti dulu Aruna berikan.
Dan Dimas โ menatap balik dengan cara yang sama pula.
Aruna bersembunyi di balik pilar beton, menahan napas. Air matanya jatuh tanpa bisa dikendalikan.
> โJadi iniโฆ yang kamu sebut rapat penting?โ gumamnya lirih.
โTiga tahun aku nunggu kamu punya waktu, tapi ternyata waktumu cuma untuk dia.โ
---
Malam itu, Aruna duduk di tepi ranjang dengan wajah kosong.
Ia membuka laptop, mengetik pesan panjang โ pengakuan yang ia simpan tiga tahun lamanya.
> โAku tahu kamu sibuk, tapi aku cuma mau bilang terima kasih.
Terima kasih sudah pernah bikin aku percaya bahwa cinta bisa tumbuh diam-diam dan tetap hangat.
Aku nggak tahu apa yang berubah, tapi aku tahu kamu nggak sama lagi.
Mungkin aku memang cuma persinggahan di hidupmu, tapi kamu akan selalu jadi pelajaran paling berharga di hidupku.โ
Ia tak pernah mengirim pesan itu.
Ia hanya menutup laptopnya dan menangis sepuasnya untuk pertama kali โ tanpa menahan, tanpa pura-pura kuat.
---
Beberapa hari kemudian, Dimas muncul di depan pintu rumahnya tanpa pemberitahuan.
Wajahnya tampak lelah. โRun, maaf ya. Aku akhir-akhir ini sibuk banget. Kamu tahu, aku sama Saskiaโโ
> โAku tahu,โ potong Aruna pelan.
โKamu nggak perlu jelaskan apa pun.โ
Dimas menatapnya, bingung.
Aruna menatap balik โ matanya merah, tapi senyumnya lembut.
> โAku cuma mau tahu satu hal, Mas,โ katanya dengan suara bergetar.
โSelama iniโฆ aku berarti buat kamu, nggak?โ
Dimas terdiam lama.
Lalu dengan suara pelan, ia berkata, โKamu orang yang baik, Run. Aku berutang banyak sama kamu.โ
Dan kalimat ituโฆ seperti pisau yang menancap tepat di d**a Aruna.
โOrang yang baik.โ
Bukan โperempuan yang kucintaiโ.
Bukan โorang yang ingin kupertahankanโ.
Hanya orang baik.
Itu cukup untuk mematahkan segalanya.
---
Malam itu, Aruna memutuskan satu hal: berhenti berkorban untuk seseorang yang bahkan tak pernah meminta.
Ia menulis di jurnalnya โ tulisan yang kemudian menjadi titik balik hidupnya.
> โCinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak memberi, tapi siapa yang saling menghargai.
Aku sudah cukup mencintaimu, Dimas. Sekarang giliran aku mencintai diriku sendiri.โ
Dan di sinilah semuanya bermula โ
perjalanan Aruna menuju luka yang lebih dalam, tapi juga kebangkitan yang lebih kuat.