bc

Aku Pewaris Konglomerat

book_age16+
243.4K
FOLLOW
2.3M
READ
billionaire
revenge
manipulative
brave
heir/heiress
bxg
kicking
betrayal
superpower
harem
poor to rich
school
like
intro-logo
Blurb

Pengalaman seperti apa dari yang miskin menjadi pewaris orang terkaya? Kontrak warisan harta orang terkaya tak hanya memberikan uang tetapi juga calon istri cantik! Orang biasa butuh kerja keras untuk maju, tetapi Morgan Bachtiar tidak membutuhkannya!

chap-preview
Free preview
Bab 1 Sepuluh Miliar Masuk ke Rekening?

Kota Surabaya.


Seorang pemuda berkemeja biru terang dan celana jeans lusuh berjalan di daerah kampus Universitas Surabaya. Mata sang pemuda tertuju ke permukaan tanah, seolah sedang mencari sesuatu.

Tampang pemuda itu termasuk lumayan. Hanya saja pakaian yang dikenakannya terlihat lusuh dan sudah lama tidak dicuci, bahkan noda hitam di ujung lengan bajunya pun dapat terlihat jelas. Murid-murid kampus yang melihatnya lantas menjauh dengan tatapan merendahkan, bagaikan bertemu seorang pembawa virus.

Namun, Morgan Bachtiar tampak sudah terbiasa mendapat tatapan yang demikian. Dia terus berjalan menuju ke arah botol bekas air mineral di sisi jalan dengan ekspresi acuh tak acuh.

"Kringgg!"

Tiba-tiba, terdengar bunyi deringan ponsel Nokia model lama.

Morgan segera menjawab panggilan masuk tersebut.

"Halo?"

"Benar ini dengan Tuan Muda Morgan Bachtiar?" Terdengar suara bariton seorang pria paruh baya dengan nada bicara yang tenang dari ujung telepon.

"Benar, aku Morgan Bachtiar. Namun, aku bukan tuan muda atau semacamnya."

Morgan menjawab setelah tercengang sejenak.

"Tuan Muda Bachtiar, sekarang ada sebuah warisan yang perlu Anda terima. Apakah Anda punya waktu luang hari ini?" tanya sang pria paruh baya itu dengan hormat.

"Hehe, ada warisan yang perlu kuterima?"

Morgan sungguh tak habis pikir dengan ucapan lawan bicaranya tersebut. Dia berkata dengan tak berdaya, "Tolong kalau mau menipu, tipu orang lain saja. Aku anak yatim piatu, semua anggota keluargaku sudah meninggal. Warisan dari mana?"

"Tuan Muda Bachtiar, saya..."

Tanpa menunggu penjelasan dari pria di ujung telepon, Morgan langsung mematikan panggilan itu. Dia menggelengkan kepala berbicara sendiri, "Penipu zaman sekarang sungguh tak profesional. Uang seratus ribu saja saja aku tidak punya, bisa-bisanya menipu aku. Pakai bilang ada warisan untukku? Orang tuaku saja sudah meninggal bertahun-tahun lalu."

Pada saat ini pula, ponsel Morgan kembali berdering.

Morgan langsung menolak panggilan tersebut tanpa pikir panjang, kemudian melangkahkan kaki menuju ke botol air mineral yang tidak jauh di sana. Dia takut botol bekas itu akan diambil lebih dulu oleh orang tua pemungut barang bekas di kampus jika dirinya berlama-lama.

"Krak!"

Ketika Morgan baru saja membungkukkan badan hendak memungut botol, tumit sepatu hak tinggi berwarna merah sudah menginjak botol itu.

Morgan refleks terdiam, kemudian menyusuri kaki ramping yang indah itu dan melihat ke atas. Yang tampak di depan matanya adalah seorang gadis cantik yang bertubuh seksi dan langsing.

Pada wajah cantik gadis itu terdapat riasan tipis. Dia memakai kaus ketat berwarna hitam yang menampilkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Bawahannya memakai rok pendek berbahan jeans, menutupi bokongnya yang cukup montok. Kedua kakinya ramping dan putih, memakai sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah. Penampilannya sungguh seksi dan memikat hati.

"Vivi? Ke... kenapa kamu di sini?"

Keterkejutan melintas di tatapan Morgan setelah melihat gadis itu.

Yang saat ini muncul di hadapannya tak lain adalah pacarnya, Vivi Ganesh.

"Morgan, kenapa kamu memungut sampah lagi? Jadi, kamu mau menjadi pemulung seumur hidupmu?" kata Vivi dengan kesal. Dia sama sekali tidak menjaga harga diri Morgan.

"Aku..."

Morgan membuka mulutnya dan hendak memberi penjelasan.

"Apa aku-aku? Sudahlah, aku juga tak peduli lagi kalau kamu ingin memungut sampah. Mulai hari ini, kita putus saja. Aku tidak ingin orang seperti kamu menjadi a*b bagi hidupku!" seru Vivi pada Morgan dengan jijik.

Putus?

Morgan sontak diam membeku begitu mendengar ucapan Vivi, tatapannya juga luar biasa terkejut.

"Vivi, kamu tidak sedang bercanda, 'kan?"

Morgan bertanya sambil menatap lurus pada Vivi yang ada di depannya.

"Bercanda? Apakah menurutmu aku akan bercanda dengan orang sepertimu?"

Vivi tertawa sinis.

"Kenapa tiba-tiba mau putus?"

Saat ini, Morgan akhirnya sadar bahwa Vivi sungguh tidak bercanda, dia serius.

"Memangnya karena apa lagi? Karena kamu itu miskin, orang miskin yang cuma bisa memungut barang bekas!"

Vivi memandang Morgan dengan tatapan merendahkan, lalu lanjut berkata, "Morgan, jangan bilang kamu sungguh mengira aku mau bersamamu selamanya? Tidakkah kamu lihat seperti apa dirimu? Memangnya kamu yang seperti ini pantas untukku? Kamu tidak bisa memberikan apa yang kuinginkan!"

"..."

Morgan menatap kosong pada Vivi. Sebenarnya, Morgan sudah bisa menebak alasannya. Hanya saja, dia berani percaya. Orang yang sudah berpacaran dengannya selama hampir tiga tahun, akhirnya benar-benar mencampakkannya hanya karena uang.

"Morgan, sekarang kuberi tahu kamu dengan serius. Mulai sekarang, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kuharap kamu juga jangan menggangguku lagi!"

Usai mengatakan ini, Vivi membalikkan badan dan pergi.

Morgan segera maju dan hendak menahan Vivi. Namun, pada saat ini, muncul seorang pemuda muncul di belakang Vivi dan langsung melayangkan satu tendangan ke perut Morgan.

"Kayson Lewis?"

Morgan terhuyung-huyung ke belakang, menatap pria di samping Vivi dengan bingung.

Vivi merangkul lengan Kayson tanpa canggung, lalu berkata manis, "Morgan, perkenalkan. Ini pacar baruku, Kayson Lewis! Dia lebih tampan, kaya, serta menarik daripada kamu. Orang seperti dialah yang pantas bersamaku!"

Kedua mata Morgan melototi Kayson. Meskipun tampang Kayson biasa saja, tetapi dia merupakan anak konglomerat di kelas mereka. Alasan Vivi putus dengan Morgan dan kemudian berpacaran dengan Kayson, tak lain adalah karena uang.

"Morgan, mulai hari ini, Vivi adalah pacarku. Kalau sekali saja kulihat kamu masih berani mengganggunya, langsung kupatahkan kakimu! Mengerti?"

Kayson mengancam dengan sombong.

Morgan menggertakkan gigi dan tidak menjawab. Dia tahu jelas Kayson bukan hanya kaya, tetapi juga mengenal banyak preman. Nasib Morgan akan berakhir tragis jika benar-benar menyinggung Kayson.

"Sayang, tak usah hiraukan orang seperti itu. Ayo kita pergi!"

Vivi berkata dengan manja sambil bersandar di dalam pelukan Kayson.

"Dasar manja, sudah begitu tak sabar mau ke hotel denganku?"

Kayson tidak dapat menahan senyum di wajahnya. Dia lalu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan diayunkan di hadapan Morgan sambil menyeringai, "Morgan, seingatku kamu mau melakukan apa pun selama diberi uang, 'kan? Sekarang kuberi kamu uang satu juta, pergi belikan satu kotak pil KB untukku dan Vivi."

Vivi tampak tersipu malu mendengar ucapan Kayson, tetapi dia tetap tidak mengatakan apa pun.

Sementara tatapan Morgan penuh amarah ketika melihat uang di tangan Kayson.

Selama tiga tahun Morgan berpacaran dengan Vivi, jangankan ke hotel, memegang tangan Vivi saja tidak pernah!

Sekarang Vivi dan Kayson sudah mau ke hotel, padahal mereka baru pacaran beberapa hari saja!

Kayson bahkan menyuruh Morgan untuk membelikan a**************i untuk mereka. Ini sungguh penghinaan besar bagi Morgan!

Saat ini, di sekeliling mereka sudah dipenuhi murid-murid yang menonton bagaimana Morgan dipermalukan. Ekspresi mereka juga tampak sangat merendahkan Morgan.

Bagaimanapun juga, tidak ada hal yang lebih menyedihkan lagi di dunia ini dibandingkan apa yang baru saja terjadi.

Namun, mereka sebenarnya tidak tahu, hal paling menyedihkan bukanlah tentang Kayson menyuruh Morgan membeli obat kontrasepsi, melainkan hati Morgan yang tergiur melihat uang di tangan Kayson.

Jika Morgan mendapatkan uang ini, maka biaya sewa kosnya akan terselesaikan.

"Bagaimana? Mau atau tidak? Kalau tidak, aku akan menyuruh orang lain," tanya Kayson sambil tertawa.

Morgan ragu-ragu beberapa saat, lalu menoleh dan berkata pada Vivi dengan dingin, "Vi, kuharap kamu tidak akan menyesali keputusanmu hari ini!"

"Menyesal? Apa yang harus kusesali? Menyesal karena putus dengan pemulung miskin sepertimu?" jawab Vivi tanpa dapat menahan tawa sinisnya.

Morgan menarik napas panjang dan beranjak pergi, hingga akhirnya menghilang dari pandangan semua orang.

...

Setelah meninggalkan kampus, Morgan kembali ke kosnya.

Morgan bekerja di bar pada malam hari, paling cepat akan pulang sekitar pukul dua dini hari. Jadi, dia menyewa tempat tinggal di luar kampus karena asrama kampus sudah ditutup saat jam pulang kerjanya.

Meskipun kosnya hanya seluas toilet, tetapi cukup untuk Morgan tinggali sendiri.

Sekembalinya ke kamar, kenangan bersama Vivi pun bermunculan di benak Morgan. Kini, janji-janji yang pernah terucap jadi terdengar sangat konyol.

Sebenarnya, saat baru berkenalan dengan Morgan, Vivi adalah gadis yang sangat polos dan baik hati. Semua orang merendahkan Morgan, tetapi Vivi selalu berada di sisinya.

Namun, setelah dua tahun berkuliah di Universitas Surabaya, pola pikir Vivi pun berubah seiring makin banyaknya orang yang dia temui. Morgan sebelumnya sudah menduga Vivi akan minta putus, tetapi dia sungguh tidak menyangka Vivi akan sekejam ini.

Keluarga Morgan termasuk kaya saat dia masih kecil. Keluarga Bachtiar juga merupakan keluarga tersohor di daerahnya. Kedua orang tua Morgan juga menjabat sebagai pimpinan tinggi di perusahaan keluarga. Meskipun tidak tahu orang-orang kaya di kalangan atas seperti apa, tetapi Keluarga Bachtiar dapat dikatakan sangat kaya jika dibandingkan dengan keluarganya Kayson.

Namun, orang tua Morgan meninggal akibat kecelakaan ketika Morgan berusia 15 tahun. Keluarga Bachtiar menganggap Morgan sebagai musuh yang harus dilenyapkan, akhirnya Morgan mau tak mau memilih untuk meninggalkan Keluarga Bachtiar dan hidup mandiri di luar.

Demi memenuhi biaya kuliah dan hidup, pekerjaan selelah apa pun sudah pernah Morgan kerjakan selama beberapa tahun ini. Siang hari ketika tidak bekerja, dia akan pergi memungut botol bekas dan, dia akan bekerja sebagai pelayan di bar dekat kampusnya pada malam hari.

Teman-teman di kampus juga terus-menerus menghina Morgan, tetapi Morgan sama sekali tidak peduli. Baginya, yang penting Vivi ada di sisinya. Namun sekarang, Vivi juga sudah meninggalkannya.

Saat ini, Morgan sedang berbaring dan melamun sambil menatap langit-langit di kamar kosnya. Dia bahkan mulai tidak tahu apa artinya dia terus hidup.

"Ting!"

Di saat ini juga, terdengar bunyi notifikasi pesan masuk.

Morgan meraih ponselnya dan melihat sekilas. Dia sontak tercengang setelah melihat isi pesan yang masuk itu, luar biasa mengejutkan.

"Uang dengan nominal Rp10.000.000.000 telah masuk ke nomor rekening Anda, sisa saldo saat ini Rp10.000.050.000."

Morgan refleks bangun dan terduduk, dia menatap layar ponselnya sendiri dengan bodoh.

"Sepuluh miliar? Ini... ini pasti ada yang iseng!"

Morgan berujar sambil melihat pesan di ponselnya dengan kebingungan.

"Tok tok tok!"

 

Sebelum Morgan memahami lebih lanjut tentang pesan teks barusan, suara ketukan pintu yang tergesa-gesa terdengar dari luar.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Menantu Dewa Naga

read
120.2K
bc

Pulau Surga

read
345.8K
bc

Hasrat Tanpa Batas

read
30.6K
bc

AKU PRIA TERKAYA

read
13.5K
bc

Menantu Kaya Raya

read
65.5K
bc

PEWARIS HARTA TRILIUNAN RUPIAH

read
6.4K
bc

Gairah Jahat

read
68.1K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play