Bab 1 : Jalan Buntu
"Pesanan meja empat mana? Alena! Meja empat!"
Suara melengking Bu Mira, pemilik kafe, membelah kebisingan mesin kopi. Alena tersentak, hampir menjatuhkan nampan di tangannya.
"Iya, Bu! Ini sudah siap!"
Alena segera membawa dua gelas kopi s**u dan sepiring kentang goreng ke meja di pojok ruangan.
Tangannya sedikit gemetar. Peluh mengucur di pelipisnya meski AC menyala cukup kencang. Ia belum sempat duduk sejak shift-nya dimulai enam jam yang lalu.
"Lama banget sih, Mbak? Saya sudah nunggu sepuluh menit!" ketus seorang pria muda berpakaian rapi yang duduk di meja itu. Matanya tetap tertuju pada layar laptop, bahkan tidak sudi melirik Alena.
"Mohon maaf, Kak. Pesanannya memang sedang ramai," Alena menunduk sopan, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski dadanya terasa sesak.
"Alasan terus. Sudah dingin begini kopinya," pria itu mendengus, lalu menyibakkan tangan seolah-olah Alena adalah nyamuk yang mengganggu.
Alena tidak menjawab. Ia hanya bisa menghela napas panjang saat kembali ke balik meja kasir. Ia melirik jam dinding.
Pukul sembilan malam. Itu artinya ia harus segera pergi ke rumah sakit. Namun, sebelum itu, ia harus menghadap Bu Mira.
"Bu," Alena mengetuk pintu ruang kerja yang terbuka sedikit.
Bu Mira mendongak dari tumpukan nota. "Apa lagi, Al? Mau minta izin pulang cepat?"
"Maaf, Bu. Bolehkah saya mengambil sisa gaji saya minggu ini lebih awal? Hanya untuk tambahan deposit rumah sakit malam ini," suara Alena mengecil di akhir kalimat.
Bu Mira meletakkan pulpennya. Ia menatap Alena dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kasihan dan kesal. "Al, kau sudah ambil kasbon tiga kali bulan ini. Kafe ini juga lagi sepi. Kalau semua karyawan sepertimu, saya yang bangkrut."
"Hanya lima ratus ribu saja, Bu. Saya janji akan ganti dengan shift tambahan akhir pekan nanti."
"Enggak bisa, Alena. Aturan ya aturan. Pulanglah, sudah jamnya kamu ganti shift. Tapi jangan tanya soal uang lagi sebelum akhir bulan."
Alena keluar dari kafe dengan bahu merosot. Di trotoar Jakarta yang masih macet, ia merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sebuah buku tabungan kecil yang sudutnya sudah tertekuk. Ia baru saja mencetak saldonya di ATM tadi siang.
Napasnya tertahan. Tadi pagi saldonya masih ada dua juta rupiah. Namun, setelah didebet otomatis untuk biaya obat harian ibunya yang melonjak karena dosis baru, angka di sana hanya menyisakan lima puluh ribu rupiah.
"Ya Tuhan," bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang, tapi ia segera menghapusnya dengan punggung tangan. "Jangan sekarang, Alena. Ibu butuh kau kuat."
Bau karbol yang menyengat langsung menyambut Alena saat ia melangkah masuk ke koridor Rumah Sakit Harapan Bangsa. Ia berjalan setengah berlari menuju ruang perawatan ibunya di Kelas 3.
Di sana, Mira Maharani terbaring lemah. Wajah ibunya yang dulu cantik kini pucat pasi, nyaris sewarna dengan seprai tempat tidurnya. Beberapa selang menempel di tubuhnya, dan suara monitor jantung yang monoton mengisi kesunyian ruangan.
"Alena? Kau sudah datang?" suara Mira terdengar sangat pelan, hampir seperti bisikan.
Alena langsung menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin. "Iya, Bu. Maaf Alena telat. Tadi di kafe agak ramai."
Mira tersenyum tipis, sangat tipis. "Kau pasti capek, Nak. Jangan dipaksakan. Ibu nggak apa-apa di sini."
"Ibu harus sehat. Kita harus pulang, kan Ibu janji mau buatkan sayur lodeh kesukaan Alena," Alena berusaha tertawa, tapi suaranya justru terdengar serak.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Dokter Setiawan masuk dengan wajah serius. Ia memberikan isyarat agar Alena keluar sebentar.
"Ada apa, Dok? Kondisi Ibu stabil, kan?" tanya Alena langsung setelah mereka berada di luar ruangan.
Dokter Setiawan menghela napas. Ia melepas kacamatanya sejenak. "Alena, saya harus jujur. Kondisi jantung Ibu Mira sudah berada di titik kritis. Penyumbatannya semakin parah. Kita tidak bisa menunda lagi."
Jantung Alena seolah berhenti berdetak. "Maksudnya?"
"Operasi harus dilakukan dalam dua puluh empat jam ke depan. Jika tidak, saya khawatir jantungnya tidak akan kuat lagi. Ini masalah hidup dan mati, Alena."
"Dua puluh empat jam?" Alena merasa dunianya berputar. "Tapi biayanya, Dok...depositnya seratus lima puluh juta, kan?"
"Pihak administrasi sudah memberikan keringanan, tapi setidaknya harus ada uang muka seratus juta agar prosedur bisa dijadwalkan besok pagi. Saya sudah berusaha bicara dengan pihak manajemen, tapi ini kebijakan rumah sakit, Al."
Alena bersandar di dinding koridor yang dingin. Seratus juta dalam satu malam? Baginya, angka itu seperti mencoba menggapai bintang di langit. Mustahil.
"Tolong, Dok. Beri saya waktu sedikit lagi."
"Dua puluh empat jam, Alena. Itu waktu maksimal yang bisa diberikan oleh tubuh ibumu," ucap Dokter Setiawan sebelum berpamitan pergi.
Malam itu, Alena nekat menelepon kerabat jauh ayahnya, Pakde Heru. Meski selama ini mereka tidak pernah menganggap Alena ada, ini adalah satu-satunya harapan yang tersisa.
Alena mendatangi rumah besar di kawasan perumahan elite itu dengan taksi online yang menghabiskan sisa uang di dompetnya.
"Maaf, Alena. Bukannya Pakde nggak mau bantu," ucap Pakde Heru sambil menyesap teh hangat di ruang tamunya yang mewah. "Tapi kau tahu sendiri, bisnis Pakde lagi sulit. Lagi pula, penyakit jantung itu kan lubang tanpa dasar. Kau kasih berapa pun, ujung-ujungnya juga..."
"Pakde, ini untuk nyawa Ibu," potong Alena dengan suara gemetar. "Hanya pinjam, Pakde. Saya akan kerja apa saja untuk mencicilnya. Tolong."
Istri Pakde Heru yang duduk di sampingnya mendengus. "Alena, sadar diri sedikit. Kau itu cuma pelayan kafe. Gaji kau sebulan berapa? Mau nyicil seratus juta sampai kapan? Sampai kiamat?"
"Tante, tolong..."
"Sudahlah, mending kau pulang. Jangan bikin kami susah juga. Kita ini saudara jauh, jangan jadikan itu alasan untuk jadi peminta-minta," ketus Tante Heru.
Alena diusir malam itu juga. Ia berdiri di depan pagar besi tinggi rumah itu saat hujan gerimis mulai turun. Ia tidak punya uang lagi untuk pesan taksi pulang. Ia berjalan kaki di bawah rintik hujan, menembus dinginnya malam Jakarta menuju rumah sakit kembali.
Pukul dua pagi.
Koridor rumah sakit sudah sepi. Lampu-lampu dipadamkan sebagian, menyisakan suasana remang-remang yang mencekam.
Alena duduk di lantai koridor, tepat di depan ruang ICU tempat ibunya baru saja dipindahkan karena kondisinya menurun drastis.
Ia menekuk lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana. Bahunya berguncang hebat. Ia menangis tanpa suara, membiarkan rasa sakit itu menghantam dadanya.
Ia merasa gagal. Ia merasa menjadi anak yang paling tidak berguna di dunia karena hanya bisa menonton ibunya meregang nyawa karena ia tidak punya uang.
"Ibu, maafkan Alena," isaknya pelan. "Maafkan Alena yang miskin ini."
Ia terus menangis hingga tidak menyadari ada langkah kaki yang mendekat. Langkah itu mantap, berat, dan tenang. Sepasang pantofel kulit hitam yang mengilat berhenti tepat di hadapannya.
Alena terdiam. Ia mendongak perlahan dengan mata yang sembap dan merah.
Seorang pria tua berdiri di sana. Rambutnya sudah memutih di bagian samping, namun wajahnya tampak berwibawa dan tegas. Ia mengenakan setelan jas abu-abu tua yang sangat mahal.
Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat kayu dengan kepala perak.
Pria itu menatap Alena dengan tatapan yang sulit ditebak. Tidak ada rasa kasihan yang merendahkan, hanya ada ketenangan yang misterius.
"Lantai ini dingin, Nak," suara pria itu berat dan dalam.
Alena tidak menjawab. Ia hanya menatap pria itu dengan bingung. Ia pikir itu mungkin salah satu keluarga pasien kaya yang juga sedang menunggu.
Pria itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah sapu tangan putih bersih yang bersih dan wangi, lalu mengulurkannya pada Alena.
"Hapus air matamu. Menangis tidak akan membayar biaya operasi ibumu," ucapnya datar.
Alena tersentak. Bagaimana pria ini tahu?
"Anda siapa?"
Pria itu tidak menjawab pertanyaan Alena. Ia justru berbalik sedikit, menatap kaca ruang ICU tempat Mira Maharani terbaring.
"Namaku Theo Laurent Wiratama," ucapnya. "Dan aku tahu persis masalahmu. Seratus lima puluh juta untuk operasi, dan lima ratus juta untuk pemulihan jangka panjang. Benar?"
Alena berdiri dengan goyah. "Bagaimana Anda tahu?"
Theo kembali menatap Alena. Matanya tajam, seolah bisa membaca isi kepala Alena. "Aku punya cara untuk tahu apa yang aku butuhkan."
"Apa yang Anda mau?" tanya Alena waspada. Ia mundur satu langkah. "Saya tidak punya apa-apa."
Theo tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Kau punya sesuatu yang aku butuhkan, Alena. Sesuatu yang sangat berharga bagi masa depan keluargaku."
Alena menggeleng. "Saya tidak mengerti."
Theo melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Atmosfer di koridor itu mendadak terasa berat.
"Aku bisa menyelamatkan ibumu, Nak. Malam ini juga, aku akan melunasi seluruh biaya rumah sakitnya. Dokter terbaik di negeri ini akan menangani operasinya besok pagi. Dia akan hidup."