Bab 2

1009 Words
Adika bertemu dengan Marvel dengan rasa takut yang luar biasa. "Tu-tuan Marvel maafkan aku. Tolong ampuni aku!" Adika memohon pada Marvel agar mau mengampuni kesalahannya. Marvel hanya melihat Adika dengan wajah muak nya. "Lalu dimana wanita yang kau janjikan kepadaku?" Kau menawarkan putrimu sebagai jaminan untuk semua dana yang kau gelapkan? Apa putrimu seberharga itu?" Adika mengepalkan tangannya karena semua kata kata Marvel. Nadia, putri yang dia jaga dihina hanya karena menjadi tumbal untuk semua kesalahannya. Lalu Adika teringat dengan ucapan istrinya jika mereka akan mengganti Nadia dengan Lucia. Adika akan beralasan jika Nadia menderita penyakit yang mematikan. "Tuan, dia sudah pantas dan setara dengan jumlah uang yang aku pakai." ucap Adika berani. Marvel masih menatap datar pada Adika. Lalu dia ingin melihat sejauh mana Adika berulah. "Baik, aku akan kesana ikut dengan mu. Dan aku sendiri yang akan langsung menentukan dia pantas atau tidak sebagai jaminan. Jika kau tak bisa menggantinya dalam waktu yang sudah ku tentukan, putrimu akan habis di tangan ku!" Adika meneguk ludahnya kasar, tapi senyum licik muncul di wajah Adika saat mendengar itu. "Aku akan membiarkan kau menghabisinya dengan begitu, aku tak akan lagi berurusan dengan mu!" batin Adika. Marvel sudah lebih dahulu masuk ke dalam mobilnya sedangkan Adika bersama dengan anak buah Marvel. Mereka menuju rumah Adika untuk mengambil apa yang di janjikan oleh Adika. Tak menunggu berapa lama, beberapa mobil milik Marvel berjejer rapi di depan rumah Adika. Adika masuk tergesa dan mencari istrinya serta Lucia. Jangan sampai Lucia tak ada di rumah saat ini. "Dimana Lucia?" tanya Adika setelah menemukan istirnya. Selena terlihat bingung saat melihat wajah suaminya yang panik. Tapi detik berikutnya, wajah Selena menjadi pucat pasi ketika melihat Marvel ada di belakang Adika. "Tu-tuan Marvel!" Selena terbata saat menyapa Marvel, di belakang Marvel ada beberapa anak buah Marvel juga asistennya. Selena meneguk ludahnya kasar, dia melirik suaminya yang sedang panik mencari Lucia. "Selena dimana Lucia? Bukannya sudah ku bilang jika dia tak boleh kemana mana?" Selena yang tersadar segera berlari masuk ke belakang dan tak lama dia menarik paksa. seorang gadis dengan pakaian biasa dan juga terlihat kurus. Lucia yang diseret paksa terlihat takut dan gemetar. Sejak melihat Lucia di bawa masuk ke dalam, mata Marvel tak pernah lepas dari wajah perempuan itu. "Tu-tuan Marvel, ini Lucia keponakan ku yang sudah ku anggap sebagai putriku." Selena mendorong tubuh Lucia maju ke depan Marvel. Tak sengaja Marvel melihat tangan Lucia lebam di beberapa tempat. Lucia yang sadar dengan hal itu segera menyembunyikan kedua tangannya ke belakang. Mata Marvel semakin menyipit curiga melihat sikap Lucia saat ini. Marvel lalu mengamati rumah Adika dan Selena, dan matanya tak sengaja menangkap sebuah bingkai foto dimana ada Adika dan istrinya bersama satu orang gadis yang kemungkinan adalah anak kandung mereka. "Mereka menggantinya?" batin Marvel. Tapi melihat wajah yang ada di foto itu, Marvel benar benar tak tertarik. Lalu pandangan matanya kembali tertuju pada Lucia yang masih ketakutan di depannya. "Kenzo, berikan surat perjanjiannya." Kenzo maju membawa satu berkas ke depan Adika. Adika bergegas menandatangani berkas itu tanpa mengatakan apapun lagi karena dia sudah tahu isinya. Marvel tersenyum samar saat melihat itu. "Dia benar benar tega melepas keponakan nya untuk ku?" batin Marvel tak menyangka. "Sesuai perjanjian, jika kau tak bisa mengembalikan semua uang yang kau ambil dalam waktu tiga bulan, putrimu akan tinggal nama saja!" Lucia yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat kepalanya. Matanya sudah berkaca kaca, lalu menengok ke arah Om dan tantenya. "Kenapa Om dan Tante seperti ini padaku, apa salahku?" tanya Lucia tanpa sadar. Selena yang geram spontan menampar Lucia di depan Marvel. Plak.... "Jangan pasang wajah memelasmu itu, aku sudah bilang anggal ini balas budimu pada kami. Tak mungkin kami memberikan Nadia kepada tuan Marvel. Dia sedang sakit parah, apa jadinya jika Nadia bersama tuan Marvel dan tak bisa melalukan apapun untuknya?" Lucia memegang pipinya yang terasa panas. Hari itu, dia mendapat dua tamparan dari Nadia dan Selena. "Baik, aku akan menggantikan Nadia kali ini." ucap Lucia lirih. Mata Marvel menatap Lucia tak percaya jika Lucia mengatakan itu. Dia suka rela mengikutinya. Lalu Lucia beralih pada Marvel menatap Marvel dengan raut wajah putus asa. Dalam pikirannya melihat Marvel yang berwajah dingin, Lucia berpikir jika dia juga akan disiksa oleh Marvel dan akan dijadikan budaknya. "Tuan Marvel, aku bersedia ikut dengan mu. Kau bisa langsung menghabisi ku nanti tanpa harus menunggu sebulan lagi." Marvel menaikkan sebelah alisnya, begitu juga dengan Kenzo yang merasa jika Lucia benar benar ingin mati saat ini. Tanpa mengucapkan apapun lagi, Marvel berbalik pergi dari sana di ikuti oleh Kenzo dan juga anak buahnya yang lain. Tapi saat Marvel berasa di ambang pintu telinganya kembali mendengar suara Lucia yang bicara pada Adika dan juga Selena. "Om dan Tante, aku ikuti apa yang kalian mau. Hutang budi yang selama ini kalian singgung sudah lunas di ganti dengan nyawaku. Tapi kalian juga harus tepati janji kalian untuk tetap mengirim uang pada Nenek di desa." Setelah mengatakan itu, Lucia berbalik dan pergi dari sana dengan cepat. Marvel yang sudah sampai di dalam mobil menunggu Lucia segera menyuruh Kenzo untuk menyelediki semuanya. "Selidiki semua yang berhubungan dengan gadis ini, jangan sampai terlewat!" Kenzo mengangguk mengerti, dan tak lama, Lucia masuk ke dalam mobil Marvel dengan memberi jarak yang jauh dari Marvel. Entah kenapa Marvel merasa tak senang dengan hal itu. "Apa aku bau sampai kau duduk menjauh seperti itu?" Lucia tergagap, dia menatap Marvel dan saat sadar dia langsung menundukkan kepalanya kembali. "Maaf tuan, bu-bukan seperti itu. Aku merasa tak pantas duduk di mobil yang sama dengan tuan. Apalagi aku seorang b***k, tubuhku juga yang bau bukan tuan." Kenzo mendengar semua itu dengan aneh, tapi berbeda dengan Marvel yang merasa tertarik dengan Lucia. "b***k?" batin Marvel. Marvel tersenyum licik memikirkan sesuatu, dan Kenzo yang ada di depan merasa jika tuannya sudah punya rencana yang lainnya untuk gadis itu. "Apa yang tuan rencanakan? Kenapa dia malah tersenyum seperti itu?" batin Kenzo. Marvel yang merasa di perhatikan Kenzo berdeham, lalu menyuruh Kenzo segera melajukan mobilnya untuk segera pergi dari sana. "Kenzo, pergi ke kantor catatan sipil!" Ckit..... Duk.... "A-apa tuan?" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD