Asry memang tidak suka bertele-tele, jika ada yang mengusiknya, dirinya akan bertindak. Entah itu dengan ucapannya yang membuat di hadapannya tidak bisa lagi berbicara, ataupun dengan tindakan-tindakan kecil jika orang tersebut ingin menyentuhnya ataupun orang yang ada di sekitarnya.
"Dengan siapapun aku dekat, tidak ada hak untukmu melarangku. Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum tulang-tulangmu aku buat remuk," ucap Asry dengan tegas.
"Awas saja, kau. Aku akan adukan ini pada papaku. Bersiaplah kalian," gertaknya.
"Lakukan saja apa yang kau bisa," jawab Asry tersenyum sinis.
"Kau!!!" tangannya ingin menampar Asry. Asry menangkap tangan itu lalu melintirnya.
"Aaauuuuww...," rintihnya menahan sakit.
"Kalau saja kau berani menyentuhku, aku pastikan tanganmu tidak berada di tempatnya," Asry pun melepasnya. Dirinya merintih kesakitan sambil memegang tangannya sedang kesakitan. Semua teman-temannya membujuknya agar Cindy tidak menangis
Mereka yang menyaksikan itu pun hanya terkejut, baru kali ini ada yang berani pada Cindy. Biasanya mereka semua takut karena mendapat ancaman dari Cindy jika dirinya akan mengeluarkan siapapun yang berani melawannya.
Celine yang berada di sana pun juga menganga tidak percaya. Beda lagi dengan Angela yang menikmati apa yang dilakukan oleh Asry pada Angela.
"Dassar wanita tidak tahu diri," ujar salah satu segumbulan Cindy lalu membawa Cindy pergi dari sana.
Asry tidak peduli degan apa yang di ucapkan orang tersebut padanya. "Asry... apa yang kau lakukan tidak salah?" tanya Celine yang merasa sedikit takut.
"Tidak, sesuai apa yang kau lihat," jawab Asry singkat lalu kembali duduk.
"Dia pasti akan mengadukan hal ini pada orang tuanya. Mereka dari keluarga yang berpengaruh di kota ini," terang Celine pada Asry.
"Aku tidak peduli siapapun orang itu. Yang jelas mereka sudah mengusikku," jawabnya malas lalu membuka kembali buku yang ia baca.
"Jangan khawatir, tidak akan bisa dia mengeluarkan tuan putriku dari sini. Mereka sendiri nanti yang akan terkena mental," ujar Angela dengan cengingisan. Dia membayangkan bagaimana orang-orang tadi jika tahu siapa Asry di sana.
Angela di sana yang memang tahu siapa Asry tidak perlu menjelaskan panjang lebar, mereka semua pasti lambat laun tahu siapa Asry yang sekarang masih tertutup identitasnya.
Melihat ke sisi Diva...
Dirinya saat ini sedang berada di kelas karena ada jam kuliah. Ia meletakkan tangannya di atas meja untuk di jadikan tumpuhan dagunya. Terlihat sekali jika dirinya saat ini sedang malas dan bosan dengan pelajaran tersebut.
Temannya yang duduk di sebelahnya pun menenggor dirinya."Kau kenapa?" tanyanya pada Diva.
"Aku bosan sekali, kenapa tidak selesai-selesai," keluhnya memandang ke depan dengan malasnya.
"Tunggu sebentar lagi," jawab temannya sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
Tidak lama kemudian, mata kuliah itu pun selesai. Diva terlihat sangat senang dan antusias sekali untuk segera keluar dari kelasnya. "Tingkahmu seperti anak kecil saja," sahut temannya yang melihat tingkah Diva.
Diva buru-buru keluar hingga dirinya menabrak salah satu teman kelasnya karena sangking semangatnya.
"Hiisshh.... Hati-hati doong," ujarnya lalu mengibaskan rambutnya dengan gaya ok cantiknya. Setelah mengucapkan itu, dirinya melangkah pergi membiarkan temannya yang cengoh melihat Diva.
Orang tersebut hanya berdiam saja dengan mulut sedikit mengangah melihat Diva yang seperti itu. Padahal Diva yang bersalah di sana. "Kenapa aku yang di salahkan?" orang itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Teman sebangkunya hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepalanya melihat tingkah Diva. Mungkin sifat Aditya yang petakilan itu menurun dari Diva.
Waktu pulang sekolah....
Segumbulan ciwi-ciwi yang melihat Asry ke toilet itu pun mengikutinya sedikit jauh dari sana. Siapa lagi kalau bukan Cindy dan teman-temannya.
"Kunci pintunya, jangan biarkan dia lolos kali ini," ujarnya memerintahkan teman-temannya untuk mengunci Asry yang ada di dalam. Sepertinya, dirinya tidak ada kapoknya setelah tangannya di pelintir oleh Asry.
Setelah melakukan itu, mereka pun segera pergi dari sana sebelum ada yang melihatnya, Cindy tersenyum puas karena mengerjai Asry.
Setelah beberapa menit, Asry selesai buang hajat lalu mencuci tangannya di westafel. Ia pun mengeringkan tangannya dan memutuskan untuk keluar karena Aditya pasti sudah menunggunya.
Saat ingin membuka pintu, pintu itu terkunci dari luar. Asry mengerutkan dahinya sejenak lalu mencoba untuk membukanya. "Terkunci? Siapa yang menguncinya?" gumamnya pelan.
Tok...
Tok...
"Apa ada orang di luar?" ucap Asry sambil mengetukkan pintu dari dalam. Siapa tahu jika ada orang yang melintas. Asry melakukan berkali-kali namun tidak ada sahutan atau siapapun di luar.
Sedangkan di sisi Aditya....
Aditya berada di parkiran sedang menunggu Asry yang tidak kunjung terlihat batang hidungnya. "Kenapa belum keluar juga. Apa toiletnya pindah di ujung dunia?" ujarnya kesal sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
Tidak lama kemudian seorang wanita dengan genitnya datang ke arah Aditya yang sedang menunggu Asry. Aditya yang tahu jika orang itu datang mendekat itu pun terlihat kesal sekali.
"Ck... kenapa malah orang ini yang datang?" decaknya kesal melihat orang itu. Siapa lagi kalau bukan Cindy. Dia mencoba mengambil kesempatan kali ini.
"Hai Aditya, sepertinya aku tidak di jemput. Boleh aku menumpang?" ujarnya yang bersikap ramah. Aditya menaikkan sebelah alisnya.
"Sorry, gua lagi nunggu seseorang. Pulang saja dengan teman-temanmu itu, temanmu banyak kan? pasti mereka mau memberi tumpangan untukmu," jawab Aditya dengan cueknya. Sepertinya, Aditya sangat ogah dengan Cindy.
"Ayolah, Aditya... sekali ini saja," bujuknya dengan sedikit memelas.
Kembali ke sisi Asry...
Berulang kali dirinya mengetuk pintu dari dalam dan sedikit berteriak tapi hasilnya nihil. Tanpa pikir panjang, Asry menggunakan tenaganya untuk membuka pintu tersebut dengan sekuat tenaga.
Karena saking kuat tenaganya, pintu itu terbuka dengan gagang pintu dan kunci dalam kondisi rusak. Asry melangkahkan kakinya keluar dengan wajah yang sudah tidak bisa di deskripsikan.
la melihat kanan dan kiri dan menemukan secarik catatan yang bertuliskan jika toilet tersebut dalam pembenahan. Asry menaikkan sebelah alisnya, ternyata dirinya di kerjai kali ini.
"Kau berani bermain-main denganku? Akan ku buat kau menyesal nanti," ujarnya merasa marah karena dirinya selalu di usik. Asry sudah menebak siapa yang sudah mengerjainya, karena hanya orang itulah yang mengusik Asry dari awal. Asry pun melangkahkan kakinya pergi menuju ke parkiran.
Kembali lagi ke sisi Aditya...
"Nggak. Aku sibuk," ketusnya pada Cindy.
"Apa kau tidak kasihan denganku?" ujarnya dengan wajah memelas agar Aditya kasihan dengannya dan memperbolehkan dirinya untuk pulang bersama Aditya.
"Aku tidak peduli," jawabnya sangat cuek. la mencoba menghubungi Asry dengan ponselnya.
Beberapa menit kemudian, Asry pun sudah tiba di sana dan langsung saja menuju tempat Aditya yang sudah menunggunya.
"Kenapa lama sekali?" sewotnya pada Asry.
"Sorry... sepertinya, ada orang yang ingin bermain-main denganku," jawab Asry sambil tersenyum sinis ke arah Cindy.
Cindy yang melihat Asry bisa keluar itu pun terkejut dan bingung, tapi dia menyembunyikan ekspresi wajahnya.
'Kenapa orang ini bisa keluar? Apa dia juga tau kalau aku yang menguncinya?' Cindy hanya bisa membatin karena dia juga melihat senyum sinis dari Asry padanya.
"Siapa yang sudah bermain-main denganmu?" Aditya sepertinya tidak terima mendengar hal itu.
"Heh, tidak penting. Sebaiknya kita pulang," jawab Asry memandang sinis pada Wilona. Ia menaiki motor sport milik Aditya lalu meninggalkan halaman sekolah yang sudah sepi.
Cindy mengepalkan kedua tangannya kesal, ia tidak terima jika Asry bisa bersama dengan Aditya. Gumbulan dari Cindy pun keluar dari tempat persembunyiannya melihat Cindy tinggal sendiri di sana.
"Apa ada yang membuka pintu untuknya? Kenapa dia bisa keluar, hah?" bentaknya pada teman-temannya.
"Mana kita tau, kita sedari tadi kan juga ada tidak jauh dari sini. Sekolah juga sepi, mana mungkin ada yang menolongnya," jawab salah satu dari mereka.
Cindy terlihat semakin membenci Asry, ia belum tahu saja siapa sebenarnya Asry. Jika saja dirinya tahu, mungkin dia mendekati Asry untuk bisa berdekatan dengan Aditya.
Malam harinya....
Aditya sangat antusias membuka oleh-oleh yang di bawakan oleh mami dan papinya. Entah kenapa dirinya seperti anak kecil saja.
"Badan aja yang gede, tingkahnya kayak anak kecil," ejek Diva di sana.
"Kak Diva diam, gak boleh syirik," jawabnya melanjutkan membuka semua barang-barang yang ada di depannya.
Yaap... Sean dan Ana baru saja pulang berlibur. Dia membawa banyak oleh-oleh untuk putra dan putrinya di mension. "Bagaimana dengan sekolahmu, Asry? Apa kau suka setelah pindah?" tanya sang papi.
"Hmm... yaa... lumayan papi. Hanya saja, ada gangguan kecil dari pacarnya Aditya," jawab Asry yang membawa-bawa nama Aditya.
Aditya yang mendengar namanya di sebut itupun menghentikan aktifitasnya. Dia bersikap bingung dengan ucapan sang kakak barusan. "Pacar? Pacar? Memangnya pacarku yang mana?" tanyanya bingung dengan raut wajah yang membuat Diva ingin menaboknya.
"Biasa saja wajahnya, kau terlihat bodoh dengan raut wajah seperti itu," sahut Diva melihat wajah Aditya yang kebingungan.
"Memang pacarku yang mana?" ucapnya lagi.
"Memangnya kau punya pacar berapa?" sengal Asry pada Aditya. Aditya pun menggelengkan kepala menunjukkan itu jawaban untuk Asry.
"Lalu, wanita yang mendekatimu tadi?" Asry menaikkan sebelah alisnya. Mami dan papinya hanya bisa diam melihat perdebatan kedua anaknya.
"Hiihh... oggah...," ujar Aditya bergidik ngeri membayangkan jika Cindy pacarnya.
"Kenapa? Bukannya itu memang pacarmu?" desak Asry.
"Jangan mengada-ada ya.... Ya kali aku bisa dengan wanita seperti itu," jawabnya.
"Memangnya kau di apakan Asry?" sahut sang papi. Sepertinya sang papi faham dengan apa yang di bicarakan oleh Asry.
"Emm... tidak Pi, tidak apa," jawabnya berbohong agar sang papi tidak marah. Jika saja marah, mungkin sekolah itu akan di robohkan olehnya.
"Kau berbohong kaaannn... Kau sendiri yang mengatakan padaku jika ada yang bermain-main denganmu tadi," Aditya kembali mengeluarkan wajah songongnya kali ini.
"Tidak, kapan aku berbicara seperti itu padamu?" Asry mengelak.