"Dududu ... mambune wangi tenan iki." Vira menghirup aroma kue lezat dari arah dapur.
Ia mendapati Amaya baru saja mengangkat kue brownies panggang dari dalam oven.
Pagi-pagi sekali, gadis berambut panjang itu sudah sibuk di dapur demi membuat kue untuk seseorang. Seseorang yang sudah menolongnya semalam tentunya. Amaya rencananya ingin menemui Hanafi hari ini, sambil membawakan kue kesukaan pria itu sebagai ucapan terima kasih.
"Wah, May, ono acara opo, to? Tumben, pagi-pagi banget wes ono kue." Vira berniat menyolek kue yang tampak menggoda itu. Tetapi Amaya segera menepis tangannya.
"Ish. Nggak boleh nyolek-nyolek. Ini kue bukan buat kita."
"La terus, buat siapa nek bukan buat kita, May?"
Amaya membawa kue brownies tersebut ke meja makan. Menarik kursi kemudian duduk dan mulai menikmati secangkir cokelat hangat kesukaannya.
Vira pun ikut menyusul. Ia mulai mengendus-endus aroma wangi brownies buatan Amaya. Rasa-rasanya Vira ingin sekali mencicipinya.
"May, aku nyicip, yo. Sitik wae. Bayiku nanti ngiler, May." Wajah Vira tampak memelas.
"Apaan, sih?! Bayi apaan? Yang ada, lo kali yang ngiler."
"Eyalah, May. Pelit tenan awakmu." Kini wajah Vira mendadak cemberut. Amaya ingin sekali menertawakannya.
"Itu kue buat orang spesial, Vir. Kita mah, nggak ada jatah buat icip-icip," celetuk Rina yang baru saja bergabung.
Rina duduk di sebelah Amaya. Ia lantas merebut cangkir berisi cokelat hangat itu dari tangan sahabatnya. Kemudian menyeruput dengan tenang minuman cokelat tersebut. Amaya lantas mendengkus sebal.
"Cokelat hangat gue, main serobot aja!"
"Bagi seorang sahabat, berbagi itu dianjurkan. Asal jangan berbagi pacar aja."
"Eh, yang dimaksud orang spesial kui sopo? Awakmu udah punya gebetan baru, to, May?" Vira tampaknya masih penasaran, kira-kira untuk siapa Amaya akan memberikan kue brownies tersebut?
"Amaya udah punya gandengan lagi. Tajir, dan matang. Jadi simpanan om-om, dia," jelas Rina gamblang.
"Opo?! Simpanan om-om?!" Vira sontak heboh mendengar Amaya memiliki kekasih seorang om-om.
"Kalian berdua apaan, sih? Lebay banget, deh." Amaya mulai mengoles roti tawar dengan selai kesukaannya.
"Iki maksude piye, to? Kamu saiki jadi selingkuhan om-om sugih, May?" tuduh Vira. Amaya hanya geleng-geleng kepala.
"Lo jadi orang gampang banget dihasut sama Rina, deh, Vir. Gue bikin kue ini buat Pak Hanafi. Semalem, gue dikejar-kejar anak buahnya Fino. Si Doni k*****t itu punya utang ke bokapnya Fino, tapi dengan songongnya, gue yang harus bayar utangnya. Nggak sengaja, di jalan gue ketemu Pak Hanafi. Ya, akhirnya, beliau yang nolongin gue. Mau bayarin utang gue semalem." Penjelasan Amaya sukses membuat Vira makin penasaran saja, terutama tentang masalah om-om tadi.
Semalam setelah Hanafi menyelesaikan urusan dengan anak buah Fino, pria paruh baya itu lantas mengantarkan Amaya pulang. Di perjalanan, Hanafi memberi tahu Amaya kalau ia sudah melunasi utang gadis itu. Tanpa pikir panjang lagi, bagi Amaya, Hanafi adalah seorang Super Hero yang sengaja dikirimkan Tuhan untuk membantu masalahnya.
"Lah terus, yang dimaksud si Rina soal simpanan om-om sugih kui opo?" Vira menoleh Rina. Sahabatnya itu kini tengah cekikikan.
"Rina aja tuh yang nambah-nambahin. Pak Hanafi itu cuma nolongin gue. Cuma bantu lunasin utang gue. Nggak ada ceritanya gue jadi simpanan om-om, ya." Amaya membenarkan kekeliruan yang disimpulkan oleh Vira.
"Lagian nggak perlu jadi simpanan gitu kali, May. Pak Hanafi itu, kan, duda. Elo mah bebas aja kalau ada hubungan spesial sama beliau. Gue malah mikirnya, mana mungkin, sih, ada orang yang tiba-tiba mau bayar utang kita, kalau ujung-ujungnya nggak minta imbalan. Gede loh utangnya. Paling nanti Pak Hanafi minta lo jadi istri barunya." Penilaian Rina soal sikap Hanafi yang tiba-tiba baik pada Amaya, justru kini membuat Amaya jadi bingung saja. Apakah nanti Hanafi akan meminta Amaya untuk menjadi istri sesuai tebakan Rina?
"Bener juga, May. Coba, deh, dipikir meneh. Ketika laki-laki itu tiba-tiba jadi baik, pasti ujung-ujunge minta imbalan. Tapi ora popo ding, May, nek dirimu suatu saat bakalan diminta jadi istrine Pak Hanafi. Meskipun beliau wes tuo, tapi tajir melintir. Iso gawe sejahtera keluargamu, May." Vira justru sepemikiran dengan Rina. Amaya jelas makin bete saja.
"Kalian kalau ngomong suka mengada-ada. Nggak ada ceritanya kalau Pak Hanafi minta imbalan gue buat jadi istrinya. Ngarang banget kalau ngomong!" Amaya beranjak bangun kemudian melenggang pergi meninggalkan kedua sahabatnya dengan perasaan kesal.
Sementara Rina dan Vira hanya geleng-geleng kepala menanggapi sikap Amaya yang seperti orang salah tingkah saja.
***
Gadis dengan seragam pekerja medis berwarna putih itu tengah melangkah menuju ruangan kepala rumah sakit. Amaya membawa kue brownies panggang yang sudah ia tata rapi di dalam dus kue. Sampai di depan pintu ruangan Hanafi, ia perlahan mengetuk pintu.
"Masuk." Suara Hanafi terdengar dari dalam ruangan.
Apoteker muda itu lantas menekan gagang pintu. Mengulas senyum hangat saat tatapannya bertemu dengan Super Hero yang semalam sudah membantu urusannya.
"Selamat pagi, Pak Hanafi."
Hanafi yang tengah sibuk dengan laptop di meja kerjanya, kini perhatiannya terbagi untuk seorang gadis manis yang baru saja menyapa.
"Pagi, May. Sini duduk."
Amaya menurut akan instruksi Hanafi yang menyuruhnya untuk duduk di kursi yang terletak di seberang meja kerja pria itu.
"Loh, May, kamu bawa apa?" tanya Hanafi setelah Amaya meletakkan dus kue di atas mejanya.
"Ini, Pak, tadi pagi saya buatkan kue brownies kesukaan Bapak. Itung-itung sebagai ucapan terima kasih karena semalam Bapak udah menolong saya."
Hanafi mengulas senyum simpul. Amaya saat melihatnya pun sempat terpaku. Tidak bisa dipungkiri, diusianya yang sudah kepala lima itu, Hanafi masih terlihat tampan dan kokoh. Bahkan jika sedang jalan bareng dengan putranya, banyak orang-orang mengira kalau mereka kakak beradik. Lelaki itu kebetulan menikah di usia muda.
"Kamu baik sekali, Amaya. Sudah susah payah membuatkan saya kue. Terimakasih, ya." Hanafi menatap Amaya dengan intens. Seketika, pipi gadis penyuka seni beladiri itu bersemu merah. Amaya merasa gugup kali ini.
'Aku sudah menemukan orang yang tepat.'
"Kalau begitu, saya permisi bekerja kembali, Pak."
"Akh, tunggu dulu, Amaya." Direktur rumah sakit sekaligus dokter spesialis penyakit dalam itu menahan Amaya yang saat ini telah berdiri--berniat undur diri dari hadapannya.
"Duduk lagi sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan."
Amaya kembali duduk sesuai perintah Hanafi. Tetapi ia sama sekali tidak mengerti ketika pria itu menyodorkan selembar kertas padanya.
"A-apa ini, Pak?"
"Itu surat perjanjian, Amaya. Semalam, saya sudah mengeluarkan uang tujuh puluh juta untuk membayar utang kamu pada Fino. Dan, apa yang semalam saya lakukan untuk kamu, itu tidak gratis, Amaya. Tidak cukup, hanya dibayar dengan kue brownies saja."
Amaya tiba-tiba merasa pening. Baru saja ia menganggap Hanafi adalah Super Hero, tapi ternyata, lelaki itu justru meminta upah. Dan upah tersebut sudah Hanafi tulis di selembar kertas di sana.
"Tunggu dulu, Pak. Bapak bilang utang saya ke Fino, tujuh puluh juta? Bukannya cuma lima puluh juta?" Amaya mengoreksi ucapan atasannya.
"Owalah, May, May. Kamu kalau lugu, jangan kebangetan, dong, May. Utang sama rentenir, ya, jelas beranak, dong. Lima puluh juta itu utangnya, bunganya dua puluh juta. Jadi totalnya tujuh puluh juta."
Amaya nyaris pingsan saja. Ia benar-benar dendam kesumat pada Doni. Apakah Doni belum puas menyakiti Amaya? Sampai-sampai Doni tega membebankan utang sebanyak itu padanya.
"Begini, Amaya. Saya punya pekerjaan untuk kamu. Kalau kamu bisa bekerja dengan baik, maka tujuh puluh juta itu tidak akan saya bahas lagi. Anggap saja, itu cuma-cuma dari saya. Itu kalau kamu mau, dan berhasil menjalankan pekerjaan yang akan saya berikan pada kamu."
"Memangnya, pekerjaan apa, Pak, yang harus saya lakukan untuk Bapak?" Amaya mulai berpikir yang tidak-tidak. Ia hanya tidak mau yang dikatakan Rina tadi pagi benar menjadi kenyataan. Tentang Hanafi yang ingin ia menjadi istri barunya.
"Coba baca baik-baik di kertas itu, pekerjaan apa yang harus kamu kerjakan untuk saya." Hanafi menunjuk kertas putih yang sudah ia bubuhi dengan tanda tangannya.
Amaya meraih kertas itu, kemudian mulai membaca dengan saksama. Ia lantas tercengang. Amaya sontak menatap atasannya dengan tatapan bingung.
"Saya harus menaklukkan anak Bapak?!"
"Yup, betul sekali. Kamu harus menaklukkan anak saya, Al."
Amaya membaca surat perjanjian itu sekali lagi. Dengan detail, Hanafi menulis segala tugasnya di sana.
Gadis itu diharuskan mendekati Al setiap hari. Ia memiliki waktu satu bulan untuk membuat Al mau memaafkan Hanafi, serta mau meninggalkan kehidupan bebasnya.
Di kertas itu pun Hanafi menjelaskan bagaimana kehidupan Al sekarang. Yang jelas, Amaya sangat anti berurusan dengan pria seperti Al.
"Ini foto anak saya." Hanafi menyerahkan foto putranya pada Amaya. Gadis itu mengamati sekilas. Rasa-rasanya Amaya seperti pernah melihat Al, tapi ia tak ingat kapan dan di mananya mereka pernah berjumpa.
"Hati-hati, Amaya. Jangan mudah terlena dengan kebaikan Al kalau kamu nanti sudah berhasil mendekati dia. Kalau kamu terlena dan lengah sedikit saja, bisa jadi, kamu nanti yang akan kalah. Dan akan kehilangan semuanya."
"K-kehilangan semuanya? Maksud Bapak?" Amaya mulai cemas. Benarkah Al seberbahaya itu?
"Pokoknya, saya minta, kamu harus tegas menghadapi Al. Satu bulan ke depan, saya harus terima hasilnya. Kamu, berhasil membawa Al ke hadapan saya, dan membuat Al mau memaafkan saya."
"T-tapi--"
"Jangan berani menolak, atau pun membantah perintah orang yang sudah melunasi utangmu, Amaya. Ingat, tujuh puluh juta itu tidak sedikit. Dan kamu harus membayarnya dengan cara menaklukkan Al."
Amaya nyaris kehabisan kata-kata untuk beradu argumen dengan Hanafi. Ia kembali mengamati wajah Al kembali.
'Ganteng, tapi sayang, hidung belang. Ogah gue deketin elo, tapi gue nggak punya pilihan lain selain nurutin permintaan bokap lo, Al. Iiihhhh ... nasib gue makin sial aja gara-gara Doni!' Amaya menggerutu dalam hati.
"Tenang, Amaya, kalau kamu berhasil menaklukkan Al dalam waktu satu bulan ke depan, saya akan memberikan bonus spesial untuk kamu."
Amaya yang tadi sudah pasrah bin nyerah, saat mendengar kata 'bonus', ia langsung bersemangat kembali. Yang ia pikirkan dibalik kata 'bonus' itu, bisa saja Hanafi akan memberinya rumah impian, mobil mewah, atau apartemen, tapi nyatanya ....
"A-apa bonusnya, Pak?"
"Eum ... bonusnya, kamu akan memiliki kesempatan menjadi calon menantu saya. Dan, kemungkinan besar, kalau kalian berjodoh, kamu akan menyandang gelar Nyonya Al, dan kehidupan kamu akan sejahtera selamanya, Amaya."
Amaya mengulas senyum getir. Saat wanita lain begitu mendambakan bisa bersanding dengan anak semata wayang kepala rumah sakit itu, tetapi Amaya sama sekali tidak minat. Gadis itu sudah cukup muak dengan model-model pria seperti Al.
***
Suasana di kantin rumah sakit siang ini tampak padat. Beberapa pegawai medis tengah asyik menyantap jamuan makan siang sambil bercengkerama dengan para sahabat. Terlihat Amaya tengah menyendiri di pojokan kantin, ditemani segelas es teh, gadis itu sedari tadi hanya melamun.
"Dor!"
"Eh, dor?!" Amaya tersentak kaget saat ada tangan yang tiba-tiba menepuk pundaknya.
"Melamun terus. Kesambet penunggu kantin nanti, loh." Rasya duduk di depan Amaya kemudian menaruh nampan berisi makanannya.
"Kak Rasya tumben makan siang di sini?" tanya Amaya.
"Aku sering makan di sini juga kali. Kebetulan, tadi pas mau makan siang, aku punya gambaran kalau ada cewek cantik lagi duduk sendirian di pojokan kantin. Ya, udah, aku samperin langsung ke sini."
"Kenapa kebanyakan laki-laki beristri itu baik banget, sih, sama perempuan lain?" Amaya kembali teringat dengan Bojes. Sikap Bojes dan Rasya padanya hampir sama. Kedua lelaki itu sama-sama memperlakukan Amaya dengan baik dan manis.
"Jadi menurut kamu, laki-laki yang udah punya istri itu harus galak dan jahat sama perempuan lain? Nggak segitunya kali, May. Aku mah biasa aja sama yang lain. Istriku juga nggak cemburuan. Si Fika itu lagi ngidam. Jadi, ya, harap maklum kalau cemburuan banget lihat kamu deket-deket Bojes."
Amaya perlahan mengangguk-anggukkan kepala pertanda paham akan penjelasan Rasya. Gadis itu kembali merenung. Ia teringat lagi akan pembicaraan tadi pagi dengan Hanafi. Amaya sudah menandatangani surat perjanjian tersebut. Yang artinya, ia bersedia melaksanakan tugas dari Hanafi, yaitu mendekati Al, kemudian menaklukkan pria itu.
Sambil menikmati makan siangnya, Rasya sesekali melirik gadis berhidung mungil yang tengah melamun di depannya. Dokter umum itu sudah paham dengan masalah yang tengah Amaya hadapi. Sebab, Rasya ini adalah seorang pria yang kebetulan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ia bisa membaca pikiran orang lain serta masa depan orang tersebut.
"Dijalani aja, May. Adanya begini, ya, mau gimana lagi."
Amaya kembali mengaduk-aduk es teh dalam gelas. Kepalanya terasa sangat pening saja.
"Di dunia ini emang udah nggak ada cowok yang baik, ya, Kak? Kenapa aku harus berurusan sama cowok-cowok hidung belang lagi, sih?" keluh Amaya. Ia merasa tak punya pilihan lain kali ini.
"Setiap cowok itu baik. Tergantung para wanita menilainya dari segi mana dulu. Aku kebetulan berteman baik sama Al, dan--"
"Dan Kakak udah tau, dong, gimana kelakuan si Al itu? Kakak tau, udah berapa cewek yang pernah ditidurin sama Al?" Amaya mendesak. Rasya menanggapi dengan senyum tipis. Ia memang bersahabat dengan Al, tapi kalau urusan pribadi, sebisa mungkin, Rasya tidak akan ikut campur.
"Saranku, kamu cukup hati-hati, dan jaga diri aja. Kamu bisa berkelahi, kalau nanti Al macem-macem, kamu cukup hajar dia, May. Tendang anunya aja. Pasti langsung KO si Al. Nggak bisa nidurin cewek lagi nanti."
Saran dari Rasya lantas membuat Amaya terkekeh.
"Bagus juga, Kak, idenya. Sekali-kalilah, cowok otak m***m kayak Al itu harus dikasih pelajaran, biar kapok!" Amaya justru memiliki rasa ingin segera bertemu dengan Al. Tentunya ia harus mengatur strategi agar bisa kenal dengan anak direktur rumah sakit tersebut.
*********