bc

Trilogy Nusantara

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
adventure
revenge
HE
brave
prince
princess
drama
bxg
serious
campus
apocalypse
war
musclebear
ancient
Pharaohs
like
intro-logo
Blurb

🌏 TRILOGI NUSANTARAKisah tentang darah, laut, dan kesadaran — tiga zaman, satu sumpah.🩸 BUKU I — DARAH SERAYU“Darah yang tak ingin menetes lagi.”Di lembah selatan tanah Serayu, tujuh suku kuno hidup dalam keseimbangan rapuh antara kehormatan dan dendam.Ketika perebutan sumber air memicu perang saudara, Raka, pewaris suku Serayu, menyaksikan keluarganya hancur oleh ambisi manusia. Ia menolak tahta yang diwariskan kepadanya dan bersumpah untuk menghentikan lingkaran darah.Dalam pengembaraannya, Raka bertemu Aruna, putri dari suku laut yang lembut dan spiritual. Bersama, mereka bermimpi tentang dunia tanpa perang. Namun kedamaian itu terguncang ketika muncul seorang pemimpin karismatik — Raja Lantara, penyatu tujuh suku yang membangun persatuan dengan kekuatan besi.Raka menjadi penasehatnya, Aruna menjadi simbol perdamaian, dan Lantara menjadi raja yang perlahan kehilangan jiwanya. Cinta, politik, dan ambisi menyalakan kembali api peperangan.Ketika Aruna hilang di laut dan Lantara menuntut kesetiaan total, Raka memilih meninggalkan pedang dan menulis Sumpah Serayu — ajaran tentang damai, cinta, dan kebebasan sejati.Inilah awal legenda: manusia yang menolak perang, tapi diingat sebagai pahlawan abadi.👑 BUKU II — TAHTA OMBAK“Tanah yang menolak tunduk.”Berabad-abad kemudian, kerajaan hasil penyatuan tujuh suku diperintah oleh Ratu Kayana, keturunan jauh Raja Lantara. Ia tumbuh mendengar kisah Raka dan Aruna — dongeng lama yang dianggap mitos.Namun di tangannya, sejarah itu kembali hidup.Di tengah ancaman perang dan pengkhianatan bangsawan, Ratu Kayana menemukan naskah kuno berisi Sumpah Serayu. Ia mulai mempertanyakan sistem kekuasaan yang diwariskan leluhurnya. Apakah kerajaan ini benar-benar merdeka, atau hanya penjara yang indah?Ketika perang pecah antara rakyat dan istana, Kayana harus memilih — memerintah dengan ketakutan seperti Lantara, atau dengan cinta seperti Raka.Pilihan itu akan mengubah sejarah Nusantara untuk selamanya.Sebuah kisah tentang perempuan, kekuasaan, dan keberanian menulis ulang takdir bangsa.🔥 BUKU III — TAKHTA LANGIT“Kebebasan sejati lahir dari kesadaran.”Berabad-abad kemudian, dunia telah berubah. Penjajah datang membawa senjata dan kitab.Seorang pemuda bernama Seta, keturunan jauh Raka, hidup sebagai penulis bawah tanah. Ia menemukan naskah kuno yang dijaga oleh Dewi Raksita, keturunan Aruna — perempuan terakhir penjaga suara leluhur.Dari ajaran itu, Seta menyadari bahwa kebebasan sejati tidak bisa diperjuangkan hanya dengan perang, tapi dengan kesadaran dan keberanian berpikir.Ia mulai menulis karya terlarang yang membangkitkan rakyat dari ketakutan, menyalakan api pemberontakan tanpa pedang — revolusi pena.Saat darah kembali diminta demi kemerdekaan, Seta menolak. Ia menulis kalimat terakhirnya:“Darah Serayu tak akan menetes lagi. Tapi dari tinta inilah, Nusantara lahir kembali.”Akhir trilogi ini bukan tentang kematian seorang pahlawan,melainkan kebangkitan kesadaran seluruh bangsa.🌺 Benang Merah TrilogiTiga zaman.Tiga generasi.Satu sumpah yang tak pernah padam:Bahwa kekuasaan sejati bukan di pedang, melainkan di kesadaran.Trilogi Nusantara adalah kisah epik lintas masa yang menelusuri perjalanan spiritual bangsa:dari darah menuju cinta, dari laut menuju kebebasan, dan dari manusia menuju kesadaran dirinya sebagai penjaga bumi Nusantara.

chap-preview
Free preview
LEMBAH YANG TERBANGUN DARI SUNYI
Kabut turun pelan di atas Lembah Serayu, menutupi atap-atap rumah kayu yang berbaris di sepanjang sungai. Di antara bunyi serangga dan desir bambu, terdengar suara langkah pemuda yang berjalan sendirian, menelusuri jalan setapak menuju hutan. Namanya Raka, anak kepala suku yang sejak kecil lebih akrab dengan sepi daripada pesta. Ia berhenti di tepi tebing. Dari sana terlihat matahari yang baru naik, memantulkan warna merah di permukaan air. Baginya, lembah ini bukan sekadar tanah kelahiran — tapi juga penjara yang tenang. Semua yang hidup di sini percaya bahwa darah leluhur tidak boleh dicampur dengan darah lain. Raka, satu-satunya pewaris suku, tahu bahwa aturan itu suatu hari akan menjeratnya. “Raka!” Suara berat seorang pria memanggil dari kejauhan. Paman Giri, penjaga gerbang lembah, datang membawa tombak upacara. “Kepala suku mencarimu. Dewan ingin kau hadir di balai. Mereka akan membahas perjanjian dengan suku utara.” Raka menatap ke arah matahari lagi sebelum menjawab pelan, “Perjanjian atau ancaman, Paman?” Giri terdiam. Ia tahu anak muda ini terlalu cerdas untuk sekadar jadi pewaris tahta. “Tak semua hal perlu kau lawan dengan kata, Nak. Kadang diam lebih tajam dari pedang.” Raka tersenyum tipis. “Tapi diam juga bisa membunuh, Paman.” Mereka berjalan beriringan, menuruni jalan setapak menuju desa. Di sepanjang jalan, terlihat wajah-wajah cemas penduduk. Anak-anak berhenti bermain, para ibu berbisik pelan. Semua tahu—suku utara tak datang untuk berdamai. Di balai pertemuan, suara gong bergema tiga kali. Para tetua duduk melingkar, wajah mereka tegang. Raka berdiri di tengah, menatap ayahnya, Raden Seta Serayu, yang kini tampak letih meski masih berwibawa. “Anakku,” kata sang kepala suku dengan suara berat, “kita akan bersatu dengan suku utara. Mereka menawarkan kekuatan, dan kita tak punya pilihan.” Raka menunduk, lalu menjawab lirih, “Kalau kita bersatu karena takut, maka bukan kekuatan yang kita dapat… melainkan perbudakan.” Hening panjang. Hanya bunyi bambu di luar yang bersentuhan dengan angin. Dalam keheningan itu, Raka tahu: kalimatnya baru saja menyalakan bara pertama dari perang yang tak akan mudah padam. --- Senja merambat perlahan. Langit Lembah Serayu berwarna jingga kemerahan, seperti luka yang belum kering. Raka keluar dari balai pertemuan dengan langkah berat. Kata-kata ayahnya masih berputar di kepala — persatuan karena ketakutan. Ia tahu, sesuatu sedang berubah di tanah ini. Di tepi sungai, seseorang sudah menunggu. Rambutnya tergerai, berkilau keemasan terkena cahaya sore. Aruna, gadis dari suku laut yang datang bersama rombongan utara, sedang menenun jaring kecil dari serat pandan. Raka berdiri beberapa langkah di belakangnya, ragu untuk menyapa. “Kalau kau ingin bersembunyi, kau terlalu tinggi untuk pohon itu,” ucap Aruna tanpa menoleh. Nada suaranya lembut tapi tajam, seperti riak air yang menggoda batu. Raka tersenyum samar. “Aku tidak bersembunyi. Hanya memastikan ombak tidak mencuri sesuatu yang bukan miliknya.” Aruna tertawa kecil. “Lalu apa yang bisa diambil ombak dari seorang pewaris lembah? Darahnya? Atau sumpahnya?” “Dua-duanya, mungkin,” jawab Raka pelan, menatap arus sungai yang membawa dedaunan ke arah utara. “Darah bisa diwariskan, tapi sumpah harus dipilih.” Aruna menatapnya kini, matanya sejernih air senja. “Dan apa sumpahmu, Raka dari Serayu?” Ia terdiam sesaat. Lalu dengan suara rendah, hampir seperti bisikan: “Bahwa aku tidak akan membiarkan tanah ini disatukan oleh ketakutan, atau oleh pedang.” Hening menggantung di antara mereka. Suara burung mulai redup, hanya gemericik air dan desir bambu yang menyertai. Aruna menunduk, jari-jarinya bermain di atas jaring yang belum selesai. “Kau terlalu berani untuk seorang yang belum memegang takhta.” “Berani?” Raka tersenyum pahit. “Aku hanya tidak ingin menjadi nama lain yang dilupakan sejarah karena tunduk.” Sore itu berakhir tanpa janji, hanya pandangan yang lebih lama dari seharusnya. Ketika Aruna melangkah pergi, Raka tahu — entah bagaimana — bahwa perempuan itu akan menjadi bagian dari sumpahnya. Dan mungkin juga, kehancurannya. Di kejauhan, gong suci kembali berdentang tiga kali. Pertanda perjanjian telah disetujui. Tapi di hati Raka, perang baru saja dimulai. --- Bertahun-tahun kemudian, orang-orang masih membicarakan hari itu. Hari ketika seorang pemuda dari lembah menantang perjanjian yang ditulis dengan tinta ketakutan. Mereka menyebutnya Sumpah Serayu — sumpah yang tak pernah dicatat dalam naskah kerajaan, tapi selalu hidup dalam cerita rakyat, berbisik di antara bambu dan sungai. Dari sinilah darah pertama tertumpah. Dan dari sinilah pula lahir legenda yang kelak disebut Trilogi Nusantara — kisah tentang tanah yang menolak tunduk, cinta yang menolak padam, dan manusia yang melawan takdirnya sendiri.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
307.2K
bc

Too Late for Regret

read
269.6K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.6M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.2M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
135.5K
bc

The Lost Pack

read
372.4K
bc

Revenge, served in a black dress

read
143.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook