bc

Anakku Mengungkap a*b Ayahnya

book_age16+
3.3K
FOLLOW
16.0K
READ
love-triangle
one-night stand
dominant
powerful
brave
drama
tragedy
city
wife
like
intro-logo
Blurb

Rumah tangga kami akan dan bahagia bahkan amat sempurna, dengan kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab lagi tampan.

Namun semua itu tak berlangsung lama setelah anak kami pergi tur wisata dan melihat wajah asli ayahnya.

chap-preview
Free preview
Cerita anakku

Bismillahirrahmanirrahim, yuk baca Bund, drama terbaru dari saya. Selalu dkung ceritanya agar penulis semangat untuk melanjutkan karya.

❤️❤️❤️

"Bunda tadi aku lihat ayah jalan sama perempuan," ucap Flo anakku ketika baru saja pulang dari wisata bersama guru dan teman-temannya ke kebun binatang.

"Apa? di mana?" tanyaku dengan senyuman pada anakku yang baru berumur delapan tahun lebih itu.

"Di jalan, perempuannya peluk dan cium ayah di mobilnya?"

"Masak?" Aku terkejut dan seketika dadaku berdebar lebih kencang, ada rasa takut sekaligus khawatir bahwa apa yang dilihat anakku adalah kejadian sebenarnya. Namun di sisi lain juga berdoa semoga itu bukan suami.

"Pake mobil warna apa?"

"Ya, mobil kita dong Bund, mobil hitam yang ada nomor EA 1432 BC."

Ya Allah ... Flo mengingat dengan detail, berarti memang benar Mas Dika jalan dengan wanita lain. Aku harus mencari informasi lebih.

Kujonggkokkan badan sejajar dengan tubuh anakku halo menggenggam bahunya sambil tersenyum dan bertanya,

"Uhmm, mungkin salah orang, tapi Bunda mau tahu perempuannya seperti apa?"

"Cantik, rambutnya kuning, bedaknya tebal, dan dia manjat sekali pada Ayah, dia terus peluk ayah dan cium ayah," jawabnya.

"Terus reaksi ayah kayak gimana, ayah marah atau enggak?"

"Ayah senang, ayah balas pelukannya," balas Flo dengan wajah sedih.

"Lalu di mana itu terjadi," tanyaku.

"Di lampu merah saat bis wisata berhenti di samping mobil ayah, aku lihat dengan jelas."

"Terus kenapa kamu gak cegah atau panggil?"

"Gimana caranya, Bun, bis 'kan kacanya tertutup, lagipula itu di lampu merah," jawabnya sambil menatapk.

"Ah, iya juga," desahku.

Aku mencoba tersenyum dihadapan Florina meski hatiku begitu terluka, aku sungguh terkejut mendapatkan informasi ini dan begitu cemas juga karena Flo sendiri yang menyaksikan perbuatan ayahnya, aku khawatir kejadian tersebut akan melekat di alam bawah sadar anakku dan membuat dia membenci ayahnya. Entah apa yang harus kulakukan dan apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Dika, apakah sungguh dia telah m*****i kesucian hubungan rumah tangga ini?

Lama aku terdiam hingga Putriku bertanya kembali,

"Bunda kenapa diam aja? bunda nggak marah?"

"Bunda akan cari tahu," jawabku sambil meringis menahan hati yang sakit, tetap berusaha tegar dan tersenyum dihadapan anak ku berharap bahwa kejadian itu tidak meninggalkan luka untuknya.

"Bunda nggak marah?"

"Bunda akan cari tahu sampai memutuskan untuk marah atau tidak," balasku.

"Aku takut Bunda akan marah dan ribut dengan ayah lalu kalian berpisah," balasnya dengan mata berkaca-kaca, kupeluk dia, bibirnya bergetar hingga tak tahan air matanya tumpah.

"Enggak Sayang, orang besar akan bersikap dewasa dan bijak untuk memutuskan persoalan mereka, jangan khawatir Sayang," bisikku menghiburnya.

**

Pukul enam tiga puluh sore suamiku pulang memarkirkan mobilnya lalu turun, masuk ke dalam rumah sambil bersiul dan bernyanyi gembira, sementara aku dan anakku hanya terdiam di meja makan.

"Hei, sayang-sayangku, kalian lagi ngapain," tanyanya dengan senyum lebar dan tangan yang direntangkan.

Biasanya florina akan berlari untuk memeluk ayahnya namun kali ini anakku hanya menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap sedih.

"Lho, lho ada apa ini?" katanya Mas Dika heran.

"Hmm, gak apa apa, kamu ganti baju aja, Mas, kita makan," balasku.

Kami memang biasa menyantap makanan di petang hari. Entah kenapa tapi itulah kebiasaan.

Sembari menunggu nya aku berpikir bagaimana cara bertanya yang terbaik kepada pria itu. Sepanjang hari hatiku gelisah dan tidak berhenti memikirkan antara kebenaran dan bertanya apakah sebabnya dia melakukan itu.

Mengapa dia harus menghianati ku disaat aku telah setia dan berbakti padanya. Kuda dikasihkan hidup ini dan pengabdianku untuk mengurus rumah tangga kami, Bahkan aku meninggalkan pekerjaanku demi semua ini.

Aku resign dari pekerjaan sebagai teller di sebuah bank hanya demi melayani dia dan anaknya, bencikah kenyataan telah berselingkuh maka tidak akan butuh waktu lama untuk aku mengajukan perceraian.

Ketika mengeja kata Cerai, ada nyeri di dalam hatiku, namun jika harus bertahan dalam rumah tangga yang sudah dikhianati maka tidak akan menutup kemungkinan bahwa aku akan dipermainkan lagi. Ah, dilema yag sungguh menyakitkan, tak kuat juga aku bayangkan jika harus melihat florina kehilangan orang tuanya, kami akan saling berpisah dan dia akan mengikuti salah satu dari kami. Semakin dipikirkan akan membuat airmataku tumpah.

Tak lama kemudian Mas Dika turun dan menyapa kami di meja makan, dia duduk masih dengan senyum ceria dan langsung menyendokkan nasi ke piringnya.

"Ayo makan, kok kalian diam aja?" tanyanya seolah tak terjadi apa apa.

"Iya, Mas, makan aja," balasku.

"Ayo dong makan," balasnya meletakkan nasi dalam piring kami, namun aku dan Flo nampak tidak b*******h.

Di tengah-tengah sibuknya diam menikmati makanan yang menurutnya sangat lezat, aku bertanya.

"Begini, Mas? Aku mau tanya, apakah kamu pergi ke suatu tempat ketika jam kerja tadi?"

Dia yang sedang sibuk mengunyah makanan langsung berhenti dan meletakkan sendoknya di piring. Pria itu tampak gugup dan segera meraih air lalu meminumnya.

Aku paham gesturnya.

"Uhm, tidak, aku sibuk di kantor."

"Oh ya, Apakah ada orang yang meminjam mobilmu?"

"Kok nanya sih, kalian kenapa? Aneh-aneh deh," ujarnya tertawa kecil. "Mobil yang sama di kota ini ada jutaan jumlahnya," lanjutnya.

"Tapi aku lihat ayah dengan cewek berambut pirang, dan ayah pakai mobil kita," balas Flo dengan tatapan tajam. Anak kami emang anak yang pintar dia lantang menyuarakan pendapatnya dan dia berani mengutarakan itu karena memang kami mengajarkan dia untuk berani angkat suara, dan tidak perlu malu.

"Ah, enggak kok Flo, kamu salah lihat aja," jawabnya.

"Aku lihat jelas, ayah jangan bohong!" Anakku langsung beralih ke kamarnya dengan wajah kecewa.

"Florina, tunggu Nak, makan dulu," cegahku. Namun anakku melenggang begitu saja dengan marahnya.

"Ini pasti gara-gara kamu," ucap Mas Dika dengan raut wajah yang marah.

"Justru itulah yang ingin aku tanyakan kenyataannya karena anak kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri," balasku tenang.

"Oh ya, kamu langsung percaya aja, sama anak kecil yang mungkin saja salah lihat," lanjutnya kesal.

"Aku khawatir bahwa itu kenyataan," balasku pelan.

Prang!

Dia langsung melempar gelas ke lantai dan tatapannya langsung nanar dan murka,

"Omong kosong menuduhku berselingkuh sementara aku mencari nafkah sepanjang hari di kantor tanpa memperdulikan rasa lelah dan ngantuk. Teganya kamu meracuni pikiran anak kita dengan tuduhan seperti itu kepada ayahnya!"

"Hei, siapa yang meracuni pikiran ya aku malah khawatir bahwa itu akan meninggalkan semua trauma yang dalam untuk anak kita, karenanya Aku sedang memikirkan konseling dan mencari cara denganmu mengapa kau harus marah seperti ini?!"

"Karena aku tidak selingkuh!"

"Lantas siapa yang menggunakan mobilmu, jika kau sendiri mengaku tidak ada yang meminjamnya. Arah kita punya ingatan yang tajam dan dia tahu persis bahwa plat nomor mobil itu adalah milik kita dan orang yang ada di dalamnya adalah kamu!"

Mendadak suamiku langsung terdiam mendengar jawabanku. Dia meletakkan sendok lalu pergi ke kamar dan menutup pintunya dengan kencang. Sementara aku hanya terduduk lemas sambil memperhatikan sisa makanan di piring dan pecahan kaca di lantai, hatiku terluka dengan ribuan pertanyaan yang butuh jawaban.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Suamiku Miskin Tapi Bohong

read
11.5K
bc

Menantu Kaya Raya

read
51.0K
bc

Aku Pewaris Konglomerat

read
2.1M
bc

Menantu Dewa Naga

read
85.6K
bc

Aggresive CEO

read
54.9K
bc

AKU PRIA TERKAYA

read
6.3K
bc

Pulau Surga

read
303.5K