“Adam, aku kangen..” Lagi-lagi bibir kata-kata itu terucap dari bibir Ciara dan membuat Adam setengah panik tidak bersuara sedikitpun. “Ehm, mau dipeluk, Dam.” Lagi-lagi Ciara bicara perlahan. Setelah beberapa saat membisu dan memperhatikan istrinya, barulah Adam sadar kalau Ciara tengah mengigau dalam tidurnya. Bukan helaan nafas lega yang Adam hembuskan, namun melihat Ciara masih saja mencari dan merindukan dirinya semakin memberatkan niatnya untuk pergi jauh dari Cia-nya. Perlahan memeluk istrinya agar tidak mengenai bagian tubuh terluka Ciara, Adam berusaha memberikan kenyamanan terakhir untuknya. Mengecup, mengusap lembut kepala Ciara yang sudah separuh botak itu agar istrinya semakin lelap, berharap Ciar pun dapat merasakan apa yang dilakukannya ini meskipun rasanya mustahil. “A

