I Zevia kembali ke meja. Mengundang ribuan pertanyaan dari keempat sahabatnya yang berpredikat sebagai tukang kepo. Berbagai pertanyaan terlontar namun tak ada satupun yang terjawab. Moodnya benar-benar memburuk secara mendadak. Hanya diam yang menjadi obat agar moodnya kembali membaik.
Ia mengotak-atik ponsel dan berharap Ansel akan mengiriminya pesan. Namun, sejak mengantarnya pulang, Ansel sama sekali tak me-notif-nya. Hal itu semakin memperburuk suasana hati. Saat dibutuhkan untuk pembangkit semangat, justru Ansel mendadak hilang ditelan bumi.
“Girls, gue balik duluan, ya. Mood gue bener-bener down, nih.” Zevia sudah mengalungkan tasnya bersiap untuk bangkit. Akan tetapi, tertahan oleh Vranda. “Kenapa, Vran?”
“Lo kenapa? Cerita sama kita kalau ada masalah. Jangan dipendem sendiri, Zev.” Vranda menahan si Gadis Berkacamata itu untuk tetap duduk di tempat. Pernyataan Vranda diangguki oleh ketiga sahabatnya yang lain. Namun, Zevia benar-benar tak bisa menceritakan apapun sekarang. Ia tak ingin rahasia yang telah ia tutup rapat-rapat memiliki celah untuk terbongkar di saat yang tak tepat.
“I’m fine. Cuma lagi males aja di sini. Ada si Kutu Kupret yang sok umbar kemesraan itu. Kalian tau sendiri, ‘kan. Betapa nyebelinnya si Tengil itu?” ucap Zevia sedikit pelan sambil melirik ke meja Gezra dan Kyra.
Mungkin karena merasa dipandangi, Gezra melirik ke arah Zevia. Melontarkan tatapan malas dan akhirnya kembali fokus ke gadis yang duduk di depannya. Untung saja Kyra duduk dengan posisi membelakangi Zevia dan kawan-kawan. Sehingga gadis polos itu tak mengetahui kalau Gezra dan Geng Gadis Angkuh tengah beradu ketajaman mata.
Valen mengangguk kuat. Ia menelan cemilannya terlebih dulu sebelum melontarkan apa yang ingin ia katakan. “Setuju. Gezra itu makhluk paling nyebelin se-galaxy bimasakti!” ucapnya pelan hampir berbisik namun penuh dengan penekanan.
“But, dia cakep. Keren. Auranya keluar gitu dengan sendirinya. Ya, sebelas duabelas, deh, sama si Ansel,” timpal Eliz sembari memasukkan french frice ke mulutnya.
Zevia menggeleng kuat. “No, no, no. Gue nggak setuju. Jelas keren Ansel kemana-mana, dong. Gezra, mah, cuma segelintir remahan debu di mata gue.”
Ucapan Zevia membuat Eliz memutar bola matanya malas. Sedangkan Emma hanya tersenyum miring. “Well, lo bilang gitu karena di mata lo hanya Ansel yang paling sempurna. Beda sama kita yang masih jomblo, dong, Zev.” Emma menambahi pernyataan yang dibenarkan ketiga sahabatnya.
“Ah, sama aja. Gue masih jomblo pun, nggak akan pernah nganggep si Kutu Kupret itu lebih cakep dari Ansel.” Zevia tetap tak ingin membenarkan kekaguman kawan-kawannya terhadap Gezra. Munafik memang, dalam hati Zevia membenarkan itu semua. Namun, tetap harga diri yang utama. Sampai kapanpun, Zevia takkan mengakui bahwa Gezra dan Ansel berada di level yang sama.
▪️▪️▪️
Hari sabtu menyebalkan. Tak ada kuliah dan hanya tiduran di rumah. Bosan. Sangat. Apalagi tak ada notif dari sang kekasih sejak kemarin. Menuai kecurigaan memang. Namun, Zevia tetap menaruh kepercayaan dan positif thinking. Ia tak mau overthinking dan membuahkan ending penyesalan.
Sekarang kegiatannya hanya tidur dengan selimut tebal membungkus dirinya hingga ke kepala. Persis terlihat seperti ulat bulu raksasa. Ia belum menginjakkan kaki ke lantai sejak terbangun dari jam empat lalu. Rasa malas tengah bersemayam di dalam dirinya.
Meskipun berulang kali suara gedoran pintu terdengar, Zevia tetap tak peduli. Seolah telinganya mendadak ditulikan oleh rasa mager –malas gerak. Teriakan-teriakan khas Rora sebenarnya menyakiti telinga, namun apalah daya, rasa malas sedang menggelayut manja.
“KAKAK! BANGUN! SARAPAN DULU!”
Begitulah sekiranya apa yang diteriakan oleh Rora. Mungkin sudah ada belasan kali Rora meneriakkan kalimat yang sama. Namun, Zevia masih tak bergeming dari tempat tidur. Hingga akhirnya, suara Rora menghilang begitu saja. Mungkin sudah menyerah dengan kelakuan sang Kakak.
“Sumpah, gue laper. Tapi gue mager. Siapapun tolong bawain makanan ke kamar, dong,” gumamnya merasakan perutnya yang keroncongan. Namun, tangan dan kakinya tak ingin bergerak sama sekali.
KLING!
Suara ponsel bergetar membuatnya bangkit. Ia langsung mengambil ponsel yang ada di meja sebelah ranjang dan membaca nama yang tertera di layar ponsel.
Ansel!
Akhirnya sosok yang dinanti muncul di layar ponselnya. Mengirimi sebuah pesan dengan isi yang membuat hati berbunga-bunga. Semangatnya kembali ter-charge dan mengalahkan rasa malas yang sejak tadi bermanja ria.
*Ansel : Good Morning
Dengan lincah jemarinya langsung membalas pesan singkat namun mampu meningkatkan moodnya berkali-kali lipat. Saat semua jawaban sudah terketik, Zevia pun mengirimkan pesan itu ke sang Kekasih.
Drrtt
Getar ponsel kembali terdengar. Kali ini bukan sekadar pesan singkat melainkan sebuah panggilan masuk. Tanpa basa-basi dan melihat siapa sang Penelpon, Zevia langsung mengangkatnya dengan semangat.
“Halo, Sayang. Tumben banget langsung nelfon,” ucap Zevia saat mengangkat panggilan itu.
Belum ada jawaban dari arah si Pemanggil sampai beberapa detik. Hingga akhirnya sebuah suara keluar dari speaker handphone Zevia.
“Sayang-sayang kepala lo peyang. Gue Gezra. Bukan Sayang-nya lo!” ketus si Pemanggil yang ternyata adalah si Kutu Kupret –Gezra.
Sontak Zevia membulatkan matanya hingga bola matanya terlihat ingin meloncat ke luar. Ia melihat nama yang tertera di layar ponsel sebagai pemanggil. Kutu kupret. Benar. Sosok yang menelfonnya bukanlah sang Kekasih, melainkan si Kutu Kupret yang menyebalkan.
“So–sorry, gue pikir Ansel.” Zevia menggunjing kebodohannya sendiri dalam hati. “Ada apa lo nelfon gue? Nagih utang?” tanyanya dengan sedikit ketus.
Helaan napas terdengar dari arah sana. “Mama pengen ketemu sama lo. Lo libur kuliah, ‘kan? Gue jemput sekarang. Buruan siap-siap, gue udah on the way.”
TUT
Panggilan terputus. Zevia dibuat melongo dengan ucapan Gezra. “Wait? Tante Fraya pengen ketemu gue. Dan sekarang ... Gezra dalam perjalanan?” Ia berusaha mengingat ucapan Gezra kembali. “Sialan! Gue belum mandi!” Dengan gerakan secepat kilat, Zevia menyambar handuk dan langsung masuk ke kamar mandi.
Tanpa berlama-lama di kamar mandi, ia keluar dengan sehelai handuk dan membongkar isi lemari untuk menemukan outfit yang cocok. Setelah menemukan satu stel outfit yang ia inginkan, ia segera membalutkan outfit itu ke tubuhnya.
“KAKAK! ADA BANG GEZRA, NIH!” Teriakan Rora kembali terdengar dengan kalimat yang berbeda.
“Iya! Suruh tunggu sebentar!” balas Zevia dari dalam kamar. Ia merias diri secukupnya. Hanya menaburi bedak ke wajah dan memoleskan liptint tipis-tipis. Setelah itu menyambar tas selempangnya dan bersiap ke rumah sakit.
▪️▪️▪️
Kamar 118 terlihat sepi. Sosok wanita dengan kepala tertutup topi dan berbagai alat medis mengelilinginya tengah tertidur lelap. Tak ada siapapun di dalam kamar 118 selain Fraya –sosok wanita itu. Zevia yang baru saja datang langsung mendekati Fraya dan berbisik, “Tante, Zevia udah di sini.”
Namun, bisikannya belum mendapat balasan. Ia hanya mendapat perintah halus dari Gezra untuk duduk di sofa terlebih dulu. “Duduk sana dulu, mama baru aja minum obat jadi mungkin efeknya ngantuk.”
Zevia mengangguk. Ia pun duduk di sofa dan memainkan ponselnya sembari menunggu Fraya terbangun. Beberapa saat kemudian, Ganiel –Papa Gezra datang dengan membawa sekantong plastik buah apel. Buah kesukaan Fraya dan Zevia.
“Hei, Zev. Udah lama di sini?” sapa Ganiel membuyarkan konsentrasi Zevia yang tertuju pada ponsel. “Nih, Om beli apel. Kamu suka, ‘kan?”
“Hai, Om. Baru aja nyampe, kok. Wah, manteb, tuh, apelnya. Kebetulan Zev belum sarapan,” ujar Zevia cengengesan. Ia bangki dari sofa dan menerima sekantong plastik berisi apel itu dan menata apelnya di piring.
Suara gaduh yang sempat tercipta tiba-tiba membangunkan Fraya. Dengan suara lirih, Fraya memanggil Zevia untuk mendekat. Zevia pun menurut dan mendekat ke arah Fraya.
“Hai, Tante Fraya. Tante minta apa? Sini Zev ambilin.”
Fraya tersenyum. “Tolong ambilkan barang yang ada di laci ini.” Fraya menunjuk meja kecil yang ada lacinya.
Zevia mendekati meja itu dan menunjuknya, “Meja ini, Tan?”
“Iya, Zev. Ambil barang yang ada di sana,” perintah Fraya dengan suara paraunya.
Tanpa berbasa-basi, Zevia langsung membuka laci itu dan menemukan sebuah kotak merah persegi panjang. Kotak itu cantik dan mempesona. Ia yakin, barang yang ada di sana pasti sangat berharga bagi Fraya. Zevia pun langsung membawa kotak itu ke arah Fraya tanpa membukanya terlebih dulu. Sedangkan Gezra hanya memandangi dua wanita itu dari sofa.
“Gez, sini, Nak.” Dengan sigap Gezra langsung bangkit dan mendekati sang Mama. “Bukakan kotak itu untuk Zevia.”
Kening Zevia mengerut heran. Ia memberikan kotak merah itu pada Gezra dan Gezra pun langsung membukanya. Memperlihatkan sebuah liontin berbentuk tetesan air. Cantik. Kombinasi warna perak dan biru laut memperlihat keanggunan dan kemurnian.
“Liontin itu adalah liontin warisan dari nenek kamu, Gez. Dan sekarang ... Mama wariskan liontin itu untuk calon istrimu, Zevia.”
▪️▪️▪️