“Negatif, Ma,” kataku lesu, usai menggunakan alat tes kehamilan pemberian Mama. Mama yang sedang nonton TV bersama Rania menoleh, dan membisu sejenak. “Oh, ya, ga apa-apa,” ucapnya kemudian. “Kalau masih gagal tinggal usaha lagi. Lagian, test pack itu bisa saja salah.” Mama lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. “Nih, Mama tadi berbagai macam merek test pack.” Tiga bungkus test pack Mama berikan padaku yang masih melongo tak percaya. “Nanti di rumah kamu coba lagi. Biasanya yang paling akurat itu kalau kita cek pagi hari pas bangun tidur.” Aku mengangguk sembari tersenyum. “I-iya, Ma.” “Moga hasilnya positif!” ucap Mama dengan senyum mengembang. “Rania mau kan punya adik?” Dipeluknya Rania sembari berbisik di dekat telinganya. “Punya adik?” Gadis kecilku itu menoleh. “Mau .

