Mak Comblang

1441 Words
Pada jam istirahat kantor, aku minta izin pada Pak Wira untuk keluar. Aku akan menjalankan misi mengenalkan Viona dan Arman. Skenarionya begini, aku akan menemui Viona duluan di resto, kemudian Arman kuminta untuk datang. Setelah itu aku akan meninggalkan mereka berdua biar bisa ngobrol lebih leluasa. “Nadia! Sini!” Viona melambaikan tangan saat aku memasuki resto. Dia terlihat memesona sekali hari ini. Tubuhnya berbalut blus berwarna salem dan celana rok sebawah lutut berwarna hitam. Kalung etnik cantik menjuntai di leher. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai, dipermanis dengan penjepit rambut. “Udah dari tadi, Vi?” tanyaku sambil mencium pipi kanan dan kirinya. “Nggak, baru sepuluh menitan.” Aku mengeluarkan ponselku. “Kuhubungi Arman dulu, ya.” Ia mengangguk dengan semangat sambil tersenyum lebar. “Aku lagi makan di resto Palawija bisa datang?” Kukirimkan pesan Whats*pp pada Arman. Dalam hitungan detik, ia sudah menjawab, “OTW.” Aku lantas memesan makanan dan mengisi waktu menunggu Arman dengan ngobrol bareng Viona. Ia menanyaiku A sampai Z tentang Arman. Mulai dari pekerjaannya sampai makanan favoritnya. Kami juga banyak bernostalgia tentang masa-masa SMA. Viona bercerita sebenarnya sudah semenjak SMA dia naksir Arman, tetapi tidak berani bilang. Ah, coba dia mengatakan atau paling tidak menunjukkan sinyal pada Arman, mungkin mereka sudah jadian sejak dulu. Sempat terbersit menunjukkan fotoku berdua dengan Viona yang kutemukan di buku agenda Arman, tetapi kuurungkan. Aku takut saja Arman tidak berkenan karena masih ingin merahasiakannya. Saking serunya kami mengobrol, aku sampai tidak sadar dengan kedatangan Arman. “Kenapa tidak menungguku menjemput di kantor?” Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depan meja kami. “Eh, kamu udah dateng. Duduklah.” Aku menggeser kursi di sebelahku sedikit menjauhi meja. “Kamu kenal Viona kan?” tanyaku saat Arman sudah duduk di sampingku. Arman menoleh pada Viona. Viona balas memandang dengan senyuman termanisnya. “Teman SMA?” tebaknya. “Betuuul.” Aku mengacungkan jempol. “Wah, ternyata kamu masih inget. Eh, eh, pesen makanan dulu, deh.” Kusodorkan buku menu pada Arman. “Tidak usah, aku belum lapar.” Viona mengambil buku menu dari tanganku. “Biar aku yang pesankan. Beef steak di sini enak. Pesen ini saja, ya?” “Mas!” Viona melambaikan tangan pada salah seorang pramusaji. Arman masih berusaha menolak tawaran Viona, tetapi waiter sudah keburu datang dan Viona sepertinya tidak peduli dengan penolakannya. “Beef steak satu, sama minumnya, oh, ini saja, kelapa muda jeruk. Cepetan, ya, Mas!” Arman menghela napas, sementara Viona hanya nyengir penuh kemenangan. Kami melanjutkan makan sambil ngobrol, tapi Arman lebih banyak diam, sehingga sesekali aku dan Viona sengaja menyeretnya dalam pembicaraan. “Eh, sekarang masih suka main basket nggak?” tanya Viona. “Nggak.” Arman menjawab singkat. Dasar pelit! Sekedar menjawab saja irit amat. “Kenapa?” “Nggak sempet.” “Dia masih main basket, kok, tetapi bolanya kecil, ringnya pendek, lawannya anak tiga tahun,” kataku mencoba mencairkan suasana. Iya, Arman memang masih suka main basket dengan Rania. Olahraga rutinnya sekarang paling-paling fitnes. Ada home gym di teras rumah Mama. Aku dan Viona tertawa sedangkan Arman hanya tersenyum, sedikit, dan sepertinya dipaksakan. Seorang waiter datang membawa makanan yang dipesan untuk Arman. Cepat-cepat aku habiskan nasi briyani pesananku. “Eh, aku duluan, ya, takut dicariin si Bos,” kataku setelah meneguk es jeruk sampai tandas. “Aku antar.” Arman ikut beranjak. “Jangan, makananmu saja baru datang,” cegahku. “Iya, aku temani, ya. Aku lowong, kok, hari ini. Lagian pas reuni kemarin kita nggak sempet ngobrol, lho!” “Nah, kalian ngobrol aja dulu. Dadaaah!” Aku melambaikan tangan dan bergegas pergi. Jangan sampai Arman menyusulku. Kasihan Viona. Sebentar lagi pukul satu. Aku harus cepat kembali ke kantor. Kalau tidak, bisa kena omelan Bos. Bukan Pak Wira tentu saja, tetapi Galang. Aku berjalan cepat sambil memesan ojek online dari ponsel. Sesekali menoleh ke belakang memastikan Arman tidak mengikuti. Namun aneh, hatiku justru mendadak terasa hampa saat melihatnya tak ada. Kembali berjalan, tiba-tiba aku menabrak seseorang. “Eh, maaf,” kataku sambil mengangkat wajah. “Kamu ... lagi?” Aku kaget melihat sosok di depanku. “Pak Ga-lang,” ujarku terbata. Oh, dunia ini mengapa begitu sempitnya. Nggak di kantor, nggak di luar kantor, mengapa kami harus selalu bertemu, sih! “Mau ... makan, Pak?” tanyaku basa-basi. “Iya! Mau makan orang!” Ia menjawab kasar lalu menengok jam tangannya. “Kamu sudah terlambat tujuh belas detik!” Astaghfirullah, kebangetan memang ini Bos, waktu sekolah nilai matematikanya pasti sempurna. “Maaf, Pak, saya mau kembali ke kantor.” “Perjalanan ke kafe saya dengan kendaraan bermotor butuh waktu tujuh belas menit!” “Kalau Bapak menahan saya di sini, saya bakal lebih lama lagi sampai kantor, Pak!” Aku berucap sebal. “Permisi, saya mau pesan ojek dulu, Pak.” Aku menganggukkan kepala dan hendak berlalu pergi, namun ucapannya kembali membuat langkahku terhenti. “Menunggu ojek datang bisa menghabiskan waktu lima sampai sepuluh menit.” Grrrh, rasanya ingin marah namun kutak berdaya. “Jadi, menurut Bapak, saya harus bagaimana?” tanyaku akhirnya daripada menjawab tapi salah melulu. “Bareng saya saja! Daripada telat lama, saya yang rugi bayar kamu!” “Lho, Bapak nggak jadi makan?” “Kenapa? Kamu jadi perhatian sekali sama saya, takut dipecat ya?” Salah, lagi! Aku menarik napas kesal. “Maaf, Pak, saya tidak akan lancang bertanya lagi. Sekarang, saya ikut Bapak aja deh, maunya bagaimana.” “Bagus! Jadi anak buah itu, memang seharusnya menurut, jangan kebanyakan membantah!” Galang tersenyum sinis lantas melangkah keluar resto. Di belakangnya aku mengikuti sampai ke mobil. “Saya duduk di mana, Pak? Di depan atau di belakang?” Lebih baik bertanya kan, daripada aku sok tahu dan salah lagi di matanya. “Ya di depan, dong, masa di belakang. Memangnya saya sopir kamu?” “Oh, iya, baik, Pak.” “Kenapa kamu pergi dari kantor tidak pamit?” tanya Galang ketika mobil sudah melaju. “Saya pamit sama Pak Wira, Pak.” “Kenapa tidak pamit pada saya? Kamu tidak menganggap saya bos kamu?” Duh, baru kali ini aku ketemu bos sukanya cari keributan. “Saya pikir izin ke Pak Wira saja cukup, Pak. Maaf.” “Lain kali kalo mau pergi pamit saya, biar saya nggak nyariin.” “Baik Pak. Tapi, ngomong-ngomong, Bapak ada apa ya nyariin saya?” “Emm, itu ....” Galang menggaruk kepalanya. “Saya lupa. Saya mau nyuruh kamu apa jadi lupa, kan, gara-gara kamu pergi nggak pamit!” gerutunya. “Oh, baik, Pak.” Lebih baik tak usah memperpanjang urusan dengannya. Untung dia lupa. Kalau ingat, dia pasti akan menyuruhku melakukan ini dan itu. Setelah itu, kami saling diam. Ada perasaan sedikit gelisah meninggalkan Arman bersama Viona tadi. Apakah Arman berkenan? Dia marah tidak ya? Mengapa Arman tak menghubungiku sampai sekarang? Paling tidak menanyaiku, pulang naik apa atau apakah sudah sampai kantor dengan selamat, seperti biasanya. Bagaimana jika Arman justru senang bisa berduaan dengan Viona? Mungkin saat ini mereka sedang asyik mengobrol, lalu besok mereka jadian, dan merencanakan pernikahan. Ah, bukankah seharusnya aku senang? Jika itu terjadi, ia tak akan mencampuri kehidupanku lagi, kan. Kembali kutatap layar ponsel, menunggu-nunggu, siapa tahu Arman mengirimi pesan Whats*pp. Tapi nihil. Aku mengembuskan napas berat, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil. “Loh, Pak, kok kita lewat sini, harusnya di lampu merah belok kanan, bukan kiri.” Aku baru sadar, Galang salah mengambil jalan. “Gimana, sih? Kok, baru bilang sekarang? Makanya jangan melamun aja!” Aku melongo. Dia yang salah, kenapa aku yang kena marah. “Lagian Bapak ngapain sih, pergi-pergi nggak sama sopir?” Aku balik mengomel. “Kok kamu atur-atur saya. Ya, terserah saya, dong!” ☕☕☕ Pukul 16.45 ketika aku sedang membereskan barang-barang dan bersiap pulang, alarm ponselku berbunyi. “Waktunya pulang, call Arman.” Itu note yang dia ketik kemarin di alarm ponselku. Aku kembali mengecek layar chat. Bahkan sampai jam segini Arman sama sekali belum menghubungiku. Apa harus aku yang menghubungi duluan? Aku menimbang-nimbang sambil terus membereskan barangku yang masih berserakan di atas meja kerja. Setelah semua beres, dengan langkah gontai aku keluar kafe yang mulai sepi. Teman-temanku sudah banyak yang pulang terlebih dahulu karena pekerjaan mereka sudah selesai. Selama masa persiapan pembukaan kafe, Pak Wira membebaskan kami pulang jam berapa saja asalkan sudah merampungkan pekerjaan. Sebagai markom, pekerjaanku cukup padat dibanding yang lain. Aku harus mempersiapkan konten sosmed, merancang kegiatan promosi, seta mengkoordinir media dan influencer yang akan diundang untuk acara launching kafe. Sebenarnya bisa saja kukerjakan di rumah, tetapi aku lebih suka tidak membawa pulang pekerjaan kantor karena ingin fokus menemani Rania. Duduk di teras kafe sambil memandangi ponsel, aku masih berpikir, hubungi Arman atau ojek online?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD