Menikahi Pria Pengangguran

1500 Words
Suara ketukan sepatu mengalihkan perhatian semua karyawan yang berada di lobi. mereka berhamburan dari lobi dan duduk di kursi masing-masing, sedangkan karyawan yang berada di lantai atas berlari ke tangga darurat agar tidak bertemu dengan bos killer. “Apa mereka sudah berkumpul?” tanya Elina. “Sudah Bu, semua pemegang saham sudah berkumpul di ruang meeting,” jawab Dina lalu masuk ke dalam lift yang sama dengan Elena. “Apa, bukannya kita meeting sama staf divisi?” Dina menelan salivanya, ia benar-benar lupa memberitahu Elina jika semua pemegang saham mengadakan meeting mendadak. “It-itu-” Elina mengangkat tangannya tanda jika ia tidak menerima penjelasan apapun dari sekretarisnya itu. Tepat saat pintu lift terbuka, Elina keluar lebih dulu.Namun, langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruang meeting. Ia menghela napasnya mencoba tetap tenang ketika bertemu dengan para pemegang saham yang tak lain pamannya sendiri. “Selamat pagi,” sapa Elina diikuti Dina. Tapi Elina bergegas mendorong tubuh Dina agar keluar dari ruang meeting dan meninggalkannya bersama pamannya yang sudah sedari tadi menunggu kedatangannya. Hardi memulai pembicaraan. “Ehm, mengenai pembicaraan kita kemarin. Apa kamu sudah memilih pria yang akan menikah denganmu?” Elina menatap ketiga pamannya yang terlihat begitu penasaran dengan jawabannya. Jika ia memilih salah satu dari mereka, jelas mereka tidak bisa diajak kerja sama oleh Elina dan mungkin mereka hanya akan menyusahkan dirinya saja. “Begini Paman, soal pernikahan sepertinya aku enggak bisa menikah dengan salah satu cowok pilihan Paman.” “Tuh kan, sudah aku bilang Elina itu enggak mungkin mau menikah. jadi untuk apa menunggu lagi, tinggal turunkan dia,” sela Chandra yang memang menginginkan jabatannya sejak lama. Elina berdecak menarik atensi pamannya yang semakin kesal karena melihat Elina yang terkesan menyepelekan mereka. “Apa kamu sedang menghina kami?” tanya Heru adik bungsu ayah Elina yang selalu bersikap kasar kepadanya saat ia masih kecil. “Apa aku terlihat menghina kalian. Aku hanya penasaran kenapa kalian begitu menginginkan aku untuk segera menikah?!” Mata Elina melihat ke arah ketiga pamannya yang hanya diam seolah sedang berpikir untuk tidak membuat kesalahan karena Elina yang selalu berpikir kritis. Chandra mulai membuka mulutnya. “Kamu itu wanita Elina, enggak pantas seorang cewek memimpin perusahaan sebesar ini. Jadi biarkan kan salah satu dari kami memimpin perusahaan ini. Kalau enggak, ya terpaksa kamu harus segera menikah karena kami membutuhkan pemimpin seorang cowok.” “Hanya itu?” “Iya,” jawab Chandra dan Heru bersemangat, sementara hadi hanya diam memperhatikan. Elina mengangguk lalu berkata, “Baiklah, aku akan menikah, tapi dengan pilihanku sendiri.” “ Ta-” Elina beranjak dari kursi menghentikan ucapan Chandra yang sepertinya akan menolak ucapan keponakannya itu. Hardi pun berdiri dari kursinya menghalangi langkah Elina. “Kapan kamu akan menikah?” “Secepatnya.” Eliana pun keluar dari ruang meeting meninggalkan mereka bertiga. *** Elina terlihat begitu gusar, bagaimana tidak, ia harus segera menikah sedangkan pasangan pun tidak punya. “Bagaimana ini,” gerutunya frustasi. “Permisi, Non.” Elina hanya bergumam ketika Anna yang tak lain pengurus rumahnya masuk ke dalam ruang kerjanya sembari membawa kopi untuknya. “Kopinya, Non.” Mata Elina menatap Anna, sepintas ia pun ingat dengan pria yang membuatnya kesal tadi pagi. “Ehm … Bi, cowok yang tadi pagi ke rumah siapa?” Anna tersentak mendengar ucapan Elina. “Apa Noah yang non Elina maksud?” batin Anna. “It-itu-” Suara Anna tercekat ia tak berani memberitahu Elina jika Noah adalah putranya. “Aku dengar dia putramu.” “Nona, maafkan aku karena lancang membawa putraku ke rumah. Aku juga sudah memberi makanan untuk mereka. Kami enggak punya makanan karena suamiku enggak kerja, putraku hanya seorang pengangguran yang sibuk bermain game. Sedangkan aku bekerja untuk menghidupi anak dan suamiku.” Sesaat Elina terenyuh mendengar cerita Anna. Namun, itu kesempatan baginya untuk bernegosiasi. “Begini Bi, aku akan memberikan uang seratus juta jika Bibi mengizinkan aku menikahi putramu.” “Noah, Non serius mau menikah dengan anak Bibi?” Elina mengangguk lalu mendekati Anna. “Tapi ada syaratnya.” “Apa itu Non?” Sudut bibir Elina terangkat, ia bahagia karena satu persatu rencananya berjalan dengan lancar. *** “Noah …!” teriakan menggema di balik pintu kamarnya, sedangkan sang pemilik tak bergeming. Noah seorang pria pemalas dan tidak memiliki pekerjaan. Sehari-hari ia hanya bermain game dan menghabiskan waktunya di dalam kamar. Hal itu membuat orang tuanya kesal karena kelakuan anak sulungnya yang tidak berguna itu. “Noah … Noah cepat bangun.” Pria itu hanya berdecak lalu kembali tidur, menutup telinganya dengan bantal. Sementara itu di depan pintu, Anna berjalan dengan cepat pergi ke dapur dan kembali dengan membawa ember yang berisi air. “Mamah, tunggu. Apa yang mau Mamah lakuin?” Intan mencoba menghalangi Anna, tapi Anna tidak memperdulikan putrinya dan malah menyuruhnya untuk membuka pintu kamar Noah menggunakan kunci serep. “Cepat buka!” Intan mau tidak mau membuka pintu kamar kakaknya. “Noah, mamah hitung sampai tiga ya,” ancam Anna bersiap menyiram air ke wajah Noah. “Satu …” Seketika mata Noah membelalak mendengar suara Anna. Belum sempat bangun, air sudah membasahi seluruh kepalanya hingga ke perut. “Mamah …,” teriak Noah tak terima di siram oleh Anna. Dengan kesal Anna melempar ember kosong yang ia pegang ke arah Noah, untungnya Noah tangkas menangkap ember tersebut membuat Anna semakin marah. “Cepat mandi, sebentar lagi kita akan kedatangan tamu.” Setelah mengatakan itu, Anna melangkah ke arah pintu. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali menoleh ke arah Noah dan juga Intan. “Bawa ember itu!” hardik Anna pada Intan. “Dan kamu, cepat mandi. Pakai pakaian yang rapi dan wangi.” Intan dan Noah hanya saling menatap melihat Anna keluar dari kamar. “Memangnya tamu dari mana si, sampai Mamah nyolot kayak gitu?” Intan hanya mengangkat kedua bahunya, tanda jika dia juga memang tidak tahu tamu seperti apa yang akan datang ke rumah mereka sampai beberapa saudara datang hanya untuk membantu Anna memasak untuk menjamu tamu. Tetesan air berceceran di lantai saat Noah berjalan ke kamar mandi, ia tidak pedulikan hal itu bahkan membiarkan kasurnya basah karena ulah mamahnya sendiri. ‘Seperti apa tamu yang datang,’ batinnya. Ide jahil pun melintas di otak Noah, sudut bibirnya terangkat ketika memikirkan ide gila yang membuat orang tuanya malu karena ulahnya. Dua puluh menit kemudian, Noah keluar dari kamar mandi yang berada di sudut kamarnya. Matanya melihat adiknya membawa sprei yang basah berjalan melewatinya. “Kata Mamah buruan keluar, mandi kok lama banget kayak anak gadis aja!” cibirnya. Bibir Noah berkomat-kamit, tangannya pun refleks mencubit perut Intan. “Ngomong apa kamu?” “Mamah … kak Noah mukul aku!” teriak Intan. “Noah.” Keduanya bisa mendengar suara Anna yang berteriak dari luar kamar. Rumah yang berukuran tujuh kali sembilan itu, bisa mendengar dengan jelas suara yang berada di sisi ruangan lain. “Dasar cepu,” gerutu Noah mendorong adiknya untuk segera keluar dari kamarnya. Noah lalu mengganti pakaiannya, tak mempedulikan suara di luar kamar yang seperti tengah ramai menyambut tamu yang datang. *** Elina menatap rumah kecil yang ada di hadapannya, lalu membuka kacamata yang ia gunakan untuk memperjelas penglihatannya. “Beneran ini rumahnya, kecil banget?!” Supir Elina melihat alamat yang diberikan Anna lalu berkata, “Iya, Nona. Ini alamat rumah yang diberikan oleh Bi Anna.” Elina melihat Anna berjalan ke arah mobilnya lalu membukakan pintu untuknya. “Selamat datang di rumah bibi,” ucap Anna menyambut kedatangan Elina. Elina tak bergeming bahkan ia terlihat biasa saja melihat beberapa orang berdiri menyambut kedatangannya. Wajah dingin yang ia tunjukkan membuat Intan dan Budi terlihat risih melihatnya. “Ayo, masuk.” Anna mempersilahkan Elina untuk masuk ke dalam rumahnya. Menyingkirkan Budi dan Intan yang berdiri di depan pintu masuk. Elina duduk di kursi, di ikuti Anna. Namun, Anna langsung memukul paha Intan ketika ia akan duduk di sampingnya. Mata Anna melotot menatap ke arah Intan dan Budi bergantian seolah mengatakan jika mereka tidak boleh duduk. “Kenapa kalian hanya berdiri?” tanya Elina menatap Budi dan Intan. Seketika hening, mereka yang berada di depan Elina hanya beradu pandang termasuk Anna yang terlihat bingung. “Ah, ini suami bibi namanya Budi dan di sebelahnya itu Intan, putri bungsu kami.” Budi mengulurkan tangannya ingin memperkenalkan diri kepada Elina, tapi sayangnya Elina hanya diam menatap tangan Budi dan tak berniat membalas jabatan tangannya. Anna memegang tangan Budi lalu menurunkan tangannya sembari menyunggingkan senyum. “Bagaimana kalau kita makan dulu. Bibi sudah mempersiapkan makanan kesukaan Non El. Tunggu ya, bibi siapin dulu.” Semua perhatian tertuju pada pintu yang terbuka. Terlihat sosok pria cupu yang datang dengan kacamata yang menempel serta rambut yang klimis seperti diolesi minyak rambut hingga mengkilap. “Astaga!” Budi dan Intan terkejut melihat Noah yang berpenampilan aneh menurut mereka. “Anak sial-” Anna menutup mulutnya saat ia akan mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Noah yang sedang berdiri di depan kamarnya. "Kamu, ngapain datang ke sini!" tunjuk Noah melihat Elina yang tersenyum sinis menatapnya. Elina berjalan mendekati Noah lalu berkata, "Aku akan menikahimu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD