Hal-hal Kecil Yang Mulai Terasa Salah

1384 Words
Pagi di rumah itu dimulai lebih cepat dari yang Nadira bayangkan. Suara peralatan dapur sudah terdengar bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Nadira terbangun perlahan, sempat merasa bingung beberapa detik sebelum akhirnya ingat—ia sudah tidak lagi berada di rumah lamanya. Ini rumah suaminya. Rumahnya sekarang. Ia duduk sebentar di tepi tempat tidur, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu melirik ke samping. Arga sudah tidak ada. Rasa kosong kecil muncul begitu saja. Tanpa banyak berpikir, Nadira segera bangkit dan keluar kamar. Ia mengikuti suara dari dapur, langkahnya pelan, masih membawa sisa rasa canggung dari hari sebelumnya. Di dapur, ibu mertuanya sudah berdiri dengan rapi, seperti biasa. Semua terlihat teratur. Terlalu teratur. Nadira mendekat dengan hati-hati. “Bu… saya bantu ya?” Wanita itu tidak langsung menoleh. Tangannya tetap sibuk, seolah tidak mendengar. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menjawab singkat, “Tidak perlu.” Nadira berhenti melangkah lebih dekat. Ia berdiri di sana beberapa saat, merasa tidak tahu harus melakukan apa. Tangannya saling menggenggam pelan, mencoba menahan rasa kikuk yang semakin terasa. “Ada yang bisa saya kerjakan?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan. Wanita itu menoleh. Tatapannya sekilas turun dari ujung kepala sampai kaki Nadira. “Kalau memang mau membantu, tidak perlu ditanya terus.” Nadira mengangguk cepat. “Iya, Bu.” Ia langsung bergerak, mencoba mencari sesuatu yang bisa dikerjakan. Tangannya akhirnya meraih piring-piring kotor di dekat wastafel, mulai mencucinya dengan hati-hati. Air mengalir pelan. Suasana kembali sunyi. Tidak ada percakapan. Hanya suara gesekan piring dan sendok yang beradu pelan. Beberapa saat kemudian, suara itu kembali terdengar. “Di rumah orang tuamu, kamu memang terbiasa bangun siang?” Tangan Nadira yang sedang mencuci sedikit terhenti. Ia menoleh pelan. “Tidak, Bu… biasanya saya juga bangun pagi.” Wanita itu mengulangi satu kata dengan nada yang sulit ditebak. “Biasanya?” Nadira menunduk lagi. “Iya, Bu.” Udara di dapur itu terasa berubah. Lebih berat. Lebih sempit. Seolah setiap gerakannya sedang diperhatikan. Sarapan pagi berjalan tanpa banyak kata. Arga duduk di meja makan, sesekali memainkan ponselnya. Nadira duduk di seberangnya, mencoba makan meskipun selera makannya tidak benar-benar ada. Ibu mertuanya duduk di ujung meja. Tenang. Mengamati. “Arga,” panggil wanita itu tiba-tiba. “Iya, Bu.” “Kamu hari ini berangkat jam berapa?” tanya wanita itu. “Seperti biasa, Bu. Jam delapan,” jawab Arga. Wanita itu mengangguk pelan, lalu melirik sekilas ke arah Nadira. “Jangan sampai pekerjaanmu terganggu.” Kalimat itu terdengar biasa. Tapi Nadira tahu… itu bukan hanya ditujukan untuk Arga. Arga hanya mengangguk. “Iya, Bu.” Nadira menunduk, tangannya menggenggam sendok sedikit lebih erat. Hari itu berlalu dengan lambat. Terlalu lambat. Nadira menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kamar, mencoba mencari kesibukan sendiri. Sesekali ia keluar untuk membantu, tapi setiap kali ia mendekat, selalu ada perasaan yang sama. Seperti tidak benar-benar dibutuhkan. Sore harinya, ia kembali mencoba membantu di dapur. Kali ini tanpa banyak bertanya. Ia langsung mengambil sayur yang sudah disiapkan dan mulai memotongnya pelan. Beberapa detik kemudian—“Potongnya terlalu besar.” Suara itu datang tiba-tiba. Nadira terdiam. Ia melihat hasil potongannya, lalu mengecilkan lagi ukurannya tanpa berkata apa-apa. Belum sampai selesai—“Jangan terlalu kecil juga. Nanti tidak enak dilihat.” Tangannya kembali berhenti. Ada jeda singkat. “Iya, Bu,” ucapnya pelan. Ia melanjutkan lagi, lebih hati-hati. Lebih pelan. Seolah takut salah… meskipun ia tidak benar-benar tahu mana yang benar. Malamnya, Nadira duduk di samping Arga di kamar. Akhirnya. Ada waktu berdua. Ia menatap suaminya beberapa saat, ragu untuk memulai. “Mas…” suaranya pelan. Arga menoleh. “Hm?” Nadira terdiam sebentar. Mencari kata. “Tadi… aku takut salah terus.” Ia tersenyum kecil, mencoba membuatnya terdengar ringan. “Kayaknya aku harus belajar banyak ya…” Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas pelan. “Namanya juga penyesuaian, Nadi. Ibu memang orangnya seperti itu.” Nadira mengangguk pelan. “Iya…” Ia tidak melanjutkan. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Karena di dalam hatinya, ia mulai menyadari sesuatu—Bahwa mungkin… ini bukan hanya soal penyesuaian. Dan perasaan itu kembali muncul. Perasaan kecil yang kemarin sempat ia abaikan. Kini terasa sedikit lebih jelas. Sedikit lebih nyata. Bahwa di rumah ini, ia harus berusaha lebih keras… hanya untuk tidak dianggap salah. Lampu kamar sudah dimatikan. Ruangan menjadi gelap dan sunyi, hanya suara napas Arga yang terdengar pelan di samping Nadira. Nadira masih membuka mata, menatap ke arah langit-langit yang tidak terlihat jelas. Pikirannya melayang, mengingat setiap kejadian hari ini, setiap kata, dan setiap tatapan. Tangannya bergerak perlahan, menarik selimut sedikit lebih tinggi ke atas tubuhnya. Ia memejamkan mata, berusaha untuk tidur. Beberapa detik berlalu. Lalu ia membuka mata lagi, tetapi perasaan tidak nyaman itu tidak hilang. Justru semakin terasa saat semuanya sunyi. Nadira membalikkan badan perlahan, membelakangi Arga, mencari posisi yang nyaman. Meskipun yang terasa tidak nyaman bukanlah tubuhnya, melainkan di dalam dadanya. Sesak kecil yang tidak bisa ia jelaskan. Ia menelan ludah perlahan. Mungkin memang benar, ini hanya soal penyesuaian. Mungkin ia hanya perlu waktu. Pikiran itu ia ulang-ulang, seperti mencoba meyakinkan diri sendiri. Pagi datang lagi. Kali ini Nadira tidak menunggu suara dari dapur. Ia sudah bangun lebih dulu, bergerak lebih cepat daripada kemarin. Rambutnya dirapikan dengan lebih rapi, pakaiannya sudah siap sebelum ia keluar kamar. Dapur masih sepi. Ia langsung bergerak, membersihkan meja, menyusun piring, menyiapkan air. Tangannya mengambil piring yang ada di rak, menyusunnya kembali. Hal-hal kecil yang bisa ia lakukan tanpa harus salah. Setiap gerakannya terasa seperti ujian kecil. Dan ia berusaha melewatinya satu per satu. Suara langkah itu akhirnya datang. Nadira menoleh cepat. “Pagi, Bu." Wanita itu hanya mengangguk tipis. Matanya langsung menyapu dapur, meja yang sudah bersih, piring yang sudah rapi, air yang sudah siap. Tidak ada pujian. Tidak juga teguran. Hanya diam. Dan entah kenapa, itu justru membuat Nadira semakin tidak tenang. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Bu?” tanyanya pelan. Wanita itu membuka lemari, mengambil sesuatu tanpa melihat ke arah Nadira. “Kalau semua sudah kamu pegang, ya lanjutkan saja." Nadira terdiam sepersekian detik. "Iya, Bu." Ia kembali bergerak, tapi kali ini lebih hati-hati, lebih pelan. Seolah setiap suara kecil bisa menjadi kesalahan. Sarapan pagi berlangsung hampir sama. Arga duduk seperti biasa, tenang, tidak banyak bicara. Nadira mencoba makan seperti biasa. Mencoba. "Garamnya kurang." Kalimat itu datang tiba-tiba. Nadira langsung berhenti mengunyah. “Maaf, Bu..." "Masakan itu bukan soal asal jadi,” lanjut wanita itu, tetap dengan nada yang tidak tinggi. “Kalau kamu yang masak, ya kamu harus tahu rasanya." Nadira mengangguk cepat. “Iya, Bu. Nanti saya perbaiki." Ia menunduk lagi. Tidak ada yang membela. Tidak ada yang menambahkan. Hanya sendok yang kembali bergerak pelan di atas piring. Setelah sarapan, Arga berdiri lebih dulu. Ia mengambil tasnya, lalu berdiri di dekat pintu. "Ibu, aku berangkat." "Iya." Arga lalu melirik ke arah Nadira. “Aku duluan, ya." Nadira berdiri cepat. “Iya, Mas... hati-hati." Pintu terbuka. Lalu tertutup. Dan rumah itu kembali terasa berbeda. Lebih sepi. Tapi juga lebih menekan. Nadira berdiri beberapa detik di tempatnya. Lalu mulai membereskan meja. Satu per satu piring ia angkat. Satu per satu suara kecil kembali memenuhi dapur. Sampai— "Kalau sudah selesai, pel lantainya." Nadira menoleh cepat. “Iya, Bu." "Dan jangan setengah-setengah." "Iya..." Ia mengambil kain pel, mulai bekerja. Air dingin menyentuh tangannya. Lantai terasa luas. Lebih luas dari yang ia rasakan kemarin. Setiap sudut ia perhatikan. Setiap gerakan ia ulang kalau terasa kurang. Waktu berjalan pelan. Sangat pelan. Sampai akhirnya ia berdiri lagi, menarik napas kecil. "Sudah, Bu..." Wanita itu datang, melihat sekilas. Tidak lama. "Ulangi." Nadira terdiam. "Masih kotor di sana,” lanjutnya, menunjuk satu sudut kecil. Padahal Nadira tahu itu hampir tidak terlihat. "Iya, Bu..." Ia kembali menunduk. Mengambil kain pel lagi. Mengulang dari awal. Dan di saat itulah— Untuk pertama kalinya, Nadira merasakan sesuatu yang berbeda dari kemarin. Bukan hanya canggung. Bukan hanya takut salah. Tapi lelah. Lelah yang datang terlalu cepat. Untuk sesuatu yang baru saja dimulai. Tangannya tetap bergerak. Tapi pikirannya mulai diam. Dan di dalam diam itu, satu pertanyaan kecil muncul— Sampai kapan ia harus seperti ini? Namun entah kenapa, langkahnya terhenti saat melewati lorong. Suara itu bukan sekadar percakapan biasa. “Saya dari awal sudah tidak setuju dengan pernikahan itu…” Nafas Nadira langsung tertahan. Karena ia tahu— suara itu milik ibu mertuanya. TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD