“Udah satu minggu ini ngak hujan, kalau gini tiap hari kita harus siram terus,” keluh Ucup yang baru datang ke pondok ladang yang di kelola Alan. Mareka hanya mengolah ladang dan diberikan upah oleh Boss pemilik tanah, dan antara Alan dan Ucup punya Boss yang berbeda. Boss Alan terkenal lebih kaya di kampung dibandingkan dengan Bossnya Ucup.
“Ya dijalani aja Cup, jangan banyak ngeluh. Toh juga kita masih punya gaji kan,” Sahut Alan santai sembari di temani kopi hitam miliknya.
“Tapi kalau gini, kerjaan nambah gaji ngak nambah ceritanya Lan,” Ucup masih mempertahankan keluhannya.
“Dari pada ngak ada kerjaan.”
Mereka diam sejenak, sama-sama menerawang ke masa lalu. Dimana mereka berpindah-pindah tempat karena kehilangan pekerjaan.
“Kalau kemaraunya panjang, kita juga bakal kehilangan pekerjaan lagi Lan. Dan sekarang, kemana kita harus pindah?” sembari mata nanar Ucup bertanya.
“Kita sarankan Boss bikin sumur bor, supaya sumber air tetap ada,” sahut Alan masih dengan kesantaiannya.
“Sumur di ladang kami juga sekarang udah sekarat malah. Kalau ngak sore, besok pasti disuruh gali lagi tuh. Dan jelas, aku lebih baik angkut air dari tempat kamu Lan dari pada gali sumur itu.”
“Loh, kenapa emang. Dimana-mana, dekat lebih baik Cup.”
“Nyawa taruhannya Lan. Tuh sumur, di ngak diapa-apain aja tanahnya rontok berkeping-keping. Lu mau pas sahabat lu masuk ke sana ngak bisa keluar lagi?”
“Idih serem,” ucap Alan kaget.
“Lu kan anak reset tuh, gimana menurut lu kalau udah gitu?”
“Ya kalau masih mau hidup ngak usah masuk lah. Itu tanahnya gembur, rawan longsor. Ada sih gwa baca berita, Bapak-bapak nekat masuk sumur yang kayak gitu. Pas di gali, ya bener kata lu Cup, tanahnya jadi longsor karena ada pergerakan di bagian bawah. Bapaknya meninggal pun ngak ada yang berani turun buat ambil jasadnya di bawah.”
“Ih,.. seerem,” Ucup menggerdik ngeri.
“Dan itu memang kejadian, bukan fiktif belaka.”
“Aku punya rekomen tempat baru Lan,” Ucup mengatakan maksud aslinya setelah lama muter-muter panjang lebar.
“Maksud lu kita mau pindah lagi. Lah capek atu Cup.”
“Ini tempat bisa kita beli dengan harga murah, jadi kita bisa bikin sawah di sana tetap dengan harga murah itu,” ucap Ucup penuh semangat.
“Murahnya masih diangka puluhan juta Cup, masih ngak terjangkau buat orang kecil kayak kita.”
“Ngak sampe Lan, tanahnya rawa-rawa gitu. Dan katanya itu jauh lagi masuk ke dalam hutan. Di pinggir sungai gede gitu deh. Orang-orang kampung juga bisa di bilang ngak pernah masuk ke sana, makanya Kepala Desa mau jual. Katanya sih buat nambah khas desa, cuma itu bukan urusan kita lah. Bagi kita kan yang penting punya tanah dan bisa menetap Lan.”
Alan mendengarkan dengan serius, tampak ia berpikir begitu lama.
“Kalau itu alasan Kepala Desa buat makan hasil tanah milik pedesaan gimana. Itu kan namanya korupsi Cup.”
“Lan, itu bukan urusan kita. Yang penting kita punya tanah dan ada suratnya,” ucap Usup tegas.
“Kenapa ngak kamu beli duluan kalau ada uang?” tanya Alan.
“Masak cuma keluarga gwa yang pindah Lan. Habis kita di serbu hewan buas di sana kalau sendiri Lan.”
“Iya sih, bersama memang lebih menyenangkan,” sahut Alan masih dengan gaya berpikirnya.
“Ya udah, kamu kasih tahu orang-orang dulu. Berapa yang setuju dan berapa yang enggak setuju. Nanti kita data terlebih dulu. Kan kalau ngak kebeli satu kapling, bisa bagi berapa tuh, jadi uangnya bisa berbagi.”
“Nah itu juga maksud gwa Lan. Nanti kita kompromi lagi deh sama orang-orang di sini.”
**
“jok, Lu iqro’ berapa?” tanya Eko sembari melihat iqro’ lusuh milik Joko. Mereka kini tengah berkumpul di musholah yang berdinding papan dan tidak terlalu luas itu. Jika adzan pun suara miknya hanya terdengar oleh orang sekeliling saja, itu karena toa yang mereka pakai terbilang kecil. Toa adalah corong pengeras suara sejenih speaker.
“Iqro’ dua. Emang lu berapa?” Joko balik nanya.
“Sama, hehe,” Eko meringis.
“Untung kita ngak jadi nikah. Kalau jadi, gimana caranya kita ngajarin anak-anak kita kelak,” ucap Joko menerawang.
“Gwa mau nikah kalau udah bisa baca al qur’an,” sahut Eko dengan senyuman.
“Sama,” sahut Joko.
“Eh, Ustadz udah dateng tuh,” Joko dan Eko dan juga beberapa orang lainnya bergegas duduk bersila dengan rapi.
“Assalamu’alaikum,” Ustadz Hasan masuk musholah. Tadinya Ustadz Hasan sudah ada di musholah di waktu magrib, tapi pulang menjelang isya dan kembali lagi untuk sholat isya berjama’ah sebelum memulai pembelajaran mengaji bersama.
“Wa’alaikum salam Ustadz,” sahut mereka serentak.
“Wah, belum lengkap formasi F4 nih,” Ustadz Hasan melirik Joko dan Eko.
“Oh iya, Alan sama Ucup kemana yak,” Eko dan Joko menoleh ke kiri dan ke kanan tapi tidak menemukan Alan dan Ucup.
“Do’a gih. Abis itu baca ayat-ayat pendek sebelum sholat isya,” Ustadz Hasan berbicara dengan tenang, auranya layaknya aura seorang Ustadz pada umumnya.
“Do’a mulai!” Joko memberi aba-aba.
“Bismillahirahmanirrohim,” Mereka membaca do’a untuk belajar yang terpendek. Setelahnya mereka mulai membaca surat-surat pendek dari Annas, Al falaq, Al ikhlas, Al lahab dan seterusnya hingga waktu Isya hampir tiba.
Alan dan Ucup baru tiba saat yang lain masih membaca surat-surat pendek. Ustadz Hasan hanya tersenyum menghadap mereka, Eko dan Joko hanya melirik tapi terus melanjutkan bacaan mereka tanpa bertanya. Alan dan Ucup duduk lalu turut membaca surat-surat pendek.
Hingga surat Annasr mereka diminta berhenti oleh Ustadz Hasan karena waktu sholat Isya sudah masuk katanya.
“Alan, kamu Adzan gih!” ucap Ustadz Hasan.
“Baik, Ustadz,” Alan berdiri dan mengambil mik lalu mulai mengumandangkan adzan. Suara Alan memecah heningnya malam, seperti embun pagi yang membasahi dedaunan, sejuk dan segar. Yang lain mengambil wudhu terlebih dulu ke sumur di belakang. Tapi tidak dengan Ustadz Hasan dan Ucup yang sudah berwudhu dari rumah, begitupun juga Alan.
Setelah adzan mereka melaksanakan sholat qobliah isya, dan sebagian tidak melaksanakan sholat sunah mu’akad itu karena malas. Tidak ada yang memaksa, toh itu hanya sunah. Ustadz Hasan juga hanya senyum melihat yang tidak sholat sunah rowatib lebih banyak dibandingkan dengan yang sholat.
“Eko, komat gih!” Ustadz Hasan meminta Eko untuk komat sebelum melaksanakan sholat isya berjama’ah.
Setelah sholat barulah mereka mengaji, membaca iqro’ dan juga mendengar kajian setelahnya dari Ustadz Hasan. Ini akan akan dilakukan selama empat malam dalam seminggu dan tiga malam mereka libur.