Gedung Blackthorn Tower pagi itu dingin. Bukan karena AC di setel 16 derajat. Tapi karena aura orang-orang di dalamnya. Aira berdiri di lobi lantai satu. Tangannya memegang ujung blazer putih.
Pakaiannya ganti semalam. Rok hitam ketat. Kemeja sutra. Semua dari Reynard. "Istri CEO nggak boleh keliatan miskin," katanya semalam. Aira nggak berani bantah sama sekali. Lehernya masih sakit karena tanda itu.
Tanda hitam di lehernya masih ada. Bersembunyi di balik kolar baju tinggi. Lobi itu luas banget. Marmer putih mengkilap. Lampu kristal menggantung. Tapi suasananya mati. Semua karyawan menunduk.
Nggak ada yang berani liat mata Aira. Nggak ada yang berani senyum. "Nyonya Blackthorn," bisik satpam. Kepalanya nunduk sembilan puluh derajat. Aira kaget mendengarnya. "Nyonya?"
"Iya Nyonya," jawabnya. "Tuan perintahkan panggil begitu." Aira menelan ludah susah payah. Dia istri secara kertas. Tapi rasanya seperti tahanan mewah. Lift kaca terbuka dengan suara pelan. Di dalamnya Reynard.
Jas hitam mahal. Kacamata hitam menutup mata merahnya. Dingin. Mematikan. "Masuk," perintahnya singkat. Aira masuk tanpa berani liat wajahnya. Pintu lift tutup otomatis. Ssshiiing.
Mereka berdua saja di dalam. Senyap. Hanya ada napas Aira yang gemetar ketakutan. "Turunkan kolar bajumu," katanya tiba-tiba. Aira kaget dan menoleh. "Hah?" "Tanda itu. Tutup."
"Jangan ada yang liat," lanjutnya dingin. Tangannya terangkat sendiri mau membetulkan. Jari Reynard tiba-tiba menahan tangannya. Dingin seperti es. "Aku yang lakukan," katanya pelan.
Dia membetulkan kolar Aira sendiri. Hati-hati banget. Terlalu hati-hati untuk ukuran iblis. Aira menahan napasnya. Jantungnya berdegup kencang. Ding. Lift buka di lantai sembilan puluh sembilan.
Kantor CEO luasnya seperti lapangan bola. Kaca semua dari lantai sampai plafon. Meja panjang hitam di tengah. Dua puluh karyawan berdiri berbaris. Menunduk semua. "Selamat pagi Tuan Blackthorn."
Reynard lepas kacamata perlahan. Mata merahnya menyapu ruangan. Dingin tanpa emosi. "Rapat lima menit. Sekarang," katanya. Semua orang duduk tanpa suara. Aira disuruh duduk di sebelahnya.
"Kursi istri," katanya singkat. "Ini Aira Blackthorn," katanya ke ruangan. "Istriku." Ruangan hening mendadak. Mati total. Semua orang menatap Aira sekilas. Lalu langsung nunduk lagi.
"Dia nggak ikut rapat," lanjutnya. "Dia cuma duduk. Jangan bicara padanya. Jangan tatap dia lebih dari tiga detik." Perintah itu seperti hukuman mati bagi semua orang. Rapat dimulai.
Angka. Grafik. Akuisisi. PHK. Reynard bicara datar. Tanpa emosi sama sekali. "Divisi Marketing gagal," katanya. "PHK tiga puluh orang hari ini." "Divisi Keuangan untung dua persen."
"Kurang. PHK manajernya," katanya lagi. Nggak ada yang bantah. Nggak ada yang nangis. Hanya "Baik, Tuan." Aira mual melihatnya. Ini iblis beneran. Dia nggak punya hati sama sekali.
Tengah rapat pintu kaca terbuka paksa. Tiga wartawan masuk terobos. "Tuan Blackthorn!" teriak mereka. "Benar Anda nikah siri semalam? Siapa wanita itu? Skandal!" Satpam panik.
Tapi nggak berani sentuh wartawan sama sekali. Reynard berdiri pelan. Sangat pelan. Aura dinginnya memenuhi ruangan. Suhu turun lima derajat seketika. "Keluar," katanya satu kata.
Tapi suaranya seperti gempa bumi. Wartawan itu mundur ketakutan. "Tapi Tuan..." Reynard berjalan ke depan. Tubuhnya menghalangi Aira total. "Saya bilang. KELUAR!" bentaknya keras.
Matanya merah menyala tanpa kacamata. Wartawan itu menjatuhkan kamera. "Maaf... maaf Tuan." Mereka lari kocar-kacir. Pintu tertutup lagi. Rapat lanjut seperti nggak terjadi apa-apa.
Aira menatap punggung Reynard. Lebar. Kuat. Melindungi. Untuk pertama kali sejak nikah. Dia nggak takut sama sekali. Rapat selesai. Semua orang bubar cepat. Seperti kabur dari neraka.
Tinggal Aira dan Reynard saja. "Ikut aku," katanya. Reynard masuk ke ruangan dalam. Ruang istirahat CEO. Ada ranjang. Ada kamar mandi. Ada bar mini. "Duduk," katanya singkat.
Aira duduk di sofa kulit. Reynard menuang air putih. "Minum. Kamu pucat," katanya. Aira terima gelas itu. Tangannya gemetar. "Kenapa Tuan lindungi saya tadi?" tanyanya pelan.
Reynard menatapnya lama. Diam. "Karena kamu milikku," jawabnya dingin. "Barangku. Nggak ada yang boleh sentuh. Termasuk wartawan." Jawabannya dingin tapi Aira merasa hangat.
"Tuan..." "Jangan panggil Tuan," potongnya. "Panggil Reynard." Aira kaget mendengarnya. "Tapi..." "Panggil," katanya memaksa. "R... Reynard," katanya pelan. Nama itu berat di lidah.
Reynard menutup mata sebentar. Seperti puas mendengarnya. "Bagus," katanya. Tiba-tiba alarm berbunyi. Bip bip. Layar kaca di dinding menyala otomatis. CCTV lobi.
Seorang pria bertopeng masuk. Bawa golok besar. Teriak kencang. "Blackthorn! Keluar kamu iblis!" Semua karyawan lari tunggang langgang. Reynard berdiri. Wajahnya tetap datar.
"Tunggu di sini," katanya. "Jangan keluar." Dia keluar ruangan. Aira panik sekali. "Reynard! Bahaya!" teriaknya. Tapi dia udah keluar ruangan. Aira nggak bisa diam saja.
Dia intip dari kaca. Pria bertopeng itu ngamuk. "Kamu bunuh adikku! Perusahaanmu PHK dia! Dia bunuh diri!" teriaknya. Goloknya diangkat tinggi. Mau nebas kepala Reynard.
Aira menjerit keras. "REYNARD!" Tanpa pikir panjang dia lari keluar. "JANGAN!" Pria itu menoleh. Lihat Aira. "Kamu... istrinya? Mati kamu!" Golok itu berbelok ke arah Aira.
Aira menutup mata rapat. "Aku mati," pikirnya. Tiba-tiba angin dingin. Wussh. Sesuatu narik Aira ke belakang. Kuat banget. Aira jatuh ke d**a keras. Bau tembakau. Reynard.
"Tak." Golok itu jatuh ke lantai. Pria bertopeng itu terpental. Ke dinding. "Brak." Pingsan seketika. Aira buka mata perlahan. Reynard menatapnya marah. Sangat marah.
"Bodoh!" bentaknya. "Siapa suruh keluar? Aku bilang tunggu!" katanya. Aira gemetar ketakutan. "Kamu... kamu mau mati," katanya. Tangan Reynard mencengkeram wajah Aira.
Kuat tapi nggak sakit. "Jangan pernah lakukan lagi. Paham?" katanya. Aira mengangguk cepat. Air mata jatuh. "Maaf... aku takut kamu mati," katanya. Reynard diam.
Matanya melunak sedikit. Hanya sedikit. Dia lepaskan Aira. Berdiri tegak. "Satpam!" katanya. "Bawa dia ke kantor polisi. Jangan bunuh. Aku nggak mau darah di kantorku."
Satpam seret pria itu pergi. Ruangan hening lagi. Aira masih gemetar di tempat. Kakinya lemas. "Kamu kenapa?" tanya Reynard pelan. "Takut?" Aira menggeleng pelan.
"Bukan takut," katanya. "Tapi lega kamu selamat." Reynard terdiam. Matanya menatap Aira lama. Seakan mencari sesuatu. "Kamu bodoh," katanya akhirnya. "Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Aira. Reynard tidak menjawab. Dia berbalik. Menuang wine merah lagi. "Lupakan kejadian tadi," katanya. "Kamu pulang istirahat. Sore ada makan malam."
"Makan malam dengan siapa?" tanya Aira. "Dengan aku," jawabnya singkat. "Istri harus menemani suami." Aira kaget. "Tapi kita kan..." "Kontrak," potong Reynard dingin.
"Kamu tanda tangan 99 malam. Itu termasuk makan malam." Aira menunduk. "Baik." Dia mau keluar. Tapi Reynard menahannya. "Tunggu." "Apa?" Aira menoleh bingung.
"Kolar bajumu miring lagi," katanya. Dia mendekat. Tangannya membetulkan lagi. Kali ini lebih lama. Jari dinginnya menyentuh leher Aira. Aira menahan napas. Jantungnya sakit.
"Udah," katanya. "Jangan sampai ada yang liat tanda itu." "Kenapa?" tanya Aira pelan. Reynard menatap matanya. "Karena kamu milikku," katanya lagi. "Dan aku posesif."
Dia pergi ke meja kerja. Meninggalkan Aira bingung. Aira keluar ruangan. Karyawan menatapnya aneh. Bisik-bisik. "Itu istri Tuan?" "Cantik ya." "Tapi Tuan dingin banget."
Aira pura-pura tidak dengar. Dia masuk lift. Turun ke lobi. Mau pulang. Tapi tiba-tiba lampu berkedip. Krrt krrt. Bayangan Reynard di dinding bergerak. Sendiri.
Padahal Reynard di lantai atas. Bayangan itu tumbuh tanduk. Besar. Melengkung. Sayap terbuka lebar. Aira membeku ketakutan. Hanya dia yang liat kejadian itu.
Karyawan lain sibuk. Nggak ada yang sadar. "Reynard..." Suara Aira bergetar. Dia menoleh ke atas. Tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya bayangan di dinding lobi.
Bayangan itu menatap Aira. Tersenyum. Memperlihatkan taring. Aira menjerit pelan. Semua orang menoleh. "Nyonya kenapa?" tanya resepsionis. Aira menunjuk dinding.
"Tidak ada apa-apa," katanya cepat. Dia lari keluar gedung. Napasnya tersengal. Di luar panas. Tapi tubuhnya dingin. Dia yakin seratus persen. Tadi dia tidak salah liat.
Bayangan bertanduk itu nyata. Dan cuma dia yang bisa liat.