Ruangan itu dingin.
Bukan dingin AC 18 derajat.
Tapi dingin kuburan yang baru dibongkar.
Dingin yang masuk ke tulang sumsum.
Aira meringkuk di ujung sofa kulit hitam.
Kulit sofa itu licin. Dingin. Seperti kulit ular mati.
Jaraknya 10 meter dari Reynard.
Tapi dia merasa seperti jaraknya 1 cm dari kematian.
Dia nggak berani bernapas terlalu keras.
Takut suaranya ketahuan.
Takut jadi sasaran.
Sejak gelas wine itu pecah, sejak dia liat bayangan bertanduk di dinding... dunia Aira sudah bukan dunia manusia lagi.
Ini dunia iblis.
Reynard duduk di kursi kulit tunggal.
Punggungnya tegak. Sempurna. Seperti patung marmer.
Kaki panjangnya disilang. Sepatunya mengkilap. Memantulkan cahaya lilin hitam.
Di meja kaca depannya, ada satu gulungan perkamen.
Tua.
Sangat tua.
Kuning kecoklatan. Seperti kulit manusia yang dikeringkan di bawah matahari neraka.
Ikatan pita hitam. Kusut. Berantakan.
"Ambil", perintahnya. Tanpa menoleh sedikit pun.
Matanya masih menatap kota Jakarta di luar kaca.
Suara itu membuat Aira tersentak.
Seperti ditampar dengan tangan es.
"Saya... saya nggak bisa baca itu, Tuan."
Suara Aira pecah. Serak. Kering.
Dia haus. Takut. Ingin pulang. Ingin ke rumahnya yang bocor.
"Baca."
Satu kata.
Tapi nadanya seperti cambuk yang melayang di udara.
"SEKARANG."
Aira merangkak.
Pelan.
Sangat pelan.
Lututnya sakit di lantai marmer yang dingin seperti es kutub.
Jari-jarinya gemetar saat menyentuh perkamen itu.
Bau.
Bau darah tua.
Bau besi karat.
Bau sesuatu yang mati ratusan tahun lalu dan belum dikubur.
Saat dia buka ikatan pita itu, tulisan merah muncul.
Bukan tinta.
Aira yakin 100%.
Itu darah.
Darah yang sudah mengering, tapi masih keliatan basah dan mengkilap.
KONTRAK 99 MALAM
Tulisan besar di paling atas. Hurufnya berdarah.
Di bawahnya, pasal-pasal.
Pasal 1: Istri wajib berada di dalam Penthouse selama 99 malam berturut-turut. Tanpa bolos 1 malam pun. Tanpa izin keluar.
Pasal 2: Istri dilarang menyentuh barang suci. Salib. Al-Quran. Air Suci. Doa perlindungan. Garam.
Pasal 3: Istri wajib menyerahkan 3 tetes darah setiap malam pukul 00:00 tepat. Tidak boleh kurang. Tidak boleh lebih. Tidak boleh telat 1 detik.
Pasal 4: Jika Istri kabur, mati, atau berdoa untuk kematian Suami...
Maka jiwa Istri menjadi milik Suami. Selamanya. Di neraka tingkat 7. Disiksa selamanya.
Tanda Tangan Darah.
Di bawahnya, ada bekas cap jempol.
Merah kehitaman.
Bukan tinta stempel.
Bekas cap Reynard.
Aira menutup mulutnya. Mau muntah.
Perutnya mual.
"Teteskan darahmu di sini," Reynard menunjuk titik kosong di bawah capnya.
Tangannya masih tidak bergerak dari sandaran kursi.
Aira mengangkat kepala.
Air matanya sudah jatuh tanpa suara.
"Tapi... kenapa darah, Tuan?
Kenapa saya? Kenapa harus darah?"
Reynard akhirnya menoleh.
Pelan.
Sangat pelan.
Mata merahnya menatap Aira lurus.
Tanpa berkedip.
Tanpa emosi.
Seperti menatap serangga yang mau diinjak.
"Karena aku sekarat, Istri."
Jantung Aira berhenti berdetak selama 2 detik.
"Apa... apa maksudnya? Kamu kan kuat..."
"Aku dikutuk."
Dia berdiri.
Gerakannya halus. Tapi cepat. Tidak manusiawi.
Terlalu cepat untuk mata manusia.
Jas hitamnya terbuka sedikit saat dia berdiri.
Di leher kirinya.
Ada luka.
Luka hitam.
Mengering. Tapi bergerak.
Seperti ada cacing hitam di bawah kulitnya.
Merayap. Hidup.
"200 tahun lalu," bisiknya. Suaranya jadi lebih rendah. Lebih berat. "Aku membunuh seorang pendeta di Vatikan.
Dia mengutukku sebelum mati.
Setiap 100 tahun sekali, aku butuh 99 malam dengan darah perawan manusia.
Darah murni. Tanpa dosa besar. Tanpa disentuh pria lain.
Tanpa itu... tubuhku membusuk dari dalam.
Kulitku rontok. Tulangku hancur.
Jiwaku ditarik paksa ke neraka. Oleh dia. Oleh pendeta itu."
Aira mundur. Punggungnya mentok ke sofa.
"Kamu... kamu bukan manusia?"
Bibinya bergetar. Gigi Aira gemeretak.
Reynard tertawa.
Pendek.
Kering.
Tanpa ada setetes pun bahagia di dalamnya.
"Kamu baru sadar sekarang, Aira?
Setelah tanda tangan nikah? Setelah jadi istriku?"
Dia mendekat.
Dalam 1 detik.
Satu kedipan mata.
Dia sudah di depan Aira.
Terlalu cepat.
Tidak ada manusia yang bisa segitu cepatnya.
Tangannya mencengkeram leher Aira.
Tidak mencekik.
Tapi Aira tiba-tiba nggak bisa bernapas.
Udara hilang. Paru-parunya kosong.
"Aku iblis, Aira.
Aku monster yang kamu nikahi.
Dan kamu... adalah obatku.
Darahmu adalah insulin untuk kutukanku.
Tanpamu, aku mati."
Dia melepaskan.
Aira jatuh ke lantai marmer.
Batuk.
Sesak.
Air matanya makin deras.
"Sekarang. Tanda tangan."
Aira menggeleng.
"Tiii...Tidak... saya nggak mau..."
Reynard mendengus.
Pen perak muncul di tangannya.
Ujungnya tajam. Seperti jarum suntik.
"Tusuk jarimu. "
Aira mundur.
"Saya tidak mau! Jangan paksa saya!"
Reynard tiba-tiba menarik tangan Aira dengan kasar.
"Ah....!"
Pen itu menusuk telunjuk Aira dalam.
Darah merah cerah keluar. Banyak.
Reynard menekan jari Aira ke perkamen.
Kuat. Sampai tulangnya sakit.
Sss...
Tulisan di perkamen itu menyerap darahnya.
Seperti spons.
Seperti mulut yang haus darah selama 200 tahun.
Huruf-hurufnya bergerak.
Hidup.
SELESAI.
Perkamen itu tiba-tiba terbakar sendiri.
`Wussh.
Api hitam.
Tidak panas.
Tapi dingin. Dingin neraka.
Jadi abu hitam dalam 3 detik.
Abu itu terbang.
Masuk ke hidung Aira.
"Apa yang kamu lakukan?! Aira terbatuk. Matanya perih. Itu apa?! Racun?!"
"Mengikatmu," jawab Reynard. Puas. Senyumnya lebar. "Kontrak jiwa."
"Sekarang kamu nggak bisa lepas."
Tiba-tiba leher Aira panas.
Sangat panas. Seperti disetrika 1000 derajat.
"Ahhh...."
Dia pegang lehernya.
Ada sesuatu yang muncul di kulitnya.
Tanda.
Hitam.
Bentuk lingkaran dengan simbol aneh di tengahnya.
Seperti rune iblis.
Seperti cap kepemilikan.
"Itu Tanda Iblis, kata Reynard sambil menatapnya. Puas. Sekarang semua iblis lain tahu.
Kamu milik Reynard Blackthorn.
Nggak ada iblis, vampir, atau manusia yang berani sentuh kamu.
Karena kalau berani... aku bunuh. Aku cincang."
Aira menangis sejadi-jadinya.
"Aku mau pulang... aku mau ke bapakku..."
"Bapakmu ?" Reynard tertawa. "Dia yang jual kamu.
Dia tanda tangan kontrak ini 3 hari lalu."
Reynard melempar selembar kertas ke lantai.
Surat.
Tanda tangan bapaknya.
12 miliar. Lunas.
Dengan nyawa anaknya.
Aira mengambil kertas itu.
Tangannya gemetar hebat.
Itu tulisan tangan bapaknya.
"Aira... anakku... maafkan Bapak. Bapak nggak punya pilihan.
Air mata Aira jatuh ke kertas.
Tintanya luntur. Hancur.
"Kenapa... kenapa dia tega...?"
"Karena manusia serakah," kata Reynard dingin. "Termasuk kamu."
"Kamu terima kan? Demi uang? Demi rumah?"
"TIDAK...!!!" Aira berteriak. "Aku dipaksa! Aku diancam!"
"Sama saja."
Reynard berjongkok.
Setara dengan Aira.
Tangannya mengusap pipi Aira.
Kasar. Dingin.
"Mulai sekarang, lupakan bapakmu.
Lupakan dunia luar.
Dunia kamu cuma Penthouse ini.
Dan aku.
Mengerti ?"
Aira menggeleng.
Reynard mencubit dagunya. Sakit.
"MENGERTI?"
"...Mengerti."
Suara Aira seperti bisikan orang mati.
"Bagus."
Ikuti aku."
Malam pertama dimulai sekarang.
Kamar itu luasnya 2 kali ruang tamu.
Tempat tidurnya besar. Hitam. 4 tiang.
Tanpa jendela.
Hanya ada lilin hitam. Ratusan.
Apinya biru. Tidak panas.
"Berbaring."
"Saya... saya belum siap, Tuan... tolong... kasihan...
Reynard berhenti. Menoleh.
"Aku nggak minta kamu siap.
Aku minta kamu nurut.
Atau aku ambil paksa. Dan itu akan lebih sakit. Lebih lama."
Aira menggigit bibir bawahnya sampai berdarah.
Darah.
Lagi-lagi darah.
Tapi dia naik ke ranjang.
Kasurnya dingin. Keras. Seperti batu nisan.
Reynard tidak ikut berbaring.
Dia cuma duduk di kursi dekat ranjang.
Menatap.
Tanpa berkedip.
"Tidur."
"Tapi... saya takut... saya nggak bisa...
"TIDUR, AIRA."
Suaranya menggelegar.
Aira ketakutan.
Tapi matanya berat.
Sangat berat.
Seperti ada tangan tak terlihat yang menekan kelopak matanya.
"Tunggu... Tuan... "
Dia jatuh tertidur.
Dalam.
Sangat dalam.
Tanpa mimpi.
Tanpa napas.
---
Jam 3 pagi.
Tepat.
Aira terbangun.
Tersentak.
Kedinginan.
Selimutnya hilang.
Lehernya sakit.
Perih. Seperti disayat pisau.
Dia pegang lehernya.
Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang dingin.
Logam.
Jarum.
Jarum perak panjang tertancap di leher kanannya.
Darah mengalir.
Pelan.
3 tetes.
Tepat jatuh ke mangkuk kristal di samping ranjang.
"Ahhh...!" Aira menjerit. Suaranya pecah.
Reynard muncul dari bayangan di pojok kamar.
Seperti dia sudah di sana dari tadi.
Mengawasi. Tidak tidur.
"Akhirnya bangun.`"
Aira mencabut jarum itu dengan tangan gemetar.
Darahnya berhenti sendiri.
Ajaib.
Tapi lehernya...
Tanda hitam itu makin jelas.
Bercahaya samar merah.
"Kamu... kamu menusukku saat aku tidur?!
Kamu gila?! Kamu binatang?!
Reynard mengangkat mangkuk kristal itu.
Mencium darah Aira.
Mata merahnya menyipit.
Nikmat.
Seperti pecandu n*****a yang dapat barang.
"Selamat datang di Malam 1, Istri.
98 malam lagi."
Dia meneguk darah Aira.
"Gluk."
Satu tegukan.
Mata merahnya makin terang.
Luka hitam di lehernya sedikit pudar.
"Dan ingat aturan paling penting."
Dia mendekat.
Napasnya dingin di wajah Aira.
Membuatnya menggigil hebat.
"Jangan pernah tidur nyenyak di rumahku lagi."
Karena aku selalu mengawasi.
Selalu."
Lampu kamar padam.
Total gelap.
Total senyap.
Hanya tersisa dua titik merah di kegelapan.
Mata Reynard.
Mengawasi dari kegelapan.
Mengawasi mangsanya.