Disa tersenyum. Namun, hatinya masih menangis. Dia meremas surat Troy dengan geram, dan membuangnya ke sembarang arah. Lalu, Disa kembali berbaring di tempat tidur, memeluk bantal, dan membasahi bantal dengan air matanya. Dia tidak pernah menangis separah ini. Dan dia tidak menyangka kalau alasan dia menangis adalah Troy; sahabat yang dia cinta. Mungkin perasaannya salah. Tapi, bukankah ada seseorang yang bilang, kalau cinta itu tidak pernah salah? Apa itu semua hanya omong kosong? Disa tidak mengerti. Dan dia tidak pernah menyangka patah hati rasanya sesakit ini. Jika tau rasa patah hati ternyata sesakit ini, mungkin dari awal dia tidak mau jatuh cinta. "Adisa, ayo makan, Sayang." Suara Julia terdengar lembut di balik pi

