POV NADIA
Aku terpaksa makan malam lagi di rumah besar ini.
Bukan karena aku mau, tapi karena badai sialan di luar sana membuat semua jalan menuju kota tertutup. Angin berdesing, petir menyambar, dan hujan turun deras tanpa henti. Lucio — dengan nada perintah khasnya — memintaku tetap di rumah dan ikut makan malam bersamanya.
Aku tidak punya pilihan.
Bahkan kalaupun punya, aku tahu dia tidak akan membiarkanku pergi.
Meja makan panjang di rumah ini kini hanya diisi dua orang, aku dan Lucio Devereux.
Dua orang yang sama-sama tenggelam dalam kesunyian yang kaku.
Hanya bunyi hujan di luar dan dentingan garpu di atas piring yang terdengar di antara kami.
Aku menatap piringku.
Ada sup krim jamur yang lembut dan beraroma mentega.
Sementara di hadapanku, Lucio makan perlahan, nyaris tanpa suara, dengan tatapan mata yang terlalu tenang, tatapan yang seperti memantau gerak-gerikku tanpa benar-benar terlihat melakukannya.
Akhirnya, aku tidak tahan.
Ada satu hal yang sejak siang terus mengganggu pikiranku.
“Maaf, Tuan ....” Suaraku terdengar pelan tapi jelas.
Lucio mendongak, sedikit menaikkan alisnya. “Ya?”
Aku menelan ludah. “Di mana istri Anda? Maksud saya … kenapa beliau tidak di rumah?”
Pertanyaan itu membuat suasana yang tadinya hanya sunyi kini berubah jadi berat.
Beberapa detik dia tidak menjawab, hanya menatapku dengan mata biru yang dingin.
Lalu akhirnya bibirnya bergerak. “Istriku sedang pergi liburan ke Bali.”
Aku mendongak kaget. “Bali?”
“Iya.” Senyumnya samar, tapi nada bicaranya ringan. “Kenapa? Kau rindu kampung halamanmu?”
Aku menghela napas panjang, mencoba menahan perasaan yang tiba-tiba menghangat di d**a. “Iya. Sangat rindu, Tuan. Aku rindu orang tuaku dan saudaraku. Sudah dua tahun aku tidak pulang.”
Lucio mengaduk anggurnya perlahan, memperhatikan gerakan cairan merah itu berputar di gelas kristal. “Tenanglah,” katanya akhirnya. “Saat libur musim panas kau bisa pulang ke sana.”
Aku tertawa kering. “Nggak bisa.”
“Kenapa?” tanyanya datar.
“Aku nggak punya uang sebanyak itu untuk pulang pergi ke Bali,” jawabku jujur, sambil menunduk. Ujung sendokku menggurat-gurat kuah sup yang sudah dingin.
“Owh … kendala ekonomi rupanya.” Nada bicaranya terdengar ringan seolah mengajakku bercanda, tapi entah kenapa di telingaku justru terdengar menusuk.
Aku mengangkat wajah, sedikit kesal. “Kenapa Anda nggak ikut istri Anda liburan ke Bali? Kan uang Anda banyak. Nggak mungkin kan, ada kendala ekonomi seperti aku?”
Lucio menatapku selama beberapa detik sebelum bibirnya melengkung, kali ini bukan senyum dingin seperti biasa. Tapi senyum yang nyata.
Senyum yang membuat matanya ikut menyipit sedikit, dan — Ya Tuhan — wajahnya jadi jauh lebih manusiawi daripada biasanya.
“Kau tidak lihat aku di kursi roda?” Nada bicaranya terdengar santai, tapi mengandung sindiran.
Aku refleks menjawab cepat, “Lihatlah. Aku kan punya mata.”
Dan entah kenapa, Lucio tertawa.
Tertawa — sungguhan.
Suara tawa itu rendah, berat, dan lepas. Sampai-sampai aku menatapnya tanpa sadar, sedikit terpana.
Ternyata pria itu bisa tertawa juga.
“Rasanya ribet jalan-jalan ke pantai menaiki kursi roda,” katanya masih dengan nada geli. “Jadi lebih baik aku bekerja saja, memperkaya diriku agar tidak ada kendala ekonomi.”
Aku memutar bola mata, malas. “Dasar sombong!” gumamku pelan.
Lucio mendengarnya, aku tahu dari cara ujung bibirnya sedikit naik. Tapi dia tidak menegurku, hanya kembali menyendok makanannya dengan tenang.
Lalu aku melanjutkan makan dalam diam.
Tapi di balik keheningan itu, pikiranku berputar.
Liburan ke Bali.
Istrinya di sana.
Dan dia di sini … bersama aku.
Entah kenapa, dadaku terasa tidak nyaman.
Bukan karena karena marah — tapi karena sesuatu yang samar, yang belum bisa kutemukan namanya.
Aku mengusap bibir dengan serbet setelah sendok terakhir sup krim itu masuk ke mulutku. “Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan. Terima kasih untuk makan malamnya,” kataku pelan sambil berdiri.
Tapi suara tenang Lucio menahan langkahku. “Nadia.”
Aku menoleh, dan mendapati sepasang mata birunya menatap ke arahku dari balik meja makan. Tatapannya tajam, tapi kali ini tidak menakutkan, lebih seperti … meneliti.
“Kamu suka nonton film?” tanyanya tiba-tiba.
Aku berkedip bingung. “Eh? Film?”
Dia mengangguk sekali. “Ya, film. Kau suka tidak?”
Aku mengangguk pelan. “Suka, sih. Kalau ada sisa gaji, saya pasti pasti pergi ke bioskop.”
Lucio tersenyum samar, senyum yang membuat garis rahangnya terlihat makin tegas. “Bagus. Kalau begitu, ayo kita nonton film bersama.”
Aku sempat terdiam beberapa detik. “Netflix? Di TV maksudnya, kan?” tanyaku ragu, berusaha memastikan. Nggak mungkin juga kalau kota pergi ke bioskop, ini sedang badai.
Lucio hanya menatapku beberapa detik sebelum menjawab, “Yah … bisa dibilang begitu.” Nada bicaranya santai, tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Baiklah,” ucapku akhirnya, pura-pura acuh. “Tapi saya harus mandi dulu.”
“Silakan. Darian sudah menyiapkan pakaian ganti di kamarmu.”
Aku mengangguk dan berjalan menaiki tangga. Tapi ketika sampai di kamar dan melihat pakaian yang dimaksud, aku membeku. Dres satin lembut berwarna biru gelap — dengan tali spaghetti tipis di bahu dan belahan halus di paha kiri. Kainnya halus, dingin di kulit, dan terlalu terbuka.
“Astaga, ini mah lingerie,” gumamku dengan napas berat. Aku memutar bokan mataku. “Kenapa bukan kaus longgar dan celana kain aja sih, Darian?”
Namun setelah beberapa menit berdebat dengan diri sendiri, aku menyerah.
Tidak mungkin aku tetap mengenakan pakaian kerja ini.
Jadi, dengan enggan, aku segera mandi, lalu mengenakan gaun itu. Satinnya menempel di kulit, mengikuti lekuk tubuhku. Hingga aku merasa tidak nyaman — terlalu 'seksi' untuk sekadar menonton film bersama bos besar.
Aku menuruni tangga perlahan, dan siapa sangka, Lucio ada di bawah sana, tepat di ujung anak tangga.
Dia ... dia menunggu aku? Serius, nih?
Dengan kursi roda otomatisnya, dia tampak seperti bayangan elegan di bawah lampu gantung kristal.
Dia memakai kemeja hitam yang terbuka sedikit di bagian d**a, memperlihatkan kulit pucat dan garis otot samar di balik kain.
Tatapannya naik, menelusuri tubuhku sebentar sebelum akhirnya bertemu dengan mataku. “Ayo, ikuti aku!” katanya pelan.
Nada suaranya datar, tapi entah kenapa, aku merasakan ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang nyaris menyerupai senyum.
Refleks aku menelan ludah, kemudian mengangguk dan berjalan di belakangnya.
Lucio menekan sesuatu di sandaran kursinya, dan kursi otomatis itu bergerak mulus menyusuri koridor panjang.
Lampu-lampu di sepanjang dinding menyala otomatis saat kami lewat, membuat suasana rumah itu terasa seperti istana rahasia yang hidup. Sampai akhirnya kami berhenti di depan sebuah pintu besar dari kayu mahoni.
Lucio menatapku sejenak sebelum berkata, “Cepat, masuklah dulu!”
Aku melangkah masuk, dan ... terpaku.
Ruangan itu gelap, tapi bukan gelap yang menakutkan. Gelap yang hangat, dengan aroma kulit dan kayu yang halus. Lampu kecil di langit-langit menciptakan cahaya temaram keemasan. Di depanku, terbentang layar besar hampir setinggi dinding.
Sebuah ruangan mini bioskop pribadi.
Ada empat baris kursi empuk berlapis kulit hitam, dua sofa panjang di bagian depan, dan meja kecil dengan minuman serta popcorn di atasnya. Suara hujan dari luar nyaris tak terdengar, tergantikan oleh bunyi lembut sistem suara yang baru dihidupkan.
“Wow ...,” bisikku tak sadar. “Ini luar biasa.”
Lucio tersenyum. “Apa kau suka?”
Aku menoleh ke arahnya, masih merasa kagum. “Suka banget! Aku pikir tadi kita mau nonton di ruang tamu dengan TV biasa.”
“Tidak,” jawabnya singkat sambil menggerakkan kursinya ke arah layar. “Aku tidak suka hal-hal yang biasa.”
Aku menatap punggungnya yang tegap itu dengan perasaan aneh — campuran antara kagum, canggung, dan sedikit waspada. "Dasar sombong!"