Pria yang Menemui Haruka

1082 Words
Setelah lima belas menit berada di kamar mandi, Haruka akhirnya selesai. Ia keluar dengan handuk yang tersampir di pundak dan baju yang sudah lengkap. "Aku sudah selesai," ucapnya seraya menutup pintu. Akan tetapi, ketika pria itu tengah mengeringkan rambut dengan handuk, Sakura yang ia pikir tengah menunggu nyatanya sudah tidak ada di sana. Pandangan Haruka mengedar mencari Sakura. Mengamati setiap sudut, ranjang, sofa, bahkan di celah lemari dan meja ia mencarinya. Namun gadis itu sama sekali tidak bisa ditemukan. "Apa dia pergi mencari sesuatu ke luar?" gumam pria itu. Ia tidak terpikirkan jika Sakura akan melakukan hal demikian, mengingat ini tempat baru, dan gadis itu tidak boleh sembarangan pergi seorang diri. Tanpa pikir panjang, Haruka segera meraih ponsel yang diletakkan di atas nakas. Ia berniat memanggil Sakura melalui telepon. Namun, begitu ia mengusap layar ke atas, pesan dari nomor yang ingin dihubungi muncul dengan jelas. 'Aku ingin berjalan-jalan di taman. Kau bisa menyusul jika mau,' tulis Sakura. Sesaat setelah membacanya, dahi Haruka mengerut. Ia sedikit tidak percaya dengan apa yang ia baca. Mengingat Sakura cukup berhati-hati, rasanya tidak mungkin gadis itu memutuskan keluar sendiri tanpa menunggunya selesai mandi. Namun saat memikirkan hal itu, tiba-tiba mata Haruka membulat. "Apa dia diculik oleh seseorang?" pekiknya dengan cemas. Tak mau membuang waktu, Haruka segera meletakkan handuk sembarang. Lalu bergegas keluar tanpa peduli dengan rambut basah yang masih berantakan. Taman, adalah tempat yang harus ia cari saat ini. Tangan dan matanya pun tak mau kalah. Ia memang sedang terburu-buru, tapi tetap berusaha menghubungi Sakura bagaimanapun caranya. Haruka mulai menekan panggilan beberapa kali, lalu ketika tidak ada jawaban ia akan mengirimkan gadis itu pesan. Itu terjadi sampai ia tiba di taman. Pandangan Haruka segera mengedar. Beruntung, saat ia mulai khawatir, Sakura kembali mengirimkannya pesan. Di layar tertulis, jika gadis yang sedang ia cari duduk di kursi panjang dekat dengan lampu di sudut taman. Setelah membacanya, pria itu bergegas menuju tempat yang Sakura maksud. Haruka harus memastikan temannya aman, baru setelah itu ia akan tenang. Tidak perlu waktu lama bagi Haruka untuk menemukan kursi panjang yang dimaksud. "Sakura!" Namun saat lampu memberinya penerangan, apa yang Haruka lihat berhasil membuat kedua bola matanya membulat sempurna. Keterkejutannya didukung oleh bibir yang menganga lebar. Di kursi panjang di sudut taman. Bukan hanya seorang gadis seusianya yang ia temukan. Melainkan seorang pria paruh baya, yang jika pria itu menoleh Haruka akan dengan cepat mengenalinya. "Haruka!" Sakura memekik senang ketika melihat temannya datang. Namun yang gadis itu tidak tahu, bahwa jauh di dalam hati Haruka ada kebencian yang sangat besar. "Kenapa ..." Tubuh Haruka bergetar. Ia masih mematung di tempat dengan tangan yang mengepal kuat. Sementara matanya menatap tajam, seolah ada api yang berkobar di sana. Sakura yang tidak paham dengan reaksi Haruka hanya bisa menatap pria itu dengan tanda tanya. Ini tidak seperti apa yang gadis itu bayangkan. "Kenapa b******n sepertimu ada di sini!" ucap Haruka dengan nada yang ditekan. Hanya dengan mendengarnya saja, siapapun tahu jika ada kemarahan besar di antara kata yang terlontar. "Kenapa kau ada di sini!" Kali ini remaja pria itu berteriak. Melihat Haruka yang bertindak tidak seperti biasa, membuat Sakura merasa bersalah dan dipenuhi pertanyaan di saat bersamaan. "Haruka?" ucap gadis itu lembut seraya berdiri, mencoba mendekat pada pria yang masih berdiri di tempat semula. Namun belum sempat Sakura menghampiri Haruka, pria paruh baya di dekatnya lebih dulu mencegah. Lengannya digenggam lembut, meminta gadis itu untuk berhenti. Sakura menoleh, menatap pria dewasa yang kini menatap Haruka dengan lekat. Di saat seperti ini, gadis itu hanya bisa kebingungan. Semua tidak seperti apa yang dia bayangkan. Pria paruh baya di sana mulai melangkah, mencoba mendekati Haruka. "Haruka ..." panggilnya lembut, seolah ada berbagai perasaan di sana. Rindu dan bersalah. Namun saat lengannya hampir diraih, Haruka dengan cepat dan keras menepis. Ia mengelak bahkan jika tersentuh hanya dengan kuku, dari pria di depannya. Melihat Haruka bersikap kasar, Sakura ingin menengahi. Ia menyela, "Pak Taguchi." Ia meraih tubuh pria paruh baya yang sedikit gemetar karena tepisan dari Haruka. Melihat Sakura yang membela Taguchi, membuat Haruka semakin tidak percaya. "Kenapa kau mengenalnya, Sakura?" tanyanya penuh dengan penekanan. Sakura hanya terdiam. Ia menjadi takut melihat Haruka seperti benar-benar marah dengannya. Ia memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi suasana di sana terasa sangat menegangkan. "Apa kau sengaja membawaku ke sini untuk bertemu dengan b******n ini?" Haruka kembali bertanya. Nada bicaranya benar-benar mengandung amarah yang sangat besar. Sementara Sakura, ia sudah tidak berani menjawab. Bahkan menatap Haruka saat ini terasa sangat menakutkan. Akan tetapi beruntung, Taguchi segera melindungi Sakura. "Haruka. Temanmu tidak bersalah. Ayah yang meminta bantuannya," ucap Taguchi. "Ayah?" Mata Haruka kembali membulat. "Kau menyebut dirimu ayah setelah apa yang kau lakukan kepadaku delapan tahun lalu?" lanjutnya dengan nada tidak percaya. "Jangan seperti itu. Kita bisa bicarakan ini secara baik-baik." Taguchi mencoba meraih pengertian dari anaknya. Namun Haruka masih bergeming. Ia sama sekali tidak ingin terlibat percakapan apapun dengan pria yang mengaku sebagai ayahnya. Baginya sosok ayah sudah hilang semenjak ia mengetahui semuanya. Sementara di antara dua pria yang bersitegang, ada seorang gadis yang menjadi serba salah. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi permasalahan terlihat semakin pelik ketika coba untuk dibicarakan. Akhirnya dengan segenap keberanian, gadis itu memutuskan untuk pergi dari sana, membiarkan ayah dan anak menyelesaikan masalah. Haruka tidak peduli. Amarah yang besar membuatnya tidak memperhatikan Sakura yang sudah tidak lagi berada di sana. Tatapannya masih tajam melebihi belati, menembus hati pria di depan dengan penuh kebencian. "Apa yang kau inginkan?" tanya Haruka. Tangannya masih mengepal, sementara rahangnya semakin mengeras. Ludah yang ditelan Taguchi terasa sangat sulit. Ia tahu tidak akan mudah merayu Haruka. Namun ia sudah terlalu lama menantikan hal ini. "Ayah hanya ini tahu kabarmu. Itu saja," ucap Taguchi setelah memberi jeda beberapa saat. Haruka tersenyum smirk, bibirnya terangkat sebelah. "Berhenti seolah peduli padaku," ucapnya ketus. Taguchi menghela napas berat. "Apa kau masih membenci ayah atas kematian ibumu delapan tahun lalu? Itu bukan salah ayah," jelas pria itu mencoba membela diri. Akan tetapi, kalimatnya barusan hanya menambah kemarahan dalam hati Haruka. Ia tidak ingin mengungkit masa lalu yang menyakitkan. Bahkan ia sudah berusaha mengubur dalam-dalam dirinya semasa kecil. "Ayolah, Haruka. Kau tidak terus seperti ini. Lagipula kamu masih tetap menjadi anak ayah," lanjut Taguchi. "Anak?" Haruka menyela, "dengar baik-baik. Aku tidak pernah menggunakan nama depan Ayah lagi. Sekarang namaku Haruka, hanya Haruka!" Setelah mengatakan itu, Haruka melenggang pergi dengan langkah kasar. Ia tidak mau lagi mendengar apapun dari pria yang sangat dibencinya. Namun sebuah kalimat yang terdengar samar berhasil menghentikannya. "Ibumu meninggal buka karena ayah. Dia menghabisi nyawanya sendiri."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD