Kemenangan

1018 Words
Shakila pun mulai memijat kembali kalkulatornya mengkalkulasi seluruh pendapatan yang didapat oleh restoran almarhum suaminya, disaksikan oleh Saiful yang masih berdiri dengan Setia. "Turut berduka cita atas meninggalnya pak Ramlan, semoga beliau diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan diampuni segala dosa-dosanya." ujar Saipul menyampaikan Bela sungkawa atas semua yang menimpa kepada atasannya. "Terima kasih! tapi untuk selanjutnya aku membutuhkan laporan mingguan, tidak seperti sekarang yang hanya ada laporan bulanan saja." Jawab Shakila yang terlihat tidak tertarik membahas almarhum suaminya, dia lebih tertarik dengan pembahasan restoran yang sekarang sudah menjadi miliknya. "Tentu saya akan membuatkannya dan nanti saya akan laporkan kepada ibu." "Baiklah terima kasih atas laporannya, sekarang kamu boleh melanjutkan pekerjaan kembali." jawab Shakila yang terus terfokus menghitung penghasilan restoranny, tanpa memperdulikan orang yang berdiri. Saiful pun manggut memberi hormat kemudian dia melanjutkan pekerjaan sesuai dengan tugas yang ia miliki, bekerja seprofesional mungkin meski di bawah majikan yang baru, yang belum diketahui karakternya Seperti apa. karena Ramlan meskipun dia sangat angkuh tapi dia sangat profesional dalam memimpin perusahaan, sehingga Fram in the country melaju begitu pesat, bahkan sudah seringkali mendapat penghargaan sebagai restoran dengan menu kelezatan yang terbaik dan pelayanan yang sangat memuaskan. Shakila terus melakukan audit restoran yang baru saja iya miliki, dia terus terfokus menghitung keuntungan-keuntungan yang didapat dengan begitu luar biasa. namun seolah belum puas dia ingin menaikkan pendapatan dengan merenovasi sebagian restoran itu yang semula bergaya klasik menjadi gaya modern. Rinto yang sudah berhenti dari pekerjaan barista di cafe senja, dia pun menghampiri kekasihnya yang sedang duduk bergelut dengan pekerjaan. "Sedang mengerjakan apa?" tanya Rinto yang memindai berkas-berkas yang tertumpuk di atas meja. "Aku sedang menghitung pendapatan restoran Kita, supaya kita bisa menentukan Kemana kita akan membawa restoran ini ke depannya." "Bagaimana dengan penghasilannya, Apakah cukup memuaskan?" "Sangat memuaskan, namun dibalik penghasilan yang sangat luar biasa ada pengeluaran yang sangat luar biasa pula, karena di sini koki digaji rata-rata 10 juta, sedangkan untuk para pelayan sesuai dengan UMR. itu akan menguras pendapatan." "Terus apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rinto dengan wajah yang penasaran. "Ke depannya kita harus mengubah manajemen restoran yang sangat kacau ini, supaya kita bisa meraup untung yang lebih besar. namun semua itu tidak akan mudah kita butuh sedikit perjuangan untuk menyesuaikan semuanya." "Meski tidak akan mudah tapi kita sudah berhasil melakukannya, seperti ketika kita menginginkan restoran ini dengan menipu Ramlan. dan apa yang terjadi kita sekarang sudah duduk sebagai pimpinan perusahaan yang tertinggi." "Benar aku tidak terlalu memikirkan hal itu, sekarang yang terpenting Bagaimana restoran ini bisa berpenghasilan lebih dari yang kita dapat dan meminimalisir pengeluaran. kamu tidak boleh berpaku tangan, kamu harus berusaha mempelajari setiap sisi tentang manajemen restoran karena aku menginginkan nantinya Kamulah yang menjadi manajer di restoran kita, supaya bisa sejalan sesuai dengan apa yang kita harapkan." jawab Shakila yang sudah memiliki rencana jahat kepada orang lain, dia tidak segan-senggan akan mengusir orang-orang yang sudah Setia bekerja kepada suaminya. "Baik namun untuk sekarang aku meminta izin terlebih dahulu untuk beristirahat sebentar, menikmati keberhasilan yang sudah kita dapat." "Iya, itu akan lebih baik daripada uang penghasilan restoran Kita berceceran ke mana-mana." Mereka berdua pun terus mengobrol membahas tentang kemajuan-kemajuan restoran yang baru saja mereka miliki, rampasan dari Ramlan yang sudah meninggal, tidak memikirkan kesedihan yang sedang Akmal rasakan. kala itu dokter gigi yang tidak pandai bergaul, Dia terlihat sedang memeriksa seorang pasien yang mengeluh kurang nyaman dengan karang yang sudah banyak. "Sekarang giginya sudah selesai dibersihkan, Coba tolong tersenyum!' pinta Akmal yang seperti biasa melepaskan maskernya ketika dia berbicara. Pasien itu Menurut dia melebarkan bibirnya memamerkan gigi yang baru saja dibersihkan dan terasa nampak ringan, karena karang-karang yang menempel sudah tidak ada lagi di sana. "Bagaimana rasanya?" "Sangat enak dok, tapi kalau mau memasang kawat gigi tidak bisa langsung sekarang?" "Tidak bisa, karena Gigi Anda masih terluka takut ada infeksi yang tidak inginkan. nanti setelah seminggu baru kita bisa melakukan tindakan selanjutnya." "Terima kasih banyak Pak Dokter!" ujarnya sambil bangkit dari kursi dental keluar meninggalkan Akmal yang terlihat raut wajahnya berubah. senyum yang diberikan sangat nampak palsu Karena sekarang dia mulai termenung memikirkan nasib pilu yang menimpanya. Kring! "Iya kenapa Desi?" tanya Akmal yang mengetahui orang yang meneleponnya adalah resepsionis klinik. "Apakah saya harus mengirim pasien selanjutnya?" "Baiklah, persilahkan dia masuk! Tak lama diantaranya Setelah telepon terputus pintu ruangan pun ada yang mengetuk, dengan merubah raut wajahnya kembali Akmal mempersilahkan pasien barunya. "Silakan duduk! apa keluhan anda?" tanya Akmal dengan Ramah memberikan pelayanan yang terbaik seprofesional mungkin, meski hatinya sedang dilanda kepedihan. Pasien itu mulai menceritakan keluhan giginya yang terasa sakit hingga Akmal pun memeriksanya dan melakukan tindakan sesuai medis. Akmal bekerja dengan begitu fokus Dia sangat tanggung jawab dengan kesembuhan pasien yang ditanganinya. Hari itu dia terus bekerja untuk mengalihkan rasa sedih yang masih terasa membekas di dalam hatinya, dan itu cukup berhasil karena Akmal tidak terlalu mengingat Sakhila. sampai akhirnya waktu pulang pun tiba, Akmal masih terdiam di ruangan sambil memikirkan cara-cara yang terbaik untuk melakukan balas dendam. Dokter introvert itu sekarang dihadapkan dengan dua pilihan antara Sisi manusia dan Sisi amarah yang membakar dalam. pikiran jernihnya akan tetap membiarkan Shakila dan Rinto untuk hidup senyaman mungkin, namun amarah itu terus menggerogoti ketika membayangkan keindahan-keindahan dan harapan-harapan bersama Shakila yang sudah mengkhianati. Lama terdiam dan tidak mendapat jawaban, pria introvert itu bangkit dari tempat duduk kemudian meninggalkan ruangan untuk pulang ke rumah. di perjalanan pulang ia teringat dengan orang tua yang sangat menyayanginya, hingga sore itu Dia memutuskan untuk menemui Bi Ati di rumahnya. Sebelum sampai Akmal memberikan oleh-oleh kesukaan bibinya. tentumakanan-makanan itu yang lembut karena giginya sudah tidak kuat untuk memakan makanan yang keras. mulai dari roti, bolu, brownies dan yang lain-lain. Begitulah kebiasaan Akmal yang dilakukan ketika dia bertemu dengan bibinya, Soalnya kalau tidak ada orang baik itu mungkin Akmal sudah menjadi gelandangan hidup Sebatang Kara tanpa tahu arah tujuan. Ning nong, Ning Nong. Suara bel Yang di tekan terdengar dari dalam rumah diikuti dengan derap kaki yang mendekat ke arah pintu, sehingga puntu rumah Ati pun terbuka. tampa berkata-kata Akmal pun memeluk bibinya dengan begitu erat ,merasa bingung dengan apa yang harus dia kerjakan Setelah dia mengetahui bahwa dirinya hanya dimanfaatkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD