"Ada lagi?" tanya waiter itu setelah menuliskan pesanan pelanggannya.
"Tidak, cukup itu saja." jawab Akmal yang masih tetap memindai keadaan meja bar, Berharap ada seseorang yang sedang ia cari.
"Kalau begitu, mohon ditunggu pesanannya akan segera diantar." ujar waiter sambil berlalu pergi membawa pasaran Akmal ke meja bar untuk segera dibuatkan.
Suasana Cafe senja sore itu terasa begitu ramai, orang-orang banyak yang beristirahat sambil melepas penat setelah bekerja seharian dengan secangkir kopi yang begitu nikmat, ditemani orang spesial atau rekan-rekan yang sangat asik, sehingga membuat suasana Cafe itu terasa riuh rendah. hanya Akmal saja yang duduk sendirian di tempat paling pojok seperti tidak suka dengan kebisingan.
"Di mana laki-laki itu, apakah dia tidak masuk kerja hari ini?" umpat Akmal yang sudah lama mencari namun tidak menemukan.
"Minumannya Pak!" ujar waiter sambil meletakkan gelas kopi di meja.
"Terima kasih. Oh ya, apa hari ini pak Rinto tidak masuk?" tanya Akmal mulai menggali keterangan.
"Oh Mas Rinto. hari kemarin dia mengudurkan diri pak."
"Kenapa kok mengundurkan diri?" tanya Akmal dengan rasa heran.
"Kalau masalah itu Saya kurang tahu Pak, Yang jelas Pak Rinto sudah tidak bekerja lagi di cafe Senja."
Akmal pun terdiam merasa bingung kemana harus mencari kedua orang yang sudah menyakitinya, dia harus memastikan sebelum berbuat lebih lanjut bahwa mereka benar-benar menyesali kejahatannya atau tidak.
"Kenapa Pak, Ada yang bisa saya bantu?" tanya waiter yang melihat Akmal masih terdiam.
"Tidak, terima kasih atas informasinya." jawab Akmal yang meneguk es kopinya.
Sang waiter manggut membeli hormat sebelum pergi meninggalkan Akmal untuk melanjutkan pekerjaan melayani pelanggan-pelanggan yang terus berdatangan, menikmati suasana sore sesuai dengan nama cafe yang sesuai dengan keadaan, di mana ketika matahari tenggelam para pengunjung mulai berdatangan.
Akmal terus merenung menerka-nerka Ke mana perginya Rinto. Sampai akhirnya dia pun menemukan puzzle-puzzle yang berantakan di benaknya. pasti lelaki itu akan mengikuti kekasihnya karena sudah berhasil mendapatkan harta yang diinginkan.
"Pasti, pasti mereka ada di tempat itu. aku akan menemuinya besok siang." putus Akmal sambil meneguk kembali kopinya, kemudian menaruh uang sesuai dengan harga yang sudah ditetapkan.
Setelah pencariannya tidak membuahkan hasil, Akmal pun memutuskan untuk pulang kembali ke rumah, mengistirahatkan tubuh yang masih terasa lelah akibat penyiksaan dan bekerja seharian.
Malam itu, seperti biasa dia duduk di sofa yang berada di dalam kamar, tangannya memegang pesawat sambil memoleskan cat sesuai dengan keinginannya. Karena tiap hari dia akan menghapus kembali warna pesawat itu untuk diganti kembali dengan warna yang diinginkan. di meja terlihat ada beberapa cemilan dan kura-kura yang sedang lahap memakan pakannya.
"Apa ya yang harus aku lakukan terhadap mereka Robi, Apakah aku harus membalasnya atau membiarkan mereka hidup bahagia menikmati kemenangan yang mereka tidak ikut bertanding?" Tanya Akmal kepada hewan peliharaannya.
Seperti biasa Robi hanya terfokus menyantap makanan yang diberikan, tidak peduli dengan curhatan sang majikan. Ia tetap terdiam hanya kepalanya saja yang bergerak-gerak, kadang kepala itu memanjang kadang kepala itu memendek masuk ke dalam tempurungnya.
"Orang jahat seperti mereka tidak boleh dibiarkan hidup tenang, karena mereka pasti akan melakukan kejahatan-kejahatan lainnya. kita harus mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka kerjakan itu adalah kesalahan." Ujarnya lagi, yang menjawab pertanyaan dirinya sendiri layaknya orang kurang waras.
Tring, tring, tring.
Terdengar bunyi telepon dari atas meja. seperti biasa bibinya yang sejak dari kecil mengurusnya akan menyempatkan waktu sebelum tidur, untuk mengobrol dengan keponakan yang sudah dianggap sebagai anaknya.
"Kenapa kemarin malam handphone-mu tidak bisa dihubungi, Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Ati yang selalu mengkhawatirkan anak angkatnya.
"Maaf Bi kemarin Akmal kelelahan setelah pulang dari kampung seharian. maklum jalanan Sukabumi Bogor sekarang sangat macet."
"Bukankah sudah ada tol di sana?"
"Yah sudah ada namun belum sepenuhnya bisa digunakan." jawab Akmal sedikit berbohong karena dia tidak ingin membuat orang tuanya kepikiran.
"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Memangnya ada urusan apa sampai kamu mengambil cuti untuk pulang kampung?"
"Aku kangen sama Ibu Bi, sekaligus meminta izin bahwa aku akan menikah."
"Jadi benar, bulan depan kamu akan menikahi Kekasihmu?"
"Doakan saja Bi!" jawab Akmal yang terdengar lemas.
"Kenapa, jawabannya tidak semangat. hubunganmu baik-baik aja kan?" tanya Ati seolah tahu dengan apa yang sedang dirasakan oleh keponakannya.
"Hubunganku baik-baik saja Bi, mungkin ini adalah ujian sebelum pernikahan."
"Iya, kadang ujian itu datang ketika kita memiliki niat baik. Kamu harus sabar menghadapi semuanya jangan menggunakan emosi. ketika menghadapi perempuan kamu harus bisa bersikap lemah lembut supaya mereka yakin bahwa Kamulah adalah pria yang terbaik yang akan menjaganya seumur hidup."
"Terima kasih Bi atas nasehat."
Mereka berdua pun terus berlanjut mengobrol membahas kesibukan sehari-hari, karena itulah rutinitas Akmal yang dilakukan setiap malam sambill menunggu rasa kantuk datang. Sampai akhirnya obrolan itu terhenti ketika waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Akmal merapikan semua mainannya dan pergi ke kasur untuk merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemas, matanya menatap ke arah langit-langit membayangkan kembali pengkhianatan yang ia terima.
"Minta maaf lah kalian, atau aku akan membalasnya dengan lebih yang menyakitkan." ancam Akmal ketika membayangkan dia sudah berhadapan langsung dengan Shakila dan Rinto.
Semakin terlarut dalam ingatan-ingatan yang begitu pahit, semakin besar pula rasa dendam yang ingin Ia balaskan. rasa cinta yang tumbuh subur di hatinya kini mulai meredup berganti menjadi dendam yang begitu berat, dan dia berjanji tidak akan hidup tenang kalau kedua orang itu belum merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan sekarang, Kecuali mereka mengakui kesalahan dan meminta maaf, maka dengan kedua tangan yang terbuka dia akan memaafkannya, membiarkan mereka hidup dengan tenang. di suatu Sisi terang dalam hatinya kejadian yang menimpanya tidak murni kesalahan Shakila soalnya dia terlalu terobsesi sehingga lupa menyelidiki Apa yang sebenarnya terjadi.
Larut dalam khayalan dan kebencian, akhirnya mata Akmal pun mulai tertutup, bermimpi menakutkan bertemu kembali dengan ibunya yang sudah meninggal di hadapan matanya, kejadian penyiksaan yang dilakukan oleh Rinto menjadi salah satu diantaranya.
Keesokan paginya, siang itu di restoran fram in the country, terlihat nampak sibuk dengan melayani pengunjung yang sedang makan siang. di salah satu meja kasir terlihat duduk seorang wanita yang sangat cantik dengan kemeja putih Senada dengan warna kulitnya, rambutnya dibiarkan tergerai semakin menambah keindahannya. namun siapa sangka hatinya sangat jahat dan sangat busuk, Sampai berani tega memanfaatkan orang lain untuk mencapai keinginannya, bahkan tak segan-segan melenyapkan nyawa orang lain demi kehidupan yang dianggap bahagia.
"Ini uang dari mana?" tanyanya sama seorang pria yang sedang berdiri di sampingnya.
"Catatan itu adalah catatan hasil catering restoran Kita Bu." jawab manajer restoran sambil menunjukkan tulisan di atasnya bahwa uang yang didapat adalah uang dari penjualan di luar restoran.
"Sangat besar pula ya pendapatannya Pak Saiful, hampir sebanding dengan para pengunjung yang datang secara langsung."
"Iya bu, karena orang yang memesan catering kita adalah orang-orang kaya di acara-acara mewah mereka." jawab Saiful yang terlihat bangga atas kinerja yang sudah ia lakukan.