I. MEET

4789 Words

"Ya! plis jangan dong ... gua janji nggak akan pake lagi. Ntar gua ganti deh," mohon Vio pada Athaya yang tengah menatapnya dengan tatapan datar. Tangan Athaya yang terlipat di depan dadanya membuat Vio takut akan hal yang akan terjadi nanti. Tatapan datar serta penuh intimidasi membuat Vio memelas meminta dikasihani. Sebutan 'gua-lu' yang artinya 'aku-kamu' sedang trend di kalangan tersebut, hingga hampir semua penduduk dan rata-rata remaja terbawa arus untuk mengikuti perkembangan jaman yang salah satunya mengganti panggilan standar 'aku-kamu' menjadi 'gua-lu' seperti hal nya di daerah Jakarta yang menggantinya menjadi 'gue-elo'.

"Ya, ya plis ntar gua malu diliatin yang lain. Lu 'kan temen sekelas gua masa tega sama temennya sendiri, gua janji dah besok ganti," Mohonnya lagi. Merayu dengan membawa tameng bahwa mereka adalah teman sekelas dan menjadikan alasan agar Athaya akan berbaik hati padanya. Vio memang salah satu teman sekelasnya yang sangat nakal dan susah diatur. Sifatnya yang sangat menyebalkan hingga membuat guru-guru dan wali kelas sendiri angkat tangan. Kebiasaannya yang jarang masuk sekolah dan bisa dihitung jari dalam satu bulan membuat wali kelas menyerah untuk menasihatinya bahkan guru BP yang sering memanggilnya pun kini sering menggelengkan kepala jika Vio masuk keruangannya. Kalaupun Vio masuk sekolah yang dia lakukan hanya menganggu teman dan usil terhadap guru-guru yang mengajar.

Perlahan Athaya menghela napasnya dan mendekat ke arah Vio yang langsung tersenyum sumringah. Mengira jika akan mendapatkan ampunan. Athaya menatap datar teman sekelasnya, itu hal yang biasa dilakukan Athaya hingga membuat semua orang terbiasa dengan tatapannya itu. Datar dan dingin. Vio salah satu teman sekelasnya yang sial karena datang terlambat dan akan mendapatkan hukuman dari Athaya. Perlahan senyum kecil - lebih tepatnya - senyum miring tercetak jelas di bibir kecil Athaya.

"Itu derita, lu, " ucapnya tak peduli lalu berjongkok dan langsung menarik ujung celana Vio itu.

Sreett.

Celana itu sukses sobek hingga lutut di sisi celana Vio, dengan gunting yang digunakan Athaya untuk merazia. Seketika Vio langsung memejamkan matanya kesal. Percuma memohon pada Athaya, seharusnya ia tau kalau perempuan yang ada dihadapannya ini keras kepala, tidak akan luluh hanya dengan memohon bahkan merengek sekalipun.

"Bukannya saya sudah bilang, nakal boleh tapi nggak di sekolah dan nggak bawa-bawa sekolah," Kata-katanya yang berubah formal, menunjukkan bahwa sekarang yang berdiri dihadapan Vio adalah Athaya sang Ketua OSIS bukan Athaya teman sekelasnya yang akan membantunya jika dalam kesusahan. Setelah itu, Athaya langsung melenggang pergi menuju mangsa lainnya yang tengah mengantri untuk mendapatkan hal yang sama, meninggalkan Vio yang mengumpat dan menggerutu kesal, tentunya dalam hati.

Athaya Yukyta Princesstya. Gadis kejam yang selalu merazia teman-temannya yang melakukan pelanggaran peraturan sekolah. Posisinya yang menjabat sebagai Ketua OSIS di sekolahnya, hingga mencetuskan sebuah gagasan akan selalu merazia murid-murid SMA Perdana Husada yang datang terlambat atau melakukan pelanggaran dihadapannya.

Satu-satunya wanita yang menjabat sabagai Ketua OSIS di sekolahnya, karena sebelum-sebelumnya laki-laki yang biasa menjabat sebagai ketua OSIS sekolah tersebut. Heran dan aneh itulah yang ada dipikiran Athaya, ia heran kenapa ia harus dipilih oleh murid-murid sekolah, padahal ia sendiri yang meminta mereka untuk tidak memilihnya.

'Saya Athaya .... visi dan misi saya menjadi Ketua OSIS : apapun yang terbaik untuk sekolah. Prinsip saya : nakal boleh tapi nggak di sekolah dan nggak bawa-bawa sekolah. Pesan saya : agar kalian tidak memilih saya untuk menjadi Ketua OSIS, nanti kalian akan menyesal sudah memilih saya. Terima kasih.'

Kata-kata Athaya ketika ia memperkenalkan diri sebagai calon Ketua OSIS waktu itu. Singkat, padat dan jelas dan anehnya semua murid hampir sekitar 78% memilihnya. Ia bahkan sangat ingat dan menekankan kepada teman-temannya untuk tidak memilihnya. Hanya karena ucapannya yang terlampau sangat jujur dari hati, karena memang Athaya tidak berniat menjadi Ketua OSIS yang nantinya akan menjadi bebannya namun karena itu ia terpilih menjadi Ketua OSIS. Entah sebuah kesialan atau suatu kebanggan bagi Athaya, tapi memang dari awal ia menolak untuk mendapatkan jabatan itu.

Sebuah motor Ninja merah memasuki gerbang dan membuat semua perhatian menoleh padanya. Orang-orang langsung menatap pengendara motor itu yang tengah memarkirkan kendaraannya tak jauh dari tempat mereka lalu melepas helm full face berwarna senada dengan motornya itu. Semua siswi yang datang terlambat masuk sekolah itu langsung menjerit histeris melihat tontonan paling menyenangkan yang mungkin akan menjadi penyemangat belajarnya hari ini. Merasa keberuntungan ada di pihak mereka dan tidak menyesal jika datang terlambat karena dapat melihat sang pangeran sekolah. Namun semuanya langsung terhenti dengan terpaksa ketika menyadari wanita yang berada disampingnya. Wanita yang tadi di bonceng oleh laki-laki itu.

Althaf Shadiq Husada . Laki-laki yang menjadi pusat perhatian semua yang berada di sekitar gerbang. Laki-laki charming yang tampan, cool, dingin dan menjadi pujaan setiap Siswi di sekolah SMA Perdana Husada, selain itu gelar ketua tim Basket sekolah yang menambah kepopulerannya di kalangan seluruh sekolah.

Dengan santai Althaf melangkah menarik wanita yang tak lain kekasihnya sendiri untuk masuk berjalan ke dalam tanpa menghiraukan tatapan yang lain. Langkahnya terhenti oleh seorang anak kecil yang berdiri dihadapannya, menghadang jalannya dengan tangan yang terlipat di d**a. Bukan anak kecil melainkan tubuh yang mungil dan pendek, bukankah memang pantas disebut anak kecil.

"Sorry, kak. Masuk barisan dulu!" Nada perintah Athaya pada Althaf serta kekasihnya yang super duper cantik seantero sekolah. Pasangan yang cocok.

Perlahan Althaf menatap kekasihnya yang hanya tersenyum terpaksa lalu berjalan kembali menghiraukan Athaya. Lagi-lagi langkahnya terhenti oleh tangan Athaya yang menahan lengan Althaf hingga membuat Althaf langsung menoleh menatap tajam Athaya.

"Sorry, kak. Tolong masuk barisan dulu. Kakak ngerti bahasa, ‘kan?" Kata Athaya sukses membuat Althaf kesal dengan rahang yang mengeras berusaha meredam emosi yang mulai naik.

"Kalau gua nggak mau, emang mau apa lu?" Althaf kini mulai mengeluarkan suara beratnya. Suara khas perokok.

"Paksa,"

"Apa hak lu maksa gua. Denger ya, lu tau ‘kan siapa gua disini. Jangan mentang-mentang lu Ketua OSIS, sekarang bisa maksa gua buat ikut gabung barisan. Gua sama cewe gua mau masuk," Kalimat terpanjang yang pernah diucapkan oleh Althaf kepada orang lain lolos begitu saja terlontar pada anak kecil yang ada dihadapannya.

Athaya hanya tersenyum meremehkan dengan perkataan Althaf. Laki-laki yang selain hanya terkenal seantero sekolah dengan ketampanan, kedudukan dan kepintarannya tapi kesombongannya juga ikut andil dalam hidupnya.

"Dan jangan mentang-mentang kakak anak pemilik sekolah ini dan keponakan kepala sekolah, kakak bisa seenaknya. Kakak tau jelas kalau kakak salah karena terlambat dan kakak harus dihukum buat itu," Jawab Athaya tenang lebih tepatnya berusaha tenang karena sebenarnya hatinya bergemuruh emosi ingin memaki-maki laki-laki yang menyebalkan itu. Namun ia masih menjadikan sopan santun sebagai prioritas yang utama. Emosi boleh namun sopan santun harus tetap di junjung.

Orang-orang yang berada di sana hanya memandang mereka bertiga dengan terkejut. Jarang sekali pertengkaran seperti ini terjadi dihadapan mereka karena mungkin tidak akan ada yang berani melakukan perlawanan terhadap Althaf, anak dari pemilik sekolah ini. Siapa juga yang akan melakukannya selain Athaya yang berani atau mungkin memberanikan diri. Namun tidak dengan Athaya karena semenjak ia menjabat sebagai pimpinan organisasi siswa ia memang merasa memiliki kewenangan untuk menjalankan tanggung jawab yang tersampir dipundaknya.

"Heh bocah, denger ya. Gua nggak ada waktu buat ngeladenin lu, jadi lu fokus aja sama yang lain,"

Sulut Althaf emosi. Gadis kecil ini baru pertama kali ia temui dan sudah berhasil membuatnya emosi. Althaf tau Athaya adalah Ketua OSIS disekolahnya, bahkan ia sendiri memilihnya karena merasa jika di pimpin oleh Athaya semua pasti akan seperti biasa, Dilihat dari penampilan Athaya yang waktu itu sangat urakan, terlihat seperti murid nakal dan Althaf yakin seorang wanita akan kesulitan untuk mengendalikan kaum laki-laki. Namun prasangkanya salah besar. Athaya tidak seperti wanita pada umumnya, ia tidak akan membiarkan dirinya terkontrol oleh kaum laki-laki dan yang lebih parahnya lagi adalah sekolah semakin ketat dengan peraturan yang diterapkan, karena di pimpin oleh Athaya yang mempertegaskan aturan sekolah ini. Althaf merasa menyesal telah memilih gadis kecil ingusan yang kini ada dihadapannya.

Athaya tersenyum miring lagi. Dengan sigat ia mengambil gunting yang tengah di pegang oleh rekan anggota OSIS yang berada disebelahnya dan langsung berjongkok menarik ujung celana Althaf yang ngetat dan langsung mengguntingnya seperti yang dilakukan tadi kepada Vio, namun belahannya tidak sampai di lutut seperti pada Vio dan siswa lainnya, melainkan sampai paha Althaf. Semua orang melongo menatap kejadian itu terutama Althaf yang langsung murka atas tindakan seenaknya Athaya. Tangan Athaya memungut beberapa sampah yang berserakan di sekitarnya.

"Cuma dua menit, nggak lama ‘kan," Kata Athaya memberikan beberapa sampah plastik bekas makanan ke tangan Althaf dan perempuan yang disampingnya, "kalian boleh masuk dan tolong sampahnya buang ke tempat sampah," Lanjut Athaya lagi dan langsung melenggang pergi menuju kerumunan barisan anak-anak lain untuk melanjutkan aktifitas merazianya, meninggalkan Althaf yang emosi dan hendak menyusul Athaya ketika tangannya di tahan oleh kekasihnya. Emosinya menyusut sedikit ketika mendapatkan gelengan kepala dari kepala perempuan itu. Althaf menghembuskan napas untuk mengatur emosinya dan kembali menatap Athaya yang memunggunginya dengan tajam.

Damn!!! Batin Althaf.

"Lu berani banget, Ya," Ucap Sherly teman sekelas Athaya dan salah satu anggota OSIS yang sedari tadi mengikuti Athaya.

Athaya hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh dan kembali menatap rekan-rekannya yang tengah melakukan tugas mereka masing-masing.Tanpa mereka sadari kalau ada seseorang yang memperhatikan kejadian itu dengan kepala yang digelengkan.

***

Althaf merenggut kesal dengan sebuah rokok yang sudah tinggal setengahnya berada di sela jari telunjuk dan tengah tangan kanannya. Ia menghebuskan napasnya yang mengeluarkan kepulan asap putih. Dari atas bangunan sekolah ini, ia bisa melihat seluruh bangunan sekolah serta jalan yang asri penuh dengan pepohonan. Matanya berpencar melihat murid yang tengah melakukan aktifitasnya masing-masing. Waktu istirahat yang banyak dimanfaatkan untuk bersenang-senang.

"Disini rupanya," Suara merdu milik seseorang membuat Althaf menoleh ke belakang. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam dan langsung dibuangnya sembarangan. Althaf tersenyum menatap seorang gadis yang menghampirinya dan langsung menggelayut manja dilengannya.

"Nanti malem kita ke mall ya. Make up sama perawatan kulit aku udah abis,"

"Hmm,"

Mayang Putri mengkerutkan kening menatap Althaf bingung. Wajah Althaf yang masih menahan emosi serta gumaman Althaf tadi membuat Mayang sadar jika laki-laki yang disampingnya itu masih kesal dengan tragedi tadi pagi. Suasana hatinya masih sama saat ia sudah adu mulut dengan Ketua OSIS itu, bahkan saat di kelaspun masih seperti ini. Celana yang tadi di sobek sudah di ganti dengan yang baru ia beli di KOPSIS sekolah, celana standar bahkan sedikit kebesaran dikakinya, namun tak menghilangkan kadar ketampanannya. Baju kemeja yang dikeluarkan dengan rambut yang acak-acakan karena tertiup angin.

"Kenapa sih? Udah jangan dipikirin," Menjalin hubungan selama dua tahun membuat Mayang sangat tau akan sifat Althaf seperti apa. Ia tau apa yang tengah dirasakan kekasihnya itu. Hal yang paling mudah ditebak dengan diamnya Althaf, pertanda jika mood Althaf tengah buruk.

Althaf menoleh dan tersenyum mengacak rambut halus Mayang yang di rawat dengan rutin oleh sang pemiliknya. Mayang satu-satunya wanita yang berhasil meluluhkan hati Althaf yang dingin bahkan beku tak tersentuh. Hati Althaf sebelumnya beku seakan tak pernah mengenal apa itu kasih sayang dan apa itu cinta, perasaannya hilang dan ia tidak percaya akan hal itu ketika mandapati orangtuanya yang bercerai sepuluh tahun yang lalu. Disaat itulah Althaf menganggap bahwa cinta dan kasih sayang itu hanya kebohongan dan tidak nyata bagi hidupnya. Darimana adanya cinta dan kasih sayang jika pada akhirnya hanya ada saling membenci bahkan saling menghujat satu sama lain, sama halnya seperti kedua orangtuanya yang saling membenci setelah pengadilan agama memberikan keputusan perceraian pada mereka. Namun dengan mengenal Mayang akhirnya hatinya luluh dan kebekuan itu perlahan mencair, kali ini ia berusaha untuk percaya akan adanya cinta dan kasih sayang. Kali ini ia sangat bersyukur pada Tuhan yang telah menghadirkan Mayang untuknya. Membawanya dan mengenalkannya kasih sayang serta cinta. Dari Mayang-lah ia sadar jika perpisahan bukanlah akhir dari cinta dan kasih sayang.

Siapa yang tidak mengenal Keluarga Husada yang terkenal dengan dunia perbisnisannya di Indonesia. Mulai dari pertambangan minyak, entertainment serta beberapa sekolah internasional yang didirikan di beberapa kota-kota besar terutama di pulau Jawa. Perbisnisan yang dirintisnya turun temurun sehingga tidak akan ada yang tidak tau siapa keluarga Husada. Bahkan informasi mengenai keluarga itu selalu menjadi trending topic di setiap berita bahkan majalah, tentunya majalah bisnis ternama di Indonesia. Bisnis yang mulai merambah menuju Asia itu layak untuk diacungi jempol. Berita perceraian kedua orangtua Althaf pun tak luput menjadi bahan perbincangan, bahkan sudah lewat sepuluh tahun yang lalu namun semua orang masih saja membicarakan mengenai hubungan antara keluarga Husada, sekarang walau Ari Prasetya Handoko Husada sudah menikah kembali dengan meminang sahabatnya sendiri membuat semua wartawan tetap saja mengorek info mengenai keharmonisan keluarga Husada.

Getaran pada handphone Althaf langsung menghentikan aksi Althaf yang tengah membelai rambut halus Mayang.

"Iya, ..... kapan?, ...... dimana?,....... hmmm, ..... hmmm ..... iya, .... iya, ..... hmm,"

"Siapa?" Tanya Mayang penasaran setelah pembicaraan Althaf dengan seseorang yang menelponnya itu berhenti.

"Papah. Dia minta aku buat datang ke acara makan malem di rumah. Katanya ada yang penting," Jawab Althaf dengan malas sambil memasukkan benda persegi itu ke dalam saku celananya.

"Trus ke mall nya gimana? Nggak jadi," rengek Mayang karena kencannya akan batal untuk hari ini.

"Sorry, besok lagi aja ya," Bujuk Althaf hingga membuat Mayang cemberut.

"Nggak bisa dibatalin? Kemarin kamu juga ngebatalin kencan kita karena sibuk latihan, sekarang batal lagi. Bisa nggak kamu luangin waktu buat aku. Beberapa bulan ini kamu sibuk terus nggak pernah ada waktu buat aku," Keluar sudah unek-unek Mayang yang di pendam beberapa hari ini.

"Iya sorry say, aku sibuk. Aku udah usahain kosongin waktu aku, tapi ‘kan kemarin-0kemarin aku sibuk turnamen. Tolong ngerti dong,"

"Selalu aja gitu, kalau aku terus ngertiin kamu, kapan kamu ngertiin aku?"

"Sorry, May. Gimana kalau kamu jalan sama temen yang lain. Aku kasih kartu aku, kamu boleh pake buat beli apa aja. Kali ini aku nggak bisa nolak permintaan Papah,"

"Biasanya juga nolak, kenapa sekarang nggak bisa?"

"Udah banyak aku nolak ajakan Papah, kali ini pasti dia nggak akan ngebiarin aku lolos. Makanya tolong ngerti sekali ini aja. Aku janji, ke depannya bakalan nemenin kamu terus kemana aja,"

"Selalu aja gitu. Janji kamu nggak pernah ditepatin Althaf. Aku cape!"

"Pliss, May. Mood aku lagi buruk sekarang. Jangan sampe aku emosi sama kamu,"

"Terserah kamu, aku cape!"

Pertengkaran yang berujung dengan Mayang yang pergi dengan kesal dan Althaf yang langsung memaki dirinya karena keadaan yang sangat menyulitkannya. Di satu sisi, ia ingin membuat Mayang senang karena beberapa waktu belakangan ini memang ia tidak ada waktu untuk Mayang, tapi di satu sisi ia juga harus memenuhi permintaan Papahnya karena jika tidak, ancaman Papah tadi pasti akan terjadi jika tidak dituruti.

Althaf langsung mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Dihisapnya kuat-kuat hingga kepulan asapnya keluar dari mulut dan hidungnya.

***

"Assalamu'alaikum," Salam Athaya ketika kakinya sudah memasuki rumahnya.

"Darimana aja kamu? Jam segini baru pulang." Tanya Karin Indira - ibu kandung Athaya -. Tidak ada sedikitpun rasa khawatir dalam nadanya melainkan kesal. Menghiraukan salam yang diucapkan Athaya.

"Abis latihan dulu," Jawab Athaya lalu berjalan menuju tangga untuk ke kamarnya yang berada di lantai atas.

"Ya, makan dulu," Ucap Aris, ayah tiri Athaya dengan nada lembut. Seketika Athaya menoleh padanya yang tengah terduduk di meja makan dengan menatap Athaya dalam.

Aris Pratama yang sudah menyandang gelar sebagai Ayah tiri Athaya sekitar satu tahun yang lalu. Ibunya memilih untuk menikah kembali setelah ditinggalkan oleh suaminya yang meninggal dunia sekitar dua tahun karena penyakit jantung yang dideritanya.

Athaya hanya diam lalu berjalan kembali, acuh tak memperdulikan permintaan orangtuanya itu.

"Di suruh makan malah ngeloyor gitu aja, heran," Omel Karin.

"Udah. Mungkin dia cape," tegur Aris pada istrinya.

"Beda banget sama Atheya,"

Percakapan yang masih terdengar oleh Athaya yang berada di ambang pintu kamar. Perlahan dibantingkan tubuhnya di kasur yang di beri sprai berwarna biru langit. Matanya menatap langit-langit menerawang dan pikirannya kini melayang entah kemana. Beginilah komunikasi yang terjadi antara Athaya dengan Ibunya dan itu hal biasa. Dari dulu memang seperti itu dan akan selalu seperti itu.

Perlahan pikirannya melayang saat dua tahun yang lalu dimana saat ia kehilangan sosok Ayah yang sangat disayanginya. Ayah yang sangat tanggung jawab dan tegas namun sangat menyayangi putrinya.

Flash back

 

Langkah kaki tergesa Athaya menyusuri lorong rumah sakit. Dengan gemetar ia mengikuti langkah dua orang wanita yang berada di depannya. Setelah mendapatkan kabar dari sekertaris Ayahnya yang memberi kabar bahwa atasannya itu masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung langsung membuat Athaya yang masih berada di sekolah langsung berlari ke rumah sakit.

 

"Jangan nangis, nanti Ayah sedih," Ucap Ibunya ketika hampir membuka pintu rawat Ayahnya setelah sebelumnya bertemu dengan sekertaris sang ayah.

 

Ketika membuka pintu seketika tangis sang Ibu pecah, melihat suaminya yang sudah terbujur kaku tertutup kain. Dokter memberitau kalau ia sudah berusaha semaksimal mungkin tapi ia tidak bisa menyelamatkan nyawa Ayah Athaya.

 

Perlahan Athaya mendekat keranjang Ayahnya dan membuka kain putih yang menutup wajah Ayahnya. Tak ada setetes pun air mata yang mengalir di kedua matanya. Athaya memandang lekat wajah sang ayah yang pucat, wajah yang tidak akan ia lihat lagi nantinya.

 

"Ayah! Liat Aya lulus, nilai Aya juga nilai terbaik satu sekolahan. Aya unggul, Ayah," Kata Athaya pelan memandang kertas yang berada ditangannya dan kembali memandang wajah Ayahnya. Kertas yang berisikan pengumuman kelulusannya dan nilai hasil ujian.

 

Kedua wanita yang berada di samping ranjang lainnya hanya menangis menatap sosok laki-laki yang menjadi panutan dan pegangan mereka tidak membuka mata dan tidak akan pernah membuka matanya kembali. Perlahan Athaya mencium kening Ayahnya dan langsung pergi keluar ruangan meninggalkan orang-orang yang menangisi Ayahnya.

 

Sampai selesai Ayahnya di kuburpun tak ada satu tetes air mata yang keluar dari Athaya. Ia sudah bertekad tidak akan membuat Ayahnya sedih hanya karena ia menangis. Ia menahan tangisnya. Ia ingin Ayahnya bahagia dan bangga, maka dari itu ia tidak menangis. Banyak orang-orang yang membicarakan Athaya anak yang aneh dan durhaka karena tidak merasa sedih saat Ayahnya meninggal dan banyak lainnya yang dilontarkan orang-orang padanya, padahal orang-orang sangat tau bagaimana sangat dekatnya hubungan Athaya dengan Ayahnya. Dan Athaya tidak peduli akan hal itu.

Athaya menutup mata mencoba mengusir bayangan masa lalunya. Dihembuskan napasnya perlahan, menenangkan dirinya agar selalu terkontrol dan agar air matanya tidak keluar hanya karena mengingat kejadian itu. Dadanya bergemuruh menahan sesak yang tiba-tiba datang menyelimuti pernapasannya. Rasa sesak yang menimbulkan sakit seperti tusukan pisau membuat napas Athaya tertahan. Ia tidak boleh mengingat itu lagi jika tidak ingin merasakan sesak yang menyakitkan ini.

Tok tok tok

Ketukan pintu membuat Athaya menoleh ke arah pintu dan tanpa menunggu sahutan dari Athaya pintu terbuka perlahan menampilkan sosok wanita seumurnya dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Perlahan Athaya menghembuskan napas perlahan mencoba mengatur pernapasannya agar normal kembali.

"Udah pulang ya,  boleh masuk?" Tanya Atheya. Orang yang dibandingkan oleh ibunya tadi. Athaya mengangguk dan kembali memandang langit langit kamarnya.

Perlahan kasurnya berguncang akibat pergerakan dari Atheya yang duduk di samping Athaya.

"makan yuk," Ajak Atheya hingga membuat Athaya menoleh menatap wajah yang sama persis dengannya.

"Udah makan. Lu aja sana ntar sakit lagi," tolak Athaya.

"Ih kebiasaan, temenin dong. Eh tunggu! kenapa baru pulang jam segini? Abis ngeband pasti," Tuduhnya.

Atheya Yukyta Princesstya. Kembaran Athaya, Kakak Athaya yang umurnya hanya berbeda tiga menit dengannya. Sifatnya bertolak belakang dengan Athaya. Atheya adalah sosok lembut dan feminim, walau menurut Athaya itu, dia cerewet tapi sangat penyayang dan manja berbanding terbalik dengan Athaya yang dingin, kaku serta tomboy. Perbedaan yang sangat mencolok mata hanya dilihat dari penampilan mereka. Bahkan orang-orang bisa langsung membedakan mereka berdua jika bersama-sama. Atheya yang tak bisa lepas dari dress dan rambut panjang yang di curly, sedangkan Athaya yang hanya memakai kaus atau kemeja serta levis dan rambut sebahu yang selalu di ikat asal.

"Iya. Udah sana, Aya mau mandi trus tidur," jawab Athaya dan langsung berdiri mengambil handuk yang tersampir di sandaran kursi belajar. "Jangan nunggu. Aya nggak akan turun. Lu langsung makan aja, jangan lupa minum obat trus istirahat." lanjut Athaya hingga membuat Atheya tersenyum.

"Ciee adik gua perhatian banget sih sama kakanya," Goda Atheya hingga membuat Athaya menghela napas sebal.

"Theya! makan dulu, nak," teriak sang Ibu.

"Tuh udah di panggil, sana cepet!" usir Athaya.

"Iya deh. Besok lu harus pulang cepet, ya. Ada acara penting, besok temen Ayah mau dateng jadi batalin acara latihan lu dan pulang sekolah langsung pulang ke rumah9" perintah Atheya.

"Ayah?"

"Ayah Aris."

"Nggak janji. Nanti Aya usahain,"

"Ihh lu mah ya. Pokonya lu harus pulang cepet. Titik. Nggak ada bantahan." tuh kan terlihat manjanya.

"Iya, ... iya," jawab Athaya terpaksa.

"ih ade gua cantik kalau nurut gitu." ucap Atheya langsung berlari setelah mengacak rambut Athaya .

Athaya hanya menggelengkan kepala dan langsung melanjutkan aktifitasnya untuk membersihkan tubuhnya. Perlahan ia terdiam, memikirkan perhatian Ibunya sangat berbeda. Bahkan ibunya dengan lembut menyuruh kakaknya untuk makan sedangkan padanya tadi? Dengan jelas ibunya kesal dengan kedatangannya yang terlambat. Matanya terpejam menikmati air yang membasahi tubuh serta kepalanya, mencoba mendinginkan pikirannya dan mengusir rasa iri yang ada dalam benaknya. Tidak! Ia tidak boleh merasakan iri seperti itu, batin Athaya. Kata-kata yang selalu diucapkannya jika rasa iri itu datang.

***

Langkah kaki Athaya membuat semua murid yang tengah terduduk dilapangan upacara menoleh padanya. Athaya berjalan, menggiring beberapa murid dibelakangnya yang datang terlambat ke depan lapangan dan disaksikan oleh ratusan pasang mata. Hari ini razia besar-besaran. Kemarin Kesiswaan meminta Athaya untuk mendisiplinkan seluruh murid mengenai tata cara berpakaian. Karena permintaan itulah, tadi pagi Athaya membuat rapat dadakan bersama anggota OSIS lainnya dan salah satu keputusan rapatnya yaitu mengumpulkan murid yang datang terlambat dan membawanya ke lapangan setelah upacara Apel pagi selesai.

"Mohon perhatian! Kepada seluruh teman-teman silahkan berdiri,"

Seketika seluruh murid langsung berdiri mendengar komando dari Athaya yang berada di atas mimbar, "Kepada seluruh Perwakilan OSIS setiap kelas, harap periksa rekan sekelasnya. Kalau ada penampilan yang tidak standar harap di bawa ke depan,"

Seketika suasana menjadi ribut mendengar perintah Athaya. Perlahan matanya menatap seluruh murid-murid yang menggerutu kesal karena razia dadakan ini, terutama para laki-laki yang notabenenya banyak melakukan pelanggaran terhadap penampilan.

"Mohon bantuannya untuk anggota OSIS. Kalian tau apa yang harus kalian lakukan!" perintah Athaya dan seluruh anggota OSIS langsung merazia murid-murid yang berada di depan lapangan dan murid-murid yang baru saja di dorong oleh Perwakilan OSIS - biasanya ketua kelas- untuk ke depan.

"Untuk yang lain silahkan duduk dan nikmati rekan kalian yang sedang di hukum,"

Kata-kata Athaya membuat semua orang menahan senyum terkecuali yang di hukum, mereka semua menatap Athaya jengkel. Mata Athaya berhenti pada siswa yang berdiri santai di ujung barisan. Tatapannya dari rambut hingga sepatu membuat Athaya menggelengkan kepala. Tanpa pikir panjang Athaya mengambil gunting dan langsung menghampiri siswa tersebut. Sesekali anggota OSIS melirik Athaya yang menghampiri siswa itu karena sebenarnya tidak ada yang berani merazia orang itu.

"Apa?" Tanya siswa tersebut yang tak lain adalah Althaf. Karena merasa risih diamati oleh Athaya membuat Althaf langsung menghela napas dan memalingkan wajahnya.

"Rambut merah, kemeja keluar dari tempatnya, celana ketat, sepatu berwarna. Pas banget buat jadi anggota boyband," seketika Althaf menatap Athaya kesal karena ucapan gadis kecil itu. Ia tidak terima disamakan dengan anggota boyband yang menurutnya sangat berlebihan itu.

"Terserah gua. Mau jadi boyband juga bukan urusan lu," jawab Althaf menatap tajam Athaya yang hanya tersenyum meremehkan.

Sreet.

Tanpa pikir panjang Athaya sudah merobek celana seragam Althaf dari belahan pinggirnya sampai paha atas. Seketika orang-orang menatap mereka tidak percaya dengan keberanian Athaya yang merazia anak pemilik sekolah ini. Bahkan ini yang kedua kalinya.

Althaf murka, ia telah dipermalukan di depan seluruh murid-murid. Althaf telah dipermalukan oleh bocah kecil yang berbeda dua tahun dibawahnya. Lebih parahnya lagi, ia dipermalukan dua kali oleh orang yang sama dan dengan hal yang sama. Althaf tidak terima hal ini, tidak pernah ia merasa dipermalukan dan diremehkan seperti ini.

Damn!!!! Rutuk Althaf dalam hati merutuk kegiatan Athaya.

"Dua kali," kata Althaf menghentikan aktifitas Athaya yang tengah menggunting bagian sisi celana lainnya.

Athaya menatap Althaf dengan bingung, "dua kali lu sobek celana gua dan gua jamin hidup lu nggak akan tenang!" Ancam Althaf pada Athaya yang langsung berdiri menatap Althaf dengan wajah datar dan tatapan yang langsung tepat mengenai mata Althaf.

Seketika Althaf terpaku dengan mata bulat Athaya yang berwarna hitam bening. Mata teduh itu membuat Althaf terdiam dan tidak bisa berpaling.

"I'll wait for it," Althaf tersadar dan langsung tersenyum dingin mendengar tantangan Athaya. Bendera hijau sudah dikibarkan dan itu artinya Athaya siap untuk bertempur dengannya. 'Liat aja apa yang bisa gua lakuin bocah. Siapa suruh lu nantang Althaf? Althaf Pramudya,' batin Althaf tersenyum licik menatap Athaya yang sudah berdiri di atas mimbar untuk membubarkan murid-murid.

***

Malam itu suasana ruang makan keluarga Aris berbeda. Kali ini sedikit ramai dengan ditambahnya ketiga orang yang mengisi kursi yang biasanya kosong. Malam ini teman Ayah Aris yang disebutkan Atheya itu benar-benar datang. Mereka semua bercengkrama bahagia, terlihat sangat menikmati acara jamuan makan malam itu dengan canda tawa. Berbanding terbalik dengan suasana dua orang yang ikut bergabung, aura yang menampakkan kedinginan dan kebencian terbentuk disana. Athaya yang dingin dan santai tengah menikmati makannya tanpa terganggu dengan orang sekitar serta tatapan tajam dari Althaf yang tengah menatap intens Athaya penuh dengan benci. Ia masih mengingat kejadian yang dilakukan tadi pagi dan ia tidak terima dipermalukan oleh Athaya.

Ayah Althaf adalah teman Ayah Athaya, mereka bersahabat sejak lama. Maka dari itu mengapa Althaf ada dirumah Athaya.

"Ekhem!" dehaman Aris membuat semua menoleh menatap padanya terkecuali Athaya yang tidak tertarik untuk menatap Ayahnya dan memilih untuk makan dalam diam.

"Begini, sebenarnya kedatangan teman Ayah bukan cuman sekedar untuk makan malam saja. Mereka datang untuk menyampaikan hal penting yang sudah kita sepakati. Bukan begitu Ari?"

"Yah kita di sini bukan hanya untuk makan malam saja. Kita ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian semua, terutama anak-anak kita," tutur pria yang sebaya dengan Aris ikut menimpali yang tak lain adalah Ari -Papah Althaf-sendiri.

Seketika Atheya dan Althaf menoleh menatap ayahnya masing-masing dengan bingung sedangkan Athaya hanya melirik Ayah tirinya dari sudut matanya. Ia sama sekali tidak tertarik akan apa yang akan diucapkan kedua laki-laki yang genap berkepala empat itu. Athaya ingin cepat menyelesaikan acara makan malam ini dan pergi ke kamarnya. Ia sungguh lelah hari ini, bahkan kalau bukan paksaan dari Atheya dan menghargai Ayah tirinya ia mungkin sudah tertidur dan melewatkan acara ini.

"Memang ada apa, Yah?" Tanya Atheya semangat. Keinginan taunya yang besar menarik perhatian Althaf untuk menatap Atheya. Wanita kembaran Athaya yang baru ia ketahui sekarang.

Awalnya ia terkejut saat mendapati Atheya yang membuka pintu dan menyambut kedatangan keluarganya dengan ramah. Ia mengira jika gadis yang memakai gaun berwarna soft pink itu adalah Athaya. Ia tertegun mendapati penampilan yang ia kira Athaya itu berbeda, bahkan dengan perubahan sifatnya. Ia bingung karena ia mengira Athaya adalah gadis tomboy yang tidak akan pernah memakai gaun seperti itu bahkan ber-make up seperti itu. Cara penyambutannya yang ramah membuat Althaf heran, bagaimana mungkin Athaya bisa seramah dan selembut itu. Namun semua pertanyaannya terjawab ketika saat ia baru menduduki kursi makan, ia melihat seseorang yang sama wajahnya dengan Athaya turun menuju ruang makan dan duduk tepat diseberang dirinya. Althaf langsung sadar jika mereka kembar dan sudah dipastikan wanita yang memakai celana levis sobek-sobek dengan kaus hitam yang longgar itu adalah Athaya.

"Dulu kita membuat perjanjian jika suatu saat nanti kita mempunyai anak, kita akan menjodohkan anak kita," perkataan Ari, Papah Althaf sukses menarik perhatian Athaya.

"Maksud Papah?" Kini Althaf yang mengeluarkan suaranya. Ia menangkap sinyal yang tidak baik disini.

"Papah ingin menjodohkan kamu sama anaknya Om Aris,"

"Maka dari itu Ayah mengajak mereka makan malam untuk membahas ini. Ayah akan menjodohkan salah satu dari kalian, karena kalian anak Ayah,"

"Jadi maksud Ayah Aku atau Aya bakalan dijodohin?"

Althaf meringis mendengar ucapan Atheya. Jadi Papahnya menyuruhnya untuk bersiap akan makan malam di rumah temannya untuk membahas perjodohan? Kenapa mendadak? Kenapa tidak ada konfirmasi terlebih dulu padanya. Bagaimana bisa Papahnya memutuskan hal seperti ini tanpa ada persetujuan apapun darinya. Ia akan dijodohkan dengan salah satu dari dua gadis yang duduk dihadapannya ini. Bagaimana dengan Mayang? Althaf yakin Mayang akan histeris jika tau mengenai perjodohan ini.

"Maaf Ayah, tapi Theya nggak bisa. Theya masih ada Rizky. Lagipula Ayah sama Ibu tau 'kan gimana Rizky? Jadi apa lebih baik perjodohan ini buat Athaya aja,"

Seketika Althaf menatap Athaya yang tengah menatap Atheya dari sudut matanya. Perlahan Athaya meletakkan sendok dan garpu di piring putih yang berisikan makanan kesukaannya. Omelet ditambah sayuran hijau dan sosis. Makanannya masih tersisa banyak dan kini selera makannya langsung hilang entah kemana. Seperti sudah menduga akan seperti ini jadinya dengan tenang Athaya menatap Althaf yang masih menatapnya dengan tajam seolah mengintimidasi Athaya.

Rizky pacar Atheya yang sudah menjalin hubungan dengan Atheya ketika kelas satu SMA dan sampai sekarang masih bertahan. Bahkan Ayah dan Ibunya sangat mendukung hubungan mereka itu, dan sudah dipastikan jika perjodohan ini pasti akan ditolaknya dan akan dilemparkan kepada Athaya.

"Maaf, ya. Theya memang kayak gitu," Sesal Karin merasa tidak enak.

"Tidak apa-apa. Saya ngerti ko jeng, biasa anak-anak," kini gikiran Sherin Ibu tiri Althaf yang bersuara.

"Hmmm, jadi Athaya yang akan dijodohkan dengan Althaf? Kamu bukannya ketua OSIS sekolahnya Althaf ya?" Kini giliran Papah Althaf yang bertanya membuat Athaya mau tak mau menatapnya dan mengangguk.

"Wahh cocok ya, Papah banyak denger tentang kamu," lanjutnya lagi dan menyebut dirinya sebagai Papah.

"Jadi, Ris. Kita resmikan aja acara perjodohan ini,"

***

quotes
Author's note
notes
HI, I'm back! akhirnya bisa nulis lagi. Awalnya cerita ini pake cast yang sama kaya cerita POSSESIVE tapi udah Han ganti lagi Semoga suka ya
Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd