“Apa tidurmu tadi malam tidak nyenyak?”
Asia tersentak kaget, dia menatap Eugene singkat sebelum kembali menyandarkan kepalanya lalu menutup mata. Dia sudah berusaha untuk mengabaikan kehadiran Eugene dengan berpura-pura tidur, tapi dia malah tetap bereaksi dengan ucapan Eugene.
“Nyenyak, tapi aku masih mengantuk.”
Korden jendela kereta kuda di singkap Eugene. Dia memperhatikan jalan sekitarnya lalu berucap, “Pemandangan di luar sana jauh lebih indah dari sebelum-sebelumnya.”
Mata Asia sedikit terbuka dan dia pun tertegun melihat senyum yang Eugene perlihatkan. Senyum itu dibarengi dengan tatapan mata Eugene yang tampak melembut.
Refleks Asia mengusap tengkuknya yang mendadak terasa dingin. “Aku akan melihatnya nanti.”
“Bunga-bunga yang bermekaran di luar sana tidak bisa kamu lihat lama.”
Asia melirik jendela dan benar saja, di luar jendela tampak bunga-bunga bermekaran dengan sangat indahnya. Rasa antusias yang besar membuat Asia membuka sepenuhnya korden jendela.
“Apa bunga-bunga ini tumbuh liar?” tanya Asia penasaran.
“Tentu tidak. Daerah ini memang terkenal dengan penghasil bunga. Jadi di setiap musim semi, kamu bisa mencium aroma bunga segar di sepanjang jalannya.”
“Lalu bunga ini untuk diapakan?”
“Banyak hal, semuanya dimanfaatkan dan tidak ada yang sia-sia.”
“Aku selalu suka melihat hal yang seperti ini. Aku dulu pernah berharap punya taman yang penuh dengan bunga di rumahku.”
“Kenapa hanya berharap? Memangnya ada apa dengan rumahmu?” tanya Eugene penasaran.
“Apa kamu ingin tahu rumahku seperti apa?”
Anggukan Eugene membuat Asia langsung mengambil buku dan penanya. Tak lupa pena itu dicelupkan ke dalam tinta. Saat Asia ingin mulai menggambar, dia tampak kebingungan karena tidak ada meja di depan mereka yang membuat Eugene bisa melihat prosesnya menggambar. Haruskah dia menggambarnya terlebih dulu dan menjelaskannya? Tapi dia ingin dilihat oleh Eugene.
Eugene menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Asia. Kaki panjangnya pun segera ditekuk.
“Pakai kakiku sebagai mejanya,” ucap Eugene dengan enteng.
Asia tidak percaya jika Eugene mengetahui apa yang dia inginkan. “Apa kamu serius?” tanya Asia memastikan.
“Ya, pakai senyamanmu.”
Buku itu Asia taruh di atas paha Eugene dan dia mulai menggoreskan penanya. Tampak semakin hari Asia terlihat semakin mahir menggunakan pena yang modelnya jauh berbeda dengan yang ada di dunianya.
Asia menggambar kotak-kota di dua halaman berbeda di buku itu. Setelah selesai menggambar, dia pun mulai menjelaskan.
“Rumahku itu rumah dua lantai. Ada empat kamar di rumahku. Tiga kamar di lantai atas itu ada kamar orangtuaku, kamarku dan kamar adikku.” Tiga kotak yang terdapat di lantai dua ditunjuk Asia.
“Satunya?”
“Kamar tamu dan ada di bawah.” Asia menunjuk kamar tamu yang dia maksud.
“Apalagi yang ada di rumahmu?”
“Oh ya, ada dapur, ruang makan, ruang tamu dan ruang keluarga. Tidak ada halaman di rumahku. Hanya ada sedikit lahan untuk parkiran.”
“Rumahmu cukup kecil ternyata.”
“Rumahku bisa dibilang besar tahu. Rumahku itu ada di sebuah perumahan, bukan ada di desa padat penduduk.” Asia kembali
“Oke, lanjutkan ceritamu.”
“Aku akan menggambarkan bagaimana kamarku.”
Kembali tangan Asia menggoreskan penanya di atas kertas. Dia mulai menggambar di mana letak tempat tidur, meja belajarnya, lemari, boneka dan hias-hiasan lainnya. Untuk menggambar kamarnya itu, butuh waktu yang cukup lama bagi Asia melakukannya karena dia ingin memperlihatkan kamarnya secara detail.
“Kamarku bernuansa biru dan putih. Kamar yang nyaman dan indah. Setiap dua hari sekali aku akan mengganti isi dari vas bunga di kamarku. Aroma kamar tidur dan kamar mandiku juga selalu beraroma bunga.”
“Bunga apa yang kamu suka?”
“Mawar.”
“Tapi aromamu seperti bunga edelweiss.”
Asia sontak mencium aromanya sendiri dan dia menggeleng. “Aku tidak mencium aroma bunga edelweiss dan di tempatku, bunga edelweiss sangat dijaga. Untuk melihatnya saja aku sampai harus naik gunung.”
“Aku tidak tahu itu.”
Asia terkekeh. “Ya karena kamu tidak berasal dari sana.”
“Apa kamu ingin dibelikan alat melukis?” tanya Eugene tiba-tiba.
Pertanyaan Eugene yang tiba-tiba itu membuat Asia melotot. Di tempat yang tidak ada ponsel seperti ini, melukis tentu bisa menjadi hal yang akan dia gunakan untuk menghabiskan waktunya. Kesempatan ini tidak bisa Asia tolak begitu saja.
Baru saja Asia ingin mengangguk, dia teringat akan keuangan Eugene. Seketika Asia langsung menggeleng.
“Tidak usah, aku cukup dengan ini saja.”
Buku itu Asia tarik dari atas paha Eugene dan meletakkannya kembali ke tempat penyimpanannya. Asia melirik Eugene dan tersenyum canggung. Eugene seketika menghela napas melihat tingkah Asia.
“Aku akan membelikanmu.”
“Tidak usah, aku tidak suka melukis. Aku bahkan tidak pernah belajar melukis.”
“Mulai sekarang kamu bisa belajar,” ucap Eugene tak terbantahkan.
“Tidak-tidak, aku menolak.” Asia menjauhkan tubuhnya dari Eugene. Matanya melirik Eugene dengan tajam.
“Apa kamu kira aku tidak bisa membelikanmu alat melukis?”
Ekspresi kaget dari Asia karena dia yang tidak percaya Eugene langsung bisa menebak apa yang dipikirkan membuat Eugene mengangguk mengerti.
“Kamu tidak usah khawatir masalah uang.”
“Apa kamu kaya raya?”
Pertanyaan yang diucapkan dengan wajah polos itu membuat Eugene menutup wajahnya. Bisa-bisanya Asia mengatakan hal itu dengan ekspresi sepolos itu. Eugene mengintip Asia dari sela jarinya. Asia masih memandanginya dengan tatapan penasaran.
Eugene langsung menunduk, dia sedikit mengangkat pandangannya hingga dia dan Asia saling memandangi. Ada senyum kecil yang terukir di sana. Tangannya pun perlahan terangkat dan mendekati tubuh Asia. Saat tangannya sudah ada di depan wajah Asia dan dengan entengnya Eugene menyentil kening Asia.
“Auuu!” pekik Asia kaget sekaligus kesakitan. Dia pun refleks menunduk sambil mengusap keningnya itu.
“Aku tidak sekaya itu. Tapi aku tidak semiskin yang kamu bayangkan,” ucap Eugene.
“Iya-iya, terserah,” tanggap Asia tidak peduli lagi karena sentilan Eugene cukup memberikannya efek kesal.
Asia masih tampak mengusap keningnya sambil menunduk. Tangan Eugene kembali terulur ke arah Asia. Dia berniat untuk mengangkat pandangan Asia, tapi Asia dengan cepat menahan tangan itu.
“Kamu tidak bisa lembut padaku ya?” Sebisa mungkin Asia menjauhkan wajahnya dari tangan Eugene.
“Kamu tidak ingat apa yang kulakukan padamu?”
Ingatan Asia seketika berputar ke kejadian tadi malam. Dia dan Eugene berciuman tidak hanya satu kali. Bahkan setelah dia yang tanpa sadar jadi terbawa suasana dan ciuman itu terlepas karena napasnya yang terengah, Eugene kembali menciumnya dengan lebih lembut lagi.
“Sepertinya kamu sangat kesal sampai-sampai wajahmu mulai memerah.” Tangan Eugene sudah lebih dulu berada di kening Asia. Dia mengusapnya dengan pelan kening yang sudah disentilnya itu.
“Maaf,” kata Eugene dengan lembut.
Lagi-lagi Asia dibuat tertegun oleh apa yang dilakukan Eugene. Apa Eugene ingat apa yang dilakukannya tadi malam? Jika Eugene ingat, seharusnya dia bersikap canggung karena tadi malam dia menciumnya karena pengaruh alkohol. Tapi Eugene malah bersikap biasa saja yang artinya Eugene tidak mengingat kejadian tadi malam.
Apa Asia sedih?
Asia sendiri senang dan sedih. Senang karena Eugene menciumnya, sedih karena Eugene melakukannya atas pengaruh alkohol. Jika Eugene mengingat kejadian itu, dia pasti akan merasa bersalah dan sadar jika ciuman itu tidak seharusnya terjadi.
Kalimat berandai-andai kemudian terdengar dipikiran Asia. Seandainya Eugene tidak minum wine dan Eugene menciumnya atas kemauannya sendiri, jelas itu suatu pertanda jika Eugene juga menyukainya.
“Asia,” panggil Eugene
“Iya, tidak apa-apa.” Hanya kalimat singkat itu yang bisa keluar dari mulut Asia. “Aku mau tidur,” lanjutnya lagi.
Kembali Asia memilih untuk menghabiskan waktunya untuk tidur. Dia tidak benar-benar berniat untuk tidur, tapi entah kenapa dia malah benar-benar tertidur. Asia baru dibangunkan saat mereka harus berhenti untuk makan siang.
Semuanya seakan jauh lebih baik setelah sesi makan siang itu. Asia sudah lebih bisa mengendalikan dirinya dari perasaan canggung yang membelenggunya akibat kejadian tadi malam. Ini semua juga karena sikap Eugene yang masih seperti semula.
Setelah selesai makan siang selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga malam kembali datang. Seperti malam sebelumnya, mereka kembali menginap di sebuah penginapan yang mereka temui di jalan. Mereka sudah semakin dekat dengan pusat kota dan rumah-rumah penduduk semakin terlihat banyak.
Kali ini penginapan tempat mereka jauh lebih bagus dari sebelum-sebelumnya. Tempat penginapannya yang berada di tengah-tengah pemukiman membuat Asia bisa melihat kehidupan di sana.
Saat malam belum terlalu larut, Eugene mengajak Asia untuk keluar dari penginapan. Awalnya Asia tidak ingin, tapi dia dipaksa hingga akhirnya ikut keluar. Mereka berdua mencoba menikmati memandangi orang-orang dari pinggir pembatas sungai. Dan Asia tidak menyesal karena sudah keluar dari penginapan.
“Tidak ada listrik dan tidak ada ponsel. Semuanya tampak lebih dekat satu sama lain.”
Asia memandang takjub bagaimana orang-orang tampak becengkrama satu sama lain. Suasana dari pemukiman dengan yang penuh dengan nuansa klasik membuat Asia ingat dengan abad-abad pertengahan. Tapi di abad pertengahan tidak ada monster dan sihir.
“Apa yang terlihat dekat, belum tentu terlihat dekat.” Eugene duduk di pembatas sungai yang terbuat dari batu. Tangannya mengusap kepala Asia. “Tidak semua baik, Asia. Jadi kamu harus hati-hati, terutama saat kita berada di pusat kerajaan.”
“Aku tahu itu, aku bukan gadis polos yang mesti diberitahu tentang orang jahat dan orang baik.”
“Gadis pintar.”
Asia tidak tahan untuk tidak memutar bola matanya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Eugene.
Orang-orang yang berlalu-lalang di depan mereka membuat Asia mengerutkan alisnya. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya sekarang.
“Eugene?” panggil Asia.
“Hmmm?”
Kepala Asia menjauh yang membuat tangan Eugene yang ada di atas kepala Asia terlepas. Asia menoleh dan mendongak menatap Eugene. “Kenapa tidak banyak orang yang membawa senjata di sini? Dan aku juga baru pertama kali melihat seseorang yang membawa tongkat panjang yang indah. Itu untuk apa?”
“Yang membawa tongkat panjang itu adalah seorang penyihir, jumlahnya memang sedikit. Mereka tipe petarung jarak jauh yang akan mengeluarkan sihir melalui perantara tongkat karena seseorang yang memiliki mãna tidak bisa mengeluarkan mãna mereka tanpa melalui perantara.”
“Jadi kamu mengeluarkan mãna melalui perantara pedang?”
Eugene mengangguk membenarkan. “Jika seorang yang tidak memiliki mãna sepertimu menggunakan pedang atau panah, kerusakan yang ditimbulkan tidak separah seperti orang yang memiliki mãna.”
“Kenapa kamu memilih senjata pedang? Kenapa tidak menjadi seorang penyihir saja? Menjadi seorang kesatria bukankah terlalu berat? Kamu mau tidak mau harus berhadapan langsung dengan musuh di baris terdepan, sedangkan penyihir? Mereka bisa mengambil jarak yang jauh dan kesempatan bertahan hidup lebih besar.”
Suara Asia terdengar sendu, bahkan tatapan matanya juga terlihat sama. Gadis itu teringat bagaimana menyebalkan saat dirinya memilih karakter sebagai warrior.
“Seseorang tidak bisa memilih untuk menggunakan senjata yang dia mau, Asia. Aku bisa saja mengganti senjataku menjadi panah, begitu juga dengan seorang pemanah. Tapi aku tidak akan bisa menjadi seorang penyihir.”
“Apa penyihir bisa mengganti senjatanya?”
“Tidak, jika mereka memaksapun hasilnya sama saja seperti kamu yang tidak memiliki mãna. Luka yang ditimbulkan tidak seberapa dan dia bisa saja mati jika memaksa pergi ke hutan monster. ”
“Jadi, dari lahir seseorang tidak bisa memilih untuk menjadi apa?”
“Dalam jenis mãna, iya.”
“Bagaimana dengan pekerjaan? Itu tidak ditentukan dari lahir jugakan?” Asia tertawa, membayangkan semuanya sudah ditentukan tentu membuat dunia ini tidak ubahnya dunia dalam sandiwara.
“Kamu bebas memilih pekerjaan yang kamu mau.”
“Ah, untung saja yang itu dibebaskan. Jika itu juga diatur, tidak ada hak asasi manusia di sini.”
“Apa itu hak asasi manusia?”
“Hak-hak yang dimiliki manusia itu sendiri. Seperti untuk memiliki pekerjaan, hak untuk mengemukakan pendapat, hak untuk berorganisasi, hak yang sama di mata hukum, dan masih banyak lagi.”
“Dunia ini terlalu kaku untuk hidupmu yang bebas, Asia.” Eugene turun dari duduknya, dia menarik tangan Asia lembut. “Ayo kembali ke penginapan.”
“Untuk beberapa hal, aku memang tidak suka tempat ini.” Asia mendongak menatap Eugene. “Tapi aku harus terbiasa dengan hal ini semua. Bahkan aku sudah mulai terbiasa dan menyukai banyak hal di dunia ini.”
Tidak ada jawaban dari Eugene. Pria itu terlalu bingung harus menjawab ucapan Asia dengan kalimat apa.