bab 2

4441 Words
Senin pagi pukul 07.00, Nadira sudah berdiri di depan pintu masuk kantor Mahendra Group. Tas kanvasnya kali ini terasa lebih berat di bahu—penuh dengan sketsa, buku catatan lusuh yang sudah ia miliki sejak kuliah, dan alat-alat gambar yang selalu ia bawa ke mana pun seperti anggota tubuh tambahan. Udara pagi Jakarta masih terasa sejuk, membawa bau tanah basah dari hujan semalam, tapi Nadira sudah merasakan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Ia menarik napas dalam, mencoba mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia ada di sini karena kemampuannya, bukan karena kebaikan hati Arka Mahendra. Bukan karena kasihan. Bukan karena hal lain selain apa yang bisa ia berikan untuk proyek ini. "Tenang, Nad. Kamu sudah melalui hal yang lebih sulit dari ini," gumamnya pelan pada pantulan dirinya sendiri di kaca gedung. Begitu masuk ke lantai kerja yang ditujukan untuk tim proyek Bandung, Nadira langsung merasakan tatapan-tatapan penasaran menusuk punggungnya. Orang-orang berhenti sejenak dari pekerjaan mereka, mengamatinya dengan campuran rasa ingin tahu dan sedikit penghakiman yang samar. Ia tahu persis apa yang mereka pikirkan: Siapa wanita ini? Mengapa dia bisa masuk ke tim inti tanpa nama besar? Apa hubungannya dengan Pak Arka? Nadira mengangkat dagu sedikit dan terus berjalan. Ia sudah terbiasa dengan pandangan seperti itu sepanjang kariernya—sebagai wanita muda di dunia arsitektur yang didominasi pria, sebagai arsitek lepas yang tidak mau bermain aman, sebagai orang yang selalu memilih jalan yang berbeda dari kebanyakan. Biarkan mereka berpikir apa yang mereka mau. Waktu yang akan membuktikan siapa dirinya sebenarnya. "Nona Nadira?" Seorang wanita muda dengan kacamata tebal dan rambut diikat rapi mendekatinya, tersenyum ramah namun tetap formal. "Saya Rina, asisten Pak Reza. Beliau sudah menunggu Anda di ruang rapat kecil. Silakan ikuti saya." Nadira mengikuti Rina melewati deretan meja kerja yang sibuk. Suara ketikan keyboard yang riuh, dering telepon yang bersahutan, dan percakapan rendah tentang target dan tenggat waktu memenuhi ruangan. Ini adalah dunia yang sama sekali berbeda dengan ruang kerja kecilnya di rumah—lebih cepat, lebih keras, lebih tertekan. Di sini, setiap detik tampaknya bernilai uang. Rina mengetuk pintu ruang rapat kecil tiga kali sebelum membukanya. Di dalam, Reza sedang duduk sendirian sambil memeriksa dokumen dengan alis yang sedikit berkerut. Begitu melihat Nadira, wajahnya langsung cerah dan ia berdiri menyambutnya dengan senyum yang jauh lebih hangat daripada yang Arka tunjukkan minggu lalu. "Nona Nadira! Akhirnya bertemu langsung. Silakan duduk, jangan sungkan." "Terima kasih, Pak Reza," jawab Nadira sopan sambil menarik kursi. "Panggil saja Reza. Formalitas hanya membuat leher kaku, kecuali kalau Arka yang ada di ruangan. Dia yang membuat semua orang secara refleks meluruskan punggung setiap kali dia lewat." Reza berkedip nakal, dan Nadira hampir tersenyum sungguhan. Pria ini tampak jauh lebih manusiawi daripada sahabatnya yang selalu tampak terbuat dari baja. Reza mendorong tumpukan dokumen tebal ke arahnya sampai hampir menabrak gelas air di meja. "Ini semua data proyek Bandung. Rencana tata ruang, survei tanah, data demografi penduduk sekitar, anggaran yang sudah disusun ulang tiga kali, dan jadwal yang sudah kita tetapkan—meskipun aku yakin Arka akan mengubahnya lagi setidaknya dua kali. Dia ingin Anda mempelajari semuanya hari ini. Besok pagi, kita akan terbang ke Bandung untuk kunjungan lokasi pertama." Nadira mengangkat alis, sedikit terkejut. "Besok? Itu sangat cepat." "Arka tidak suka menunda-nunda. Dan dia ingin Anda segera melihat lokasi secara langsung sebelum mulai membuat konsep desain. Dia bilang desain yang baik tidak hanya lahir dari data di kertas, tapi juga dari merasakan tanah tempat bangunan itu akan berdiri. Mendengarnya sendiri, aku juga sempat terkejut. Biasanya dia cuma bicara soal angka dan ROI." Nadira terdiam. Kata-kata itu mengejutkannya. Itu adalah prinsip yang selalu ia pegang teguh sejak pertama kali memegang pensil gambar—bahwa sebuah bangunan harus tumbuh dari tanahnya, berbicara dengan lingkungannya, bukan hanya diletakkan di atasnya secara paksa. Dan ia tidak menyangka bahwa Arka Mahendra—pria yang digambarkan media hanya peduli pada angka dan keuntungan—memiliki pemikiran yang sama. "Apakah..." Nadira berhenti sejenak, merasa sedikit bodoh karena bertanya. "Maksud saya, apakah Pak Arka juga akan ikut besok?" Reza tersenyum tipis, seolah menangkap sesuatu dalam nada suara Nadira yang bahkan wanita itu sendiri tidak sadari. "Dia akan ikut. Biasanya Arka tidak pernah melewatkan kunjungan lokasi pertama untuk proyek besar. Dia ingin melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, merasakan sendiri. Tidak percaya begitu saja pada laporan orang lain." Sebelum Nadira bisa bertanya lebih lanjut atau malu karena pertanyaannya sendiri, pintu ruang rapat terbuka. Arka masuk. Ia mengenakan kemeja biru gelap yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawah yang berotot dan urat-urat halus yang muncul ketika ia memegang laptop. Jam tangan mewah di pergelangan kirinya berkilau terkena cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela. Wajahnya masih dengan ekspresi datar yang sama, tapi ada sesuatu yang berbeda hari ini. Mungkin karena ia tidak mengenakan jas yang membuatnya tampak seperti patung marmer, atau mungkin karena cahaya pagi yang lembut membuat garis-garis wajahnya tampak sedikit kurang tajam. Apapun itu, Nadira merasakan detak jantungnya sedikit melompat tidak beraturan. Ia segera menunduk, berusaha fokus pada dokumen di depannya seolah itu adalah hal paling menarik di dunia. "Ark," sapa Reza santai. "Nadira baru saja mulai mempelajari datanya. Dia sudah menemukan masalah pada catatan tanah labil di bagian barat." Arka mengangguk, menatap Nadira sejenak. Tatapannya cepat, tapi Nadira merasa seolah setiap helai rambutnya, setiap noda kecil di kemejanya, sedang diperiksa dengan teliti. "Benarkah?" tanyanya. Suaranya sedalam yang Nadira ingat, seperti suara air yang mengalir di antara batu-batu besar. "Sejauh ini datanya cukup lengkap," jawab Nadira, mengangkat kepalanya untuk bertatap mata langsung. Ia tidak ingin terlihat lemah atau gugup di hadapannya. "Tapi saya melihat catatan tentang tanah yang bersifat agak labil di bagian barat lokasi. Apakah ada survei geoteknik yang lebih detail? Data yang ada di sini masih terlalu umum untuk membuat keputusan desain yang aman." Arka mengangkat alis, sedikit terkejut. Kebanyakan orang yang baru bergabung akan menghabiskan hari pertama hanya untuk mencoba memahami struktur organisasi, berkenalan dengan rekan kerja, atau sekadar terlihat sibuk tanpa benar-benar melakukan apa pun. Wanita ini langsung masuk ke inti masalah teknis yang bahkan beberapa anggota tim lama sempat melewatkan. "Ada. Reza, berikan dia laporan geoteknik lengkapnya hari ini juga. Dan pastikan dia mendapatkan akses ke semua data survei lapangan yang sudah kita lakukan, termasuk foto-foto dokumentasi." Arka menarik kursi kosong di sebelah Reza dengan gerakan yang halus, duduk, dan membuka laptopnya. "Ada hal lain yang ingin Anda tanyakan atau sampaikan?" Nadira membalik beberapa halaman dokumen dengan cepat, jari-jarinya yang sudah biasa memegang pensil bergerak lincah menunjuk bagian tertentu. "Saya melihat konsep awal yang dibuat tim sebelumnya. Fokusnya terlalu banyak pada jumlah unit maksimal dan keuntungan per meter persegi. Sedikit sekali perhatian pada ruang terbuka hijau atau fasilitas komunitas. Bahkan akses jalan untuk sepeda dan pejalan kaki hampir tidak dipertimbangkan." "Itu karena proyek ini harus memberikan keuntungan yang masuk akal bagi perusahaan," jawab Arka tenang. Tatapannya tidak berubah, tapi Nadira bisa merasakan ketegangan yang mulai muncul di udara. "Kita bukan organisasi nirlaba, Nona Nadira. Setiap meter persegi tanah yang kita beli harus menghasilkan nilai." "Saya mengerti itu sepenuhnya," balas Nadira dengan cepat namun tetap tenang. Ia condong sedikit ke depan, membiarkan kesungguhannya terlihat jelas dari matanya. "Tapi penelitian menunjukkan bahwa perumahan dengan ruang terbuka hijau yang cukup dan fasilitas komunitas yang baik memiliki nilai jual yang lebih tinggi dalam jangka panjang. Penghuninya lebih bahagia, lebih lama tinggal, dan menciptakan komunitas yang kuat yang justru meningkatkan citra proyek dari mulut ke mulut. Kita tidak harus memilih antara keuntungan dan kualitas hidup. Kita bisa memiliki keduanya, asalkan kita mau merencanakannya dengan cerdas sejak awal." Keheningan menyelimuti ruang rapat kecil itu. Reza menahan napas, menatap Arka dengan cemas. Tidak ada yang pernah berani berbicara seperti itu pada sahabatnya. Tidak ada yang pernah menantang prinsip bisnis Arka secara langsung, terbuka, dan dengan keyakinan sebesar itu. Kebanyakan orang akan berbisik pelan di belakang punggungnya, atau menyetujuinya dulu lalu mengubahnya secara diam-diam. Arka sendiri terdiam. Matanya menatap Nadira dengan intensitas yang membuat wanita itu merasakan panas merambat naik ke pipinya, tapi ia tetap mempertahankan tatapannya. Ia tidak akan mundur. Tidak untuk hal yang ia yakini benar. Jari telunjuk kanan Arka mulai berputar-putar pada cincin perak itu—lebih cepat dari biasanya. Tanda bahwa ia sedang berpikir keras, memproses setiap kata yang keluar dari mulut Nadira, menimbang-nimbang antara logika bisnis dan sesuatu yang lain. Tiba-tiba, sudut bibir Arka terangkat sedikit. Hanya sedikit. Hampir tidak terlihat jika kamu tidak memperhatikannya dengan saksama. Tapi Reza melihatnya. Dan Nadira juga melihatnya. Itu bukan senyum penuh. Bukan senyum ramah atau senyum manis. Tapi itu adalah sesuatu yang belum pernah Reza lihat pada Arka sejak bertahun-tahun yang lalu, sejak sebelum pernikahan sahabatnya berakhir dengan kepingan yang tajam. Hampir seperti... terhibur. "Baik," kata Arka akhirnya. Suaranya terdengar sedikit berbeda—lebih lembut, hampir ada nada kekaguman di dalamnya yang ia sembunyikan dengan baik. "Saya akan memberikan kesempatan pada Anda untuk membuktikannya. Buatlah konsep desain yang mempertahankan target keuntungan kita tapi juga memasukkan elemen-elemen yang Anda bicarakan. Tunjukkan pada saya bahwa Anda tidak hanya berbicara tentang idealisme yang indah di kertas, tapi juga memahami realitas bisnis yang keras." Nadira mengangguk, hatinya berdebar karena campuran kegembiraan dan tantangan yang menyala di dadanya. "Saya akan menyiapkan konsep kasarnya sebelum kita berangkat besok." "Bagus." Arka menutup laptopnya dengan bunyi klik yang pelan dan berdiri. Tingginya membuat Nadira yang masih duduk harus mendongak untuk menatapnya. "Saya ada rapat lain dengan direksi. Reza, pastikan dia mendapatkan semua yang dia butuhkan. Jangan biarkan ada yang menghalangi pekerjaannya." Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang terukur seperti biasa, tapi berhenti sejenak sebelum memegang gagang pintu. Menoleh ke arah Nadira. "Dan Nona Nadira?" Nadira mengangkat kepala, rambutnya yang sedikit berantakan jatuh menutupi sebagian wajah. "Ya, Pak Arka?" "Saya suka orang yang berani mengatakan apa yang mereka pikirkan. Tapi pastikan Anda bisa membuktikannya. Saya tidak suka kekecewaan. Dan saya tidak suka membuang waktu." Pintu tertutup pelan di belakangnya. Nadira menghela napas panjang yang selama ini ia tahan, tubuhnya terasa lemas seketika karena ketegangan yang menumpuk. Ia menyandarkan punggung di kursi, menatap langit-langit ruang rapat. "Ya ampun," gumamnya pelan. "Apa aku baru saja melakukan itu?" Reza tertawa kecil, suaranya lega dan terhibur. "Kamu berani sekali, Nadira. Aku sudah berteman dengan Arka selama lima belas tahun, dan bahkan aku kadang ragu untuk menantangnya sekeras itu. Biasanya orang yang berani melakukannya akan keluar dari kantor ini dengan surat pemecatan." Nadira menegang. "Apakah... apakah saya sudah melakukan kesalahan?" "Justru sebaliknya." Reza tersenyum, matanya berbinar dengan sesuatu yang Nadira tidak sepenuhnya mengerti. "Kamu baru saja mendapatkan rasa hormatnya. Dan percayalah, itu bukan hal yang mudah didapatkan dari Arka Mahendra. Dia tidak peduli seberapa hebat gelarmu atau seberapa banyak pengalamanmu. Dia peduli pada apakah kamu punya tulang punggung untuk berdiri tegak pada apa yang kamu yakini." Hari itu berlalu dengan cepat seperti air yang mengalir di parit yang curam. Nadira tenggelam dalam tumpukan dokumen dan data, hampir tidak menyadari ketika matahari mulai terbenam dan langit di luar jendela berubah warna menjadi jingga keunguan yang indah. Ia hanya berhenti sekali untuk makan siang—sepotong roti gandum dan segelas kopi hitam yang dibawakan Rina dengan ramah—selebihnya ia habiskan untuk menganalisis data, membuat sketsa kasar di kertas-kertas kecil, dan menghitung angka-angka yang harus diseimbangkan antara idealisme dan realitas bisnis yang keras. Ketika jam menunjukkan pukul delapan malam, sebagian besar karyawan sudah pulang. Ruang kerja yang tadi riuh dan sibuk kini menjadi sunyi, hanya menyisakan suara ketikan keyboard Nadira yang teratur dan dengungan AC yang berputar pelan di langit-langit. Cahaya lampu yang tersisa hanya beberapa titik, menciptakan bayangan-bayangan panjang di antara meja-meja yang kosong. Nadira meregangkan tubuhnya yang kaku, otot-otot bahunya terasa sakit karena terlalu lama membungkuk di atas meja. Ia menguap kecil, matanya terasa perih dan kering karena terlalu lama menatap layar komputer dan dokumen yang penuh dengan angka-angka kecil. "Masih bekerja?" Nadira tersentak hebat sampai pensil yang ada di tangannya terjatuh ke lantai dengan bunyi klik yang nyaring di keheningan. Ia menoleh ke belakang dengan cepat dan menemukan Arka berdiri di ambang pintu ruang kerjanya, satu tangan di saku celana, wajahnya tampak lelah tapi tetap tenang. Ia masih mengenakan kemeja yang sama, tapi sekarang tampak sedikit kusut di bagian siku, dan ada lingkaran gelap samar di bawah matanya yang biasanya begitu tajam. "Pak Arka," sapanya kaget, segera berdiri sampai kakinya hampir menabrak kursi. "Saya... saya minta maaf, saya tidak menyadari sudah sepagi ini. Maksud saya, semalam ini. Saya hampir selesai, hanya perlu memeriksa beberapa angka terakhir." Arka mengangkat satu tangan, gerakannya pelan seolah tidak ingin menakutinya lagi. "Jangan berdiri. Duduklah kembali. Saya tidak bermaksud mengejutkan Anda." Ia masuk ke ruangan dengan langkah yang pelan, seolah takut mengganggu keheningan malam yang sudah menyelimuti kantor. Ia berjalan mendekati meja kerja Nadira, matanya melirik sketsa-sketsa yang berserakan di atas meja—gambar-gambar kasar tentang taman kecil di tengah setiap blok perumahan, ruang bermain anak dengan ayunan dan perosotan yang digambar dengan detail, area komunitas dengan bangku-bangku kayu dan pohon-pohon rindang yang disisipkan di antara bangunan. "Kamu tidak perlu pulang malam hanya untuk menyelesaikan ini," katanya pelan. Suaranya terdengar jauh lebih lembut di kegelapan malam, tanpa tekanan pekerjaan, tanpa tatapan orang lain yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. "Kita masih punya waktu beberapa jam sebelum keberangkatan besok. Kamu bisa menyelesaikannya di pesawat nanti." "Saya ingin memastikan semuanya siap," jawab Nadira jujur. Ia duduk kembali, tapi tubuhnya tetap tegang. "Saya tidak ingin mengecewakan Anda. Atau membuat Anda berpikir bahwa memberikan kesempatan pada saya adalah keputusan yang salah." Arka berhenti di samping mejanya, hanya berjarak satu langkah. Ia menatap salah satu sketsa dengan perhatian yang dalam, jari telunjuknya hampir menyentuh kertas tapi berhenti di udara seolah takut merusaknya. "Gagasan tentang taman di tengah setiap blok perumahan..." gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Nadira. "Kamu memikirkan bagaimana orang akan bertemu satu sama lain, bukan hanya bagaimana mereka akan tinggal di dalam rumah." "Itulah yang membuat perbedaan antara perumahan dan komunitas," jawab Nadira lembut. Ia merasa lebih berani sekarang, melihat ketertarikan yang tulus di mata Arka. "Rumah bukan hanya dinding dan atap. Rumah adalah tempat di mana anak-anak bermain bersama di sore hari, di mana tetangga saling menyapa ketika berpapasan di jalan, di mana orang merasa aman dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Jika kita mengorbankan itu demi keuntungan jangka pendek, kita tidak sedang membangun rumah. Kita hanya sedang menjual kotak beton yang dingin." Arka menatapnya. Di cahaya lampu meja yang redup dan kuning keemasan, matanya tampak lebih dalam, lebih hangat, kurang seperti es dan lebih seperti air yang tenang. Nadira tiba-tiba menyadari betapa dekatnya mereka sekarang—cukup dekat untuk Nadira mencium aroma parfum Arka yang samar, campuran kayu cendana dan sesuatu yang segar seperti hujan di pagi hari, cukup dekat untuk melihat garis-garis halus di sudut matanya yang baru muncul ketika ia sedikit menyipitkan mata. "Kebanyakan arsitek hanya memikirkan bangunan," kata Arka pelan. Suaranya hampir berbisik, seolah mereka sedang berbagi rahasia di tengah kegelapan. "Atau seberapa besar keuntungan yang bisa mereka berikan pada klien mereka." "Kebanyakan arsitek tidak bertemu dengan klien yang memberikan mereka kesempatan untuk berpikir berbeda," jawab Nadira tanpa berpikir panjang. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya, begitu tulus dan tanpa persiapan. Begitu ia menyadari apa yang baru saja ia katakan, pipinya terasa panas dan ia segera menunduk, merasa bodoh karena terlalu banyak bicara. Tapi Arka tidak terlihat marah atau terganggu. Sebaliknya, ada kilatan sesuatu di matanya—sesuatu yang hampir mirip dengan rasa terima kasih, sesuatu yang lembut dan rentan yang muncul sejenak sebelum menghilang kembali. "Kamu harus pulang," katanya setelah beberapa saat hening yang tidak terasa canggung. "Besok kita harus bangun pagi. Penerbangan kita jam tujuh, dan aku tahu macet ke bandara pagi-pagi tidak pernah menyenangkan." Nadira mengangguk, mulai membereskan barang-barangnya dengan gerakan yang agak terburu-buru karena perasaan aneh yang menggelitik dadanya. "Baik, Pak Arka. Saya akan segera pulang. Terima kasih sudah... mengingatkan." Arka menunggu sampai Nadira selesai membereskan tasnya dan mematikan lampu meja, lalu berjalan bersamanya menuju lift. Selama perjalanan turun ke lobi, mereka tidak berbicara sepatah kata pun. Tapi keheningan itu tidak terasa kosong atau canggung. Sebaliknya, ada sesuatu yang nyaman dan hangat di dalamnya—seolah keduanya menikmati kebersamaan tanpa perlu mengisi ruang dengan kata-kata yang tidak perlu dan tidak berarti. Di lobi yang sepi dan remang-remang, Arka berhenti di dekat pintu kaca besar. "Saya akan mengantar Anda pulang." Nadira mengangkat alis, benar-benar terkejut kali ini. "Oh, tidak perlu, Pak Arka. Sungguhan. Saya bisa naik taksi atau ojek online dengan mudah. Rumah saya tidak terlalu jauh dari sini, dan jalannya masih ramai." "Sudah larut malam," jawab Arka tegas. Tidak ada ruang untuk penolakan dalam nada suaranya, tapi juga tidak ada paksaan yang kasar. Hanya kepastian yang tenang. "Dan Jakarta tidak selalu seaman yang terlihat, bahkan di jalan yang ramai. Sopir saya sudah menunggu di luar. Tidak akan merepotkan sama sekali." Nadira ragu sejenak. Ia tidak ingin merepotkan Arka, apalagi membuat orang lain melihat mereka bersama dan berpikir hal-hal yang tidak-tidak. Tapi melihat ketulusan pada wajah pria itu, ketegasan yang justru berasal dari kepedulian, ia tahu bahwa menolak akan sia-sia dan mungkin juga tidak sopan. "Baiklah," katanya lembut. "Terima kasih banyak, Pak Arka. Anda terlalu baik." Mobil hitam mewah itu melaju perlahan di jalan-jalan Jakarta yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan menyala seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi, menciptakan garis-garis cahaya yang bergerak di jendela. Nadira duduk di kursi belakang di samping Arka, merasa sedikit tidak nyaman dengan kemewahan di sekelilingnya—kulit jok yang lembut dan harum, ruang yang luas dan sunyi, pembatas kaca antara mereka dan sopir yang memberikan privasi total. Semuanya terasa jauh dari dunia yang biasa ia jalani setiap hari. "Di mana rumah Anda tepatnya?" tanya Arka memecahkan keheningan setelah beberapa menit. "Tebet. Dekat stasiun. Sebuah gang kecil yang hanya bisa dilewati satu mobil." Nadira tersenyum tipis, teringat rumahnya yang sederhana. "Kamu mungkin akan kesulitan memutar mobil nanti." Arka mengangguk sedikit. "Kamu tinggal bersama orang tua?" "Ya. Bersama ibu, ayah, dan adik perempuan saya yang masih kuliah. Rumahnya kecil dan selalu berisik—adik saya suka memutar musik keras, ibu selalu berbicara pada tanaman-tanamannya seolah mereka bisa mendengar, ayah kalau sedang menonton bola suaranya bisa terdengar sampai ke ujung gang. Kadang saya ingin punya tempat sendiri untuk bekerja dengan tenang, tapi..." Nadira berhenti, menatap ke luar jendela dengan lembut. "Saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa suara-suara itu. Tanpa mereka." Ia menyadari bahwa ia baru saja berbagi hal yang cukup pribadi pada pria yang hampir tidak ia kenal. Tapi anehnya, ia tidak merasa menyesal. Di dekat Arka, entah mengapa, ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura. Arka menatapnya melalui pantulan jendela yang gelap. Cahaya lampu jalan yang lewat menerpa wajahnya bergantian, membuatnya tampak seperti bayangan yang muncul dan menghilang. "Keluarga..." gumamnya pelan. Suaranya terdengar jauh, seperti datang dari tempat yang sangat dalam dan lama tidak dikunjungi. "Itu adalah hal yang beruntung untuk dimiliki." Nada suaranya membuat Nadira menoleh dengan perhatian penuh. Ada sesuatu dalam suara Arka—sesuatu yang sedih, sesuatu yang rindu, sesuatu yang menyakitkan seperti luka lama yang tertekan secara tidak sengaja. "Apakah..." Nadira berhenti sejenak, mempertimbangkan apakah ia harus melanjutkan atau tidak. Tapi rasa ingin tahunya yang besar, ditambah dengan dorongan hatinya yang tulus untuk memahami pria ini, membuatnya berani mengambil risiko. "Apakah Anda tidak dekat dengan keluarga Anda?" Arka terdiam lama. Jari telunjuknya kembali berputar-putar pada cincin perak di jarinya—gerakan yang sekarang mulai Nadira pahami sebagai tanda bahwa ia sedang gugup, atau memikirkan sesuatu yang menyakitkan, atau berusaha menahan emosi yang tidak ingin ia tunjukkan. "Ayah saya dan saya..." jawabnya akhirnya. Suaranya datar, tapi Nadira bisa merasakan ketegangan yang merayap di setiap kata. "Kami tidak pernah melihat mata. Dia tidak menyetujui jalan yang saya pilih, tidak setuju dengan cara saya membangun perusahaan ini. Dan saya... saya tidak bisa memaafkannya untuk hal-hal yang dia lakukan di masa lalu. Untuk cara dia memperlakukan ibu saya." Ia berhenti, menelan ludah dengan susah payah. "Ibu saya sudah tidak ada. Dia meninggal ketika saya berusia enam belas tahun." Ia mengucapkannya begitu sederhana, begitu tanpa emosi yang meledak-ledak, seolah itu hanyalah fakta biasa seperti cuaca hari ini atau harga beras di pasar. Tapi Nadira bisa merasakan rasa sakit yang tersembunyi di balik setiap kata itu—rasa sakit yang sudah lama disimpan, yang sudah tertanam begitu dalam sehingga menjadi bagian dari tulang dan darahnya. "Saya turut berduka cita," katanya lembut, tulus. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan." "Tidak perlu mengatakan apa-apa," jawab Arka pelan. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat Nadira. "Sudah lama terjadi. Saya sudah terbiasa." Tapi matanya mengatakan hal yang berbeda. Matanya mengatakan bahwa beberapa luka tidak pernah benar-benar sembuh. Mereka hanya mengering di permukaan, sementara di dalamnya masih berdarah perlahan. Nadira menatap pria di sampingnya dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa kasihan, ada rasa ingin tahu yang besar, tapi yang paling kuat adalah perasaan aneh yang membuatnya ingin meraih tangan Arka yang tegang di pangkuannya, ingin memberitahunya bahwa tidak apa-apa untuk merasa sakit, bahwa tidak apa-apa untuk tidak selalu kuat. Tentu saja ia tidak melakukannya. Mereka belum cukup dekat untuk itu. "Cincin itu," katanya pelan sebagai gantinya, suaranya hampir tidak terdengar di atas dengungan mesin mobil. "Itu milik ibumu?" Arka menegang seketika. Seluruh tubuhnya menjadi kaku seperti patung es. Nadira takut ia sudah melanggar batas, takut Arka akan marah, menutup diri kembali, dan memintanya diam selamanya. Tapi setelah beberapa detik yang menegangkan, Arka perlahan mengangguk. Gerakannya lambat, hampir tidak terlihat. "Dia memberikannya kepada saya sehari sebelum... sebelum dia pergi." Suaranya bergetar sedikit di akhir kalimat. Hanya sedikit. Tapi Nadira menangkapnya dengan jelas. "Katanya, supaya saya selalu ingat untuk menjadi pria yang baik hati. Bahwa kekuatan tidak selalu tentang menang atau menguasai. Bahwa terkadang, keberanian terbesar adalah membiarkan seseorang masuk." Ia berhenti, dan Nadira melihat rahangnya mengeras seolah ia menyesal telah mengatakan terlalu banyak. Tapi sudah terlambat. Nadira sudah mendengarnya. Sudah melihat sisi lain dari Arka Mahendra malam ini. Bukan sang CEO yang perkasa dan dingin, bukan pria yang mengendalikan segalanya dengan tangan besi. Tapi seorang anak laki-laki yang masih merindukan ibunya, yang membawa luka yang belum sembuh bahkan setelah delapan belas tahun berlalu, yang begitu takut dicintai dan ditinggalkan sehingga ia memilih untuk tidak membiarkan siapa pun masuk sama sekali. Dan untuk pertama kalinya, Nadira tidak melihat Arka sebagai pria yang tidak bisa disentuh. Ia melihatnya sebagai pria yang terluka. Pria yang sangat membutuhkan sentuhan, tapi terlalu takut untuk menerimanya. Mobil berhenti dengan perlahan di depan rumah Nadira—rumah sederhana dengan pagar kayu yang sedikit usang dan dicat putih yang mulai menguning, taman kecil di depan yang penuh dengan bunga-bunga yang ditanam ibunya dengan penuh kasih sayang. Cahaya lampu kuning masih menyala dari dalam jendela, tanda bahwa keluarganya masih terjaga menunggunya. "Ini rumah saya," kata Nadira, melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan yang agak lambat. Ia tidak ingin momen ini berakhir begitu saja. Ia menatap Arka, dan untuk pertama kalinya ia tidak melihat topeng dingin di wajah pria itu. "Terima kasih sudah mengantar, Pak Arka. Dan terima kasih... sudah bercerita tentang ibumu. Saya yakin dia akan bangga melihat pria yang sudah Anda jadikan." Arka hanya mengangguk. Wajahnya sudah mulai menutup kembali, dinding-dinding itu mulai terpasang lagi satu per satu. Tapi sebelum semuanya tertutup rapat, Nadira melihat kilatan sesuatu di matanya—sesuatu yang lembut, sesuatu yang berterima kasih. "Hati-hati masuk. Sampai jumpa besok di bandara." Nadira turun dari mobil, berdiri di pinggir jalan yang sepi sambil memperhatikan mobil hitam itu melaju perlahan pergi, lampu belakangnya menjadi semakin kecil dan akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia masih bisa merasakan aroma parfum Arka yang tertinggal di udara di sekitarnya, masih bisa mendengar suara suaranya yang bergetar ketika berbicara tentang ibunya, masih bisa melihat kilatan kesedihan di matanya yang biasanya begitu dingin dan tak tertembus. Nadira meletakkan tangan di d**a kirinya, di mana jantungnya berdetak dengan irama yang tidak biasa—cepat, tapi tidak karena ketakutan atau kegugupan biasa. Lebih seperti... sesuatu yang baru saja terbangun. Sesuatu yang hangat dan menakutkan pada saat yang sama. Apa yang baru saja terjadi? Mengapa ia merasa seolah baru saja melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat siapa pun? Sesuatu yang rahasia dan suci? Dan mengapa, alih-alih merasa takut atau menjauh, ia justru merasakan keinginan yang kuat dan mendalam untuk memahami pria itu lebih jauh? Untuk menjadi orang yang bisa melihat di balik dinding itu, yang bisa menyentuh bagian dirinya yang terluka dan takut? Nadira menghela napas panjang, menggigil sedikit karena udara malam yang mulai dingin, atau mungkin karena perasaan aneh yang sedang berkecamuk di dadanya. Ia berjalan menuju pintu rumahnya, tangan merogoh saku untuk mencari kunci, dan menyadari satu hal dengan pasti: Malam ini, segalanya telah berubah. Antara dia dan Arka Mahendra, tidak akan pernah sama lagi. Di dalam mobil yang melaju kembali ke arah apartemen mewahnya di SCBD, Arka duduk diam di kegelapan. Tangannya mencengkeram cincin perak di jarinya begitu erat sampai jari-jarinya memutih dan pergelangan tangannya terasa sakit. Apa yang baru saja ia lakukan? Ia tidak pernah bercerita tentang ibunya pada siapa pun. Bahkan Reza hanya tahu sedikit, dan itu pun setelah bertahun-tahun persahabatan yang diuji berkali-kali. Tapi malam ini, pada wanita yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu, pada wanita yang bahkan belum sepenuhnya ia percayai, ia tiba-tiba membuka bagian dirinya yang paling rahasia, paling rentan, paling terlindungi. Apa yang salah dengannya? Arka memejamkan mata, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi. Cara Nadira menatapnya—tidak dengan rasa takut atau kekaguman yang berlebihan seperti kebanyakan orang, tapi dengan pengertian yang tulus dan lembut. Cara wanita itu mendengarkan tanpa menghakimi, tanpa mencoba memberikan nasihat yang tidak diminta, tanpa memandangnya kasihan. Hanya dengan berada di dekatnya, Arka merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Ketenangan. Rasa aman. Itu menakutkan. Selama delapan belas tahun terakhir, Arka hidup dengan keyakinan yang tertanam kuat di dalam hatinya: orang lain adalah sumber bahaya. Semakin dekat kamu dengan seseorang, semakin besar kesempatan mereka untuk menyakitimu, meninggalkanmu, menghancurkanmu. Ia membangun dinding setinggi langit di sekeliling dirinya untuk melindungi hatinya yang sudah hancur berkeping-keping. Tapi malam ini, untuk sesaat, ia membiarkan seseorang melihat celah kecil di dinding itu. Dan yang lebih menakutkan lagi... ia tidak merasa menyesal. Arka membuka mata, menatap pantulan dirinya sendiri di jendela gelap. Wajahnya yang sama, garis-garis yang sama, tapi matanya... matanya tampak berbeda. Ada sesuatu yang hidup di sana, sesuatu yang sudah lama tertidur dan baru saja terbangun dengan kasar. "Jangan biarkan ini terjadi, Arka," gumamnya pada dirinya sendiri dengan suara parau. "Jangan biarkan seseorang masuk kembali. Kamu tahu apa akibatnya. Kamu masih merasakan sakitnya sampai sekarang." Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, di tempat yang bahkan ia sendiri jarang berani kunjungi, ada suara kecil yang berbisik sesuatu yang lain. Sesuatu yang lembut dan menantang. "Bagaimana jika kali ini berbeda? Bagaimana jika dia tidak akan pergi?" Arka menutup mata lagi, berusaha mematikan suara itu. Tapi ia tahu, jauh di dalam dirinya, bahwa suara itu tidak akan mudah pergi. Sama seperti Nadira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD