bab 1
Debu bata merah menari di bawah sorot cahaya matahari sore yang menembus celah atap Wisma Cempaka. Bau apek dari kayu basah dan lumut menguar tebal, berbaur dengan suara bising dari luar tempat alat berat mulai meratakan tanah. Namun di dalam sayap timur bangunan kolonial yang setengah hancur itu, suasana mendadak membeku.
"Hentikan."
Suara itu tidak diucapkan dengan nada tinggi. Tidak ada bentakan. Hanya satu kata, datar dan final, namun efeknya seketika mematikan pergerakan empat pekerja konstruksi yang sedang mengayunkan palu godam ke arah pilar penyangga.
Arka Mahendra berdiri tiga langkah dari gundukan puing, kedua tangan masuk ke dalam saku celana bahan berwarna abu-abu gelap. Setelan jasnya terlalu rapi, terlalu mahal untuk tempat sekotor ini, tetapi posturnya mendominasi seluruh ruangan. Sepatu pantofelnya menapak di atas pecahan ubin kuno tanpa keraguan sedikit pun.
Ia memandangi permukaan pilar tua yang baru saja tergores ujung palu. Rahangnya mengeras samar.
"Siapa yang memberi instruksi untuk menghancurkan pilar ini?" Arka bertanya, memutar kepalanya pelan ke arah mandor yang kini berdiri kaku dengan wajah pucat.
"I-itu jalur untuk memperlebar lobi utama sesuai cetak biru dari tim desain interior, Pak Arka," jawab mandor itu terbata, meremas helm proyeknya di depan d**a. "Kalau tidak dibongkar, ekskavator mini tidak bisa masuk untuk mengeruk sisa pondasi belakang."
"Saya bertanya siapa yang memberi instruksi, bukan alasan teknisnya."
Dimas, yang sejak tadi berdiri diam di belakang bahu kiri Arka, akhirnya melangkah maju. Ia memegang sabak digital, wajahnya tetap netral meski ia tahu arah pembicaraan ini. "Tim desain mengajukan revisi tadi malam, Ar. Mereka menilai struktur aslinya memakan terlalu banyak ruang komersial."
Arka memalingkan wajah dari pekerja itu, menatap Dimas dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Dan sejak kapan tim desain memiliki otoritas mengubah struktur tanpa persetujuan saya?"
"Itu standar operasional ketika tenggat waktu mendesak. Kau sendiri yang meminta proyek ini dipercepat dua bulan minggu lalu."
"Bukan berarti mereka bisa meratakan tempat ini sesuka hati." Arka melepaskan pandangannya kembali ke arah pilar tua tersebut. Tangannya di dalam saku mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, meski wajahnya sama sekali tidak menampilkan emosi apa pun. Bangunan ini bukan sekadar aset. Ada alasan mengapa ia membeli Wisma Cempaka, alasan yang tidak tertera dalam portofolio investasi Mahendra Holdings. "Ganti tim desainnya hari ini juga. Saya ingin mereka keluar dari proyek ini sebelum jam makan malam."
"Arka, kau tidak bisa memecat satu divisi hanya karena—"
"Kalau lengkung pilar itu tidak diruntuhkan sekarang, beban dari lantai dua akan menekan sisa pondasi utama yang sudah keropos."
Sebuah suara perempuan, jernih dan tajam, memotong perdebatan itu.
Arka menoleh. Dari arah ambang pintu yang kehilangan daunnya, seorang perempuan melangkah masuk. Ia tidak mengenakan pakaian kantoran. Sepatu bot kulitnya yang dipenuhi debu melangkah ringan melewati puing-puing, dipadukan dengan celana denim tebal dan kemeja linen berwarna hijau zaitun yang lengannya digulung hingga siku. Sebuah tabung gambar berbahan plastik hitam tersampir di bahunya.
Nadira berhenti tepat di tengah ruangan, tidak mengindahkan tatapan dingin Arka yang langsung menguncinya. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh dinding yang retak di sebelah pilar yang diperdebatkan.
"Dalam tiga minggu, seluruh sayap kanan gedung ini akan rubuh kalau Anda memaksakan kehendak untuk mempertahankan struktur cacat ini," lanjut Nadira, menepuk sisa plesteran dinding hingga serpihan pasirnya jatuh ke lantai. Ia menoleh ke arah Arka, wajahnya tenang, menantang tanpa kesan arogan. "Gravitasi tidak peduli pada ego Anda, Pak."
Dimas berdeham pelan, mencoba memecah ketegangan yang mendadak menebal di udara. "Arka, ini Nadira. Arsitek restorasi independen yang kita sewa minggu lalu untuk mengawasi fasad dan struktur bersejarah bangunan ini."
Mata Arka menyipit. Ia menilai perempuan di hadapannya dari atas ke bawah dalam waktu kurang dari dua detik. Tidak ada ketakutan di mata perempuan itu. Kebanyakan orang akan menunduk atau setidaknya salah tingkah ketika berhadapan dengannya, terutama setelah melihat ia baru saja memecat sebuah tim. Nadira justru menatap baliknya seolah Arka hanyalah salah satu masalah struktural yang harus ia selesaikan hari ini.
"Saya menyewa Anda untuk merestorasi bangunan ini," suara Arka mengalun rendah, memangkas jarak di antara mereka dengan dua langkah pelan. "Bukan untuk meratakannya."
Nadira tidak mundur. Ia menarik tabung dari bahunya, membukanya, dan mengeluarkan gulungan kertas kalkus yang lebar. Tanpa meminta izin, ia membentangkan kertas itu di atas sebuah peti kayu kosong di dekat mereka, menahannya dengan pecahan batu bata agar tidak menggulung kembali.
"Merestorasi tidak sama dengan mengawetkan kebusukan," balas Nadira, suaranya tetap stabil. Tunjuk telunjuknya mengetuk sebuah titik di cetak biru. "Lihat ini. Pilar yang Anda lindungi mati-matian ini terhubung dengan balok kayu jati di lantai atas yang sudah dimakan rayap hingga tujuh puluh persen. Kalau kita memaksakan ekskavator bekerja di area sayap barat, getarannya akan merambat lewat tanah. Pilar ini akan patah. Dan ketika itu terjadi, atap di atas kepala kita sekarang akan jatuh tepat menimpa Anda."
Nadira mengangkat wajahnya, mempertemukan matanya dengan mata Arka. "Saya tidak dibayar untuk membunuh klien saya di hari pertama saya bekerja."
Keheningan mengambil alih ruangan. Tiga pekerja yang tersisa perlahan mundur ke arah pintu, tidak ingin terjebak di tengah konfrontasi yang mengancam karier mereka. Dimas hanya mengusap pelipisnya, sudah menduga bahwa pertemuan ini tidak akan berjalan mulus.
Arka menunduk, melihat cetak biru yang ditunjuk Nadira. Garis-garis rumit itu tidak berarti apa-apa baginya, tetapi ia menolak kehilangan kendali di teritorinya sendiri. Ia kembali menatap Nadira. Jarak mereka kini cukup dekat hingga Arka bisa mencium aroma samar kopi dan debu tanah dari pakaian perempuan itu.
"Saya tidak peduli dengan masalah kayunya. Saya butuh pilar ini dan seluruh area sayap timur tetap berdiri dalam bentuk aslinya. Tugas Anda adalah mencari cara, bukan mencari alasan." Arka memberi penekanan pada setiap suku kata.
Nadira mendengus pelan, sebuah reaksi yang nyaris membuat alis Dimas terangkat tinggi. Perempuan ini benar-benar tidak tahu siapa yang sedang dihadapinya, atau mungkin ia tahu dan memang tidak peduli.
"Ini bukan soal mencari alasan. Ini ilmu fisika." Nadira menggulung kembali kertasnya dengan gerakan efisien. "Saya bisa membangun ulang pilar itu dengan material baru yang disuntikkan baja di dalamnya. Fasadnya akan terlihat seratus persen sama dengan aslinya. Orang awam tidak akan tahu bedanya. Tapi yang lama harus dihancurkan dulu."
"Tidak."
"Pak Arka—"
"Kata saya tidak." Arka memotong cepat, suaranya kini membawa nada finalitas yang absolut. "Tidak ada kompromi untuk ruangan ini. Kalau Anda tidak mampu menyelesaikannya tanpa menghancurkan struktur aslinya, saya akan mencari arsitek yang bisa."
Bagi Arka, ini bukan sekadar batu dan semen. Pilar itu, lengkungan pintunya, adalah batas ruangan tempat ibunya dulu sering duduk membaca buku sebelum semuanya hancur berantakan. Membangunnya ulang dengan beton dan baja sama saja dengan menciptakan kebohongan baru. Ia tidak menoleransi kebohongan.
Nadira menatap pria di hadapannya. Ia bisa melihat garis rahang Arka yang kaku, pundaknya yang tegang di balik setelan mahal itu. Ada sesuatu yang tidak rasional dari cara pria ini mempertahankan sebuah pilar lapuk. Bagi seorang CEO perusahaan properti raksasa yang terkenal kejam dalam efisiensi, keputusan mempertahankan rongsokan ini murni emosional, bukan bisnis.
Namun Nadira bukan terapis. Ia seorang arsitek. Ia tidak bekerja berdasarkan sentimen.
"Baik," ucap Nadira santai. Ia memasukkan kembali gulungan kertas ke dalam tabung dan menyampirkannya ke bahu. "Silakan cari arsitek lain yang mau mempertaruhkan lisensinya demi ego Anda. Tapi jangan panggil saya kalau bulan depan Anda masuk berita karena proyek Anda memakan korban jiwa."
Nadira menoleh ke arah pekerja yang masih mematung di dekat pintu. "Tinggalkan area ini. Jangan ada yang berani menyentuh apa pun di sayap timur sampai ada penyangga baja yang dipasang dari luar. Itu instruksi dari saya demi keselamatan kalian."
Tanpa menunggu persetujuan Arka, Nadira memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan. Langkah botnya terdengar ritmis, semakin menjauh, meninggalkan kepulan debu tipis di udara.
Dimas menghela napas panjang, menatap pintu yang kosong sebelum beralih pada sahabat sekaligus atasannya.
"Dia satu-satunya arsitek restorasi di negara ini yang rekam jejaknya cukup bersih untuk menutupi kontroversi akuisisi gedung ini dari dewan direksi, Ar," kata Dimas mengingatkan, suaranya kembali profesional. "Kau yakin mau melepasnya hanya karena dia mengatakan kebenaran yang tidak ingin kau dengar?"
Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap titik di mana Nadira tadi berdiri. Perempuan itu berani membantahnya, memerintah pekerjanya, lalu pergi begitu saja tanpa beban. Tidak ada rasa segan. Tidak ada usaha untuk mengambil hatinya.
Kendali yang selalu ia genggam erat seolah baru saja diretas secara paksa, dan Arka membenci perasaan itu. Ia membenci apa pun yang tidak bisa ia prediksi.
"Pasang penyangga baja dari luar seperti yang dia katakan," perintah Arka akhirnya, membalikkan badan menuju pintu keluar yang berbeda. "Pastikan dia kembali bekerja besok pagi. Dan pastikan pilar ini tidak tersentuh."
Dimas tersenyum samar, mencatat instruksi itu di kepalanya. "Dia mungkin tidak akan mau kembali setelah kau mengusirnya secara tidak langsung."
Langkah Arka terhenti sesaat di ambang pintu. Ia tidak menoleh ketika menjawab.
"Setiap orang punya harga, Dimas. Cari tahu apa yang dia butuhkan, dan berikan."
Arka melanjutkan langkahnya meninggalkan Wisma Cempaka. Ia terbiasa membeli solusi. Ia terbiasa menundukkan orang dengan kekuasaan dan otoritas. Namun jauh di sudut pikirannya yang paling ia tolak, ketika bayangan mata Nadira yang tajam menantangnya kembali terlintas, Arka tahu perempuan itu mungkin menjadi satu-satunya masalah yang tidak bisa ia selesaikan dengan selembar cek.
Aroma seduhan kopi hitam yang mulai mendingin bercampur dengan wangi serutan kayu pinus di dalam studio kecil Nadira. Perempuan itu melempar tasnya ke atas sofa pudar di sudut ruangan, mengabaikan debu proyek yang masih menempel di ujung sepatunya. Jemarinya dengan cepat meraih jepit rambut, menggulung asal surai legamnya hingga lehernya yang berkeringat tersentuh embusan pendingin ruangan.
Ia baru saja menarik kursi kayunya ketika layar ponsel di atas meja berkedip. Satu pesan singkat dari nomor tidak dikenal.
Tawaran kompensasi tiga kali lipat untuk kembali ke Wisma Cempaka. - Dimas.
Nadira mendengus pelan. Jarinya bergerak cepat di atas layar, mengetik balasan tanpa jeda untuk berpikir.
Fisika tidak menerima suap. Cari arsitek lain.
Ia melempar ponselnya ke tumpukan cetak biru, lalu menyalakan lampu meja. Proyek Wisma Cempaka adalah impian setiap arsitek restorasi, sebuah mahakarya era kolonial yang bertahan dari gerusan zaman. Namun, bekerja di bawah tekanan CEO yang lebih mementingkan ego daripada keselamatan nyawa bukanlah cara Nadira mempertaruhkan kariernya.
Belum sempat ia menarik garis di atas kertas kalkusnya, ketukan keras terdengar dari pintu kaca studionya.
Bukan ketukan ragu dari kurir paket atau sapaan ramah dari tetangga ruko sebelah. Ketukan itu pendek, berirama konstan, dan menuntut untuk segera dibuka.
Ketika Nadira menarik tuas pintu, udara malam yang lembap menerobos masuk bersama sosok pria yang beberapa jam lalu ia tinggalkan di tengah puing-puing.
Arka Mahendra berdiri di ambang pintu. Setelan jas abu-abunya telah berganti dengan kemeja hitam berlengan panjang yang digulung sembarangan hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf bodi perak yang memantulkan cahaya lampu jalan. Wajahnya sama kakunya dengan sore tadi, namun ada ketegangan baru di garis rahangnya.
"Tiga kali lipat di atas harga pasar," suara Arka memecah keheningan, matanya menatap lurus ke mata Nadira tanpa repot-repot mengucapkan salam. "Banyak orang akan membunuh untuk penawaran seperti itu."
Nadira bersedekap, menahan pintu agar tidak terbuka lebih lebar. "Kalau Anda ke sini hanya untuk membahas angka, Anda salah alamat. Bank ada di ujung jalan raya ini."
Arka tidak beranjak. Ia memajukan tubuhnya selangkah, memaksa Nadira mendongak sedikit untuk mempertahankan kontak mata. Aroma khas pria itu—campuran cedarwood, tembakau tipis, dan sesuatu yang sedingin hujan—menyapu penciuman Nadira, menenggelamkan wangi kopi di ruangannya.
"Saya tidak suka penolakan," kata Arka pelan. "Terutama dari seseorang yang bahkan belum mencoba mencari jalan tengah."
"Jalan tengah?" Nadira tertawa hambar, sebuah reaksi yang membuat alis Arka berkedut samar. "Anda memerintahkan saya mempertahankan pilar lapuk yang menahan beban puluhan ton beton, lalu menyebut peringatan bahaya saya sebagai alasan. Di bagian mana jalan tengahnya?"
Arka terdiam. Pandangannya melewati bahu Nadira, menyapu isi studio yang berantakan. Maket kayu berserakan di atas meja, sketsa-sketsa menempel di dinding dengan selotip yang mengelupas, dan buku-buku arsitektur bertumpuk tak beraturan di lantai. Tempat ini terlalu hidup, terlalu berantakan. Bertolak belakang dengan dunia Arka yang steril dan terukur.
Entah mengapa, kekacauan di ruangan ini tidak membuatnya muak.
"Kalau Anda membiarkan penyangga baja menopangnya dari luar..." Arka akhirnya bersuara, mengembalikan tatapannya pada Nadira. Nada suaranya sedikit menurun, kehilangan arogansi awalnya, tergantikan oleh sebuah kehati-hatian yang asing. "...berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk membedah pilar itu dan memperkuat strukturnya dari dalam?"
Nadira memiringkan kepalanya, mempelajari wajah pria di hadapannya. Arka tidak sedang mengujinya. Pria ini sedang bernegosiasi. Bagi seorang tiran korporat yang terbiasa memberi perintah mutlak, datang langsung ke studio kecil di pinggiran kota dan menanyakan durasi pengerjaan adalah bentuk kompromi yang sangat langka.
"Membongkar lapisan luarnya secara manual, mencetak ulang rangkanya tanpa merusak ornamen asli, lalu menyuntikkan beton khusus..." Nadira bergumam, otaknya mulai mengalkulasi. "Dua minggu. Itu dengan asumsi tidak ada cuaca buruk dan Anda berhenti mencampuri instruksi harian saya di lapangan."
Mata Arka menyipit. "Saya pemilik proyek ini. Saya berhak tahu setiap detail pergerakan di dalamnya."
"Anda pemilik dananya, Pak Arka, bukan pengawas lapangannya." Nadira melepaskan pegangannya dari pintu, mengambil satu langkah mundur untuk memberi ruang. Ia tidak mengundangnya masuk, namun bahasa tubuhnya tidak lagi menolak secara absolut. "Kalau Anda ingin bangunan itu selamat, biarkan saya bekerja dengan cara saya. Pilar itu tidak akan dihancurkan, tapi saya yang memegang kendali atas struktur sayap timur. Setuju?"
Keheningan kembali menggantung. Arka menatap perempuan di hadapannya. Nadira tidak terlihat terintimidasi, tidak juga berusaha bersikap manis untuk mengambil hatinya. Perempuan ini hanya peduli pada pekerjaannya. Sebuah pemikiran yang entah bagaimana memicu rasa aman sekaligus iritasi yang aneh di d**a Arka. Ia terbiasa menjadi pusat dari setiap ruangan, tetapi di mata Nadira, ia seolah hanya rintangan logistik yang harus disingkirkan.
"Satu minggu." Arka menjatuhkan ultimatumnya. "Saya beri waktu satu minggu. Dan saya akan menempatkan orang saya untuk memantau pengerjaannya setiap hari."
Nadira menarik napas panjang. Itu bukan waktu yang ideal, tapi cukup rasional jika ia menambah jam kerja pekerjanya.
"Satu minggu," ulang Nadira tenang. "Dan pastikan orang Anda tidak banyak bertanya saat debu mulai beterbangan."
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, sebuah konfirmasi tanpa suara. Selama beberapa detik, keduanya hanya berdiri di sana, dibatasi oleh ambang pintu dan ego masing-masing, sadar bahwa kesepakatan ini baru saja mengubah dinamika di antara mereka.
Arka mundur perlahan. Namun sebelum ia berbalik, pandangannya jatuh pada noda tinta hitam di punggung tangan kanan Nadira. Sesuatu yang begitu kecil, begitu tidak penting, namun entah mengapa tatapannya tertahan di sana sedetik lebih lama dari yang seharusnya.
"Dimas akan mengirimkan kontrak baru yang sudah direvisi besok pagi," kata Arka, suaranya kembali sedingin beton. "Pastikan Anda membacanya sebelum tanda tangan."
"Saya selalu membaca apa pun sebelum mengambil keputusan," balas Nadira.
Sudut bibir Arka nyaris terangkat, tetapi ia menahannya. Tanpa mengucapkan selamat malam, pria itu memutar tubuhnya dan berjalan menjauh, punggungnya menghilang di balik bayangan lampu jalan yang temaram.
Nadira berdiri di sana untuk beberapa saat, mendengarkan deru mesin mobil mewah yang perlahan menjauh meninggalkan area ruko. Ia menutup pintu studionya rapat-rapat, menguncinya, lalu kembali ke meja kerjanya.
Ketika tangannya meraih pensil, ia menatap noda tinta di punggung tangannya sendiri. Tepat di titik di mana pandangan Arka tadi terjatuh. Udara di dalam studionya mendadak terasa sedikit lebih sesak, meninggalkan jejak kehadiran pria yang baru saja pergi, dan sebuah pertanyaan kecil yang mulai mengakar di kepalanya:
Untuk apa seorang CEO yang hanya peduli pada angka, rela membuang waktu dan ego demi menyelamatkan satu pilar yang sudah hancur?
Gerimis mulai menitik di kaca jendela Mercedes-Benz S-Class yang meluncur membelah jalanan basah ibu kota. Di kursi belakang, Arka duduk dalam diam, pandangannya lurus menembus lampu-lampu jalan yang berpendar buram akibat air hujan.
Layar sabak digital di pangkuannya menyala redup, menampilkan draf kontrak baru yang baru saja dikirimkan Dimas dari kursi penumpang depan. Namun, sejak sepuluh menit yang lalu, kursor di layar itu belum bergerak.
"Aku sudah merevisi klausulnya," suara Dimas memecah suara rintik hujan yang membentur atap mobil. Ia memutar tubuhnya sedikit ke belakang. "Nadira mendapat kebebasan penuh atas struktur sayap timur, dan Mahendra Holdings tidak akan mengintervensi metode kerjanya. Kau yakin mau memberikan keleluasaan sebesar ini kepada kontraktor eksternal, Ar? Ini bukan kebiasaanmu."
"Itu bukan keleluasaan, Dimas. Itu delegasi risiko." Arka mematikan layar sabaknya dengan satu sentuhan jari. "Kalau pilar itu runtuh saat dia membongkarnya, dia yang menanggung hancurnya reputasi profesionalnya. Bukan perusahaan kita."
"Terdengar seperti alasan yang logis." Dimas menatap atasannya dengan saksama. "Kalau saja aku tidak tahu bahwa kau baru saja menghabiskan dua puluh menit berdiri di depan studio kecilnya di pinggiran kota hanya untuk menanyakan tenggat waktu."
Arka membalas tatapan itu dengan rahang yang kembali menegang. Dimas adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa menyudutkannya tanpa risiko pemecatan, dan pria itu sangat tahu cara menggunakan keistimewaan tersebut.
"Fokus saja pada rapat pemegang saham besok pagi," putus Arka, nada suaranya menutup segala bentuk diskusi lanjutan.
Dimas mengangguk maklum, lalu kembali menghadap ke depan.
Arka menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi. Tangannya merogoh saku jas, ujung jarinya menyentuh pemantik logam dingin yang selalu ia bawa meski ia sudah berhenti merokok lima tahun lalu. Sentuhan pada logam itu biasanya cukup untuk menenangkan pikirannya yang berisik, tetapi malam ini, sensasi itu gagal bekerja.
Udara di dalam mobilnya terasa terlalu bersih, terlalu steril. Ia justru teringat pada bau serutan kayu pinus dan seduhan kopi hitam di studio Nadira. Tempat itu berantakan, dipenuhi debu dan tumpukan kertas, tetapi terasa hidup. Terlalu hidup. Sama seperti pemiliknya yang berani menatap matanya tanpa sedikit pun gentar.
Arka membenci hal-hal yang tidak bisa ia prediksi. Ia benci pada fakta bahwa seorang arsitek keras kepala baru saja memaksanya berkompromi. Namun yang lebih ia benci adalah kesadaran bahwa ia membiarkan hal itu terjadi.
Setengah jam kemudian, mobil berhenti di lobi apartemen mewah di kawasan pusat bisnis. Arka melangkah keluar, menembus lorong-lorong marmer yang sunyi, hingga lift pribadinya membawa pria itu naik ke lantai teratas.
Begitu pintu ganda terbuka, kegelapan menyambutnya.
Penthouse seluas tiga ratus meter persegi itu kosong. Tidak ada suara televisi, tidak ada aroma masakan, tidak ada benda yang berserakan. Semuanya berada pada tempatnya dengan presisi yang mengerikan. Karpet wolnya tanpa jejak, meja kacanya mengilap tanpa debu, dan deretan botol kristal di mini bar berjejer rapi seolah tidak pernah tersentuh.
Arka melepaskan jasnya, melemparnya asal ke atas sofa kulit, lalu berjalan menuju jendela kaca raksasa yang membingkai pemandangan kota. Jakarta di bawah sana tampak seperti lautan cahaya yang tidak pernah tidur, bergerak, bising, dan penuh masalah. Tetapi di sini, di balik kaca kedap suara ini, Arka memiliki kendali penuh. Tidak ada yang bisa melukainya di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun.
Tangannya bergerak melonggarkan dasi, lalu membuka dua kancing teratas kemejanya. Ia menunduk, menatap kedua tangannya sendiri yang bertumpu pada bingkai jendela.
Pilar itu.
Napas Arka perlahan memberat. Bayangan lengkungan batu di Wisma Cempaka kembali menyusup ke kepalanya. Bagi para direksi, bangunan itu hanya angka kerugian yang harus segera diubah menjadi apartemen komersial. Bagi Nadira, bangunan itu adalah objek fisik yang tunduk pada hukum gravitasi.
Tetapi bagi Arka, pilar itu adalah batas tempat ibunya selalu duduk setiap sore, menunggu seorang suami yang tidak pernah pulang. Itu adalah tempat di mana tangisan ibunya diredam oleh suara hujan, tempat di mana Arka kecil belajar bahwa bergantung pada seseorang hanya akan memberikan jalan bagi orang tersebut untuk menghancurkanmu.
Ia membeli bangunan itu bukan untuk bisnis. Ia membelinya untuk memastikan tidak ada lagi orang yang bisa meruntuhkan sisa kenangan itu secara paksa. Ia ingin memegang kendali atas kehancurannya sendiri.
Lalu Nadira datang, menepis instruksinya, dan memberitahunya dengan dingin bahwa ego Arka justru akan mempercepat kehancuran tempat itu.
Arka memejamkan mata, menekan ujung jarinya kuat-kuat ke bingkai baja jendela hingga terasa sakit. Ia telah menyerahkan kendali struktur itu ke tangan Nadira. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia membiarkan orang asing memegang kendali atas sesuatu yang sangat berarti baginya.
Dan itu membuatnya merasa sangat rentan.
Di tengah kesunyian penthouse yang membekukan itu, Arka membuka matanya kembali. Noda tinta hitam di punggung tangan perempuan itu kembali terlintas di ingatannya. Perempuan yang membawa kekacauan, debu, dan kenyataan pahit ke dalam rencananya yang rapi.
"Satu minggu, Nadira," gumam Arka pada kekosongan malam di balik kaca. Suaranya serak, tenggelam di antara rintik hujan. "Jangan buat aku menyesal karena sudah mempercayaimu."