BAB 6 | Kamu Pikir Aku Lemah!

1274 Words
“Khawatir?” Aluna tersenyum miring. “Pak Tristan tidak perlu mengkhawatirkan saya,” tukasnya. “Permisi.” Setelah itu Aluna melangkah pergi meninggal Tristan yang tampak masih belum puas dengan percakapan mereka. Aluna menghela napas panjang. Dia tak sabar menatap angka yang ada di lift, berharap lift tersebut segera tiba di lantai dasar. Perusahaan ini dulu adalah impiannya, bisa berada di tempat ini menjadi mimpi yang Aluna kejar mati-matian sejak masa kuliah. Namun, setelah kejadian perselingkuhan Tristan dengan Dewi, sampai keduanya bertunangan, seketika semua itu seperti bumerang bagi Aluna. Pasalnya, dia dicap menjadi sosok wanita malang. Ting! Saat pintu lift terbuka, kaki Aluna buru-buru melangkah keluar, saking buru-burunya dia sampai tidak sengaja menabrak seseorang yang juga baru keluar dari lift sebelah. “Maaf, saya tidak sengaja,” ujar Aluna, sadar bahwa dirinya yang salah. “Aluna.” Suara itu langsung membuat Aluna mendongak. Dia menatap sosok pria itu dengan mata terbelalak. Tentu saja dia terkejut. “Mas Reza?” lirih Aluna. “Kenapa kamu ada di sini?” Reza mengernyit heran, dia ingat bahwa dia belum pernah memberitahu Aluna tentang perusahaan yang dipimpinnya. Lalu, kenapa Aluna ada di perusahaan ini? “Mas suruh aku resign dari pekerjaanku, makanya aku ada di sini untuk mengurus surat pengunduran diriku dan mengambil barang-barangku yang ada di kantor ini,” jelas Aluna. “Kamu pegawai di kantor ini?” Aluna mengangguk. Reza langsung menoleh ke arah Erik. Kenapa Erik tidak memberitahunya soal ini? Atau, Erik juga tidak mengetahuinya? “Saya sudah menuliskannya di berkas waktu itu, Tuan. Mungkin Tuan terlewat saat membacanya. Tuan bisa mengeceknya jika tidak percaya,” jawab Erik, langsung paham dengan maksud tatapan bosnya. Aluna yang tidak mengerti dengan pembahasan mereka hanya diam saja. “Sejak kapan kamu bekerja di perusahaan ini?” tanya Reza pada sang istri. “Sejak aku lulus kuliah,” jawab Aluna. “Mas sendiri kenapa ada di sini?” Dia balik bertanya. “Apa Mas juga kerja di sini? Atau ....” “Tuan Reza adalah direktur utama perusahaan pusat,” terang Erik. “Ha?” Aluna merasa tidak percaya. Siapa yang menyangka kalau suaminya ternyata orang sepenting itu. “Aku ada kunjungan tahunan di perusahaan ini, makanya aku ada di sini, tidak disangka kebetulan malah bertemu denganmu,” cakap Reza. “Apa urusanmu sudah selesai di sini?” tanyanya kemudian. “Su-sudah. Aku baru saja mau pulang.” Aluna sedikit tergagap menjawab pertanyaan suaminya, dia masih sedikit syok dengan fakta bahwa suaminya ternyata seorang direktur utama perusahaan pusat. “Kamu sudah makan siang?” “Belum.” “Ayo kita makan siang dulu. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang.” “Apa tidak masalah? Bukannya kamu bilang ada urusan di perusahaan ini? Kamu mungkin juga sibuk dengan jadwalmu,” kata Aluna. “Urusanku di sini sudah selesai. Aku baru saja mau pergi.” Reza menjelaskan. “Jadwalku juga sedang tidak padat,” imbuhnya, kemudian melirik Erik seperti memberi sebuah isyarat. Erik yang mengerti pun langsung mengangguk dan memberikan kunci mobil kepada Reza. “Ayo, Aluna.” Reza menggandeng tangan Aluna, tak peduli dengan berapa banyak pasang mata yang sekarang menatap mereka. Termasuk Tristan yang baru saja keluar dari lift, pria itu sepertinya mengejar Aluna, tapi saat pintu lift terbuka, dia justru mendapati Aluna digandeng oleh pria lain, dan pria itu dia mengenalnya, beberapa saat lalu mereka berada di dalam ruangan yang sama. Si direktur utama kenapa menggandeng Aluna begitu mesra? *** Dewi mendengus kesal saat melihat sebuah foto yang dikirimkan Mira. “Dasar perempuan murahan!” tukasnya. “Ada apa?” Bu Lastri menatap putrinya sekilas, lalu kembali menyantap daging steak yang baru saja dia potong. “Lihat ini, Ma.” Dewi dengan sebal menunjukkan ponselnya ke arah sang ibu. Bu Lastri meminum air mineral sejenak, setelah itu dia baru mengamati foto yang ada di ponsel tersebut. “Itu Aluna sama Tristan?” “Berani-beraninya dia deketin Tristan,” tukas Dewi, menyimpan kembali ponselnya dengan wajah emosi. “Kamu tenang saja. Tristan enggak mungkin kepincut sama Dewi. Apalagi sekarang Dewi sudah menikah. Lagian kamu sama Tristan sudah tunangan,” kata Bu Lastri sambil kembali menyantap hidangan mahal itu. Dewi mendengus, ia membuang pandangannya ke sembarang arah, otaknya terasa mendidih memikirkan Aluna dan Tristan berada dalam jarak sedekat itu. Rasa cemburu membuatnya merasa gerah. Saat Dewi sedang mencoba menenangkan dirinya, tanpa sengaja dia mendapati sosok Aluna yang baru saja keluar dari ruangan VIP di restoran tersebut. Wanita itu tampak sedang berjalan menuju ke arah toilet. Dewi seketika bangkit dari duduknya. “Kamu mau ke mana?” tanya Bu Lastri. Dewi tak menjawab, dia fokus ke arah Aluna yang masih terlihat jelas dalam pandangannya. Dewi pun segera mengejar wanita itu, berniat melabrak. “Aluna,” seru Dewi. Suaranya cukup lantang hingga membuat pelanggan di restoran itu langsung menoleh ke arahnya. Aluna yang merasa dipanggil sontak menatap ke arah Dewi, langkahnya terhenti, dia menunggu Dewi yang dengan tatapan sinis mendekat ke arahnya. PLAK! Tamparan kasar yang mendarat di pipi Aluna terdengar keras menggema di penjuru restoran. Aluna tampak syok. Tentu saja dia kaget mendapatkan tamparan keras dari Dewi. Apa salahnya? Kenapa wanita ini tiba-tiba menamparnya? “p*****r murahan!” umpat Dewi. “Berani kamu ya deketin tunanganku! Dasar tidak tahu malu!” Suara lantang Dewi membuat semua orang mampu mendengar kalimatnya. Orang-orang pun seketika berprasangka buruk pada Aluna, mengira bahwa Aluna adalah seorang pelakor yang merebut pasangan wanita lain. PLAK! Tak disangka Aluna membalas tamparan yang dia dapatkan. Bahkan sepertinya dia menampar Dewi lebih keras. Semua orang terlihat kaget dengan tindakan Aluna. Berani sekali dia. Di sisi lain. Reza—pria itu awalnya ingin membela Aluna, tapi setelah dia melihat istrinya yang berani membela diri, akhirnya Reza memutuskan untuk diam sejenak, mengamati sesaat apa yang akan istrinya perbuat. Jujur saja dia merasa puas dan bangga dengan keberanian Aluna. “Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu?” cakap Aluna. Dia mulai bersuara. “Ternyata benar ya, buah itu tidak akan jatuh terlalu jauh dari pohonnya. Lihat dirimu. Kamu tidak jauh berbeda dengan ibumu. Ibumu menggoda ayahku saat ibuku sedang sakit keras, lalu setelah ibuku meninggal, ibumu mendesak ayahku untuk menikahinya. Dan kamu, kamu merebut pacarku, lalu setelah aku memberikan sampah yang kamu inginkan itu, sekarang kamu malah memakiku hanya karena pacarmu sendiri yang mencoba mendekatiku. Murahan!” tukasnya. Para penonton keributan itu terlihat semakin tertarik dengan pertengkaran keduanya. Bahkan sekarang satu persatu dari mereka mulai membela Aluna. “Jaga mulutmu, Aluna!” amuk Dewi, merasa malu. “Setidaknya aku tidak seperti yang mau menikah dengan pria tua hanya karena uang mahar lima ratus juta,” cibirnya. ‘Wah, dia menikah dengan laki-laki tua hanya demi uang sebanyak itu. Astaga itu sedikit sekali. Bukankah itu terlalu murah? Padahal dia wanita cantik.’ Orang-orang mulai bergunjing, ada yang berpindah haluan percaya pada Dewi, tapi ada juga yang masih membela Aluna. “Kamu lupa ya? Uang maharku bahkan dicuri ibumu dan kamu pasti juga memakainya kan? Lihat.” Aluna menunjuk ke arah Bu Lastri yang sedang meminum segelas wine, seolah dia tidak peduli dengan pertengkaran putrinya dan lebih memilih fokus menikmati hidangan mewah yang ada di hadapannya. “Kalian pasti membeli makanan di sini dengan uang maharku kan? Apa kalian lupa kalau aku menikah demi pengobatan ayahku, uang itu harusnya untuk operasi ayahku. Tapi kalian malah mencurinya dan menggunakannya untuk kalian sendiri.” “Ta-tapi tetap saja kamu murahan! Kamu mau menikah dengan laki-laki tua demi uang. Itu menjijikkan.” “Maaf, Nona. Siapa yang Anda bilang sebagai laki-laki tua?” Reza akhirnya bersuara. Dia melangkah maju mendekati Aluna. Saat tiba di dekat Aluna, dia langsung meraih pinggang Aluna dan menariknya untuk lebih dekat padanya. Gerakannya terlihat sangat posesif, seperti seorang alpa yang melindungi kekasihnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD