Chapter 6 – Perfect Wife

883 Words
Joelle’s POV   Semenjak pemakaman Opa, aku sadar hanya Gentala yang tersisa untuk ku miliki. ini bukan kiasan pemanis kata, tapi memang hanya dia yang aku punya. Secara legal ada dua Sunaryo di dunia ini, aku dan Gentala. Tetapi secara darah hanya aku satu-satunya yang tersisa. Jadi buat apa mempeributkan harta, jika mengingat hampir dua bulan yang lalu aku juga hampir kehilangan nyawaku. Jika memang Gentala menginginkan harta Sunaryo, dia bisa saja meninggalkan aku mati overdosis saat itu, tetapi tidak dia lakukan.   Mungkin selama ini aku yang memang bermasalah. Opa jelas memiliki alasan kuat untuk menjodohkan ku dengan Gentala, dari dulu aku memang bodoh untuk memilih pasangan, semua kekasihku selalu bermasalah. Opa tau ini, karena itu Opa menjebak” seorang laki-laki dengan loyalitas dan keinginan kuat membalas budi untuk menikah dengan ku. Kalau dipikir-pikir sedih juga jika memang benar, Opa harus menjebak seseorang hanya untuk menikah dengan ku.   Jam 7 pagi, sebenarnya jarang bagiku untuk bangun sepagi ini, akan tetapi Gentala selalu bangun pagi, jadi aku pikir kenapa tidak mengikut kebiasaanya dan mencoba menjadi istri baik yang selalu digambarkan orang-orang. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, ini dan itu, well setidaknya aku sudah memulai dengan bangun pagi-kan. Aku tegakkan diriku dari tempat tidur walau masih teramat mengantuk, aku palingkan wajahku mencari Gentala yang ternyata sudah tidak ada disampingku. Aku mencoba mengintip matahari pagi dari balik tirai jendela kamar. Warna jingga menyelimuti pagi, aku takjub dengan diriku sendiri bisa bangun sepagi ini, dan melihat malam yang berganti warna. Aku berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Tunggu aku pikir-pikir mungkin tidak menyiapkan sarapan untuk hari ini, menemaninya sarapan pikirku sudah cukup.   “Morning” suara Gentala mengagetkan ku. “Tumben sudah bangun” sambung nya. “Oh ya, aku terbangun” aku menjawab dengan kikuk. Jelas aku tidak mau kehilangan muka dan terlihat sedrastis itu berubah. “kamu sudah rapi?” “Ya aku ada meeting pagi.” Balas nya sembari menyeruput kopi s**u dan mengunyah pancake. “Mau pancake? aku yang buat lho.” balasnya manis, menunjukkan gigi-gigi putihnya. Ah manisnya, aku membayangkan kedua orang tua biologis Gentala, apa yang membuat mereka memutuskan untuk membuang anak setampan ini. Otakku mulai kembali berbicara sendiri. “Jadi apa kamu mau pancake?” Gentala mengulang kata-katanya. “Sorry I was zoned out” aku merapatkan kedua bibirku, meminta maaf. “That’s Ok, apa kamu mau pancake buatanku?” “Ya sure, aku suka apa saja selama dia manis” Aku mengedipkan mataku. “Ok, kamu tinggal menambahkan maple syrup ato madu. Aku pergi dulu ya, dan tolong cobalah untuk lebih betah di rumah. Aku lelah jika harus mengikutimu setiap malam.” Kata-katanya kali ini terdengar begitu manis di telingaku. “Tentu aku tidak berniat kemana-mana hari ini. aku akan seharian di rumah.” “Good, aku ke kantor, aku gak mau terlambat. Bye sampai jumpa nanti malam” tangannya yang besar mengacak-acak rambutku. Aku tersenyum menghantarkan kepergiannya. “Bye, take care” aku melambaikan tanganku. Setelah dia tak terlihat kembali, aku membalikkan tubuhku, dan mulai memotong pancake buatan Gentala. Wow aku tidak tau jika dia bisa masak, aku bahkan tidak tau harus menggunakan apa saja ketika membuat pancake. “Biiiii……Bii Dinaaa….” Aku beteriak kencang, melihat Bi Dina berlari dari kamarnya. Sesaat dia melihatku, aku meringis di depannya. “Ada apa Non, kok teriak-teriak” “Ajarin aku masak bi, pokoknya ajarin aku masak semua kesukaan Gentala.” “Sejak kapan Non suka masak?” “Gak pernah!….tapi pokoknya ajarin aja” Aku meringis pada Bi Dina. “Baik non” Bi Dina mengangguk tersenyum.”Mau sekarang?” “Ya sekarang, kita mulai dari makanan kesukaan dia” “Sippp gampang non...” “Omong – omong Teh Erin mana ya, kok gak kelihatan?” “Lha kan udah izin dari kapan atuh, izin pulang mau nengok anak-anaknya.” “Oh gitu ya, aku ya lupa Bi…ya udah hayuk Bii” aku menarik lengan Bi Dina ke dapur kotor kami.   Hari demi hari aku berlatih untuk menjadi pribadi yang lebih menyenangkan untuk Gentala. Selama ini aku selalu berusaha keras untuk mengambil hati laki-laki b******k, lalu mengapa tidak kali ini aku berusaha untuk bisa mengambil hatinya, dia suamiku, dan dia berhak mendapatkan sisi terbaik dariku.   Aku berusaha untuk bisa bangun lebih pagi, walau sesungguhnya itu adalah kebiasaan yang paling susah untuk diubah. Dalam beberapa bulan ini aku hanya berhasil bangun lebih pagi darinya kurang dari lima kali. Aku memang payah untuk hal ini, dan berpikir untuk membuang bangun pagi dari perfect wife list-ku. oh ya selain berusaha bangun pagi, aku juga berusaha untuk bisa memasak. Aku belajar mememasak beberapa masakan beberapa bulan ini, dan hasilnya lumayan. Layak untuk dimakan menurut Gentala, ya pujian yang cukup jujur menurutku. Dan keahlian lain yang aku pikir aku tidak mungkin memilikinya dan ternyata aku bisa cukup mahir adalah membuat kue. Ah I love baking so much, dalam seminggu aku selalu menghasilkan satu cake baru, dan memaksa Gentala untuk memakannya. Awalnya dia cukup excited, tetapi beberapa minggu terakhir dia sudah mulai mengeluh timbangannya sudah naik 2 kilo.   “Jadi kamu buat apa lagi Joe?” Sapa Gentala dari balik meja makan. “Klepon cake, lagi hits sekarang nih” balasku sembari menumpahkan adonan ke loyang. “Jangan paksa aku menghabiskannya, kali ini” Gentala menggeleng memohon sembari menepuk perutnya.   “Hum we will see, toh kan kamu tidak benar-benar menghabiskannya sendiri, selalu ada Teh Erin, Bima dan Bi Dina yang selalu membantumu. Kamu berlebihan jika mengatakan aku memaksamu menghabiskan satu loyang sendiri.” Aku mengerutkan bibir ku menunjukkan ke arahnya.   Hubungan kami sempurna, Gentala mungkin seseorang yang pendiam dan bagi orang yang tidak mengenalnya mungkin dia terlihat misterius, tetapi sesungguhnya dia seseorang yang lucu dan menyenangkan, jika kamu tahu cara memulainya. Dan hubungan kami sebagai suami istri, yang aku bisa katakan saat ini adalah mungkin dia seseorang yang pendiam tetapi sama sekali bukan seseorang yang pemalu’. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD