32 — Pacar Daru

2271 Words
Yara menatap dirinya di depan cermin, ia mematut dirinya dan melihat garis-garis wajahnya. Banyak sekali ketidaksempurnaan yang ia temui hanya dengan satu kali lihat. Komedo yang mengintip di sela-sela hidungnya, ada jerawat mungil di jidatnya yang kerap terkena sinar matahari dan pori-pori pipinya yang tanpa sadar seperti kubangan jika dilihat lebih lekat. Itu semakin membuat dirinya menjadi kurang. Cermin memang teman terjujur. "Gue jelek banget ya, sebenarnya pantes nggak sih gue ada di posisi ini?" bisiknya pada diri sendiri. Yara meraba wajahnya perlahan. Setelah bertemu dengan Daru dan Mita pada hari yang sama, perasaan Yara dibuat tak karuan. Senang iya, sedih iya. Lebih lagi saat melihat banyak hal yang tidak mengerti apa yang menjadi kekhawatiran dalam dirinya. Mita yang menganggap Yara berlebihan dan Daru yang tidak pernah menyadari ada banyak insecurity di dalam diri Yara. Yara membuka ponselnya, menelusuri Intagram dan membuka profil milik Prita, ada delapan juta pengikut yang mengikuti akun artis muda itu. Luar biasa banyaknya. Jumlah pengikutnya saja jika dirupiahkan bisa buat bayar biaya kuliahnya. Berbeda dengan Yara yang pengikutnya hanya orang-orang yang ia kenal. Bahkan, itu tidak sebanyak jumlah like yang Prita dapatkan dari postingannya. Yara dan Prita jelas-jelas hidup dalam dunia yang berbeda. Jadi, semakin dibandingkan, semakin membuat batin Yara tersiksa. Yara membuka feed i********:, menemukan sosok sempurna di tiap postingan yang diunggah. Bahkan, di satu foto dengan tampilan sederhana, kulit Prita tampak memesona. Bening tanpa ada jerawat yang menghinggapi wajahnya. Bukankah itu sebuah harapan yang ingin Yara punya. Mulus luar biasa dan menjadi pusat perhatian karena memiliki kelebihan yang ia punya. Belum lagi banyak komentar dari para kaum adam yang mengidolakan Prita dengan segala kecantikannya. Yara dipuji cantik sama satu orang saja sudah membuatnya tidak bisa tidur dua hari. "Saingan yang memang berat." ucapnya putus asa. Sungguh berat jika dibandingkan dengan materil. Jadi pacar Daru atau tidak, sisi minder Yara memang tetap tak bisa hilang. Apalagi sekarang, lawannya yang luar biasa hebatnya mengibarkan bendera perang. Prita seakan jelas memperlihatkan sisi ketertarikannya pada Daru. Jangankan melawan, secara amunisi dan senjata saja, Yara sudah kalah. Semuanya memang karena ketidaksempurnaan ini. Kini bukan lagi sebuah ketidakmampuan menjadi milik Daru, namun Yara yang merasa tidak pantas untuk sejajar dengan Daru. Yara sungguh tidak mampu membayangkan jika harus menjadi bulan-bulanan banyak orang jika orang tahu Yara adalah pacar yang tidak layak untuk Daru. "Skincare apa ya yang bikin kinclong di muka?" desisnya. Yara menatap dertan skincare di meja kamarnya, skincare yang ia pakai jika lagi pengen atau banyak lupanya. Makanya wajahnya nggak glowing-glowing. Yara juga sering terkena sinar matahari dan melakukan aktivitas yang nggak sehat. Membuat kulit remajanya menua dengan cepat. "Tolong siapapun, endorse gue biar followers gue nambah." Seru Yara frustasi. Ia menaruh dengan kasar ponselnya di meja. Yara memang nggak pernah capek jika diminta untuk melakukan monolog. Hal-hal yang ia lakukan memang untuk meluapkan segala keresahannya. Drtt.. Drt.... Ponselnya bergetar lebih sering dari biasanya. Ponsel yang baru saja ia tutup layarnya kini tak henti-hentinya mengeluarkan suara getar. Yara mengerutkan keningnya. "Grup mana nih? Perasaan gue selalu mute grup manapun deh?" desisnya kesal. Suara getar yang mengganggu waktu sedihnya. Tidak ramah, bintang satu. Yara meraih ponselnya, membuka bar notifikasi dan dibuat kaget dengan apa yang ter-display di sana. 1520 orang mengikuti Anda. Yara segera membuka instagramnya dan mengecek ulang, jangan-jangan ada yang eror. Tapi ternyata tidak, followers-nya memang bertambah drastis dan banyak sekali direct message masuk, semua itu masuk dalam permintaan. Lagi-lagi Yara dibuat kaget saat akun Daru mengikuti Yara pertama kalinya. Ternyata ini penyebabnya. inuywasx_ hai kak, temennya kak Daru yaa. Salken. ptr193 kak, kok bisa jd temen deketnya Daru. Kok bisa jadi orang yg dengan mudah difollow. Padahal bukan followersnya. daenzki LO BAJAK HPNYA DARU YA BUAT FOLLOW LO?! Banyak pesan yang serupa dikirim. Baik dari rasa penasaran, rasa akrab dan bahkan rasa kebencian. Yara sudah biasa merasakan itu sejak pertama mengenal Daru dengan dekat dan itu sudah biasa baginya. Pesan-pesan itu mayoritas berisi keheranan mereka dengan akun Daru yang tiba-tiba men-follow akunnya padahal Yara sendiri tidak men-follow Daru. Kan sombong betul Yara. Dari pada salah paham ini berlanjut segera Yara menelpon Daru, si penyebab keributan malam ini. "Halo Ra? Kangen ya?" sahut Daru saat pertama kali menerima telepon. Bukannya salam malah meracau. Manjanya emang nggak pernah hilang, cuma disembunyiin aja. Sekarang Yara yang jadi penampungan sifat manja Daru. "Nggak gitu ya. Aku mau ngomong sesuatu." Yara mencoba untuk tidak terkecoh dengan sifat Daru. "Ada apa sih? Baru ketemu tadi siang malemnya udah marah-marah. Aku lagi syuting nih, cari duit." banyol Daru tak memperhatikan bahwa Yara pengen ngomong serius. Namun Yara akhirnya luluh juga. Siapa sih yang nggak luluh kalau punya pacar modelan kayak gini. Sudah ganteng luar biasa, rasa sayangnya nggak main-main lagi. "Kalo syuting ngapain nerima telepon. Jangan-jangan kamu ya yang kangen." Yara menyunggingkan senyum, bahkan kini ia menjatuhkan tubuhnya di kasur dan berguling-guling di sana. Euforia jatuh cinta masih saja menghinggapi dadanya meski sudah cukup lama menjalin hubungan. "Lah, bukannya kamu yang kangen. Kan anda yang telepon. Gimana sih buk." Suara tawa Daru terdengar nyaring di seberang. “Iya juga ya.” Ucap Yara pada dirinya sendiri. "Ah, udah ah, ngomong kayak gini sama kamu nggak ada kelarnya." Yara mengibarkan bendera kekalahan, meski tidak sepenuhnya mengakui kesalahannya. Dari segi menggombal dan menggoda, Daru memang juaranya. Sepertinya itu berpengaruh dengan jam terbang. "Ada apa sih Ra? Mau ngomong apa?" Daru mencoba serius. Suaranya menjadi super lembut, pokoknya Daru tuh punya suara telfon-able banget. Kalau bahasa gaulnya seperti itu. "Itu gini, kamu ngapain follow instagramku. Fans kamuu rame banget nih silaturahni di instagramku. Hih kan malu jadi terkenal mendadak." Yara mengatakan itu dengan nada kesal. Namun tidak sepenuhnya kesal, memang kapan sih Yara bisa kesal sama Daru. Sebagian kesalnya adalah senang, baru saja berdoa minta kenaikan followers, eh malah dikasih yang mendadak kayak gitu. Tapi di satu sisi hatinya juga was-was karena bisa saja ini menjadi pintu menuju rahasianya terbongkar. Yara sungguh nggak mau itu terjadi dengan dirinya. Baru jadi teman dekat sudah menjadi bulan-bulanan mahasiswa satu fakultas, gimana kalau kabarnya pacaran terbongkar? Serem banget! "Emangnya nggak boleh follow i********: pacar sendiri? Kok anda marah-marah. Harusnya aku yang marah, masak kamu nggak follow aku." "Ruuuu, jangan sebut pacar di sini dong. Kan kamu lagi syuting, gimana kalau ada yang denger?" Yara masih saja was-was, padahal kan Yara juga lagi nggak bareng sama Daru. "Kan yang dengerin kamu." Daru masih saja bersikap manja. Membuat pertahanan Yara semakin ambruk. Mleyot bukan main. "Udah ah, aku mau tidur." Ngomong doang pamit tidur, sebenarnya matanya terang sekali, nggak ada tanda-tanda ngantuk. Memangnya siapa sih yang ngantuk di saat begini. "Selamat tidur yaa, jangan mimpiin aku dulu. Aku lagi syuting, ntar malah ngantuk." "Emang ngaruh?" kerut Yara. "Nggak tahu sih. Udah ah, sana tidur. Break aku udah mau abis." putus Daru. "Udah ya, kangennya beres ya, aku matiin ya." "Iyaaa..." Yara tersenyum lebar, mendengar suara Daru yang mode gini emang nyenengin hati banget. Bikin jatuh cinta terus nggak ada berhenti-hentinya. Di saat itu juga, kepercayaan diri Yara meningkat tajam. Yara memang nggak cantik, tapi Yara satu-satunya orang yang mendapatkan perlakuan semanis itu dari artis idaman banyak orang. Ternyata senyenengin ini ya, jatuh cinta sama orang yang kita suka, bahkan sesuai ekspektasi lagi. Ganteng bin bikin sayang. Mendadak Yara lupa apa yang menjadi keresahannya tadi. Mungkin Yara nggak sempurna, tapi Yara bisa punya pacar Daru Han yang lebih dari kata sempurna. ••• Punya pacar memang meningkatkan mood Daru 100%. Apalagi setelah ditelepon Yara meski cuma sebentar. Daru yang tadinya ngeluh sakit kepala karena menghafal banyak skrip, kini dibuat segar lagi dengan booster terbaiknya. Suara Yara dengan segala hal-hal recehnya. "Emang enak ya, kalau kerja ada penyemangatnya, rasanya kayak dunia milik sendiri." goda Kak Hana melihat adiknya sedang seperti ketiban kembang. Sejak tadi ekspresi bahagia mengisi wajahnya. "Ah, Kak Hana bisa aja… " sahut Daru dengan malu-malu. "Tinggal 5 scene lagi kita pulang. Terus tiduuur, terus besoknya nemuin Yara deh." Kak Hana tak henti-hentinya menggoda adiknya. "Wah, dengan semangat dan sepenuh hati nih." Daru bangkit dari bangku, siap melanjutkan adegan selanjutnya. Istirahat di kasur kamarnya telah menanti. Meski hanya tidur tidak lebih dari lima jam, tetap saja itu waktu yang berharga. “Semangat terus emang yaa…” Kak Hana mengulangi kata semangat lagi. “Sekali-kali dong, Kakak juga cari penyemangat. Mau Daru cariin?” Daru juga menggoda kakaknya. “Ah nggak. Capek. Hidup kakak sudah penuh dengan schedule kamu, jadi fokus kerja aja.” Tolak Kak Hana mentah. Kak Hana memang mandiri banget, usia 27 tahun memang tidak membatasinya untuk selalu bekerja dan mengkhawatirkan pernikahan. “Baik deh, independent woman saya.” Mood Daru yang baik juga membawa semangat pada kru yang bertugas. Dengan semangat yang Daru buat, membuat semuanya semangat dan menyelesaikan adegan dengan sedikit drama. Daru juga dengan cepat menghafal skrip dan sedikit kesalahan yang terjadi. Daru memberi senyum ramah ke semua staff di saat rasa capek menderanya sekalipun. Namun selain senang, ada seseorang yang merasa heran dengan sifat Daru yang berubah. Yaitu Prita, lawan mainnya sendiri yang sering banget mendapatkan perlakuan dingin dari Daru. Bukan dingin sih, Daru lebih sering sibuk dan serius dari pada harus mengobrolkan hal-hal sepele di waktu istirahatnya. Membuat chemistry mereka berdua di luar layar sedikit meregang—lebih tepatnya tidak dekat sejak awal. "Lo kenapa sih, akhir-akhir ini semangat banget?" tanya Prita saat break. Prita juga menyadari itu. Semangat Daru memang nggak biasa. Prita duduk di bangku samping Daru, bangku yang kerap digunakan oleh Kak Hana duduk. Namun saat ini Kak Hana sedang pergi. Daru tersenyum ramah ke Prita. "Keliatan banget ya?" "Iyalah. Lo energik banget bahkan ini udah jam 11 malem." Prita menggelengkan wajahnya. Daru sendiri hanya bisa tertawa saat melihat ekspresi bahagianya. “Ru?” tanya Prita dengan ragu. “Iya?” jawab Daru dengan ekspresi masih senyum-senyum. "Lo nggak lagi make kan?" Tuduh Prita. Memang kebanyakan artis kalau power-nya luar biasa bisa bikin semua curiga. Awalnya semangat tahu-tahu malah diringkus polisi. Prita kan nggak ingin karir sinetronnya hancur karena lawan mainnya problematic. "Heh, gue masih suci ya." tampik Daru. "Ya siapa tahu. Semangatnya bikin orang curiga. Kan gue jadi curiga." ucap Prita tanpa tedeng aling-aling. "Nggak kok! Kehidupan gue kompleks banget ya, gue harus syuting, harus kuliah masih sempet-sempetnya make. Kalau iya make, bisa-bisa gue diblacklist di dua tempat." gerutu Daru menyadari betapa banyaknya resiko yang ia dapat dari n*****a. "Iya deh iya, anak rajin." Prita menepuk pundak Daru, tersenyum penuh arti. "Aamiin, doakan ya. Dapat nilai A." Daru mulai memancing. Ia tersenyum nakal ke arah Prita. “Kalau dapat nilai A, traktir gue.” Goda Prita lagi. Prita semakin mengembang senyumnya, melihat banyak perkembangan Daru yang membuatnya lebih senang. Setidaknya, Daru mulai melunak dan tidak kaku-kaku banget. Susah emang kalau kaku, diajak ngomong sedikit sensitifnya bukan main. Prita juga senang melihat Daru mulai banyak senyum ke arahnya. "Ayo-ayo. Kita syuting lagi." Bang Dodik memanggil dua pasangan yang sedang berbincang mesra. “Pacarannya di layar kaca aja biar makin so sweet.” Tambah Bang Dodik yang membuat ekspresi Prita semakin memerah. “Apaan sih, Bang.” Tampik Prita dengan malu., "Yok syuting." Daru mengajak Prita yang sejak tadi senyum-senyum. Daru juga merangkul Prita dengan semangat. “Kalau syuting lo makin bagus, gue yang ditraktir yaa.” Goda Daru yang membuat Prita kaget. Prita langsung membelalakkan matanya. Rasa kagetnya bukan ditimbulkan karena banyolan Daru terkait traktir, namun karena sebuah rangkulan yang berbeda. Rangkulan Daru yang tiba-tiba membuatnya tidak bisa mengontrol degup dadanya. Padahal biasanya Prita kerap mendapatkan pelukan dari Daru tiap syuting, namun kali ini berbeda. Ada hal yang membuat ini menjadi sesuatu yang berbeda. Prita melepas rangkulannya, “bentar gue mau ke toilet bentar.” “Oke.” Jawab Daru santai. Prita berbalik arah dan mencoba mengatur napasnya. Jangan sampai Daru menyadari apa yang sedang mengisi kepalanya. Prita nggak mau jika Daru menyadari ada ketidakprofesionalitasan dalam dirinya. “Yok Prita, syuting.” Ajak Mbak Ayu sebagai penulis skenario. “Yuk mbak.” Jawab Prita dengan manut. “Mbak…” Prita ingin menanyakan hal yang mengganjal dalam dadanya. “Iya?” “Mbak ngerasain hal beda nggak sih sama Daru?” “Beda gimana?” “Kayak, dia akhir-akhir ini happy banget. Daru juga care banget sama aku.” Sebenarnya, Prita sedikit merasa gede rasa saat melihat sikap Daru yang perhatian. Namun ia mencoba untuk tidak memperlihatkan jelas apa yang dia katakan. “Oh, dia emang lagi happy banget. Mbak denger-denger sih, Daru lagi jadian. Tapi Hana minta jangan sampai ada yang tahu.” Jawaban Mbak Ayu diluar dugaan. Mbak Ayu dan Kak Hana adalah orang yang sebaya, jadi wajar saja banyak pertukaran informasi yang tidak banyak orang ketahui. Bisa dibilang mereka adalah teman dekat. Jawaban Mbak Ayu sekaligus membuat perasaan Prita merasa aneh. “Jadi, Daru udah punya pacar ya Mbak?” “Bisa dibilang begitu sih… Emangnya kenapa Prit? Itu ngaruh buat syuting kalian? Daru udah nggak professional?” “Eh, enggak kok Mbak… Daru masih oke-oke aja kalau syuting.” “Iya, kayaknya dia malah makin semangat ya. Banyak yang seneng lihat Daru positif kayak gitu. Jadi banyak yang nggak bahas kalau Daru punya pacar. Tapi, Mbak juga berterima kasih deh, buat pacar Daru siapapun itu.” Mbak Ayu malah memperlihatkan sisi senangnya dengan berita itu. “Mbak Ayu tahu pacar Daru siapa?” Prita ingin menggali lebih dalam. “Hmm… kayaknya sih, dulu pernah diajak ke sini sih. Tapi yang Mbak tahu, dia bukan dari kalangan artis.” Jawaban Mbak Ayu semakin membuat Prita merasa sedih. Perasaan senang yang tadi menyelimuti hatinya kini mendadak menjadi sedih karena hal yang tidak ia mengerti sendiri. Gue pikir, gue satu-satunya. Desis Prita dalam hati. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD