Makan siang ini mungkin bakal jadi makan siang yang paling membanggakan. Siapa yang menyangka bila Yara duduk di antara keluarga Daru dan itu sungguh bikin deg-degan. Tapi tak masalah, bukankah itu impian banyak gadis di luar sana.
Yara, Daru dan Mbak Desi kini sedang menikmati hidangan dari masakan Mbak Desi. Kak Hana masih tidur dan akan bangun jika azan duhur berkumandang. Lalu jika sempat dan masih pada makan siang, Kak Hana akan bergabung.
Mungkin Yara tidak diajak di café yang mewah atau restoran Itali, tapi ini, masakan keluarga dengan nuansa akrab, bakal jadi moment yang paling indah untuk mengawali masa pacaran mereka. Melihat Daru dengan baju biasa dan wajah yang apa adanya, itu adalah hal langka.
Daru yang ada di depan layar kaca dan Daru di media sosial adalah Daru yang kece, bukankah itu sebuah pemandangan yang langka, pemandangan yang hanya bisa dinikmati oleh orang terdekat Daru.
"Yara ini kok bisa sih nerima Sasan? Emang nggak takut kalau Cuma dimainin?" Mbak Desi, yang juga duduk di situ mengisi kekosongan yang terjadi. Habisnya sejak tadi hanya ada denting sendok yang beradu dengan piring. Kedua pasangan baru ini tampak canggung dan kaku karena masih pacaran baru-baru atau malu karena ada Mbak Desi di sini.
"Dimainin gimana Mbak?" tanya Yara menyahuti ucapan Mbak Desi.
Mbak Desi mengulum senyum nakal, mengerling ke arah Daru. "Tanyain sama pemainnya dong. Main apa San?"
Daru sendiri yang menjadi pembahasan malah mendelik, "Main apa sih Mbak? Jangan bikin rumor yang nggak-nggak ya. Sasan baru pacaran seminggu loh."
Mbak Desi tertawa melihat ekspresi Daru yang menolak celetuk Mbak Desi terkait pemain. "Tapi kan bener, kamu pemain." Mbak Desi tetap keukeuh dengan pendapatnya.
"Ra kamu jangan percaya sama omongan Mbak Desi ya, sumpah aku sebelum sama kamu nggak pernah main-main sama orang. Aku nggak pernah sempet pacaran. Baru sama kamu doang, sumpah." Daru malah menoleh ke arah pacarnya, ingin memastikan bahwa informasi itu hoaks.
"Kalau aku percaya gimana. Biasanya artis emang gitu. Suka rahasia-rahasiaan." Yara malah membuat Daru semakin panik. Tapi ia juga cengingisan karena melihat reaksi Daru yang nggak bisa diajak bercanda.
"Tuh, Yara. Jangan percaya sama Sasan. Buaya." Mbak Desi semakin gencar memberi sulutan api pada pembahasan ini. Semakin membara.
"Mbaak Desi, kok gitu sih." Daru menatap tajam Mbak Desi. Kenapa sekarang dia yang jadi bulan-bulanan. Bukankah seharusnya makan siang kali ini menjadi makan siang yang manis dan penuh keakraban.
"San, san. Jadi orang jangan serius-serius amat. Mbak Desi Cuma bercanda kok." Kak Hana datang dari arah kamar. Kak Hana mendengar jelas percakapan mereka yang membuat keributan kecil di meja makan.
"Kak, lihat, Mbak Desi nakal banget." Adu Daru pada Kak Hana.
"Lihat nih Ra, pacar kamu kelakuannya kayak bocah." Bukannya membalas aduan Daru, Kak Hana malah mengatakan hal itu pada Yara.
"Sejak dulu nih ya, Sasan emang gini kelakuannya, nggak jelas banget." Mbak Desi menambahi. Membuat Yara yang diajak dua orang berbicara bingung harus membalas yang mana.
"Hehehe, Sasan tapi nggak suka gigit kan Mbak, kan Kak?" Yara sepertinya bisa diajak dalam permainan ini. membuat Daru kesal karena percakapan tiga perempuan di sekitarnya.
"Wah, kalau itu sih, Mbak nggak tahu ya Ra. Coba tanya Kak Hana?" Mbak Desi menimpali, ekspresinya seperti mengingat-ingat kejadian Daru yang mengigit, ada atau tidak.
"Gigit? Kayaknya, Sasan lebih suka nyakar sih." Kak Hana semakin memancing.
Yara tertawa, senang bisa langsung akrab oleh orang terdekat Daru. Itu artinya, ia diterima di lingkungan ini. Tidak seburuk bayangan Yara bahwa dirinya akan diperlakukan tidak menyenangkan oleh saudara-saudara perempuannya. Tapi Yara nggak boleh suudzon.
"Tolong hentikan fitnah ini, tolong ya tolong, itu melewati fakta yang saya punya. Masak kalian ngomongin saya, yang diomongin di sini. Apakah kalian tidak menyadarinya?" Daru menengahi pembahasan.
"Kak Hana dan Mbak Desi, kalian yang sudah mengenal saya sejak kecil, ya jangan gitu ya. Masak adiknya dijelek-jelekin gitu di depan pacarnya." Daru menoleh ke arah Mbak Desi dan Kak Hana yang ada di depan mereka.
"Juga, buat Yara, tolong, aku tahu kamu baru mengenal aku beberapa bulan ini. Tapi aku mohon banget nih ya, kamu sebagai pacar aku jangan percaya sama apa yang dibilangin mereka ya. Serius itu semua Cuma omong-omong doang. Aku yang asli itu baik banget." Daru mencoba mengklarifikasi semuanya.
"Sasan tuh emang kaku gitu ya, kita tuh Cuma ngetes pacarmu Ru. Biar langgeng, eh siapa tahu dia parno punya pacar modelannya kayak kamu." Mbak Desi melakukan pembelaan atas apa yang ia katakan tadi.
Darah Yara berdesir dalam diam, kata pacar diulang sejak tadi, bahkan Daru sendiri juga mengulangi berkali-kali kata itu. Rasanya, seperti spesial di mata mereka. Predikat pacar memang masih jadi yang paling nyenengin dari kata lainnya. Paling tidak Yara diakui di lingkungan ini sebagai 'pacar Daru'. Ah mengingatnya membuat jantung langsung senam aerobik.
"Jangan parno Yara, aku ini artis, banyak orang yang pengen jadi pacarku. Jadi, ketika kamu sekarang jadi pacarku, maka, kamu akan menemukan sebuah harta karun. Jangan merasa ragu." Kini Daru malah seperti sedang berkampanye tentang pemilihan ketua. Padahal hanya sekedar pembuktian diri yang konyol.
Tanpa Daru menjelaskan kenarsisannya, Yara percaya bahwa Daru memang layak dibanggakan sebagai artis, Daru memang harus diyakini dan menjadi sebuah hal yang langka. Benar-benar harta karun, yang menjadi rebutan banyak orang—termasuk Prita.
Di saat pembahasan akrab ini, kenapa harus Prita melintasi kepalanya dengan random. Bukankah seharusnya Prita tidak harus meski hanya sekelebat, kan bikin mood sedikit berantakan.
Tenang Yara, mari berpositif thinking tentang hal apapun. Bukankah sejak tadi namanya sudah ditekankan sebagai pacar Daru, jadi untuk apa khawatir soal hal-hal yang tidak penting.
•••
Selesai makan siang, inilah waktu kencan mereka. Di ruang tamu bersama Daru saja. Yara malah dibuat sedikit canggung. Pasalnya dari judul pertemuannya saja sudah kencan. Membuat ia tidak bisa bersikap biasa saja seperti di kampus atau di mobil Daru.
Daru menatap Yara dengan senyum, hari ini entah kenapa Yara tampak cantik luar biasa dengan tampilan seadanya. Rasanya, Daru siang ini diberi waktu yang amat leluasa untuk memandangi Yara cukup lama.
"Ru, kamu nggak sibuk siang ini?" tanya Yara yang mulai merasa canggung dengan tatapan Daru yang sejak tadi tak berkedip. Rasanya aneh juga dipandangi seperti itu kan. Takut kalau ada yang salah dengan riasan super halus miliknya hari ini. Tapi memang Yara nggak bilang kalau dandan, kan dia cuma pengen tampil sempurna di depan Daru.
"Sibuk nggak ya. Sibuk sih, iya sibuk lagi nemenin kamu." goda Daru dengan senyum lebar. Daru yang Yara pertama kenal memang tidak seluwes ini.
"Aku beneran nanya nih."
"Hmm, emangnya kenapa sih? Nanti kalau aku cuekin marah, giliran lagi meluangkan waktu malah kamu minta sibuk."
"Tapi kamu kan nanti sore syuting, masak kamu nggak ngapalin naskah dulu. Nanti lupa lho, gara-gara sibuk pacaran sama aku."
Apa yang Yara katakan banyak benarnya. Meski ini akhir pekan bukan berarti Daru harus santai-santaian dan melupakan kewajibannya dalam bekerja.
"Ya udah, aku ambil skrip dulu ya. Temenin tapi ya." Daru bangkit, meninggalkan Yara menuju kamar tidurnya.
Yara tersenyum melihat punggung Daru meninggalkannya. Ternyata semenyenangkan ini pacaran sama artis. Rasanya masih saja Yara menganggap Daru orang yang berbeda, apalagi jika mengingat predikat artis yang sepertinya selalu melekat di mata Yara.
Beberapa menit kemudian Daru datang, dengan skrip dan ponselnya yang sejak tadi belum Daru buka sama sekali, dan Daru pasti juga belum membuka pesan milik Prita. Pesan sumber overthinking Yara.
Daru duduk di samping Yara, menaruh skrip di meja lalu membuka ponselnya. Pasti Daru sedang membaca pesan-pesan yang dikirim oleh orang-orang, termasuk Prita sendiri.
"Ra, followers aku nambah banyak deh. Lihat, mereka banyak ngucapin aku soal piala kemarin. Padahal kan udah seminggu kemarin." Daru memperlihatkan fotonya yang mendapat like ratusan ribu.
Yara tersenyum getir. Daru memang ganteng banget di foto itu, Yara sendiri juga diam-diam menyimpan foto itu di galerinya.
"Banyak banget ya." lirih Yara yang sulit membaca digit like milik Daru, terlalu banyak.
Selain status, apa yang Daru miliki kini juga berbeda dengan apa yang ia punya. Bahkan hanya sekedar like foto, Yara kalah begitu jauh. Tapi nggak masalah, itu kan hanya sebuah akun i********:, wajar saja Daru punya banyak followers.
"Akun i********: kamu apa Ra? Biar aku follow." tiba-tiba Daru berceletuk. Membuat Yara kaget.
"Eng, jangan deh. Aku alay di i********:. Sumpah, followers aku juga dikit." tolak Yara saat itu juga. Jujur meski Yara sudah stalking akun Daru selama ini, Yara masih belum menfollow Daru dengan alasan takut dikira stalker.
"Jangan gitu dong, masak i********: pacar sendiri nggak difollow." Daru tetep keukeuh.
"Nggak udah Ru. Sumpah, malu aku fotonya nggak jelas semua." Yara tetap tak mau memberi tahu. Yara nggak mau banyak orang tahu tentang dirinya di dunia ini, lebih tepatnya nggak mau orang-orang tahu.
"Ya udah, aku cari sendiri." sahut Daru akhirnya. Ia dengan mandiri mencari nama Yara dipencarian. Saat menggunakan keyword Yara, Daru tidak menemukannya.
Daru menoleh ke arah Yara, "sebenarnya id kamu namanya apa?" kerut Daru.
"Nggak ah, malu! Mending kamu ngapain skrip kamu aja." Yara menutup layar ponsel Daru.
Daru tersenyum tipis, ia begitu curiga kenapa Yara tetap ngotot menyembunyikan akunnya. Apakah ada sesuatu yang mencurigakan.
"Jangan-jangan, kamu ya yang main di belakangku." desis Daru membuat Yara langsung kaget.
"Heh sembarangan! Ngapain aku nyari pacar banyak-banyak." sahutnya tanpa pikir panjang.
"Hahaha. Habisnya kamu mencurigakan Ra."
"Yaudah, dari pada kamu suudzon terus, akunku namanya Airaya_ cari sendiri ya. Jangan difollow, nanti ketahuan pawang buaya kamu." Yara mengibarkan bendera kekalahan. Lagian, nggak papa kali ya mulai terbuka sama Daru mulai dari hal terkecil.
Bukannya menjawab pernyataan pacarnya, Daru malah langsung berselancar mencari akun i********: Yara. Baru beberapa detik, Daru sudah menemukan akun Yara.
Daru membuka i********: Yara dan menemukan hal-hal yang mengejutkan baginya. "Apaan, masak aku nggak di follow!!" serunya.
"Emangnya harus?" kerut Yara dengan santainya.
"Lagi, ini, siapa ini. Masak di feed kamu ada foto cowok." belum selesai sampai situ, kehebohan Daru masih berlanjut dengan menunjuk satu postingan foto Ji Chang Wook di feed Yara.
Yara cekikikan melihat foto pacar nomor satunya. "Jangan ditunjuk-tunjuk gitu dong, dia itu senior kamu."
Daru memicingkan matanya ke arah Yara. "Maksud kamu, dia selingkuhan kamu?!"
"Bukaan, Anda yang selingkuhannya saya. Yang ini nih," Yara menunjuk foto Ji Chang Wook, "inii, adalah pacar saya. Pacar pertama saya dan satu-satunya, hihihi."
Daru mendengus napas kesal, "memang benar. ternyata aku yang bukan siapa-siapa kamu. Kesel."
Sifat Daru yang berubah menjadi kekanak-kanakan membuat Yara tertawa geli, antara senang dan pengen cubit. Gemesin banget soalnya.
"Jangan kesel dong sayangkuuu." Yara menggunakan embel-embel sayang agar Daru luluh. Selain Daru luluh, dirinya sendiri juga merinding menyebutkan kata sayang di depan Daru.
"Nggak! Aku kesel." Daru menolehkan wajahnya, berpaling ke arah yang lain.
Drtt... Drtt...
Di saat keromsntisan mereka, ponsel Daru berdering, ada nama Prita di sana, memanggilnya.
Yara yang melihat langsung mengerut, bahagia yang baru saja tercipta kini pecah seperti kaca tipis.
Daru segera mengangkat telepon, dengan ekspresi yang biasa. Seperti nggak menyadari bahwa Yara di sampingnya sebisa mungkin menahan emosi dan kecemburuannya.
"Halo."
"Halo Daru." sahut Prita yang dapat didengar Yara samar-samar.
"Ada apa Prit?"
"Lo dari tadi nggak bales chat gue, sih." Prita marah-marah.
"Sorry, gue abis bangun tidur. Tadi nggak megang hp soalnya." alibinya. Padahal sedang pacaran sama Yara.
"Tumben banget lo bangun sesiang ini, biasanya jam 10 udah bangun." sahut Prita yang membuat jantung Yara senam. Kenapa Prita hapal betul dengan jadwal bangun Daru. Sedekat itu ya.
"Emangnya lo mau bilang apa Prit?" Daru ingin kembali ke topik.
"Iyaa, jangan lupa bawain jaket gue yaaa. Udah lama banget kan di lo." jelas Prita.
"Ooo, jaket lo yang ketinggalan di rumah gue itu."
Ketinggalan? Itu artinya, Prita pernah main ke sini? Kenapa rasanya nyesek ya ketika denger itu.
"Iya, bawain ya."
"Okee."
Di saat Daru sedang sibuk teleponan, Yara dibuat diam dan dengan pikiran penuh. Pikiran buruk tentang masa lalu Daru membuat Yara semakin ciut.
Yara memang pacaran sama Daru, tapi itu tidak merubah masa lalu dan statusnya. Yara tetap orang biasa yang nggak bisa masuk dalam kehidupan Daru yang penuh dengan kemewahan. Standar kehidupan Daru memang setinggi itu ya.
•••
"Mitaaaa. Gue nggak tahu harus ngapain, rasanya emang gini ya hidup berdampingan sama orang yang lebih tinggi dari kita." keluh Yara habis-habisan di kamar kos Mita.
Setelah main di rumah Daru, Yara langsung pergi menuju kos Mita, mumpung dia akhir pekan nggak balik ke rumah.
"Gimana-gimana? Katanya abis kencan, kok malah kayak gini." Mita menoleh ke arah sahabatnya.
Mereka berdua sama-sama rebahan di kasur, Mita sendiri sedang sibuk membaca buku materi sedangkan Yara hanya berdiam diri di atas kasur dengan pikiran yang mengawang.
"Mit, salah nggak sih, kalau gue cemburu." Yara menoleh ke arah Mita. Wajahnya menampilkan banyak kekhawatiran.
"Ya siapa yang ngelarang sih. Lo cemburu sama siapa? Daru?"
Yara mengangguk. Memangnya siapa lagi yang mau dicemburuin selain Daru, kan pacarnya emang Daru.
"Emangnya dia kenapa?"
"Nggak ngapa-ngapain sih."
"Lha teruus? Siapa yang lo cemburuin?" Mita semakin dibuat heran dengan drama percintaan sahabatnya yang masih newbie banget.
"Sama Prita, lo tahu Prita kan?" jawab Yara pelan. Takut Mita meledeknya.
"Sama Prita? Temen mainnya?" tambah Mita dengan tidak percaya. Benar saja, Mita memang nggak bisa menghargai pendapat Yara, baru ngomong sepatah aja, dia langsung nge-judge.
Yara mengangguk, "Iya, lawan mainnya di sinetron yang dia mainin."
Mita tertawa, apa yang Yara lakukan tampak konyol di matanya. "Ra, Ra. Dari banyaknya orang, kenapa lo cemburunya sama Prita. Kan lo tahu, mereka itu rekan kerja, pasangan di sinetron yang disukai banyak orang."
Yara mendengus, maksudnya tuh bukan begitu. Yara juga tahu bahwa chemistry mereka dalam banget di sinetron.
"Ra, Daru tuh kayak gitu cuma sebatas acting. Ya ngapain cemburu, kan pacarnya lo." Mita masih saja berkomentar sesuai yang ia tangkap. Padahal cerita Yara belum selesai.
"Ta-tapi nggak gitu maksud gue Mit." Yara mencoba ingin mengoreksi miss komunikasi.
"Terus cemburu di bagian mana?"
"Cemburu soal sikap Daru di belakang layar sama Prita. Gue cemburu bagaimana mereka berinteraksi." jelas Yara apa adanya.
Yara tahu, sikapnya ini berlebihan, tapi itu memang faktanya. Yara cemburu dengan apa yang terjadi, dengan hal-hal yang tampak remeh namun sebenarnya penting bagi dirinya.
Mita berhenti membaca, kini ia menatap Yara dengan tatapan heran. "Ra, sepertinya... Lo nggak boleh kayak gini terus deh. Jika hanya masalah sepele lo aja cemburu, gimana dengan hal besar ke depannya."
"Lo lupa, kalau Daru aja seorang artis. Sudah sewajarnya dia bersikap ramah dan menjadi visual banyak orang. Lo tahu kan, kalau pacar lo sekarang, bukan pacar lo doang, dia pacar banyak orang di luar sana. Karena Daru Han itu boyfriend material bagi mereka semua." ucap Mita realistis.
Dibanding prihatin dengan perasaan Yara, ia lebih memilih menjelaskan apa yang ada di depan mata Yara memang beginilah realitanya. Sesakit apapun itu, Yara memang harus kuat.
"Ta-tapi Mit, gue nggak yakin bisa kuat atau nggak." Yara masih ragu.
"Ra! Lo pacaran sama Daru baru seumur satu minggu, udah ribut banget. Udah deh, rileks. Kalaupun Daru harus menjadi seperti itu, lo juga harus bisa menerima."
Tapi Yara masih tak bisa menerima itu. Pikirannya masih macet dengan betapa sakit yang harus Yara lalui.
Yara, harus bisa dewasa. Bukankah dia sendiri yang sejak awal minta hubungan mereka backtreet saja? Lalu kenapa ia tidak mau menelan resikonya.
•••