"A-apa, Gus?" Anisa bertanya sekali lagi. Terlebih, untuk meyakinkan dirinya agar tidak salah mendengar.
"Saya ingin, Nona itu yang mencarinya," ulang Ihsan masih dengan posisi sama, menunjuk ke arah Mila.
Meski tak nyaman dan keberatan, tapi tak urung, membuat kepala Anisa mengangguk mengiyakan.
"Baik, Gus," jawabnya lalu menghampiri teman sekamarnya.
Hatinya ragu, merasa canggung. Karena meskipun Mila sudah ikut patrol bersamanya, namun tetap saja dia merasa tidak enak hati. Bagaimanapun, Mila masih termasuk murid baru di sana.
"Ekhem ... Assalamu'alaikum, Mbak Mila." Anisa menyapa Mila yang sedang berjongkok mencabuti rerumputan liar.
Mila mendongak, lalu tersenyum. "Wa'alaikumussalam, Mbak Nisa. Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Mila.
Anisa tak menjawab pertanyaan Mila. Dia malah memelintir ujung kerudungnya membuat Mila mengerutkan dahinya. "Maaf Mbak Nisa, ada apa ya?" tanya Mila sekali lagi.
"Emm ... anu Mbak, begini---"
"Kenapa kalian berdiri kaku seperti itu?" Ucapan Anisa seketika terhenti ketika seseorang menginterupsi perbincangan mereka.
"Gus Arfan," ucap Mila dan Anisa berbarengan, kepala mereka ditundukkan sedikit, tanda kesopanan.
"Ada apa Mbak Nisa?" tanya Arfan to the point. Firasatnya mengatakan, bahwa Anisa datang ke Mila, karena ada sesuatu yang akan disampaikan. Arfan yang memang sudah dari tadi bersama Mila. Pergi sebentar menuju ruang perabotan, untuk mengambil alat penangkapan belalang.
"Anu, Gus Arfan. Saya diperintahkan oleh gus Ihsan agar mbak Mila ini mencari belalang sebanyak-banyaknya. Gus Ihsan menginginkan belalang tersebut mbak Mila sendiri yang menagkapnya," tutur Anisa sopan.
"Apa?" Mila refleks menjerit.
"Ma-maaf sebelumnya, Mbak! Tapi, aku hanya disuruh gus Ihsan.”
Tubuh Mila mendadak merinding, bulu kuduknya seketika berdiri. Rasa gatal mulai merambat di seluruh permukaan kulitnya. Mila terus saja mengusap tubuhnya sendiri seakan ada sesuatu yang ingin disingkirkannya.
"Mbak Mila, Mbak tidak apa-apa?" tanya Arfan.
"Ya? Ah ... sa-saya baik-baik saja, Gus Arfan," jawab Mila sambil terbata.
"Mbak, Mbak Mila kenapa?" tanya Anisa. Perasaannya menjadi semakin tak enak saat melihat reaksi tubuh Mila.
"Ok ... Mbak Mila, tarik nafasnya dalam-dalam, lalu keluarkan secara perlahan. Fokuskan pikirannya pada sesuatu yang Anda sukai!"
Mila melakukan apa yang diarahkan Arfan. Benar saja, kulitnya berangsur-angsur normal kembali. Rasa gatal itu pun, perlahan menghilang.
"Terimakasih banyak, Gus. Sungguh, sangat membantu Saya," ucap Mila penuh syukur.
"Alhamdulillah kalau begitu," jawab Arfan bernafas lega.
Anisa yang belum benar-benar pernah bertatapan langsung dengan gus satu ini. Terus menundukkan kepalanya, merasa canggung juga sedikit tak nyaman. Walau dalam hatinya mengakui jika gus satu ini memanglah tampan. Apalagi melihat senyuman Arfan yang membuat wajah pria itu berkali lipat lebih menawan.
"Ekhem ... Mbak Anisa, maaf! Apakah pekerjaan Anda sudah selesai?" Arfan menegur Anisa yang sedari tadi terus menunduk.
"Ya? M-maaf! Saya masih ada pekerjaan di dalam, Gus," jawab Anisa.
"Ya sudah, mbak Anisa silakan lanjutkan pekerjaannya!" ucap Arfan. Anisa mengangguk dan pamit dari situ.
Arfan menoleh ke arah Mila, "Nona, silahkan lanjutkan pekerjaannya. Soal belalang, biar Saya yang mencari." Arfan mengangkat alat penangkapan belalang.
"Te-ta-tapi ... gus Ihsan mengatakan, harus S-saya yang carikan, Gus," jawab Mila pelan.
"Apakah Mbak Mila bersedia?" tanya Arfan. Dengan cepat, Mila menggelengkan kepalanya.
"Hahaha." Arfan tertawa melihat reaksi Mila yang menurutnya berlebihan.
"Maka bersyukurlah, Saya akan membantu Mbak Mila. Bilang saja pada Fatah, kalau itu hasil tangkapan Mbak."
"Tap---"
"Terkadang berbohong juga diperlukan jika menyangkut kesejahteraan bersama. Coba bayangkan, jika Nona menangkap be---"
"Jangan dibayang-bayang! Ma-maaf, Saya memotong perkataan Gus Arfan. Tapi, bisakah jangan membahas sesuatu yang membuat alergi Saya kambuh?"
Arfan tersenyum, lalu mengangguk, "Maaf, becanda Saya sepertinya kelewatan. Kalau begitu, silakan lanjutkan pekerjaannya! Saya akan melanjutkan misi saya, menolong Mbak Mila yang takut sama ... kode Rahasia." Arfan langsung mengalihkan kata 'belalang' ketika melihat mata Mila sudah melotot. “Sungguh manis sekali”' batin Arfan.
***
"Dasar, Nona terigu genit. Digituin sedikit saja, sudah kegenitan." Ihsan yang tadinya akan berbalik, ternyata urung karena merasa penasaran dengan reaksi Mila. Tapi sungguh bukan keberuntungannya, dia malah harus menonton adegan paling menyebalkan yang pernah dia tonton selama ini.
Meski tadi, tubuhnya sempat akan berlari menghampiri Mila saat melihat ekspresi Mila yang bukan seperti biasanya. Namun seketika akal sehatnya kembali lagi tepat waktu. Kalau tidak, runtuh sudah kehormatannya.
Mulut kecilnya, terus saja berkomat-kamit, berceloteh pelan dengan mulut yang penuh dengan kue buatan sang nenek yang tadinya akan diberikannya pada Mila, jika saja tidak ada omnya yang sok kegantengan itu.
Mungkin dunia merasa aneh akan kelakuan Ihsan yang di luar nalar itu. Kenapa menyebutnya di luar nalar? Karena memberi sesuatu pada seorang perempuan, bukanlah sifatnya. Bahkan Ihsan cenderung bersikap galak dan otoriter terhadap seluruh perempuan selain keluarganya. Apalagi, jika perempuan itu punya potensi besar merebut perhatian ayahnya. Seperti para perempuan yang bekerja di kantor sang ayah.
Sikap yang tak biasanya terhadap Mila, juga dirasakan oleh Ihsan sendiri. Malah, dia sempat berfikir apakah dirinya jatuh cinta terhadap nona terigu itu? Tapi pemikiran itu langsung dia hempaskan. Karena dia yakin, itu hanya ada dalam drama yang ditontonnya semalam bersama kakak sepupunya, Dina.
Mungkin ini hanya karena sifat rasa terima kasihnya saja terhadap Mila. Karena … andai waktu itu Mila, si nona terigu tidak menolongnya segera. Ihsan yakin, bahwa sampai sekarang dirinya masih merasakan sakit. Terlebih, ketika nanti ayahnya pulang, lukanya pasti akan membekas dan terlihat oleh ayahnya. Ihsan sudah mati-matian agar rahasia tersiramnya itu, tidak diketahui ayahnya. Bahkan, dia sudah menyogok kakak sepupunya, Dina dan tante bungsunya, Rifa. Untuk meminta ayahnya, membawakan mereka oleh-oleh sesuai pesanan mereka. Jam untuk tantenya, dan sepatu untuk kakak sepupunya agar ikut merahasiakan kejadian lempar tepung itu dari sang ayah.
"Gus ... kamu lagi ngapain di sini?" Seseorang menegur Ihsan yang masih saja berdiri, menatap obyek kekesalannya.
Rifa yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari ponakannya, menatap apa yang tengah menyita perhatian Ihsan. Seketika bibir mungil cantik itu tersenyum, di sana Arfan sedang menghampiri Mila yang sedang berjongkok membersihkan rerumputan di halaman belakang Asrama putri.
Mila berdiri, mengambil sesuatu yang diberikan Arfan dalam kantong keresek, entah apa isinya. Yang jelas, Mila memegangnya dengan mencapitkan jari telunjuk dan ibu jarinya. Seperti orang yang jijik atau takut.
Rifa menunduk, merasa getir melihat pemandangan tersebut. Dia tak menemukan tatapan special di mata Mila, tapi berbeda dengan tatapan orang yang tengah berhadapan dengan Mila. Rifa tahu, tatapan Arfan adalah tatapan seseorang yang menunjukkan ketertarikan. “Apakah harus sampai di sini aku mengharapkanmu, Mas?”
"Ck, dasar. Nona terigu memang genit, ditatap begitu saja, sudah menunduk." Rifa tidak mengomentari celotehan Ihsan, karena terlarut dengan perasaannya sendiri. Rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Awas saja, jika papa sudah pulang nanti," Ihsan mendekap kedua tangannya di d**a, "akan aku buktikan, bahwa si nona terigu akan klepek-klpek pada papa," lanjutnya sambil mendegus penuh janji.
Rifa terlonjak kaget, terbangun dari pikirannya sendiri, mendengar kata ‘klepek-klepek’ dari mulut ponakannya. "Gus, apa itu? Klepek-klepek?" tanya Rifa.
"Masa tante gak tahu?" Bukannya menjawab, Ihsan malah balik bertanya sambil mengerutkan dahinya.
Rifa menggelengkan kepalanya, meski sebenarnya dia tahu arti dari kata tersebut.
"Ck, kenapa tante kalah sama kak Dina?" Ihsan memberikan pertanyaan kembali.
Rifa memicingkan matanya, "Gus tahu ini dari kak Dina, ya?" tanyanya hati-hati. Dengan polos Ihsan mengangguk. "Terus ... Apa dong artinya!" Pertanyaan Rifa, terdengar seperti nada perintah.
"Klepek-klepek itu, artinya cinta mati."
Rifa menganga mendengar jawaban Ihsan. "Apa kak Dina yang memberitahu kamu, Gus?"
"Yaa, kan kak Dina suka ajakin Fatah nonton drama yang membahas cinta-cintaan," jawab Ihsan tenang.
Rifa semakin menganga. Tangan kanannya dia letakan di depan mulutnya. Perkataan Ihsan, mampu membuatnya melupakan sakit hati akibat cinta tak terbalasnya.
"Sudah ah, Tante. Fatah mau ke nenek dulu. Papa mengingkari janjinya, katanya mau pulang 5 hari lagi, tapi sampai sekarang, belum pulang juga. Dasar." Ihsan kembali berkomat-kamit sambil berlalu.
***
UNIVERSITAS INDONESIA, JAKARTA.
"Halo, Assalamu'alaikum, Abang."
"..."
"Gimana, udah Abang sampaikan belum pesan Zahra sama Mila?"
"..."
"Heem, oke. Oia, Bang! Kemarin, pas Mila ke sana, siapa yang duluan bertemu dengan Mila di gerbang AlZamil?"
"..."
"Apa? Serius? Waaaw ... Zahra senang mendengarnya," ucapnya bahagia.
"Iya-iya. Tapi, gada salahnya kan? Zahra berharap untuk kebaikan Abang? Mila adalah sahabat Zahra yang baik dan sholehah. Itu sebabnya, Zahra berharap sekali dia bersama Abang, hehehe."
"..."
"Iya-iya, Abang sayang. Ya sudah, kalau begitu Zahra pamit dulu ya, Bang! Assalamu'alaikum."
"..."
'Klik'
Zahra, sahabat Mila duduk di bangku taman kampusnya. Baru saja, dirinya menelepon kakak tercintanya dan hatinya Bahagia saat mendapat kabar, siapa orang yang pertama kali bertemu dengan Mila ketika sahabatnya itu untuk pertama kalinya masuk gerbang Pesantren Al Zamil, tempat dirinya dibesarkan. Dengan senyuman yang masih tercetak di bibir mungilnya, Zahra mendekap ponselnya sambil terpejam.
"Katakan pada saya, di mana Mila sekarang!"
Zahra terlonjak, tubuhnya langsung membalik ketika mendengar suara bas yang sangat tegas. Seketika tubuhnya merinding, pun jantungnya berdetak cepat, kala melihat sorot mata itu mampu menenggelamkamnya.
"Astagfirullah ... Pak Dosen, kenapa Anda mengagetkan Saya?" ucap Zahra saat dia sudah bisa mengontrol dirinya.
Juanda Ahmad Salim adalah seorang dosen sekaligus kakak dari sahabatnya. Matanya tajam, sehingga bukan hal mudah untuk bisa keluar dari lingkaran pengamatannya. Termasuk Zahra.
"Cepat katakana, Dimana adik saya sekarang!" Suaranya begitu dalam penuh tekanan, Zahra mengeratkan pegangannya pada buku yang digenggamnya.
"Pak Dosen ngomong apa --- Astagfirullah!" Deg-deg-deg-deg. Perkataan Zahra seketika terhenti saat merasakan tubuhnya ditarik seseorang. Jantungnya berdetak sangat hebat sekali, kala nafas hangat berpadu dengan wangi mint keluar dari mulut sang dosen menerpa tepat di depan wajahnya.
Zahra menggeliat, mencoba melepaskan dirinya. Namun cekalan tangan besar Juanda di kedua lengannya lebih kuat, membuat dirinya lagi-lagi tak bisa berkutik.
"Zahra As-Syifa mahasiswi jurusan IT, saya peringatkan kepada anda. Selama adik saya belum kembali, angan harap Anda bisa lolos dari Saya." Suara serak Juand yang penuh penekanan terngiang di telinga Zahra. Andai dirinya tidak pakai kerudung, sudah pasti nafas dari si Dosen ini akan menerpa gendang sensitifnya.
Nafas Zahra tersengal, pasalnya selama berdekatan dengan Juanda, dia menahan nafasnya. Kalau saja pria itu tidak segera melepaskannya, sudah pasti dirinya akan kehabisan oksigen.
"Nona Zahra, kumpulkan soal dari bab 15 sampai bab 30. Saya … tak mau mendengar alasan apapun, Anda harus mengumpulkannya besok siang," ucap Juand sambil berlalu.
Tubuh Zahra seketika ambruk, terduduk di kursi yang tadi didudukinya. Nafasnya masih tersengal, tangannya terus mengusap d**a. Berharap degupan itu segera normal kembali. "Dasar Dosen Lucifer," sungutnya sambil menatap punggung Juanda yang kian menjauh. Sepertinya Lucifer itu akan terus memantaunya. “Oh ... kehidupan sejahteraku,” keluhnya membatin.
***
PonPes Al Zamil. Bululawang, Malang.
"Assalamu'alaikum, Papa."
"Wa'alaikumussalaam, Gus.”
"Papa, apakah benar orang yang melanggar janjinya, termasuk orang yang punya hutang?" Suara si kecil Ihsan terdengar sedang menelpon ayahnya di seberang sana.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Jawab saja Papa!" ucapnya lagi, seperti tidak mau dibantah.
"Iya, memang benar, orang yang melanggar janjinya, adalah termasuk orang yang tak dapat melunasi hutangnya."
"Lalu, apakah orang yang banyak utang, matinya akan diringankan?"
"Tentu tidak semudah itu, bahkan ada sahabat Rasulullah yang ketika matinya, dia dilarang di kebumikan oleh baginda Rasulullah. Malah memerintahkan agar jasadnya dibakar, karena ketika matinya, orang itu masih mempunyai hutang.”
"Iiih ... begitu menakutkan. Iyakan Pa?"
"Benar sekali.”
"Lalu, kenapa Papa berani melanggar janji Papa?" tanya Ihsan. Wajahnya ia cemberutkan, walau sang ayah tidak akan melihatnya. Hari ini, Ihsan sangat kesal sekali. Akibatnya, ayahnya yang tak menepati janjinya itu, ikut kena imbasnya.
Mungkin ... itu semua karena … rencananya telah gagal total.