Pertemuan Awal
"Apakah kamu sudah siap?" Suara dingin Sean memecah lamunan Luna.
Wanita itu tersentak. Tatapannya yang semula kosong perlahan terangkat, menatap sosok suaminya yang berdiri membelakangi jendela kamar VVIP Rumah Sakit Global Medica.
Cahaya matahari membingkai tubuh lelaki itu. Kedua tangannya dia sembunyikan di saku celana. Sikap yang selalu dia gunakan saat dia tak ingin diganggu atau sedang memerintah anak buahnya. Tak ada lagi senyum lembut atau tatapan memuja seperti saat mereka pertama kali bertemu.
Luna menatap wajah itu dengan hati berdenyut nyeri.
Dulu, pria itu mengejarnya tanpa lelah. Hampir tiap hari dia mengirim pesan. Saat hujan deras pun, lelaki itu rela berbasah-basahan hanya demi memayunginya.
Kenapa sekarang dia berubah?
Luna mengangguk pelan . "Sudah."
Akan tetapi, baru beberapa langkah, kepalanya berdenyut hebat. Sendi-sendinya masih terasa ngilu. Tubuhnya belum pulih dari donor sumsum tulang belakang beberapa minggu lalu. Dan sekarang, dia harus melakukan donor darah yang kedua.
Luna tanpa sadar memegang tonjolan kecil di perutnya.Tubuhnya menjerit meminta istirahat, tetapi Sean tak pernah mau mendengar jeritannya.
Yang ada di pikiran lelaki itu hanya satu nama, yaitu Marliana, saudari kembarnya.
"Sean ...." Suara Luna lirih, setengah memohon. "Aku ini sedang hamil. Dokter bilang, kondisiku tidak memungkinkan untuk donor darah lagi. Ini berbahaya buat perkembangan janin. Aku bisa melahirkan prematur."
Sean menghela napas kasar, lalu tertawa dingin. "Persetan dengan bayi itu, Luna! Yang aku butuhkan sekarang adalah darahmu. Nyawa Liana bergantung padanya."
Kata-kata itu menghantam Luna lebih keras daripada tamparan. "Sean, aku ini istrimu! Kenapa kamu lebih peduli padanya daripada aku?"
Sean hanya diam lalu berbalik. Tatapan matanya yang tajam tidak lagi melihat Luna sebagai istri, melainkan sebagai alat yang dia gunakan untuk menyembuhkan kekasihnya.
"Liana tidak punya banyak waktu, Luna. Fokus pada donor darahmu. Setelah ini selesai, baru kamu boleh istirahat."
Ia melangkah mendekat menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah Luna. "Jika kamu menolak ...." Senyumnya tipis, dingin dan menakutkan. "Jangan salahkan aku jika esok, janin itu harus aku angkat dari rahimmu, karena kamu berani membantah perintahku."
Dunia Luna seolah runtuh seketika. Ancaman itu membuatnya darahnya membeku.
Sean tidak pernah peduli padanya, dan juga bayi yang dikandungnya. Yang dia butuhkan darinya hanya darahnya, tubuhnya, mungkin juga nyawanya.
Luna terisak pelan. Ia mendekat, mencoba meraih lengan suaminya dengan tangan gemetar. "Sean ... tolong. Lihat aku sebentar saja?"
Sean menepis tangan istrinya, seolah dia jijik disentuh olehnya. "Kau sehat, Luna. Dan kau tak butuh perhatian diriku," katanya ketus. "Berbeda dengannya. Jadi, untuk apa aku melihatmu? Kau hanya buang waktuku saja."
Sean mencengkeram bahu Luna dan mendorongnya ke arah pintu. "Pergilah! Darahmu yang dibutuhkan Liana saat ini, bukan air matamu. Jangan khawatir, aku akan menunggumu di lobi."
Hati Luna berdenyut nyeri. Ia memang mencintai Liana, saudara kembarnya. Tetapi ia lebih mencintai bayinya. Jika bukan karena ancaman Sean, dia tidak akan mau donor darah.
"Ya, aku siap," jawabnya, memaksakan senyum tipis yang hampir tak terlihat. "Lebih dari siap untuk Liana."
Pintu pun tertutup.
Luna berjalan menuju ruang donor darah seperti melangkah diatas seutas tali yang bergantung di ketinggian tiga meter. Jika dia jatuh, dia akan mati, tanpa seorang pun peduli padanya.
***
Proses donor darah kali ini terasa lebih menyiksa dari yang pertama. Ketika jarum itu dicabut, Luna tersentak. Pandangannya seketika mengabur. Kepalanya seolah berputar. Tubuhnya terasa ringan.
Ia berjalan sempoyongan keluar dari ruangan itu sendirian, mencoba mencari Sean.
"Sean bilang dia akan menungguku di lobi ..." gumamnya dengan langkah yang terseok-seok.
Akan tetapi saat Luna sampai di lobi, ia tak melihat Sean. Lobi itu kosong. Tubuhnya tiba-tiba oleng. Dan ...
Buk!
Sebelum tubuh itu benar-benar jatuh, sepasang tangan kuat menahan pinggangnya dari belakang.
Sentuhan itu terasa hangat. Membuat tubuh Luna serasa dialiri listrik tegangan tinggi yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sebuah suara berat, dalam, dan asing menyapu indera pendengarannya. "Hati-hati, Nyonya. Kau terlalu berharga untuk jatuh."
Luna mendongakkan kepalanya. Di atasnya, berdiri seorang lelaki tampan yang belum pernah ia lihat. Tingginya hampir setara dengan Sean, tetapi bahunya lebih bidang. Setelan jas abu-abu melekat sempurna di tubuhnya. Aroma maskulin kayu cendana yang begitu familiar menusuk indera penciuman Luna
Dan tatapan matanya ... jauh lebih dingin, tajam, dan lebih menelisik daripada mata Sean. Namun anehnyanya, Luna menyukainya.
Pria itu melepaskan pegangannya, berusaha menjaga jarak dengan sopan.
"Ma-maafkan saya, Tuan." Luna tergagap, wajahnya memerah. "Saya ... saya sedikit pusing."
Pria itu tersenyum tipis. Senyum yang memancarkan aura berbahaya yang tak pernah Luna lihat.
"Tentu. Donor darah memang melelahkan," katanya. "Apalagi jika dilakukan berulang kali ... demi seseorang yang bahkan tidak peduli dengan keadaanmu."
Luna tersentak. Bagaimana pria asing ini tahu tentang donor darah yang barusan dia lakukan?
"Apa maksudmu?" tuntut Luna.
Lelaki itu melangkah mendekat, membungkuk sedikit, dan berbisik dengan nada yang menusuk, dan penuh gairah tersembunyi.
"Maksudku, Nyonya, suamimu tidak menunggu di lobi. Dia sedang sibuk memastikan kantung darahnya sampai ke tubuh kekasihnya."
Pria itu menatap ke arah koridor ruang VVIP. "Kau mencari suamimu, kan?
Luna mengangguk lemah.
"Suamimu ada disana." Lelaki itu menunjuk kamar saudari kembarnya.
"Dia di kamar Marliana?"
Frans tersenyum tipis. "Ya. Dan saat ini, dia memastikan kekasihnya baik-baik saja. Bahkan ... saat ini, dia mungkin sedang bermesraan dengan wanita itu."
Luna terkesiap, napasnya tercekat. Otaknya yang lemas mencoba memproses informasi yang baru saja dia dengar. Luna berusaha menolak apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Namun, setiap potongan puzzle yang dia ingat, semua menuju ke arah sana. Mulai dari ancamannya, sikap kasarnya saat Luna menolak donor darah
"Kekasih ...?" Bibir Luna bergetar. Bukankah Liana adalah saudara kembarnya? Apakah Sean menikahinya hanya untuk menyelamatkan saudaranya?
Pria itu menatapnya lama. "Ya, kekasih," ulang Frans, suaranya kini dingin seperti es yang pecah. "Sean mencintai Liana, bukan kamu. Kamu hanyalah alat yang dia butuhkan karena kebetulan, kamu memiliki darah dan organ yang cocok. Dia menikahimu demi menyelamatkan nyawa kekasihnya."
Luna mundur selangkah, rasa pusing karena kehilangan darah kini bercampur dengan rasa sakit yang menusuk di d**a. Ia merasakan darahnya kembali mengalir deras, karena pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya.
Air mata Luna menetes di pipinya. Apa semua yang dikatakan pria ini benar? Sean menikahiku demi menyelamatkan kekasihnya?
Lelaki itu pun menghapusnya kemudian mengecup tangannya yang masih tertutup plester bekas tusukan jarum tadi. "Selamat tinggal, Nyonya. Jangan bersedih lagi. Kita pasti akan bertemu kembali nanti."
Luna hanya bisa menatap pria asing itu, matanya berkaca-kaca.
"Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu tahu banyak tentang Sean dan Liana? Dan kenapa aku seperti pernah mengenalnya?"