Saatnya membuka diri

776 Words
Hari ini aku tak ada jadwal privat. Aku ingin segera pulang untuk menyelesaikan jahitan seragam yang tertunda. Oh ya...selain mengajar, aku mencari pundi-pundi rupiah dengan menjahit. Aku biasa menerima jahitan baik itu sekedar permak ataupun jahitan seragam. Lumayan untuk menambah dapur mengepul. Sudah lama aku tak terlalu mengandalkan gaji suami yang tak seberapa. Harusnya dia yang bersyukur bahwa aku tak terlalu merepotkan. Tapi bahkan sebaliknya, dia yang lebih sering mengatakan kalau aku ini kurang bersyukur. Apa tidak terbalik? Selama ini justru aku yang lebih sering mengeluarkan biaya untuk keluarga. Bahkan rumah, seandainya aku bukan guru, mungkin aku tidak akan bisa memanfaatkan fasilitas rumah dinas ini. Syukurlaah, sekali lagi syukurlaah...meskipun aku belum punya rumah, aku masih bisa berlindung dari panas dan hujan. Bahkan dia, suamiku menumpang mengikutiku. Banyak teman-temanku bilang kalau suamiku ini tidak tahu malu. Yaa...itu karena dia tak bisa membuatku bahagia dan sejahtera, dan malah menumpang untuk bisa bernaung di balik pekerjaanku sebagai guru honor. "Assalaamu'alaikum..." Sapa khas Hendi terlintas di layar ponselku. Seakan satu hal yang kuharapkan untuk mewarnai hatiku yang tawar. "Wa'alaikumussalaam..." jawabku segera. "Lagi apa Ma?" "Lagi beres-beres mau pulang ini." "Lho...masih di sekolah? Jam berapa ini" tanyanya. "Iya, disini baru jam 12." "Apa kegiatanmu biasanya sepulang sekolah?" "Ya .. biasanya aku ngeles privat. Tapi kalau Sabtu biasanya aku libur." "Selain itu apa?" "Di rumah aku juga terima jahitan." "Wah, kamu ini benar-benar multi talenta!" pujinya. "Ah,,nggak juga kok. Kalau nggak begini Mana bisa aku dapat uang tambahan. Kan aku cuma guru honor. Mas kan tahu, berapa sih gaji guru honor itu?" sahutku. "Bagaimana dengan suamimu? Apakah kamu tidak dicukupi dengan nafkah darinya?" kejarnya. "Bagaimana ya...Kenyataannya begini. Gajinya tidak terlalu memadai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari." "Apakah dia mencintaimu Ma?" to the point. Sejenak aku kelabakan. "Dan apakah kamu juga mencintainya?" lagi-lagi pertanyaannya mengejutkan. "Jujur aja, aku menikah bukan karena cinta." "Lho...kok???" "Iya ..dia ini suami keduaku." jawabku mengejutkannya. "Waahh...berarti kita sama..!" ujarnya semakin membuatku terkejut. "Apa maksudmu Mas?" tanyaku tak mengerti. "Iya, istriku yang sekarang adalah yang kedua juga. Sama kayak kamu. Aku pernah bercerai. Aku punya dua puteri dengan istri pertamaku. Bagaimana dengan suami pertamamu?" "Kami bercerai. Ada wanita lain yang membuatku mengalah untuk berpisah saja." "Ada anakmu dengan yang pertama?" "Ya..satu, cowok." "Terus bagaimana dengan yang sekarang? Ada anakmu?" "Nggak ada...Syukurnya nggak ada anak di antara kami." jawabku mungkin agak membingungkan bagi Hendi. "Kenapa begitu?" "Yaa...karena belakangan ini situasi hubunganku dengannya tidak berjalan seperti yang aku harapkan." "Apakah ada wanita lain?" tanyanya. "Bukan seperti itu, justru karena aku adalah istri kedua baginya." "Lho??? Bagaimana ceritanya ???" "Seperti yang aku bilang di awal, aku menikah bukan karena cinta." "Jadi? Karena apa?" "Aku dikenalkan padanya oleh seorang teman. Saat itu aku hanya mengajukan syarat, siapapun yang ingin menjadikan aku istri harus busa menerima aku dan anakku dengan tulus. Selain itu, dia harus menyekolahkan anakku setidaknya sampai lulus SMA, dan menyelesaikan kuliahku hingga sarjana. Hal yang tak kalah pentingnya, aku harus dinikahi secara resmi dan dibuatkan rumah, Dan yang penting dia akan selalu bisa jadi suami yang dapat dihandalkan serta mengayomiku." "Lalu apa yang terjadi setelah itu?" "Setelah kami sepakat seperti itu, barulah aku tahu kalau ternyata dia sudah punya istri dan anak. Sebenarnya aku bisa saja membatalkan perjanjian itu " "Tapi??" "Saat itu aku sedang dililit hutang yang tak sanggup aku selesaikan kecuali aku harus menjual rumah, yang nota bene harta gono gini antara aku dan mantan suamiku." "Jadi??" "Setelah aku berhasil menjual rumah dan membaginya dengan suamiku, aku bisa melunasi semua hutang-hutangku akibat tidak adanya tanggung jawab mantan suamiku terhadap keluarga. Setelah aku tidak lagi punya rumah, kemana aku harus pergi selain terpaksa mengambil keputusan untuk mau menikah dengan suamiku yang sekarang meskipun harus sebagai yang kedua." "Bagaimana dengan keluargamu? Bukankah kamu masih punya keluarga saat itu?" tanya Hendi. "Mas ingat nggak? Bukankah dulu waktu masih SMP, aku ini masih sebagai non Muslim?" "Oh ya .. bagaimana kejadiannya kok sekarang kamu bisa hijrah?" "Itulah Mas...aku hijrah sebelum menikah dengan suami pertamaku, saat itu aku baru masuk SMA." "Apa yang menyebabkan kamu memutuskan untuk hijrah?" "Sudah sejak lama aku ingin hijrah. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar." "Oo .. syukur alhamdulillaah... Tapi bagaimana dengan keluargamu? Apakah mereka bisa menerimanya?" " Awalnya tidak, tapi lama kelamaan akhirnya mereka bisa menerimanya, apalagi setelah aku menikah. Itulah kenapa aku tidak bisa kembali ke keluargaku ketika aku bercerai. Aku kurang nyaman tinggal bersama keluarga, terlebih karena kami berbeda keyakinan. Itulah mengapa aku lebih memilih menerima pilihan yang sulit ini." "Jadi, bagaimana situasimu sekarang ini? Apakah suamimu sudah menikahimu secara resmi? Dan sudah berapa tahun lamanya kamu dinikahinya?" Terdiam beberapa lama sebelum aku menjawab pertanyaan Hendi. "Belum...sampai saat ini sudah hampir Lima belas tahun bersamanya." "Astaghfirullaahaladziim...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD