Pertemuan
Rumah Sakit Bunda Sejahtera
dr. Akbar Rahmawan SP. OG (Spesialis Obstetri dan Ginekologi atau dokter kandungan).
Dokter Akbar menjelaskan dengan sabar mengenai inseminasi intrauterin (IUI).
Prosedur medis itu dilakukan dengan cara memasukkan s****a suami yang sudah diseleksi ke dalam rahim istri menggunakan kateter halus saat masa subur. Harus di masa subur. Tujuannya agar s****a lebih mudah mencapai sel telur dan terjadi pembuahan alami di dalam tubuh perempuan.
“Prosedurnya cepat, tidak sampai dua puluh menit, siap atau tidaknya,” ujar dokter Akbar memberi penjelasan.
“Hasilnya juga bergantung banyak faktor di antaranya adalah kualitas s****a, kondisi rahim, hormon, dan tentu saja, kesiapan psikis ibu. Ini yang paling penting."
“Kalau gagal kali ini, apakah masih bisa diulang, Dokter?” tanya Arka lirih, seperti takut akan menyinggung perasaan istrinya.
“Bisa, tapi tidak boleh dipaksakan terus-menerus. Kita perlu melihat respons tubuh dan kondisi istri Anda dulu. Kadang tubuh butuh istirahat juga,” jelas dokter Akbar sebelum mereka keluar dari ruangan.
Satu bulan kemudian ....
Lampu ruang praktik itu sudah mati sejak lima belas menit lalu, tapi Rania masih duduk di bangku tunggu.
Tangannya terlipat di atas handbagnya, dengan punggung tegak dan wajah datar. Pandangan lurus ke depan. Tidak terlihat guratan kesedihan atau apa pun di sana. Cukup tenang dan hal itu yang membuat Arka gelisah. Karena Rania tidak pernah setenang ini.
Hasilnya gagal.
Kata itu terdengar menyakitkan. Proses inseminasi yang mereka jalani dengan penuh harap, dan jadwal yang disiplin serta do'a yang panjang, berakhir tanpa hasil. Dokter Akbar sudah menjelaskan dengan bahasa hati-hati, menyebut faktor kemungkinan serta peluang di lain waktu dengan kalimat penghiburan yang sudah terlalu sering mereka dengar.
Rania mengangguk pelan, Arka juga. Keduanya tampak dewasa, rasional, dan siap menerima. Setidaknya di mata orang lain. Bisa dikatakan kuat!
Begitu keluar dari gedung rumah sakit. Mereka langsung pulang ke rumah dan seperti biasanya, Bu Mega akan mencecar menantunya dengan banyak pertanyaan konyol yang akhirnya mereka bertiga terlibat pertengkaran.
"Aku mau pergi dari sini, Mas."
"Tidak, Rania. Kau tidak boleh pergi dalam keadaan seperti ini. Aku tidak apa-apa, kita bisa mencobanya lagi, hmmm?"
Rania tidak peduli, ia mengemas barang-barang ke dalam koper dan menyeretnya cepat.
"Baguslah kalau kau tahu diri, Rania. Lagipula untuk apa menyimpan perempuan mandul sepertimu! Tidak berguna!"
Rania berhenti di depan mertuanya, tertawa sinis.
"Ibu juga seorang perempuan, bagaimana bisa kalimat jahat itu keluar dari mulutmu, Bu."
"Kau?"
Rania menahan tangan yang sudah melayang ke udara.
"Aku juga sudah muak hidup dalam kepura-puraan setiap harinya, Bu. Permisi."
"Sayang ... Rania!"
Arka mencoba mengejar, tapi lupa tidak membawa kunci mobil. Ia pun kembali ke kamar, tapi Rania sudah menghilang.
"Arka mau ke mana kau?"
"Ma, tolong jangan campuri urusan rumah tanggaku. Mengerti?"
Rahang Arka mengeras dan langsung melepas kasar tangan ibunya yang menahannya.
Arka melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan, ia tidak tahu harus ke mana untuk mencari istrinya. Berulang kali menelepon Rania, tapi tidak diangkat. Pesan pun tidak berbalas.
Selama ini Arka tahu, istrinya adalah sosok yang penurut, tapi ucapannya tadi benar-benar menandakan bahwa Rania sudah tidak bisa menahan semuanya. Bukan hanya sikap kasar ibunya, tapi juga usaha yang mereka lakukan selalu gagal.
Iya, gagal!
Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan, tapi justru lebih menyakitkan. Ada perasaan bersalah yang tidak tahu harus ditempatkan di mana. Ia merasa gagal, sebagai suami dan laki-laki. Tangannya berulang kali meninju kemudi.
Beberapa menit kemudian Arka menyalakan mesin. Tangannya menggenggam setir terlalu erat, matanya lelah. Berkali-kali ia mencoba menelepon Rania, tapi panggilan itu hanya berakhir pada nada sambung yang tidak diangkat.
Hujan turun tipis. Lampu jalan memantul di aspal basah, membuat pandangan sedikit buram. Arka memperlambat laju mobil, mencoba lebih fokus, meski pikirannya berantakan. Sesekali matanya melirik ke arah ponsel yang ada di pangkuan. Berharap Rania akan membalasnya.
Di perempatan yang seharusnya sudah sepi, seseorang tiba-tiba melangkah terlalu cepat ke badan jalan.
Arka menginjak rem sekuat tenaga.
Bunyi decit ban memecah malam. Perempuan itu terkejut, refleks mundur, lalu kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh ke aspal dengan suara yang cukup keras untuk membuat d**a Arka berdesir. Ia segera turun dari mobil.
“Kamu tidak apa-apa?”
Suaranya terdengar lebih panik dari yang ia kira. Perempuan itu masih duduk di jalan, menahan telapak tangannya yang perih. Lutut celananya lecet. Ia menoleh cepat, memastikan tidak ada kendaraan lain yang mendekat, lalu berusaha berdiri sendiri.
“Aku baik-baik saja,” katanya tegas.
Arka refleks mengulurkan tangan, tapi perempuan itu menghindar halus, jelas tidak ingin disentuh.
“Aku hampir menabrakmu. Kita ke rumah sakit saja,” ucap Arka.
“Tidak perlu,” jawabnya cepat dengan mengangkat telapak tangannya.
“Aku harus pergi.”
Nada suaranya tenang, tapi matanya waspada. Ia memungut ponsel yang sempat terjatuh, memeriksanya sekilas, lalu menghela napas kecil seolah memastikan sesuatu masih utuh.
“Kakimu berdarah," tutur Arka menunjuk lututnya.
“Hanya lecet biasa."
Perempuan itu melangkah ke pinggir jalan, seolah kejadian barusan tidak lebih dari gangguan kecil. Ia meraih tas selempangnya dan merapikan rambut yang sedikit berantakan sambil terdengar makian yang seperti bisikan halus.
Penolakan itu membuat Arka tersinggung karena baru kali ini ada perempuan tak acuh padanya.
“Setidaknya izinkan aku mengantarmu,” katanya sedikit berteriak.
Perempuan itu menatapnya sebentar, lalu menggeleng cepat.
“Tidak usah. Tolong lebih hati-hati saja.”
Ia berjalan pergi, meninggalkan Arka berdiri dengan rasa bersalah yang belum sempat tersalurkan.
Nama di kartu pers yang terjatuh tadi sempat tertangkap matanya sebelum perempuan itu mengambilnya kembali. Tika Damayanti.
Nama itu tertinggal di kepala Arka lebih lama dari yang seharusnya. Ia seperti pernah bertemu, tapi di mana? Kapan?
Tika berjalan menjauh dengan langkah cepat, meski perih di lutut mulai terasa. Ia baru saja menyelesaikan liputan penting. Wawancara yang susah payah didapat juga beberapa rekaman yang harus segera diamankan. Ia tidak punya waktu untuk drama di tengah jalan dengan lelaki sok peduli itu.
Tangannya sedikit gemetar saat membuka pesan di ponsel, segera memastikan file yang ia kirim tadi, sudah terkirim sempurna. Setelah itu, barulah ia berhenti sebentar di bawah lampu jalan, menarik napas panjang.
Namun, tiba-tiba saja satu mobil van warna hitam dengan kaca gelap berhenti mendadak di depannya.
Tika spontan mundur dan menelan ludah berulang kali, ia tahu bahaya itu sudah dekat, tapi tidak untuk malam ini karena lututnya masih terasa kaku dan perih.
"Kalian siapa?"
"Masuk."
"Tidak mau!"
Tika mengambil langkah perlindungan, tapi sialnya malam ini tidak ada siapa pun yang lewat kecuali mobil yang menabraknya tadi, yang masih berhenti agak jauh darinya.
"Tolong ...."