28. Kenangan Menyakitkan

1489 คำ
Ratu Natasha memandangi punggung Tirta dari kejauhan. Lelaki itu berdiri di ujung balkon sendirian sembari menengadah. Padahal udara malam ini sangat dingin. Berada di luar ruangan bisa membuat tubuh beku. Tak melihat tanda-tanda raja dari Azurastone itu akan kembali masuk ke dalam istana, Ratu Natasha mengambil sehelai jubah berbulu tebal yang tergantung di ujung ruangan. Lalu ia berjalan pelan ke arah Tirta. Lelaki itu sungguh tak terusik. Mungkin perhatiannya terlalu tersita pada cahaya bulan di atas sana. “Kau bisa sakit bila terus berdiri di tengah udara dingin.” Tirta tersentak ketika sesuatu yang hangat menyentuh bahunya. Jubah berbulu menyelimuti tubuh Tirta. Ketika menoleh, ia menemukan senyum Ratu Natasha. Jarak mereka sangat dekat sehingga secara spontan napasnya sempat tertahan. “Cuacanya sedang tidak bagus untuk diam lama di luar ruangan. Apa tidak bisa melihat bulan dilakukan dari balik jendela saja?” “Aku terbiasa melakukan ini, Natasha. Mengapa kau keluar ruangan di saat dingin begini?” Ratu Natasha mengalihkan pembahasan. “Sejak kapan kebiasaan ini terjadi?” “Sejak aku kecil. Tepatnya aku tidak begitu ingat. Ibuku sering membacakan dongeng sebelum tidur. Mungkin berawal dari sana.” “Aku belum pernah mendengar kisah masa kecilmu, orang tuamu, dan tempat tinggalmu dulu.” “Aku tinggal di sebuah desa kecil di atas bukit. Semua orang di sana bekerja sebagai pengembala. Ayahku juga bekerja sebagai pengembala. Kemudian sesuatu pada desa kami, dan sejak itu aku kehilangan kedua orang tuaku. Aku hidup sendirian berkelana dari desa ke desa lain, sampai aku tiba di sebuah tempat yang sangat indah.” Ratu Natasha mendengarkan cerita Tirta. Dari caranya mengisahkan masa lalu, tampak Tirta menikmatinya. “Di sana aku menemukan tujuan hidupku lagi setelah bertemu seseorang. Kita akhirnya berteman dekat. Aku dan dia sering melihat bulan di malam hari seperti ini.” Tirta tersenyum mengingat kembali hari-harinya di Negeri Darkness saat kecil dulu. Sekelebat ingatan kemudian dengan cepat mengubah raut wajahnya. “Sampai kemudian aku mengetahui dalang di balik tragedi di desaku yang membuat sebagian penduduk tewas termasuk kedua orang tuaku, aku terpaksa harus meninggalkan tempat itu. Aku harus membalaskan dendam.” “Dan balas dendammu berhasil?” Tirta balas menatap Ratu Natasha. “Pada akhirnya aku berhasil. Aku harus memalui banyak hal demi memujudkannya. Setelah bertahun-tahun dalam tidurku terlihat kejadian menyeramkan itu, aku berhasil membalaskan kesakitan seluruh penduduk desaku.” Tangan Tirta tergepal kuat. Dipukulnya pada pembatas balkon seolah memperjelas bagaimana amarahnya masih bergejolak. Mengingat kembali tragedi menyeramkan yang tidak akan pernah bisa dilupakan seumur hidup pasti sangat menyakitkan. “Lalu bagaimana dengan sahabatmu di tempat indah itu? Apa kalian masih sering bertemu?” “Dia sangat marah mengetahui kita harus berpisah. Terlebih aku melanggar janji bahwa aku hanya pergi sebentar saja. Aku bahkan tidak yakin dia masih hidup atau tidak di sana,” sendu Tirta tertunduk. Sahabat masa kecilnya itu tiada lain adalah Alexa. Seorang gadis yang dengan tulus mengobat luka-luka di sekujur tubuh Tirta. Masih lekat dalam ingatan Tirta bagaimana Alexa kecil membawakan makanan dan minum ke dalam gua tempat Tirta bersembunyi. Hari-hari mereka begitu menyenangkan. Bagi Tirta sekarang Alexa kecil telah mati. Ia tak melihat seorang sahabat dari diri Ratu Alexa. Dan untuk hubugan renggang mereka kini, Tirta sangat menyesalinya mengapa hal seperti ini harus terjadi. Tirta masih berharap mereka bisa kembali menjalin bersahabatan. Meski semua tak lagi sama. Ratu Natasha ikut iba dengan kisah yang diceritakan Tirta. Ia tidak tahu perjalanan Tirta seberat itu. Ada rasa bersalah secara tidak langsung telah membuat Tirta sedih. Padahal Tirta adalah teman terbaiknya saat ini. “Mungki kau bisa mencarinya lebih dulu. Jika di sangat berperan penting dalam hidupmu, aku rasa dia harus tahu itu. Walaupun permasalahan kalian hanye kesalahan kecil, tetapi bila dibiarkan segitu lama kesalahpahaman sekcil apa pun itu bisa menjadi tek terkendali. Kau harus segera mecarinya, Tirta. Jelaskan semua padanya. Jika kau mau aku bisa membantu mencari sahabat kecilmu.” Inilah alasan utama Tirta jatuh hati pada wanita di sampingnya. Ratu Natasha punya perasaan yang lembut. Terkadang terlalu baik hati dan terlalu memikirkan permasalahan orang lain. Tirta tak masalah urusannya dicampuri wanita ini. Ia malah jadi merasa ada seseorang yang memerhatikan dirinya. Tirta senang. Namun untuk permasalahan ini berbeda. Ini hubungannya dengan Ratu Alexa. Ratu dari kerajaan musuh mereka. Tirta tidak akan pernah melibatkan Ratu Natasha terlibat di dalamnya. Bahkan serapat mungkin Tirta akan sembunyikan fakta bahwa sahabat masa kecil Tirta adalah Ratu Alexa. Jika sampai kenyataan ini terbongkar, bersamaan dengan itu konsprirasi kematian Raja Ryasiion juga hilangnya Pangeran Gyusion juga akan ikut terbongkar. Posisi Tirta sebagai raja kerajaan megash Azurastone terancam mengalami penggulingan. Besar kemungkinan Ratu Natasha akan membenci Tirta sampai mati. Yang paling Tirta takuti dari semua kemungkinan buruk di dunia ini ialah dibenci oleh wanita ini. Entah apa yang akan terjadi. Sepertinya Tirta akan lebih memilih mengakhiri hidup saja. Ia tak akan tahan menghadapi kebencian Ratu Natasha. “Aku sedang dalam proses pencarian. Kau tidak perlu khawatir. Jika kami harus dipertemukan kembali. Cepat atau lambat, pasti kami akan bertemu.” “Kau yakin tidak memerlukan bantuanku, Tirta?” “Aku sangat berterima kasih dengan perhatian dan kebaikan Ratu Natasha. Aku hanya merasa bisa menyelesaikan permasalahan ini sendiri. Aku ingin menemukan kembali sahabatku dengan caraku sendiri. Aku rasa dia akan tersinggung atau semakin marah jika tahu yang menemukannya bukan aku melainkan orang lain.” Ratu Natasha terkekeh kecil sembali menutup mulut. Setiap tertawa, kedua matanya melengkung ikut tertawa. “Aku baru mendengar ada orang yang sesensitif sahabatmu itu, Tirta.” Tirta mengusap belakang telinganya salah tingkah mendengar renyahnya tawa Ratu Natasha. Sangat jarang ia berhasil membuat wanita ini tertawa. “Begitulah dia. Aku tidak bisa bersikap seenaknya.” “Baiklah. Aku mengerti. Kali ini aku tidak akan ikut campur. Atau nanti aku menyebabkan hubungan persahabatan kalian semakin renggang.” Di tengah obrolan itu sebuah pemikiran melesat cepat dalam benak Tirta. Bila suatu hari Ratu Natasah mengetahui orang yang sedang mereka bicarakan sekarang adalah Ratu Alexa, entah jadi bagaimana raut wajahnya. Yang jelas tidak ada tawa seperti ini. Untuk itu Tirta akan membiarkan Ratu Natasha tertawa lebih lama, dan menatapnya lebih lama juga. Ia tidak ingin kehilangan momen berharga kedekatan mereka. Sebab nanti Tirta telah memperkirakan bagaimana akhir hidupnya. Tirta menggelengkan kepala sesaat. Berusaha mengusir bayangan menakutkan tentang masa depan. Namun, bayangan itu seolah mengikutinya kemana-mana. Tidak membiarkan Tirta hidup tenang. *** “Kau sakit?” Akai mengerutkan kening mendapati Gyusion berlatih pagi-pagi sekali. Sambil terus memukul-mukul kayu menggunakan tangan kosong di halaman rumahnya Gyusion menjawab, “Aku hanya ingin berlatih lebih pagi saja. Menunggu sampai beruang mengajariku akan membutuhkan waktu lama. Waktuku terlalu berharga untuk dibuang-buang.” Akai menguap sambil mengaruk berut buncitnya. Ia berjalan ke arah tumpukan bambu muda hasil panen kemarin. Lalu duduk bersandar pada batu besar. Akai dengan santai memakai bambu sambil memerhatikan Gyusion melakukan gerakan-gerakan memukul yang jelas salah. Tidak ada jurus-jurus seperti itu. Lama-lama melihat Gyusion tidak jelas seperti cacing kepasanasan membuat Akai ikut gerah. Akai lebih cepat menyelesaikan sarapannya kali ini. Ia berdiri menghampiri Gyusion. Gyusion pura-pura berkonsentrasi penuh pada kayu di hadapannya. Padahal ujung matanya tak bisa berbohong melirik Akai mendekatinya. “Bukan aku yang buang-buang waktu, tapi kau sendiri yang membuang waktu dan energi. Cepat sana ambilankan air dari sungai. Penuhi kolam itu dengan cepat.” “Lagi?” Gyusion melotot. “Kenapa? Kau tidak menolak apa yang aku perintahkan? Apa kau sudah tidak ingin lagi belajar ilmu bela diri dariku?” Ancam Akai. “Bukan begitu. Kalu selalu memberiku tugas mengangkut air. Kapan kau akan mengajariku ilmu bela diri sesungguhnya?” “Kau pikir selama ini aku belum pernah mengajarimu ilmu bela diri?” “Aku tidak mendapatkan apa-apa selain lelah dan kakiku sakit mengangkut air dari tempat jauh,” keluh Gyusion malas. “Itu dia. Aku mengajarkanmu ketahanan dan kekuatan. Mengangkut air saja masih banyak air yang tumpah. Bagaimana aku bisa percaya kau lanjut pada tahan selanjutnya?” Akai melipat kedua tangan. “Belajar ilmu apa pun selalu ada tingkatannya. Kau harus melalui semua tingkatan secara bertahan. Paham?” Bahu Gyusion jatuh. Sembali berjalan lunglai Gyusion mengambil alat pengangkut air. “Baiklah ....” Akai terkekeh melihat Gyusion dengan mudah menuruti perintahnya. Gyusion berjalan memasuki hutan dengan langkah lunglai. “Lakukan dengan cepat dan hati-hati!” Akai berteriak, tetapi tidak mendapat balasan dari anak itu. “Kau mengerjai anak itu lagi?” Tiba-tiba Lolita muncul entaj sejak kapan berdiri di sampingnya. Akai mengusap d**a. “Kau mengagetkanku. Aku tidak sedang menjahilinya. Aku selalu sungguh-sungguh mengajari mereka yang sungguh-sungguh.” Lolita menghela napas kasar. “Berdekatan denganmu terlalu banyak kata-kata mutiara.” “Aku anggap itu pujian.” Akai terkekeh senang. “Aku sedang tidak memujimu,” sanggah Lolita malas. “Jangan terlalu percaya diri dulu. Naya, ambilkan tanaman dalam tas di atas meja!” Lolita berteriak memanggil Naya. Dari dalam pondok kayu sebuah suara menjawab. “Kau akan membuat apa lagi?” Akai duduk dengan penasaran apa yang akan peri ramuan ajaib ini buat. Sesekali Akai memerhatikan gelembung di atas cairan panas berwarna ungu itu sembari memakan bambu muda. 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม