31. Yang Sesungguhnya

1582 คำ
Kucuran air terdengar bersama jatuhnya sesuatu. Kaja dan Akai serentak membuka mata. Pemandangan pertama mereka tertuju pada seseorang yang tergeletak di pinggir kolam. Mereka kontan segera bangkit melihat bagaimana keadaannya. Ini sudah ke berapa puluh kali Gyusion mondar-mandir mengangkut air dari sungai tanpa istirahat. Kolamnya pun sudah terisi penuh. Yang mereka khawatirkan melihat keadaan Gyusion yang kacau. Keringat seperti mengguyur tubuhnya. Rambutnya yang hitam lepek dan mengkilat. Sementara baju yang ia kenakan seperti habis hujan-hujanan. Kabar baiknya Gyusion masih bernapas. Anak itu hanya bergeming saja sambil menutup mata. Selelah itu dia hari ini. Kaja menghela napas lega. “Kukira terjadi sesuatu padanya.” Mau menjelaskan bagaimana nanti jika terjadi sesuatu Gyusion. Sudah pasti Ratu Alexa akan sangat marah. Sekejam-kejamnya Ratu Alexa mendidik putrinya dan Gyusion tidak pernah sampai hampir sekarat. Paling sadis hanya sampai sakit tiga hari. Itu juga cepat sembuh karena dibantu sihirnya. “Hei, Bocah.” Akai menendang pelan kaki Gyusion. Beberapa saat kemudian secara perlahan netra Gyusion terbuka. Gyusion menatap kedua makhluk di hadapannya lalu melihat ke sekitar. Hari sudah petang. Langit telah berubah menjadi jingga tua. Hal yang sangat disesali dirinya masih lambat dalam memenuhi tugas. Kolam baru terisi saat sore padahal ia bekerja dari pagi. Dalam waktu selama itu harusnya Gyusion bisa memenuhi kolam lebih cepat. Sayang, dirinya harus banyak berlatih demi mencapai itu. sekarang badannya terasa remuk. Untuk bangkit dari posisi berbaring saja ia kesulitan. “Jangan istirahat di sini. Kedua pengasuhmu itu akan memarahi aku habis-habisan nanti.” Naya dan Lolita tampaknya belum kembali dari luar Darkness. Pondok kayu mereka masih gelap. Biasanya dari sore beranjak, mereka menyalakan lilin di setiap sudut rumah. Naya dan Lolita sedang mencari kebutuhan rumah dan bahan herbal untuk ramuan. Gyusion ingin ikut, tetapi ia juga sadar diri hal itu hanya akan menambah masalah dua pengasuhnya. Lagi pula ia akan diizinkan pergi dari Darkness jika usianya telah mencapai 18 tahun. Sebentar lagi. Gyusion harus mempersiapkan hari itu dengan baik. Termasuk menjadi kuat dan mahir dalam ilmu bela diri. Mungkin sebagai bekal jika ia menemui dunia luar. Kata Akai yang telah berkenala ke berbagai negeri sebelum akhirnya sampai di Darkness, dunia luar itu keras. Banyak hal yang belum kita temukan di kehidupan sehari-hari dan itu akan menjadi tantangan yang harus dihadapi. Gyusion juga harus membuat kedua orang tuanya bangga. Setidaknya setelah belasan tahun berpisah, ia bisa membuat mereka bangga dengan ilmu bela dirinya. Gyusion sangat tidak sabar menanti semua itu. Bertemu kedua orang tuanya dan mendapatkan pelukan mereka. “Apa caramu melatihnya tidak keterlaluan? Anak itu sampai melamun begitu.” Kaja heran karena Gyusion diam saja sembari menatap langit. Akai berdecak. “Dia hanya kelelahan. Normal bagai semua makhluk akan diam jika kelelahan. Itu reaksi alami. Sebentar lagi juga dia akan bangun dan kembali ke semula. Kau khawatir karena baru melihatnya sekarang. Aku sudah melatihnya dari lama, jadi hal ini sangat biasa.” “Sudah biasa?” Kaja makin kaget. Tidak terbayangkan saja bagi Kaja melihat Gyusion seperti itu. Bagaimanapun Kaja merasa turut andil dalam merawat Gyusion sejak bayi. Jadi dirinya sangat tidak tega melihat Gyusion kesakitan. Mengingat ia selalu menjauhkan marabahaya dari Gyusion. Melihat perubahan raut wajah Kaja yang berubah sendu, Akai mengendikkan bahu. “Kau tidak kembali ke istana?” “Tadinya aku ingin mengajak bicara Gyusion selesai mengerjakan tugas—“ Tapi sepertinya saat ini sangat tidak memungkinkan. Dipanggil saja Gyusion hanya diam, apalagi jika Kaja mengajaknya bicara panjang lebar? Mungkin jadinya Kaja yang lelah bicara tanpa ditanggapi balik. “Kau bisa menunggunya beberapa saat lagi kalau mau. Setelah dia membersihkan diri dan mandi, mungkin dia bisa mendengarkanmu.” “Tidak, tidak,” tolak Kaja menggelengkan kepala tak yakin pada ucapan Akai. Agaknya mustahil Gyusion masih mau mendengarkan. Habis membersihkan diri dan makan kemungkinan besar Gyusion akan pergi beristirahat, mengingat sebentar lagi juga malam datang. “Besok saja aku kemari lagi. Apa besok kalian ada jadwal latihan angkut air lagi?” “Itu namanya latihan kekuatan, keseimbangan, dan kecepatan.” Akai protes. Kaja itu kebiasaan menamai sesuatu dengan mudah dan semaunya. Tidak memikirkan dalam sesuatu itu mungkin ada kerja keras orang lain. “Iya, iya, terserahlah itu latihan apa namanya. Aku mau mengajak bocah ini bicara hal penting di waktu senggang saja.” “Membicarakan hal penting apa?” Akai penasaran. Kontan Kaja memutar bola mata. “Itu bukan urusanmu. Cepat, katakan atau aku mengadukanmu pada Ratu Alexa?” “Huuu, kau bisanya mengadu pada ratu.” “Memangnya kenapa? Ini membuktikan kalau aku lumayan dekat dengan ratu. Aku tangan kanan dan orang kepercayaan Ratu Alexa kalau kau lupa. Jadi jangan coba macam-macam denganku.” Menurut dugaan Akai masalah penting yang akan Kaja bicarakan pada Gyusion berhubungan juga dengan ratu. Kaja memang sangat menyebalkan, tetapi baru kali ini ia membawa-bawa nama ratu dalam ancamannya. Akai menduga banyak hal tentang sebenarnya ada masalah apa dengan Ratu Alexa dan istananya. Mengapa harus membawa-bawa Gyusion dalam urusan mereka? Akai bergeming cukup lama memikirkan hal itu. “Ayolah ..., bisa cepat sedikit? Kau hanya perlu menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’.” “Besok Gyusion tidak ada latihan bersamaku. Setahuku dia ada jadwal berlatih sihir bersama Faramis. Untuk tempat dan waktunya aku tidak tahu. Mungkin kau bisa membicarakannya dengan Faramis.” “Faramis?” “Iya, pemimpin sihir Negeri Darkness,” jawab Akai enteng. “Aku juga tahu itu!” Kaja menyela. Maksudnya Kaja tidak terlalu dekat dengan pemimpin sihir Darkness. Baginya tidak mudah bicara dengan Faramis. Selain penampilannya yang kejam dan mengintimidari siapapun yang menatapnya, Faramis juga tidak bisa diajak bercanda. Pernah juga Kaja tengah bicara panjag lebar di hadapan ratu untuk menjelaskan laporan tahunan, Faramis—yang saat itu hadir dalam rapat para pemimpin Darkness—tampak menatap sinis Kaja. Belakangan Kaja baru mengetahui sikap Faramis saat rapat tahunan karena merasa aneh pada Kaja yang bicara pada ratu seperti pada teman biasa. Sedangkan seluruh rakyat Darkness mana ada yang seberani itu bicara santai di depan ratu. Kaja mengetahui kebenaran itu dari mulut ratu sendiri. Tapi bagaimana ya Kaja memang sejak mengenal Ratu Alexa merasa mereka adalah teman. Bukannya Kaja tidak menghargai Ratu Alexa sebagai pemimpin sebuah negeri besar yang sangat dihormati seluruh rakyatnya, hanya saja Kaja kesulitan mengubah kebiasaan bicara santai pada ratu. Dan juga Ratu Alexa tak mempermasalahkan itu. Ratu Alexa tidak keberatan mereka bicara santai seperti teman. “Sepertinya sejak lahir aku tidak ditakdirkan mendapatkan seorang teman. Mereka anak-anak sebayaku waktu kecil tidak ada yang memanggilku teman. Semua orang memanggilku ‘tuan putri’ sekarang menjadi ‘ratu’. Ketika kau berbicara santai padaku awalnya aku kesal karena belum pernah seumur hidup diperlakukan kasar. Tapi aku tahu kata-katamu tidak pernah benar-benar bertujuan menyakiti siapapun. Mungkin jika orang lain yang bersikap santai begitu, aku tidak akan segan menghukum mati dia di balai kota Darkness,” kata Ratu Alexa pada suatu hari saat Kaja bertanya bagaimana jika ada yang bicara santai selain dirinya. Pembicaraan mereka selalu segelap itu. Namun Kaja sering menanggapinya dengan ledekan dan candaan. Kaja sangat merasakan bagaimana kehidupan Ratu Alexa begitu kaku. Yang ia tidak bisa bayangkan adalah Ratu Alexa menjalani kehidupan penuh aturan dan harapan banyak orang dari dia kecil. Bayangkan saja dia tidak punya teman yang menganggapnya sebagai teman. Ketika anak-anak seusianya bermain bersama, dia hanya bisa melihat mereka dari balik jendela ruangan karena harus belajar lebih banyak. Ratu Alexa dituntut menjadi lebih dari siapapun. Alasan ini yang membuat Kaja bertahan tinggal di Negeri Darkness. Negeri ini bukan tanah kelahirannya. Dia ada di Darkness sebagai balas budi terhadap kebaikan Ratu Alexa yang telah menyelamatkannya dari kematian. Ratu Alexa tidak pernah meminta balas budi itu. Kaja dibebaskan pergi kemanapun. Namun Kaja sudah terlanjur merasa Darkness-lah rumah sesungguhnya. Ada banyak orang-orang asing yang menjadi keluarganya di sini. “Kau sudah selesai dengan urusanmu itu?” Bariton suara menyadarkan Kaja telah tiba di kastil Darkness. Usai melihat Gyusion masuk pondok ketika kedua pengasuhnya pulang, Kaja kembali ke istana. Tanpa sadar sepanjang perjalanan dari pondok kayu ke istana ia melamunkan banyak hal. “Di sini sangat banyak pekerjaan, kau malah berkeliaran di luar sana. Apa yang lakukan sampai semalam ini?” Ratu Alexa mendumal. Kaja jadi tersenyum, lucu dengan sikap Ratu Alexa ketika di hadapannya dan di hadapan rakyatnya sangat berbeda. Di hadapan rakyat selalu berwibawa. “Kenapa kau tertawa?” Ratu Alexa mengerutkan kening. “Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang lucu. Kau sudah berbaikan dengan Nona Xevana?” Kaja berjalan ke arah meja kerjanya. “Dia sudah tidak marah, tapi sepertinya dia sedang memikirkan banyak hal. Seharian ini Xevana berlatih sangat keras. Dia mempelajari banyak ilmu baru. Belum terlihat sempurna, tapi,” ucap Ratu Alexa menggangtung. Ingatannya berkelana pada tayangan kolam ajaib di mana Xevana berubah menjadi sangat bersemangat setelah sebelumnya tampak murung. Ia yakin Xevana memikirkan sesuatu. Firasat seorang ibunya mengatakan hal ini bukan kabar bagus. “Tapi apa?” Kaja penasaran mengapa Ratu Alexa tiba-tiba terdiam lama. “ha? Oh, dia memang terlahir dengan kemampuan lebih dari anak lain. Xevana sangat cepat belajar jika diberi ilmu baru. Dia terlihat sangat haus ilmu. Mengingatkan aku pada diriku di masa lalu.” “Jangan sampai Xevana kesepian seperti dirimu di masa lalu.” Ratu Alexa terkekeh sinis, “Itu justru baik untuknya supaya bisa bertahan hidup di dunia kejam ini. jika aku tidak dididik dengan keras, mungkin aku tidak duduk di singgasana ini sekarang. Ayahku memang tidak memiki seorang putra. Ada beberapa pangeran dari anak saudara-saudaranya. Ayahku tahu suatu hari nanti setelah dia tiada orang-orang itu akan memperebutkan tahta Darkness dan menyingkirkan aku. Menurutmu, bagaimana jika aku adalah Alexa yang lemah?” 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม